Fair yang terbiasa hidup manja memilih kabur dari rumah karena sang papa yang terus membela orang lain. Dia bahkan nekat pindah sekolah hanya untuk hidup mandiri.
Di sekolah barunya yang terbilang sangat tak terawat itu, Fair bertemu dengan sahabat baru bernama Sasa. Namun baru hari pertama masuk sekolah, dia sudah dibuat pingsan oleh salah satu cowok populer bernama Gino. Mengakibatkan dirinya harus terlibat dengan teman-teman Gino. Salah satunya Tristan, salah satu sahabat Gino yang memiliki hubungan masa lalu dengan almarhum kakaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Fair dan remaja laki-laki itu saling bertatap-tatapan. Tristan sudah memperkenalkan nama anak itu tadi. Dan menurut Fair wajah Suan ini memang mirip dengan sang kakak. Raut wajahnya ketika menatap orang pun mirip. Namun caranya menatap Fair membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
Fair sampai bersembunyi dibelakang Tristan karena tatapan permusuhan dari adik cowok itu.
"Kok dia natap aku begitu sih kak?" bisik Fair di telinga Tristan. Kakinya berjinjit-jinjit. Tristan terkekeh. Dasar cewek penakut, sama anak SMP aja takut.
"Pacar abang?" tanya Suan sambil bersedekap dada. Terus menatap Fair dengan saksama sambil bersedekap dada. Terus terang Suan heran karena Tristan pulang dengan seorang gadis. Tidak pernah abangnya membawa makhluk yang namanya perempuan ke rumah.
"Belom." Tristan mengulang jawaban yang sama ketika ia menjawab mbok Nini tadi.
Belom berarti di masa depan cewek yang dibawa Tristan akan tetap menjadi kakak iparnya. Suan heran. Cewek itu tampangnya terlihat agak bodoh. Apa selera abangnya berubah?
"Dia keliatan bodoh, abang yakin mau jadiin dia calon kakak ipar aku?" ujar Suan dengan nada merendahkan. Fair yang mendengar perkataan remaja cowok itu melemparkan raut sebal ke tuh cowok. Enak aja ngatain dia bodoh.
"Aku nggak bodoh tahu," serunya dengan kepala menyembul dari balik punggung Tristan. Menatap Suan dengan gaya menantang. Suan tersenyum remeh.
"Cih, kamu pasti sengaja deketin abang aku kan?" tuduhnya. Abangnya memang tidak pernah mengejar cewek setahunya dia.
"Nggak kok." balas Fair langsung. Ia tidak lagi takut-takut melihat Suan. Lagipula anak itu masih SMP, sudah seharusnya menghormati yang lebih tua.
"Bohong.
"Nggak!"
"Ngaku aja,"
"Aku bilang nggak!"
Keduanya terus berdebat. Mereka bahkan tidak sadar kalau Tristan sudah meninggalkan mereka berdua. Biar saja mereka berdebat. Alasannya membiarkan mereka karena Tristan yakin sekali Fair dan Suan akan berteman. Suan butuh teman debat, dan Fair cocok jadi teman debatnya menurut Tristan. Entah kenapa Tristan berpikir begitu.
Dan benar saja, ketika Tristan berbalik dari dapur dengan peralatan makan buat mereka bertiga, ia melihat gadis yang dia bawa ke rumah itu mulai akrab dengan adiknya. Tristan melihat Suan yang jarang bicara itu tampak tertarik berbincang-bincang dengan Fair.
"Jadi kamu kelas tujuh SMP? Wahh, baru kelas tujuh tapi sudah setinggi ini." ucap Fair dengan nada kagum. Pasalnya tinggi Suan tidak terlalu beda jauh dari kakaknya.
"Gimana caranya kamu bisa akrab sama abang aku?" Suan balas bertanya.
"Nggak tahu, terjadi begitu aja." sahut Fair sambil mengedikkan bahu.
"Eh, gimana kalo kita main jengga?" ajak Suan kemudian.
"Ayo!"
"Makan dulu," suara Tristan yang muncul dari arah dapur membuat Suan dan Fair sama-sama menatap ke arah cowok itu. Kadang kalau Tristan beli makanan dari luar ia dan Suan memang sering makan diruang keluarga, sambil nonton.
Tristan menatap Fair dan adik laki-lakinya bergantian.
"Kirain masih debat, udah akrab rupanya." ledek cowok itu. Fair tertawa pelan. Suan sendiri merasa bingung, tiba-tiba mereka sudah akrab saja. Tapi harus ia akui kalau cewek yang dibawa oleh kakaknya ini memang menyenangkan orangnya. Gak kayak kebanyakan cewek yang suka jaim dan sok cantik. Kalau kakaknya pacaran dengan cewek ini, ia tidak akan keberatan. Hitung-hitung dia juga bisa ada teman mainnya.
"Emang gak apa-apa makan di sini?" Fair menatap Tristan. Kini cowok itu telah duduk di sebelahnya.
"Nggak apa-apa, aku sama Suan juga sering makan sini sekali-kali." gumam cowok itu mengusap-usap kepala Fair lembut. Gimana Fair nggak baper coba diperlakukan selembut itu.
"Bang, tadi kata kak Fair dia punya cowok idaman, tapi bukan bang Tristan." ujar Suan. Memang Fair bilang begitu tadi. Dan Suan hanya ingin melihat reaksi kakaknya bagaimana. Lihat saja, raut wajah Tristan langsung berubah mendengar ucapannya. Suan terkekeh, sepertinya kakak kandungnya ini memang suka beneran pada Fair.
Tristan menatap Fair tajam.
"Ada cowok yang kamu suka?" tanyanya. Yang membuat hatinya panas adalah, Fair langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat. Siapa? Siapa laki-laki itu? Tristan ingin melihatnya bahkan membuatnya pergi jauh-jauh dari kehidupan Fair.
Apa jangan-jangan Samudera? Tapi kan Samudera sudah jelas-jelas bilang kalau cowok itu menganggap Fair seperti adik kandung sendiri. Atau jangan-jangan Fair yang diam-diam menyukai Samudera?
"Siapa?" hanya satu kata yang keluar dari mulut Tristan, tapi kelihatan sekali kalau ia sedang cemburu. Mungkin Fair tidak sadar, tapi Suan amat sangat peka. Dia memang masih remaja, tapi bukan berarti dia tidak tahu masalah cinta-cintaan.
"Siapa?" Fair mengulang perkataan Tristan.
"Cowok yang kamu suka itu siapa? Bilang sama aku." ucap Tristan lagi.
"Oh!" seru Fair santai. "Namanya Mingyu. Kak Tristan kenal nggak? Dia itu salah satu personilnya Seventeen. Mukanya caket bangeeet ..." Fair berseru lagi dengan semangat.
Wajah cemburu Tristan berubah bingung. Mingyu? Seventeen? Siapa itu? Ia tidak kenal. Matanya berpindah ke Suan. Mungkin saja adiknya tahu. Dan ia makin yakin Suan kenal siapa Mingyu yang Fair sebutkan, karena Suan menertawainya.
"Bang Tristan tenang aja, saingan abang yang kak Fair suka itu ada di negara lain. Lagi sibuk manggung." kekeh Suan. Otak pintar Tristan langsung mengerti. Ia jadi kesal ke Suan. Dia pikir Fair benar-benar menyukai cowok lain, ternyata rasa suka cewek itu beda. Itu rasa suka seorang penggemar terhadap idolanya. Tristan bisa bernafas tenang sekarang. Cowok itu berdeham.
"Ayo makan dulu," gumamnya kemudian.