Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Maira akhirnya keluar dari kamar dengan pakaian yang jauh lebih sopan. Gaun minim tadi sudah berganti dengan dress sederhana selutut. Dia melangkah ke ruang tamu dan mendapati Hazel serta Devin duduk berdampingan, keduanya menatapnya dengan ekspresi kaku.
“Pak Hazel, ini temannya?” tanya Maira membuka suasana.
“Iya,” jawab Hazel singkat.
Devin segera berdiri dan mengulurkan tangan.
“Kenalin, saya Devin.”
Maira tersenyum ramah sambil menerima jabatan tangan pria itu.
“Maira,” ucapnya pelan, nadanya terdengar lembut, nyaris manja.
“Ehem,” Hazel berdehem, sorot matanya dingin.
Devin langsung menarik tangannya, sedikit kikuk. Suasana mendadak canggung.
“Saya sudah masakin buat makan malam. Ayo kita cicipi,” ujar Maira berusaha mencairkan suasana.
Hazel menoleh ke arah Devin. Keduanya saling bertukar pandang sejenak, seolah memberi kode tanpa kata.
“Ada apa?” Maira yang menyadari gestur itu langsung bertanya.
“Gak ada apa-apa kok,” jawab Devin sambil terkekeh kecil.
“Ayo kita makan,” ucap Hazel akhirnya.
Jujur saja, dia masih diliputi rasa curiga, takut ada sesuatu di makanan yang dimasak Maira.
Di meja makan, Maira meletakkan piring di depan Hazel dan Devin dengan rapi.
“Ayo, cicipi masakan aku,” tawarnya.
Devin yang pertama mengambil nasi dan lauk. Dia mencicipi sebentar, lalu mengangguk-angguk, ekspresinya jelas menunjukkan kepuasan.
“Enak kok Zel. Gak ada apa-apa kok di makanannya,” ucap Devin tanpa berpikir panjang.
Maira langsung menyipitkan mata, menatap Hazel tajam.
“Bapak pasti ngira saya mau meracuni bapak, ya?” tanyanya, nadanya terdengar kesal.
“Hahaha, mana ada,” elak Hazel cepat sambil melirik tajam ke arah Devin.
Devin hanya terkekeh tanpa suara, tetap fokus menikmati makanan buatan Maira.
Maira menyilangkan tangan di dada. Sepiring makanan di depannya tak disentuh sedikit pun. Tatapannya tak lepas dari Hazel, seolah menuntut pembuktian.
Hazel yang ditatap seperti itu mulai salah tingkah. Dengan ragu, dia akhirnya mengambil nasi dan lauk udang asam manis, lalu menambahkan sambal terasi buatan Maira. Dia sama sekali tak ingat satu hal penting, dirinya alergi udang.
Satu suapan masuk ke mulutnya. Hazel berhenti sejenak, lalu mengunyah pelan. Rasanya membuatnya terkejut.
Masakan Maira memang seenak itu.
Tanpa sadar, dia menyuap lagi dan lagi hingga piringnya hampir kosong.
Namun tak lama setelah itu, wajah Hazel terasa panas. Napasnya mendadak berat, dadanya terasa sesak.
“Pak Hazel, anda baik-baik saja?” Maira mulai menyadari kejanggalan pada raut wajah Hazel.
“Hazel, lo makan ini?” Devin menunjuk piring yang berisi udang asam manis, wajahnya berubah tegang.
Hazel mengangguk lemah. Tenggorokannya terasa terbakar, suaranya nyaris tak keluar.
“Lo kan alergi udang!”
“Apa?” Maira menatap Devin tak percaya. Paniknya langsung memuncak saat melihat kondisi Hazel yang semakin mengkhawatirkan.
“Pak Devin, gimana ini?” suara Maira bergetar.
“Kita bawa Hazel ke rumah sakit. Kamu bantuin saya, kita papah dia,” ujar Devin cepat.
“Baik,” jawab Maira tanpa pikir panjang.
Dengan tergesa, Maira dan Devin membantu Hazel berdiri, lalu membawanya keluar menuju mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
***
Setibanya di rumah sakit, Hazel langsung diperiksa oleh dokter jaga dibantu beberapa perawat. Sementara itu, Maira dan Devin diminta menunggu di luar ruangan IGD.
Maira tak bisa diam. Ia mondar-mandir di depan pintu, sesekali menggigit bibirnya sendiri. Tangannya saling meremas, pikirannya penuh dengan berbagai kemungkinan buruk.
“Kamu tenang saja. Hazel pasti gak apa-apa kok,” ucap Devin mencoba menenangkan.
"Dulu dia juga sering kayak gini. Jadi kamu santai aja!"
“Masalahnya bukan itu,” jawab Maira cepat.
“Terus apa?”
“Saya takut nanti dia ngelaporin saya ke polisi dan bilang saya mau ngeracuni dia. Apalagi Pak Hazel itu terlalu sensitif sama saya. Bawaannya curiga mulu,” oceh Maira tanpa jeda, suaranya terdengar panik.
Devin menoleh, menahan senyum melihat kepanikan Maira yang kelewat jujur.
“Niat saya juga baik, kok,” lanjut Maira kesal sendiri.
“Saya sengaja masakin dia supaya dia tersentuh. Biar hatinya kebuka ke saya dan buru-buru nyentuh saya. Jadi saya gak dapat tekanan lagi dari istrinya. Apalagi istrinya itu lebih menyeramkan dari debt collector.”
Devin hanya menghela napas kecil, tak tahu harus menanggapi dari mana,namun dia merasa lucu sendiri mendengar ocehan maira tiada henti.
Tak lama kemudian, pintu IGD terbuka. Dokter keluar dengan ekspresi lebih tenang.
“Bagaimana, Dok?” tanya Devin cepat.
“Untung kalian cepat membawanya ke rumah sakit,” jawab dokter.
“Alerginya cukup serius. Kalau terlambat, bisa menyerang sistem pernapasan dan aliran darah.”
Maira menelan ludah, wajahnya semakin pucat.Kali ini dia benar-benar takut.
“Tapi sekarang kondisinya sudah aman. Beliau hanya butuh istirahat dan observasi sementara,” lanjut dokter.
“Terima kasih, Dok,” ucap Devin lega.
Dokter pun mengangguk dan pergi.
“Syukurlah…” Maira akhirnya bisa menarik napas panjang.Ada rasa lega yang menghampirinya.
Mereka pun kemudian masuk ke dalam ruangan. Hazel terbaring di ranjang, selang infus terpasang di tangannya, sementara hidungnya masih tersambung dengan selang oksigen. Meski begitu, matanya terbuka dan ia tampak sadar.
“Maafkan saya, Pak Hazel,” ucap Maira pelan sambil menunduk.
“Saya gak tahu kalau Anda alergi udang.”
“Bukan salah kamu,” jawab Hazel lirih.
“Saya yang kurang fokus.”
Belum sempat Maira menjawab, langkah sepatu terdengar tergesa masuk ke ruangan. Nadia muncul dengan wajah panik, napasnya memburu. Tanpa aba-aba, Nadia melayangkan tamparan ke pipi Maira.
Plak!!
Maira tertegun. Devin dan Hazel sama-sama terkejut.
“Nadia!” seru Hazel.
“Kamu hampir saja membunuh Hazel!” bentak Nadia dengan mata berapi-api.
Maira mematung, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Seharusnya sebelum kamu masakin sesuatu buat Hazel, kamu tanya saya dulu. Apa yang bisa dan gak bisa dia makan!” lanjut Nadia dengan suara meninggi.
“Maaf…” lirih Maira, kepalanya tertunduk. Pipi kirinya masih terasa panas.
“Nadia, Maira juga gak tahu,” Devin mencoba menyela.
“Ini bukan urusan kamu, Devin. Jadi sebaiknya kamu diam,” potong Nadia tajam.
“Nadia…” tegur Hazel lagi, suaranya sedikit mengeras.
“Semua sudah terjadi. Aku juga sudah gak apa-apa. Kamu gak perlu marah sebesar ini ke Maira. Ini salah aku. Aku tahu aku alergi, tapi tetap aku makan.”
“Tapi, sayang…” suara Nadia melemah, meski wajahnya masih tegang.
“Maira, kamu pulang saja dulu,” ujar Hazel menoleh ke arah Maira.
“Devin, tolong antarkan Maira pulang. Ini sudah malam.”
“Ok,” jawab Devin singkat.
Ia pun mengajak Maira keluar dari ruangan. Saat pintu tertutup, suara Hazel dan Nadia masih terdengar berdebat pelan dari dalam.
Maira berhenti sejenak di depan ruangan. Dadanya terasa sesak. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi sambil memegang pipinya yang terasa perih.