Tidak ada yang lebih menyakitkan dari penghianatan oleh orang-orang yang kita cintai. Namun hal ini harus dirasakan oleh Amira Febriana Tridigara, Seorang istri yang harus menerima penghianatan besar dari suami dan gadis muda yang telah di rawatnya sejak masih Bayi.
Akankah Amira memaafkan penghianatan itu, Atau justru membalas penghianatan mereka dengan sangat kejam?
Add FB : I'tsmenoor
Follow Instagram : @_itsmenoor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbanding Terbalik
Setelah menghabiskan malam di club' dengan bermabuk-mabukan,
Dengan pakaian lusuhnya Sofyan kembali ke rumah sewa. Langkah kaki yang masih sempoyongan membuat Sofyan susah payah membuka pintu rumah yang masih terkunci.
Bhraakk...!!! Sofyan pun mendorong pintu dengan kasar ketika berhasil membukanya. Perlahan ia melangkah masuk sembari meneriakkan nama Sherly. Namun berkali-kali Sofyan memanggilnya tak ada sautan satu kalipun dari Sherly.
"Kemana dia..." ucap Sofyan menuju kamarnya.
Sayup-sayup Sofyan mendengar Sherly yang seperti orang kepedasan. Membuat pikiran negatifnya langsung bekerja dan membuka pintu tanpa mengetuknya.
Ckleekkk...
Netra yang semula masih sayu kini terbelalak melihat Sherly yang tengah Asyik menari dengan pria yang kini berada di bawahnya.
"Lebih cepat lagi Sayang..." ujar pria itu yang masih tak menyadari kehadiran Sofyan.
"Sherly!!!"
Sontak Sherly turun dari atas tubuh pria itu dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Mas Chalid!"
"Wanita ja*lang... Murahan...!!!" hardik Sofyan sembari menyeret tangan Sherly hingga turun dari ranjangnya.
"Bahkan Kamu lebih menjijikkan dari seorang pela*cur!!!
Aku baru tidak pulang satu nalam tapi kamu sudah membawa pria lain ke rumah!?"
"Mas Chalid..." tangis Sherly.
"Tunggu... Apa jangan-jangan selama ini kamu juga tidur dengan pria lain selain Aku!?"
Sherly hanya menangis tak berani mengakuinya.
"Jawab Sherly!?" dengan kasarnya Sofyan mencengkeram kedua lengan Sherly dan mendorongnya hingga tubuhnya menabrak meja.
"Aghhh..." ringis Sherly.
Melihat Sherly jatuh tersungkur ke lantai, Pria muda berusia belasan tahun itu pun melarikan diri. Namun Sofyan tidak peduli dengan pria itu. Karena kemarahannya pada Sherly membuat Sofyan seperti orang kesetanan.
"Jawab pertanyaan ku, Apa selama kamu menjalin hubungan dengan ku kamu juga melakukan ini di belakang ku!?" Tanpa belas kasih, Sofyan menjambak rambut Sherly hingga tubuhnya kembali berdiri.
"Ayah... Maafkan Aku..." tangis Sherly yang kemudian bersimpuh di kaki Sofyan. Sherly menangis sejadi-jadinya. Ia mengakui segalanya termasuk alasan kenapa ia melakukan itu.
Mendengar semua pengakuan Sherly. Sofyan mengingat bagaimana ia menghianati Amira hingga tanpa ia sadari air mata menetes membasahi pipinya.
"Kamu benar-benar laknat Sherly, Kamu sudah menghancurkan pernikahan ku dengan Amira tapi kamu juga berkhianat di belakang... A-a... H-h..." tiba-tiba Sofyan merasa nafasnya sesak hingga membuat tubuhnya terjatuh ke lantai.
•••
"E-Apa maksud perkataan mu?" tanya Amira mencoba memastikan apa yang telah Ammar katakan.
"Perkataan yang mana?" tanya Ammar yang sengaja meligat betapa antusiasnya Amira begitu dirinya mengatakan jika ia menginginkannya.
"Yang tadi."
"Yang tadi mana?"
"Ya yang tadi..."
"Yang hatiku terasa seperti kembali di siram air garam?"
"B-bukan..."
"Jangan sebut namanya lagi?"
"Bukan Amaaaarrr..."
"Lalu yang mana?"
"Yang kamu bilang jika yang kamu inginkan sekarang hanya..." Amira menghentikan ucapannya karena merasa malu untuk mengatakannya.
"Hanya apa Mbak?" Ammar tersenyum menatap Amira yang kini menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Ammaaarrr... Berhenti menggodaku."
"Apa pipi Mbak Amira memerah?"
Amira yang tidak tahan lagi karena terus di goda, Beranjak dari duduknya mencoba meninggalkan Ammar. Namun Ammar langsung menarik kembali tangan Amira hingga keduanya saling berhadapan dan menatap satu sama lain.
"Karena yang ku inginkan sekarang hanya Mbak Amira?"
Amira langsung menurunkan pandangannya mendengar apa yang Ammar katakan. Kali ini bukan karena ia merasa malu, Tapi karena hatinya merasa berbunga seperti orang yang tengah jatuh cinta.
"Tiga bulan menjauh dari Mbak Amira membuat ku merasa yakin dengan perasaan ku. Entah kapan itu terjadi tapi Aku benar-benar telah jatuh hati kepada mu Mbak. Aku benar-benar mencintai mu, Izinkan Aku menjadi Ayah dari anak yang Mbak kandung."
Mendengar itu Amira mengangkat kepalanya. Ia menatap Ammar dengan perasaan tak percaya, Bagaimana bisa pria tampan mapan dan masih lajang menginginkan dirinya yang tak lama lagi mendekati kepala empat, Bahkan yang lebih membuatnya tak percaya keadaan dirinya yang tengah berbadan dua.
Bersambung...