NovelToon NovelToon
Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:368k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kirana Pramudya

Giselle mengira menikah dengan Gibran adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Sosok pria yang mau menerima kekurangannya dan melengkapinya. Akan tetapi, semua angan dan impian Giselle berubah menjadi pahit, ketika dia tinggal satu atap dengan mertuanya.

"Jadi wanita bisanya cuma bekerja, gak tahu dapur, gak tahu kerjaan rumah tangga. Sudah begitu, kamu menikah lama dan tidak memiliki anak. Jangan-jangan kamu mandul, Sell?"

Perkataan pedas, tudingan miring, ditambah dengan ketidakberdayaan Gibran kian menambah runyam suasana. Dapatkah Giselle bertahan dengan konflik batin yang dia alami setiap harinya? Akankah pondok mertua yang tak indah ini perlahan-lahan menjadi rumah yang bisa menerimanya dan memanusiakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengejar Giselle

Gibran rupanya berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kunci mobil. Usai itu, Gibran dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga dan kemudian mulai mengejar Giselle. Gibran bisa tahu posisi Giselle melalui posisi terkini Giselle yang bisa terdeteksi dari handphonenya.

"Gibran, kamu mau kemana?" tanya Bu Rosa kepada putrannya itu. Sebab, Bu Rosa sebenarnya tidak mau jika Gibran sampai mengejar Giselle. Menurut Bu Rosa, Giselle yang pergi itu memang yang dia harapkan.

"Mengejar Giselle, Bu," balas Gibran.

"Untuk apa kamu mengejar wanita pembawa musibah itu?" tanya Bu Rosa dengan memincingkan matanya.

"Giselle adalah istrinya, Gibran, Bu. Surga seorang istri adalah di kaki suaminya. Oleh karena itu, Gibran mau pergi dan mengejarnya," balasnya.

Di sana Annisa pun seakan ingin kembali berbicara dan menahan Gibran. "Aa ... tidak usah mengejarnya," ucapnya.

"Sebaiknya kamu pergi, Nisa. Semua ini gara-gara kamu. Jika kamu masih memiliki harga diri, jangan pergi ke sini lagi. Semua kisah kita telah usai," ucap Gibran dengan tegas.

Usai itu, Gibran kemudian berlari untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia segera mencari Giselle. Jaraknya dengan Giselle sekarang hanya sekian menit saja, jika bisa mengendarai dengan lebih cepat pastilah dia akan bisa mengejar Giselle.

"Kamu kemana Sayang? Jangan pernah mencoba untuk pergi dari sisiku. Sebab, aku akan selalu mengejarmu. Aku akan berusaha untuk membuatmu terus berada di sisiku. Seorang istri adalah milik suaminya. Oleh karena itu, aku akan terus mempertahankanmu. Aku bisa gila jika kamu benar-benar pergi dariku."

Gibran menambah kecepatan mobilnya. Sekarang, dia harus bergegas supaya tidak kehilangan jejak Giselle. Gibran sepenuhnya sadar bahwa dia yang membawa Giselle untuk tinggal di rumahnya, maka dia juga yang akan bertanggung jawab untuk membawa Giselle kembali. Bentuk dan caranya untuk bisa melindungi Giselle.

Berkendara sekian menit, akhirnya Gibran bisa melihat mobil milik Giselle dengan plat mobil Jakarta itu. Gibran memilih untuk membuntutinya, hingga Giselle berhenti di sebuah hotel. Mungkin Giselle berniat untuk menginap di hotel dulu selama beberapa hari, dan setelahnya baru mencari kost untuk tempat tinggal. Namun, ketika mobil Giselle berhenti, Gibran segera turun dari mobilnya dan mengetuk kaca mobil milik Giselle.

Tok ... Tok ....

"Buka Sayang," ucap Gibran.

Hari yang masih panas, seakan tidak dihiraukan oleh Gibran. Yang pasti dia bisa menemukan Giselle. Sekarang, Gibran berjanji tidak akan melepaskan Giselle lagi. Akan berusaha menahan Giselle.

Namun, untuk sesaat Giselle menangis di dalam mobil yang belum dihentikan mesinnya itu. Dia enggan untuk membukakan pintu untuk Gibran. Akan tetapi, jika tidak membukakan pintu juga kasih Gibran yang masih mencoba membuka pintu mobilnya. Malu juga dengan beberapa orang yang mengamati keduanya. Mau tidak mau, Giselle pun membukakan pintu mobil untuk suaminya.

Gibran begitu kacau, wajahnya merah, matanya merah karena dia juga usai menangis. Belum dengan peluh yang menetes di keningnya. Pria itu benar-benar berantakan. Memasuki kursi di samping kemudi pun, Gibran sampai terengah-engah, butuh waktu untuk bisa menetralkan deru napasnya.

"Sayang," ucap Giselle dengan menggenggam tangan Giselle di sana.

Tidak ada jawaban. Yang ada hanya tangisan Giselle yang memenuhi seluruh mobil itu. Sesak sekali rasanya. Biasanya Giselle bisa sabar. Bisa mendamaikan dirinya sendiri. Namun, kala mertuanya sampai mengusirnya rasanya Giselle sudah benar-benar tidak mendapatkan tempat lagi di rumah mertuanyanya.

"Sayang, jangan pergi seperti ini. Jangan pernah meninggalkanku," ucap Gibran.

"Aku tidak bisa kembali lagi ke rumahmu, Mas ... biarkan aku pergi," ucap Giselle sekarang.

Agaknya Giselle sudah menetapkan hatinya. Dia tidak bisa lagi kembali ke pondok mertuanya yang penuh ucapan pedas itu. Andai diberi level, entah sampai level berapa ucapan pedas mertuanya itu. Padahal juga, Giselle berusaha memberi dari penghasilannya, tapi tetap saja dia selalu dipandang rendah.

"Pulang dulu yah? Nanti kita cari jalan keluarnya bersama-sama," ucap Gibran sekarang.

Namun, Giselle menggelengkan kepalanya. Hatinya sudah terlampau sesak. Dua tahun bersama mertuanya, dan hanya luka dan kepedihan yang dia padatkan. Tidak pernah ada kasih sayang. Uang bulanan mengalir lancar, tapi nyatanya Giselle juga tidak diterima. Dikatai yang bukan-bukan.

"Tolong Sayang ... sebulan saja, kita pulang ke rumah. Usai itu, kita akan mencari jalan keluar," balas Gibran,

"Sebulan di rumahmu, serasa seperti neraka satu tahun untukku, Mas. Terlebih Ibu yang sudah memiliki menantu pilihan. Tidak akan pernah bisa menerimaku," ucap Giselle masih dengan air matanya yang berderai.

Memang Giselle tidak berada di rumah untuk 24 jam sehari. Dia juga bekerja di hari Senin sampai Jumat. Namun, pagi dan malam hari rasanya juga sangat melelahkan. Pulang malam untuk lembur, tidak boleh. Malam sebelum jam 22.00, lampu utama di kamar harus dimatikan. Pagi harus membantu memasak dan terlambat sedikit saja ucapan pedas siap menjadi sarapan. Walau Giselle berinisiatif untuk peka seperti membeli gas dan juga mengisi ulang galon yang habis, tak pernah ada ucapan terima kasih. Yang ada hanya cibiran dan terus direndahkan. Setelah itu, akan dibawa-bawa latar belakang Giselle yang dari keluarga kaya raya.

"Aku mohon, Sayang," pinta Gibran dengan suara yang terdengar begitu mengiba.

Giselle diam, tidak memberikan jawaban. Dia tadi sudah keluar dari rumah. Lantas, hanya dalam waktu kurang dari satu jam sudah kembali pulang ke rumah mertuanya lagi rasanya pasti mertuanya nanti akan semakin berbicara pedas.

"Surga seorang istri di kaki suaminya, Sayang ...."

Gibran sekarang berkata dan mengingatkan Giselle bahwa surga seorang istri ada di kaki suaminya. Semoga dengan demikian, Giselle mau melembutkan hatinya dan mau untuk pulang ke rumahnya lagi.

"Surga seorang anak di kaki Ibunya kan Mas?" balas Giselle.

"Tanpa istri pun, suami pun tidak akan layak mendapatkan surga, Sayang," balas Gibran.

Gibran masih berusaha untuk meluluhkan hati istrinya. Meminta waktu satu bulan saja untuk memikirkan semuanya. Hanya sebulan. Usai itu, Gibran berjanji untuk bisa memikirkan semuanya lagi.

1
Safa Almira
yey
Dewi Nurani
bayinya perempuan tp yg diangkat bayi laki laki , gimanaaaa 🤦
Dewi Nurani
harusnya bu rani ikut bu rosa dulu biar tau rasa s amel
Alana
mertua lucknut ga tau diri udah di tolongin bukannya bersyukur dan berterima kasih malah nyalahin dan nyaci kaki ... ga tau ini otak dan mata hatinya di taruh dimana sih ?? KL di dunia nyata ada mertua kek gini gimana jadinya ya para mantu keknya banyak yg cerai 😩😩
Les Tary
Tanti Rani mendingan ikut kasihan mertua udh kyk pembantu biar tahu rasa itu menantunya kerjaan rmh dikerjain sndiri
Nenti
Gedeg banget sumpah 😡😡😡
Nenti
😭😭😭😭😭😭
sedih kalo berada di posisi Gisel semuanya serba salah
Alana
nenek gilakk dasar mertua lucknut
Alana
nenek gilakkk ga otak .. KL aku jd Gibran sakit hati bukan main mau punya anak bininya di ejek di hina abis²an... intinya dia ga suka dan benci SM Giselle Sampe kabar bahagia aja ga suka KL udah benci dr awal yaa bakal benci sebagus dan sebaik apapun Giselle ga akan baik di mata mertua gilaknya .. hahaa jujur Thor aku udah lelah bacanya SM nenek tua gilakk itu
Alana
ribet banget ni emak2
Alana
ehh aku aja kl LG ruwet masak makanan rasanya suka ga karuan.. apalg kek Giselle yaa punya mertua yg toxicnya ke iblis.. ehh nauzubillah KL aku jd Giselle sih udah give up angkat tangan
Les Tary
bknnya dicerita yg lain anaknya Kanaya udh ketemu Thor trus Kanaya sm dokter Bisma udh pnya anak cewek.
Alana
karyamu bagus Thor.. memang PD dasarnya berumah tangga itu berjuang bersama tp jika trs di sakiti mertua yaa jangan juga Krn istri berhak bahagia bagaiman mau hamil mental dan batinnya tertekan oleh mertuany yg toxic dan penuh kebencian PD mantunya wajar jika Giselle pergi dr rumah itu secara lakinya jg ga tegas SM ibunya .. hrsnya Gibran jg tegas dan sll menasehati baik2 ibunya sekali² yaa marah jg biar ibunya jera
Alana
mertua toxic banget yaa tuhan .. KL aku jd Giselle udah aku tempeleng itu muka si rosa
Alana
mertua lucknut ... emosi bcanya Thor aku
Alana
mertua ga tau diri udah di kasih nyela, ngehina dan ga menghargai mantu duuhh udahmah kaya benalu di ksh hati minta jantung nih emak²
Surabaya Honda
stop by Thor .. interesting story 👍
Densi dama Yanti
Karyo thor baguss banggat
Kirana Pramudya: Terima kasih banyak, Kak.. 😇
Dukung juga di karya lainnya yah. 🥰
total 1 replies
Ning Gedeona
cabein aja tu mulut mertua😀😀😀😀
eni mince
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!