NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Single elit

Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.

Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?

Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.

Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 33

Ray menghela napas kasar lalu menghempaskan tubuh tingginya di atas kasur, tubuhnya terasa amat lelah setelah berkelahi tadi, di tambah perasaannya yang tidak nyaman karena Kanaya begitu perhatian pada Raka.

Lebih baik ia mandi untuk menjernihkan fikirannya saat ini. Ray  bangkit dari atas ranjang dan berjalan malas menuju kamar mandi.

Hanya beberapa menit Ray berkutat dengan kegiatannya di kamar mandi lalu berjalan keluar dari tempat itu sembari mengusap rambut kepalanya yang sedikit basah dengan handuk kecil.

Ketika Ray melangkah keluar manik hitamnya menangkap sosok yang sedari tadi berputar di kepalanya.

"Tunggu!"

Kanaya berhenti seketika setelah Ray menginterupsi langkahnya. Ray melemparkan handuk kecil itu ke atas kasur lalu berjalan mendekat ke arah Kanaya yang berdiri tidak jauh dari pintu.

"Kenapa langsung pergi?"

Ray berjalan menuju pintu lalu menutup benda itu seraya menatap tajam Kanaya, gadis itu beringsut mundur ketika Ray menoleh ke arahnya dan berjalan mendekat hingga tanpa sadar tubuhnya sudah tersudut ke tembok. 

"Ka-kamu mau a-apa?"

Ucap gadis itu terbata karena mendapat tatapan mengintimidasi oleh Ray, belum lagi wajah Ray yang kini hanya beberapa Senti di depannya.

Ray menatap gadis itu lekat, lalu meletakan tangannya di samping kepala gadis itu agar tidak bisa menghindarinya. Kanaya menahan nafasnya sembari memejamkan mata, sungguh ia benar-benar gugup. Sangat.

Ray tersenyum samar melihat Kanaya memejamkan matanya, jelas saja membuat dirinya jadi berfikir tidak waras. Lalu tanganya terulur untuk menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Kanaya yang menutupi wajah gugup gadis itu.

"Kenapa Lo merem?"

Bisiknya pelan dengan sedikit kekehan di telinga Kanaya. Perkataan Ray sontak membuat Kanaya membuka mata bulatnya, dan seketika itu juga mata mereka bertemu. Demi tuhan saat ini Kanaya sangat malu, kenapa ia memejamkan matanya tadi? memangnya apa yang ia harapkan dari pria tinggi di depannya ini? 

"Mundur! Aku mau keluar" ucapnya kemudian dengan susah payah melawan rasa gugup yang menderanya.

"Kalo gue gak mau...Lo mau apa?" Ray memiringkan wajahnya untuk menjangkau mata bulat gadis itu yang memandang ke arah lain.

"Ish...minggir aku mau keluar Ray" Kanaya mulai gelisah karena Ray semakin mendekatkan wajahnya dengan sengaja.

"Ngapain Lo masuk kesini?" Tanya Ray dingin kemudian.

"A-aku bawa ini, buat obatin luka kamu"

Kanaya menunjukan kotak berwarna putih yang ia bawa tadi di depan wajah Ray untuk mengalihkan pandangan pria itu. Ray hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menatap gadis itu.

"Gue gak butuh itu"

"Tapi luka kamu harus di obatin Ray biar cepet sembuh"

Kanaya mendorong dada bidang Ray agar ia bisa mengobati luka di bibir dan juga lengan Ray, tapi tubuh Ray sama sekali tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

"Luka gue gak bisa sembuh pake itu"

Ray berjalan mundur lalu mendudukkan dirinya di bibir ranjang, hal itu membuat Kanaya menghela napas lega, akhirnya Ray mau bergeser dari posisinya.

Kanaya ikut mendudukan dirinya di depan Ray lalu membuka kotak obat itu, di ambilnya kapas dan meneteskan cairan obat merah di atasnya dan akan menempelkan benda itu ke sudut bibir Ray.

"Gak usah" Ray menahan pergerakan Kanaya dengan menggenggam jemari gadis itu.

"Kenapa? Ini gak perih kok." Ucap Kanaya mencoba meyakinkan Ray agar mau di obati.

"Lo yakin mau gue sembuh?"

Kanaya mengangguk pelan dengan wajah polosnya, Ray menahan senyumnya agar tidak tertawa, bagaimana bisa gadis di depannya ini begitu polos. Sedangkan ia punya niat lain dari kata katanya itu.

"Apa obatnya? Nanti aku bantu cari"

Ray memiringkan kepalanya untuk menjangkau bibir ranum gadis itu, lalu di kecupnya lembut. Kanaya membelalakkan matanya terkejut mendapati Ray mengucup bibirnya, namun kecupan ringan itu berubah menjadi ******* yang menuntut. Kanaya hanya mampu memejamkan matanya ketika Ray menyetuh tengkuk lehernya untuk memperdalam luma*** itu.

Kanaya menghembuskan nafasnya yang tidak beraturan setelah Ray melepaskan tautan bibirnya, Ray menempelkan keningnya dengan kening Kanaya seraya menatap gadis itu yang nyaris kehabisan oksigen akibat ulahnya.

"Makasih obatnya" ucap Ray lirih dengan tersenyum samar, lalu menjauhkan wajahnya membiarkan gadis itu untuk mengatur nafas.

Kanaya mengerjap pelan lalu bangkit dari posisinya untuk pergi meninggalkan kamar itu. Ray menahan pergelangan tangan Kanaya yang akan berjalan keluar.

"Jangan ulangin sama cowo lain!"

Titah Ray dengan nada posesifnya lalu melepaskan cekalannya pada kanaya. Ia tidak akan membiarkan Kanaya mengulang hal yang sama dengan cowo lain. Tidak akan!.

Kanaya berlari kecil keluar dari kamar Ray dengan menutup bibirnya, karena tidak fokus ia nyaris jatuh akibat menabrak sosok tinggi yang berdiri di depannya.

"Lo kenapa?" Tanya Edo sembari melepaskan tangannya setelah menangkap tubuh Kanaya yang nyaris jatuh ke lantai.

"A-aku gak apa-apa kok"

Kanaya melanjutkan langkahnya meninggalkan Edo yang menatap bingung padanya.

\*\*\*\*

"Woy"

Edo menghempaskan tubuhnya di samping Ray, kemudian menyenggol tubuh sahabatnya itu karena tidak meresponnya.

"Gue tau Lo gak tidur."

Ray tersenyum tanpa membuka matanya mengabaikan Edo, ia sedang membayangkan kejadian barusan yang membuatnya candu.

"Anjirr Lo apain dia? " Tanya Edo antusias lalu merubah posisinya mengahadap Ray.

"Gak gue apa apain" jawab Ray asal lalu bangkit berdiri berjalan menuju cermin.

"Biawak Lo kadalin?! Ga percaya gue. Jangan jangan...

Ray melempar sisir yang baru saja ia pakai ke arah Edo.

"Anj*ng" Umpatnya dengan tertawa.

"Gue bukan Lo."

"Woy...mau kemana?!"

Edo bangkit mengejar Ray yang berjalan keluar meninggalkannya, namun langkahnya terhenti ketika melihat Ray berdiri di ujung tangga.

"Kenapa bro?"

Edo mengikuti arah pandang Ray, seorang wanita cantik bertubuh langsing berdiri di depan Kanaya dengan membawa parsel di tangannya sambil tersenyum manis.

"Ngapain dia kesini" ucap Ray bermonolog.

🍁🍁🍁

Sampe sini dulu yaaa😂

Semoga suka

Okeh, see you 😉

1
Cicih Sophiana
Ray lagi pengen di manja ya... pengen di perhatiin jg 😁😆
yulie istanti
👍👍
MandaNya Boy Arbeto❤️
mulai lg de awal deh
Cicih Sophiana
hmmm dapat kecupan terasa melayang jg yah...😁
Cicih Sophiana
untuk apa aq pergi kamu ada di sini ko🤭
Cicih Sophiana
Yuni kamu ga tau aja... Rey memperlakukan nya dgn baik...
Cicih Sophiana
terserah Rey aja deh mau di apain 😁 yg terpenting jgn di sakiti...😀
Cicih Sophiana
di jalan aja ga nemu macam itu thor...di mana yah aq harus mencari apa harus ke ujung dunia?🤔😁
Cicih Sophiana
visual nya cantik dan ganteng👍🥰
Cicih Sophiana
mampir thor
Etik Widarwati Dtt Wtda
akhirnya nenikah semoga bahagia
Etik Widarwati Dtt Wtda
menikah dan berbahagia
Etik Widarwati Dtt Wtda
emang hukuman apa y
Etik Widarwati Dtt Wtda
nikahhh
Etik Widarwati Dtt Wtda
nikah sama ray
Etik Widarwati Dtt Wtda
lemah sekali.kanaya
Etik Widarwati Dtt Wtda
kok jahat banget y
Etik Widarwati Dtt Wtda
diperalat tantenya sendiri
Etik Widarwati Dtt Wtda
kasih pelajaran ..raka kamu hrs kuat
Etik Widarwati Dtt Wtda
jahat banget titha sama marisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!