Kondisi keluarga yang berantakan, membawa Freya menjadi sosok anak yang berandal.
Freya kerap menghabiskan waktunya di club dan menjerumuskan dirinya kedalam obat-obatan terlarang.
Sean Bagaskara hadir di saat Freya nyaris dilecehkan.
Setelah pertemuan itu, takdir seolah terus mengikat keduanya hingga perasaan cinta tumbuh dihati mereka.
Sayangnya, disaat cinta itu kian menggebu, Freya harus mengetahui kenyataan pahit bahwa Sean adalah seorang gigolo, lebih tepatnya Gigolo ibu tirinya sendiri.
Selanjutnya, apa yang akan dilakukan Freya?
Simak ceritanya hanya disini guys!!!!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN SUBSCRIBE YA!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Menjadi Lebih Baik.
Andriana masih berdiri mematung disana, wanita itu tidak sadar jika Morgan sejak tadi memanggil-manggil dirinya. Sampai akhirnya Morgan kembali ke ruang tamu dan dibuat heran saat melihat istrinya berdiri disamping jendela.
"Sayang?" panggil Morgan.
Andriana terkejut dan reflek langsung menoleh, ia membulatkan matanya saat melihat sosok Morgan ada disana.
"Mas, Mas sejak kapan ada disana? Aku hanya memastikan kalau Freya baik-baik saja dengan temannya itu," ujar Andriana menjelaskan tanpa diminta, ia begitu gugup karena takut saat melihat tatapan mata Morgan.
Morgan masih menyipitkan matanya, tapi sedetik kemudian ia mengangguk singkat. "Baiklah, kalau begitu kita kedalam sekarang. Aku ingin membicarakan hal penting padamu," ujar Morgan mendahului Andriana pergi dari ruang tamu.
Andriana menarik nafas lega, karena akhirnya suaminya tidak curiga dengan sikapnya itu. Andriana benar-benar harus berhati-hati, jangan sampai Morgan tahu hubungannya dengan Sean. Jika pria itu tahu, bisa jadi tamat saat itu juga riwayatnya.
"Aku harus bermain halus agar Mas Morgan tidak curiga," ucap Andriana menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba tenang menghadapi situasi saat ini.
Andriana buru-buru pergi meninggalkan ruangan itu, bersamaan dengan itu Freya baru saja masuk rumah dan mereka sempat beradu pandang.
Andriana menatap Freya dari atas sampai bawah, ia menebak apakah Freya juga sudah pernah merasakan rudal milik Sean yang begitu perkasa? Membayangkan gigolo favoritnya dan anak tirinya bercinta, entah kenapa Andriana jadi kesal sendiri.
"Berhenti menatapku seperti itu ja la ng, pergilah ke kamarmu, kau membuatku ingin muntah," ketus Freya melirik Andriana begitu sinis.
"Mulutmu memang sangat kurang ajar, lihat saja nanti, kau pasti akan menyesal," sembur Andriana tak kalah kesalnya, ia benci tatapan Freya yang menganggapnya seperti sampah saja.
Freya hanya mengangkat bahunya acuh, ia juga langsung menyelonong masuk ke dalam kamarnya tanpa mempedulikan Andriana.
_______
"Apa Mas? Menikahkan mereka berdua? Apa Mas yakin, kita belum benar-benar mengenal pria itu. Bagaimana kalau dia bukan pria baik-baik?"
Didalam kamar, Andriana tampak memprotes ucapan suaminya saat pria itu mengatakan ingin menikahkan Freya dan Sean. Tadinya ia pikir suaminya itu akan menentang hubungan mereka, tapi justru kebalikannya. Membuat kekesalan Andriana bertambah dan semakin tidak terima.
"Kau meragukan analisisku Ana? Meskipun aku baru pertama kali melihat pria itu, tapi aku memiliki feeling kalau dia pria baik dan sangat tepat untuk Freya. Bukannya kau juta mengatakan kalau Freya bisa berubah jika sudah menikah? Aku rasa ini waktu yang sangat cocok," ujar Morgan masih kekeh, ia sudah memikirkan segalanya dan memang menurutnya itu adalah keputusan terbaik.
Morgan juga bukan cuma-cuma memutuskan ini semua. Ia menilai dari sikap dan gestur Sean saat berkunjung tadi, membaut ia merasa jika Sean memang anak yang baik. Apalagi Morgan juga melihat kalau Freya sepertinya menurut dengan pria itu.
"Mas, kita tidak bisa menilai orang dengan satu kali pertemuan. Lebih baik, Mas urungkan niat Mas untuk menikahkan mereka," ujar Andriana masih mencoba membujuk suaminya.
"Kenapa Andriana?"
"Ha? Aku hanya merasa punya penilaian tidak baik pada pria itu," jelas Andriana, berbohong tentunya, padahal sebenarnya ia hanya tidak mau jika sampai Sean menikah dengan anak tirinya.
"Kau seperti sudah sangat mengenalnya," kata Morgan, kali ini menatap istrinya penuh selidik.
"Bu-bukan seperti itu Mas." Andriana menyahut terbata-bata. "Aku hanya ... baiklah kalau itu keputusan Mas. Nanti ya kita bicarakan ini dengan Freya, kalau memang itu yang terbaik, aku pasti dukung kok Mas," lanjut Andriana terpaksa ikut mendukung keputusan suaminya daripada pria itu curiga nantinya.
"Ya, aku juga akan mencaritahu lebih lanjut tentang pria itu," ucap Morgan merebahkan dirinya di kasur dan ingin tidur.
"Untuk apa Mas?" Lagi-lagi Andriana begitu kaget. "Mas bilang punya penilaian sendiri kepada pria itu, sebaiknya tidak perlu mencaritahu apapun Mas. Tanyakan saja pada Freya, apakah dia bahagia dengan pria itu atau tidak," tutur Andriana lagi.
Andriana harus memastikan kalau suaminya itu jangan mencaritahu apapun tentang Sean. Jika semua terbongkar, bukan tidak mungkin jika suaminya juga akan tahu kebenaran mereka.
"Kau benar ... sepertinya aku memang terlalu egois selama ini. Aku tidak pernah mendengarkan apa keinginan Freya dan memutuskan semuanya sendiri. Sekarang, aku ingin memperbaiki segalanya Ana," ujar Morgan diiringi hembusan nafasnya yang terdengar berat.
"Jangan menyalahkan diri sendiri Mas, Freya memang sudah sangat keterlaluan. Itu bukan salah Mas," tukas Andriana melirik Morgan jengkel, tidak suka jika pria itu menjadi baik kepada Freya.
"Secara tidak langsung aku juga bersalah Ana. Setelah ini, aku akan mencoba berbicara berdua padanya, kau tidak keberatan 'kan?" ujar Morgan menatap Andriana dengan wajah sendunya.
"Eh? Tentu saja tidak Mas, itu justru sangat baik sekali," kata Andriana mengulas senyum manis dibuat-buat, menutupi kekesalan yang berlipat ganda didalam hatinya.
"Terima kasih Ana, kau memang wanita baik. Semoga dengan begini, Freya juga bisa menerimamu perlahan-lahan," ucap Morgan menarik Andriana kedalam pelukannya.
"Hehehe, iya Mas." Andriana tersenyum canggung. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali mengumpat kata-kata kasar.
"Sialan, kalau seperti ini semuanya akan sangat sulit. Aku benar-benar harus melakukan sesuatu," batin Andriana dengan tatapan mata tajamnya.
_______
Sean menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ditangannya memegang satu botol wine yang sudah sisa setengah. Beberapa kali ada seorang Tante-tante manjalita yang mendekatinya, akan tetapi tidak sedikitpun Sean tanggapi. Tidak seperti biasanya, malam ini hatinya benar-benar sangat kacau.
"Bro, lu kenapa sih?" Anton teman seperjuangan Sean itu memutuskan menghampiri Sean dan meninggalkan wanitanya. Pasalnya semenjak Sean datang, pria itu tampak begitu berbeda.
"Banyak pelanggan ngeluh, lu tahu kalau semua ini di denger Tante Angel, dia bisa marah," sambung Anton lagi.
"Gue udah capek," sahut Sean memejamkan matanya seraya menikmati rokok ditangannya. "Gue udah capek hidup kayak gini terus, gue pengen berhenti," lanjut Sean terdengar begitu lelah sekali dengan hidupnya saat ini.
"Maksud lu apa njir? Lu mau berhenti ditengah jalan? Apa lu pikir mudah?" Anton terbelalak syok mendengar ucapan sahabatnya itu.
Sean mengigit bibirnya, ia mematikan rokoknya dan menjambak rambutnya dengan keras. "Gue nggak peduli kalau harus memulai semua hari nol. Tapi gue beneran mau bebas dari belenggu dosa ini Anton. Gue ... pengen hidup kayak orang normal biasa," ujar Sean lagi.
"Lu pikir sekarang kita nggak normal?" cetus Anton diiringi dengusan kecil.
Sean berdecak, ia menegak minumannya dengan kasar. "Lu nggak bakalan ngerti apa maksud gue," ujar Sean.
"Kenapa? Lu beneran jatuh cinta? Sama cewek kecanduan itu?" tebak Anton tidak meleset sama sekali, terbukti saat ini Sean langsung bungkam seribu bahasa.
"Apa gue salah kalau gue jatuh cinta?" ucap Sean dengan tatapan menerawang jauh.
Sejak tadi ia berpikir tentang bagaimana perasannya, dan semakin ia mengingat sosok wanita bar-bar yang ternyata sangat polos itu. Membuat jantungnya tidak henti berdetak kencang. Dan semua kejadian yang terjadi hari ini, Sean justru semakin yakin jika tidak bisa kehilangan Freya.
"Jatuh cinta nggak salah, tapi kalau emang itu keputusan lu. Artinya lu udah siap kehilangan semuanya," ujar Anton mengingatkan sahabatnya.
Sean menghela nafas panjang, Anton benar, jika ia keluar dari pekerjaan ini. Semua rencananya akan gagal total, membelikan orang tuanya rumah, menyekolahkan adiknya dan masih banyak lagi mimpi yang harus diwujudkannya. Apa ia harus merelakan itu semua demi Freya?
Happy Reading.
TBC.
kaya dirinya paling benar aja...
anak zaen