NovelToon NovelToon
Dark Impulsif

Dark Impulsif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Egi Kharisma

Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.

Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Gelap Sang Pemimpin

Begitu Tino tersingkir dengan cara yang tragis, atmosfer di sudut-sudut arena langsung berubah drastis. Raka, si ketua Barat yang selama ini dikenal paranoid namun cerdas, bergerak cepat. Dia nggak buang waktu buat meratap. Dengan langkah tegas, dia menghampiri barisan Utara tempat Vino dan Jeka berdiri dengan otot-otot tegang. Anggota inti Barat mengikutinya di belakang, meninggalkan Tino yang masih diurus anak buahnya yang tampak bingung dan kehilangan arah.

Raka secara terbuka menyatakan aliansi mereka di depan semua orang yang tersisa.

"Vino, Jeka," ujar Raka dengan nada mendesak dan rendah. "Apa pun hasil dari duel terakhir ini, kita harus bersama. Utara dan Barat udah resmi bersekutu mulai detik ini. Misca harus menang. Kita nggak punya pilihan lain buat ngadepin apa yang bakal datang setelah malam ini."

Vino dan Jeka memberikan anggukan mantap. Mereka sadar bahwa aliansi ini adalah napas buatan yang vital buat menghadapi ancaman The Phantom .

Di sisi Selatan, Kala, anggota terpercayaan Nanda yang selama ini kalem, cuma terdiam membeku. Dia mengamati setiap gerakan Raka dengan mata analisisnya yang tajam. Kala mungkin nggak terlalu paham intrik politik, tapi dia punya insting yang kuat terhadap ancaman. Dia merasakan aura berbahaya yang mulai terpancar dari bersatunya kekuatan Utara dan Barat.

Di samping Kala, wajah Dian menegang hebat. Dia menatap Misca dengan kombinasi antara kebencian murni dan ketakutan yang terselubung rapat. Dian sadar betul, kalau Misca memenangkan duel ini, sang pemimpin Utara itu bakal menuntut kejelasan dari Selatan atas segala intrik yang terjadi, dan Vino pasti bakal menuntut pembalasan. Dian sekarang jadi pemain yang terjepit di antara dua kekuatan raksasa: amarah Nanda dan dendam Vino.

Misca dan Nanda sekarang saling berhadapan tepat di tengah arena, di bawah satu-satunya lampu sorot yang masih bersinar terang. Jeka memberikan aba-aba dimulainya duel, dan detik itu juga, badai meledak.

Nanda nggak buang waktu sedikit pun. Dia menerjang maju dengan teriakan primal yang menggema keras, memantul di dinding-dinding stadion yang sunyi. Dia melepaskan rentetan pukulan bertubi-tubi yang mengerikan: hook kanan yang bisa meretakkan beton, uppercut kiri yang eksplosif, dan tendangan menyapu yang bertenaga. Nanda bertarung tanpa beban pikiran; dia cuma mengandalkan insting hewaninya dan massa otot murni yang udah dia tempa sampai batas absolut.

Di sisi lain, Misca nggak membalas serangan. Dia cuma menghindar.

Misca mundur dua langkah dengan ringan, memiringkan kepalanya ke kanan cuma dalam hitungan milimeter, lalu melompat mundur buat menghindari tendangan maut Nanda. Setiap gerakan Nanda adalah perwujudan kekuatan brutal yang nggak terorganisir, sementara setiap gerakan Misca adalah perwujudan nyata dari keakuratan pertahanan tingkat tinggi. Misca cuma bergerak seperlunya, memastikan setiap serangan Nanda meleset dalam jarak yang sangat tipis.

Nanda terus menyerang tanpa ampun, memaksa Misca buat terus bergerak mundur dan bertahan di area yang sempit. Misca, yang biasanya mampu mengakhiri pertarungan dalam hitungan menit, sekarang dipaksa bertahan lebih lama.

Misca bergumam lirih di tengah deru napas Nanda yang memburu. "Target waktu eliminasi... meleset. Pertahanan Nanda... terlalu luar biasa. Massa otot dan kepadatan tulangnya mampu meredam semua serangan yang bersifat melumpuhkan. Dia menyerap setiap benturan. Untuk mengalahkannya... aku butuh serangan yang tidak biasa, sesuatu yang menghancurkan struktur dari dalam, bukan sekadar melumpuhkan sendi."

Misca menyadari satu hal: Nanda bukanlah musuh yang bisa diselesaikan dengan kalkulasi sederhana. Dia adalah tembok raksasa yang hidup.

Nanda, yang mulai frustrasi karena serangannya nggak kunjung menyentuh kulit Misca, meningkatkan intensitas serangannya. Dia melepaskan kombinasi pukulan cepat dan tendangan memutar yang kuat, memaksa Misca buat melakukan lompatan tinggi demi menjaga jarak.

Saat Misca berada di udara, dia sedang menganalisis titik rotasi Nanda. Misca udah menemukan celah strategis: bagian rusuk melayang (floating rib) Nanda yang sedikit terbuka saat melakukan tendangan kedua. Namun, saat Misca bersiap mendarat buat melancarkan serangan balasan yang udah dia hitung secara matematis, sebuah suara tajam dan penuh racun membelah keheningan stadion.

"IBUMU PELACUR DAN RAYA HANYA SAMPAH YANG AKAN DIINCAR SEMUA ORANG! DASAR ANAK HARAM SOMBONG!"

Itu adalah teriakan Dian. Kata-kata itu dilemparkan dengan kebencian murni, dirancang khusus buat menghancurkan struktur mental Misca yang sangat menjaga kehormatan ibunya dan keselamatan Raya.

Teriakan itu menghantam Misca lebih keras daripada pukulan Nanda. Fokusnya pecah total. Misca nggak punya "firewall" emosi sekuat Vino. Kata-kata yang menghina ibunya—sosok yang sangat mencintainya—dan mengancam Raya, seketika melumpuhkan sirkuit logis di kepalanya.

Dalam sepersekian detik yang fatal itu, Misca gagal mengukur langkah Nanda. Beberapa pukulan liar Nanda yang tadinya selalu meleset, sekarang menghantam sisi wajah Misca dengan telak.

BUGH! BUGH!

Darah segar mengalir dari sudut bibir Misca. Dia terhuyung, tubuhnya oleng—sebuah pemandangan yang belum pernah dilihat oleh satu pun anggota Wilayah Utara. Sang jenius itu tampak rapuh.

Vino yang melihat Misca terkena pukulan telak dan mendengar hinaan keji Dian langsung meledak. Dia melepaskan semua emosi yang selama ini dia tekan. Amarah atas insiden festival dan kebencian terhadap Dian meluap jadi satu.

"Sialan kamu, Dian!" teriak Vino dengan mata yang memerah karena murka. Dia merangsek maju, siap berlari ke arah Dian untuk mencabik-cabik Dian.

BRUK!

Raka, dengan kecepatan yang nggak terduga, mencekal lengan Vino dengan sangat kuat. Raka nggak pakai kekuatan fisik semata, melainkan tekanan psikologis yang dalam.

"Jangan bodoh, Vino!" desak Raka, matanya tetap tertuju pada Misca. "Itulah yang Dian inginkan! Kalau kamu melanggar aturan duel sekarang, Misca bakal didiskualifikasi dan semua perjuangan ini sia-sia! Tetap fokus pada Misca!"

Vino berjuang keras melepaskan diri, tapi cengkeraman Raka dan bantuan Jeka yang menahannya dari sisi lain terlalu kuat. Raka menunjukkan betapa strategisnya dia, bahkan di tengah kekacauan emosional yang luar biasa.

Di arena, Nanda melihat Misca terhuyung. Dia mencium bau darah dan kemenangan. Nanda melancarkan serangan pamungkasnya. Dia melayangkan tendangan putar yang sangat keras tepat ke arah wajah Misca yang baru saja mencoba bangkit.

DUG!

Misca jatuh berlutut. Nanda mendominasi, berdiri di atas tubuh Misca yang rapuh, siap melancarkan tendangan akhir ke arah kepala yang bisa mengakhiri era keakuratan selamanya.

"Habis kamu, Misca!" raung Nanda sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi.

Namun, di detik terakhir sebelum kaki itu mendarat, Misca yang berlumuran darah berhasil mengangkat tangan kanannya dan menangkap pergelangan kaki Nanda dengan cengkeraman yang sangat kuat. Nanda tertegun.

Misca nggak menatap Nanda. Pandangannya kosong, menembus lantai beton stadion. Pikiran Misca yang biasanya merupakan struktur logis yang sempurna, sekarang udah hancur jadi kepingan gelap. Hinaan Dian, rasa sakit dari pukulan Nanda, dan rasa takut akan ketidakmampuannya melindungi Raya bercampur jadi satu dorongan destruktif.

Logika Misca: Aku harus mengalahkan Nanda dengan teknik balasan yang akurat,.

Realitas: Logika itu telah gagal.

Di tengah kekacauan mental itu, sesuatu yang gelap dan sangat kuat bangkit dari dasar jiwanya. Itulah Dark Impulsive—kekuatan brutal yang lahir dari rasa takut akan ketidakberdayaan. Sekitar 20% dari kekuatan gelap itu mengambil alih kendali tubuhnya. Matanya yang tadinya fokus dingin, sekarang memancarkan kilatan liar yang sangat asing.

Misca bangkit dengan dorongan kaki yang eksplosif. Dia nggak lagi bergerak dengan keindahan footwork yang rapi. Ini adalah kecepatan mentah yang brutal.

Misca menyerang Nanda dengan pukulan ke arah solar plexus—bukan sebuah jab halus, melainkan hook keras yang dipenuhi emosi murni.

BUAGH!

Nanda terhuyung hebat. Itu adalah pukulan terkuat yang pernah dia rasakan sepanjang hidupnya. Misca nggak berhenti di situ. Dia bergerak mengelilingi Nanda dengan gerakan kacau yang nggak bisa ditebak oleh logika bertarung mana pun. Dia menghantam bahu, siku, dan lutut Nanda, membongkar pertahanan "tembok hidup" itu jadi kepingan yang rapuh.

Misca sekarang bertarung dengan amarah yang dingin, dan itu jauh lebih menakutkan daripada amarah Nanda yang panas. Tubuhnya sekarang berlumuran darah, namun jadi ribuan kali lebih mematikan. Misca yang baru telah lahir di tengah stadion tua itu—seorang pemimpin yang nggak hanya jenius, tapi juga berbahaya kalau orang-orang yang dicintainya disentuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!