NovelToon NovelToon
Istri Kedua Tuan Krisna

Istri Kedua Tuan Krisna

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Misteri / Mafia / Tamat
Popularitas:11.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Syala yaya

Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?

Seorang pelakor?

Seorang wanita perebut suami orang?

Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.

Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?

Akankah dia bahagia?


"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna


"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna


"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika


follow IG @Syalayaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Modus

Happy Reading …

🌞🌞🌞

“Isna.”

Panggilan dari arah belakang, membuat Isna segera menoleh. Dia meletakkan pernak-pernik di tangannya dan menunduk sapa. Kartika berdiri di ambang pintu yang dibiarkan terbuka.

“Boleh, aku masuk?” tanyanya mengulas senyuman. Menandang ke arah Isna yang nampak terkejut akan kedatangannya.

Kartika segera memasuki ruangan, ke tempat Isna menghabiskan hari-harinya untuk membuang kebosanan. Terlihat Kartika memandangi barang-barang yang ada di hadapan Isna. Sedikit berserakan di lantai.

“Silahkan, Nona,” jawab Isna sedikit canggung dan bangun dari duduknya, menyambut kedatangan kartika.

“Kau yang membuatkan Krisna, gantungan kunci cantik itu?” tanya Kartika sambil berjalan mengintari ruangan.

Pandangan kartika menyapu seluruh ruangan, Isna hanya berdiri memandang punggung Kartika, yang berjalan dengan anggun.

“Tuan Krisna sendiri yang meminta.”

Kartika menoleh dengan senyuman sekilas, berjalan kearah Isna dan berjongkok menatap beberapa hiasan cantik, yang tergeletak dilantai. Dia mengambil satu dan mendongak ke arah Isna sambil tersenyum. Isna segera duduk kembali berusaha tetap bersikap tenang.

“Kau tahu, Krisna tidak pernah mengampuni sebuah penghianatan?” tanya Kartika sambil tangannya menggantung di udara, memperlihatkan sebuah kalung berinisial Wisnu.

“Kenapa anda berbicara begitu?” tanya Isna memandang Kartika penuh kewaspadaan.

“Apa kau menyukai, Wisnu?” tanyanya dengan seulas senyuman.

“Memangnya kenapa, Nona?” balas Isna bertanya. Senyuman di wajah Kartika lenyap seketika.

“Aku akan membantumu keluar dari sini, dan pergi dengan Wisnu kalau kau mau,” tawarnya dengan suara lembut. Dia memiringkan wajahnya dengan senyuman lagi. Dia bersikap sangat anggun.

“Tidak perlu, Nona. Saya jadi bingung, anda menyuruh saya menikahi suami anda dan memberi anda seorang bayi, sekarang setelah saya sudah menikah, anda menawarkan lagi untuk kabur?” tanya Isna bernada tak bersahabat.

“Karena ternyata terlalu sakit, saat aku harus melihat suamiku bersama wanita lain, apalagi tidak selevel denganku,” jawabnya dengan nada mengejek.

Aku tidak tahu, harus bersikap bagaimana padanya, dia sendiri yang memilihku. Rasanya ingin sekali aku mengumpat

“Seharusnya, anda berfikir dulu sebelum mengambil sebuah keputusan, Nona. Semua hal pasti ada baik buruknya,” tukas Isna membereskan barang-barangnya.

“Kau sedang mengguruiku?” desis Kartika dengan wajah menggelap.

“Saya hanya, memberi nasehat untuk diri saya sendiri, anda tidak perlu tersinggung,” seloroh Isna sambil berdiri.

Hening dan canggung. Isna menjadi menyesal sudah melontarkan kata-katanya. Isna menunggu Kartika yang menunduk, memikirkan sesuatu.

“Aku mau minta maaf padamu,” katanya kemudian sambil ikut berdiri dan meraih jemari Isna.

“Untuk apa?” tanya Isna cepat, dia segera menarik jemarinya, karena merasa tidak nyaman.

“Atas sikapku kemarin, aku menyakitimu. Aku menyesal,” ungkapnya dengan sorot mata berkaca-kaca.

“Tidak perlu meminta maaf, Nona. Semua istri pasti akan bersikap seperti anda, bila berhadapan dengan istri muda suaminya. Saya maklum,” sahut Isna memandang Kartika dalam.

Kartika memeluk tubuh Isna dan menepuk bahunya. Sedikit menampakkan isak tangis. Isna membalas menepuk punggung Kartika dan membiarkan Kartika melepaskan perasaannya.

Pelukan gadis ini terasa sangat nyaman. Apa Krisna merasakannya juga?

Kartika melepas pelukan dan segera meraih kedua tangan Isna dan tersenyum dengan sedikit berdehem, membuang suara parau tangisannya.

“Ayo kita berteman, datanglah kapan saja, ke kamarku. Aku ingin mengenal ibu dari anak yang akan aku rawat nantinya,” ujarnya mengulas senyuman.

Isna hanya mengangguk dan menunduk, perasaannya tiba-tiba merasa terhujam pisau. Terasa sakitnya, namun tidak menampakkan darah setetespun, untuk memperlihatkan se dalam apa lukanya.

“Aku mengundangmu, malam ini. Kita minum anggur bersama, aku akan memperlihatkan koleksi keluarga Krisna di Resort ini, datang ya?”

Isna menghela napas dan memandang Kartika dengan senyuman.

Tuluskah, ucapannya?

“Baik, Nona. Tapi, Tuan Krisna tidak mengijinkan saya meminum minuman ber-alkohol,” jawab Isna hendak menolak.

“Jangan kuatir, kita hanya akan mengincipinya sedikit. Apa kau tidak penasaran untuk mencobanya, walau sedikit?” rayunya lagi dengan suara meyakinkan.

“Tapi, kalau Tuan Krisna tahu bagaimana?” ucap Isna mencoba menolak secara halus.

“Kita akan menunggu Krisna tidur, hehe … bukankah asyik?”

“Baiklah,” jawab Isna kemudian, setengah ragu.

“Aku tunggu di balkon ya, nanti malam? Ruangannya tersembunyi di sana,” bisiknya dengan memberi telapak tangan miring di pipinya.

Isna hanya mengangguk dan menatap kepergian Kartika dengan berjuta keheranan. Perempuan itu melenggang dengan santai, dengan derap langkah kaki jenjang, bagai seorang model yang berjalan.

Apa dia sungguh meminta maaf? Apa aku harus cerita pada Wisnu tentang hal ini?

Isna segera membereskan barangnya dan menyimpan di dalam koper besar. Menariknya ke sudut ruangan.

Isna segera memutar tubuhnya, memandang ke sekeliling ruangan dan menghembus napas sambil tersenyum.

“Gila ya, seumur hidup hanya menghabiskan waktu di dalam rumah. Salah apa hidupku dimasa lalu?” gumamnya sambil menertawai dirinya.

Wisnu nampak sudah beranjak memasuki ruangan dan memandang Isna dengan tatapan aneh, keningnya mengernyit.

“Kenapa menatap begitu, patung jelek?” Isna memasang wajah jutek ke arahnya.

“Ternyata kejiwaan anda bermasalah, Nona. Tertawa sendiri,” ejeknya sambil mengambil sebuah jaket yang di gantung di belakang daun pintu dan merogoh ke dalam sakunya.

“Kau mau bilang, aku gila?” tanya Isna sambil mendekat.

Wisnu nampak masih sibuk merogoh isi saku jaketnya. Mengambil beberapa peluru yang dia jatuhkan ke lantai kemarin malam.

“Tidak, cuma sedang gangguan,” jawabnya datar, tanpa menoleh Isna dan memasukkan pelurunya ke dalam pistol.

“Ajari aku memakai itu,” pinta Isna sudah berada tepat di depannya. Memandang sebuah pistol di genggaman Wisnu dengan pandangan kagum.

Wisnu segera melangkah mundur dan memberi jarak. Isna tertawa terbahak dengan tangan menutupi bibirnya.

“Anda tahu, kemarin saya babak belur dihajar Tuan Krisna gara-gara kelakuan anda,” protes Wisnu berbalik arah.

“Hei, ajari aku. Wisnu yang baik dan tampan se korea selatan. Ajari aku ya? Kau tidak tahu 'kan, nyawaku selalu terancam?” desak Isna berlari kecil menyusul langkah Wisnu yang lebar.

“Apa, imbalannya?” tanya Wisnu tanpa menoleh, masih berjalan menuruni tangga dengan langkah sedikit berlari kecil.

Beberapa pengawal dan pelayan menunduk hormat saat Isna dan Wisnu berpapasan dengan mereka.

“Kau mau kemana?” tanya Isna meraih lengan Wisnu agar berhenti berjalan cepat. Wisnu masih mengabaikan ocehannya.

“Mengecek bangunan menara di pulau sebelah, juga mengunjungi pusat keamanan disana. Beberapa radar bermasalah, beberapa hacker sepertinya berusaha meretas server keamanan disini,” jawab Wisnu masih berjalan.

“Memangnya kenapa, apa maksudmu dengan menetas? aku bingung,” tanyanya lagi masih mengekor.

"Me-re-tas, Nona," ejanya nampak seperti meledek.

"Haha ... iya, meretas," ralat Isna sembari menertawai pendengarannya.

“Sistem keamanan terpadu kita, ada masalah. Silahkan kembali, Nona. Saya permisi.”

Isna berhenti melangkah, membiarkan Wisnu memasuki mobil dan bergerak meninggalkan Resort. Isna hanya bisa menghela napas.

Aku belum memberitahunya, tentang undangan nona Kartika. Haruskah aku menyelinap ke balkon malam-malam? Apa Tuan Krisna akan marah, kalau tahu aku meminum anggur?

“Masuk!”

Suara tegas berasal dari arah belakangnya, tanpa menoleh pun Isna hafal siapa pemiliknya.

“Hmm,” jawab singkat Isna dan berbalik badan menatap pria yang kini sedang memandangnya dengan senyuman.

Tampan sekali. Wisnu benar, sepertinya jiwaku sedang terganggu, sudah menyebutnya tampan.

“Sedang apa disini?” tanyanya mendekat dan meraih Isna, merangkulnya dan menyeretnya masuk ke dalam Resort dengan sayang.

“Ajari saya menggunakan pistol, Tuan,” pinta Isna mendongak karena kepalanya dipaksa menunduk dengan lengan Krisna yang kokoh.

“Apa motif mu belajar?” tanyanya penuh selidik.

“Untuk membela diri, banyak orang jahat di sekeliling saya,” jawab Isna meyakinkan.

Krisna tertawa dan segera menariknya ke dalam ruangan kerjanya. Menutup pintu cepat dan mendudukkan Isna ke sofa. Memberikan minuman kaleng dingin dan duduk di sampingnya dangan lengan mengalung dibahu Isna.

“Siapa yang jahat, aku?” tanyanya dengan suara bersahabat.

“Bukan, anda sudah menyelamatkan nyawa saya, berarti anda bukan termasuk orang jahat,” jawab Isna cepat. Jemarinya memainkan kaleng tanpa mau membukanya.

“Aku senang, kau menganggapku bukan penjahat. Seandainya aku bertemu denganmu sebelum aku menikah, aku pasti akan sangat bahagia. Tapi kenyataan bahwa kamu membenci statusmu, aku tiba-tiba seperti seorang penjahat,” ungkapnya melepaskan gayutan tangannya dan berdiri, berpindah tempat duduk di kursi kerjanya menghadap layar canggih di depannya.

Isna membeku, dia tidak menyangka Krisna sepeka itu melihat gelagatnya.

“Kau harus mulai bersikap waspada Isna, sepertinya ada yang mengutak-atik sistem keamanan pulau ini,” bebernya membuat Isna berjengkit dan menoleh ke arah Krisna dengan degupan jantungnya yang berdetak cepat.

Jadi Wisnu tadi serius?

“Mereka kira aku bodoh?” Krisna tertawa kecil dan mengetik beberap password ke dalam mesin pencarian di layar canggihnya.

“Malam ini, ayo kita bersenang-senang Isna. Sepertinya asyik, bisa bercinta di tengah peperangan,” ucapnya menatap Isna sambil tertawa.

Apa katanya? kenapa pikirannya isinya mesum melulu, kenapa sikap tegas dan berkharisma itu seolah lenyap seketika?

Isna menghela napas, dengan kesal melemparkan botol minumannya kearah Krisna. Krisna menangkapnya dengan cepat sebelum mengenai tubuhnya.

“Nice shoot, Isna,” pujinya sambil tertawa.

“Kenapa masih santai saat anda akan menerima serangan?” sahut Isna sambil berdiri memandang Krisna.

“Memangnya dengan khawatir bisa mengatasi mereka?” jawab Krisna santai.

“Lalu, apa yang akan anda lakukan, Tuan?” tanya Isna khawatir.

“Menyerang mereka, sebelum mereka menyerang kita,” tukasnya sambil berdiri dan berjalan ke arah Isna.

“Apa semua ini ada hubungannya dengan saya?” Kedua bola Isna mengerjap berusaha menahan gejolak batinnya.

“Jangan kuatir. Aku akan selalu melindungimu. Isna,” ucapnya menyentuh bahu, menenangkan Isna.

“Anda?” tanya Isna menatap Krisna dengan bingung.

Krisna hanya tersenyum, di tatapnya layar monitor yang berada tak jauh darinya.

"Entah kau siap atau tidak, sampai kapanpun mereka akan tetap mengejarmu untuk mengamankan posisinya, Isna."

"Posisi? maksud anda?" Isna masih belum mengerti.

"Turuti saja aku, aku akan melindungimu, dengan caraku."

"Anda membuat saya takut," sahut Isna sambil berbalik dan berkeliling ruangan.

Beberapa foto nampak juga dipajang di tembok. Isna menjadi penasaran dan mendekat, Krisna hanya memandang dengan senyuman.

"Romantis sekali, anda dan nona Kartika sangat serasi," komentar Isna menoleh ke arah Krisna.

"Aku dulu sangat menyayanginya," jawab Krisna ikut berdiri dan melangkah ke arah Isna berada.

"Dulu? lalu sekarang," tanya Isna tanpa menoleh.

"Dia menghianatiku, kau tahu ... bagaimana rasanya saat ketulusanmu ternyata dibalas dengan dusta?"

Wajah Krisna nampak mengulas senyuman ironi, Isna malah merasa tidak enak.

"Anda sedang ada masalah dengan nona Kartika?" Isna nampak memberi simpati.

"Tidak, tidak ada. Semua baik-baik saja."

"Baiklah, tadi dia meminta maaf kepada saya," ungkap Isna segera mengundur diri, berkeliling lagi.

"Benarkah? kau mau memaafkannya?" tanya Krisna sambil membalik badannya, memandang punggung Isna yang masih mengintari ruangan.

"Tentu saja," jawab Isna tanpa beban.

Kau tidak cuma kaya harta, tapi hatimu juga kaya.

"Kalau nanti sudah berada di posisimu, apa kau akan meninggalkanku juga?" tanya Krisna ambigu.

Isna menoleh dengan wajah bertanya-tanya.

Bukankah, itu yang harusnya aku tanyakan?

Mereka berdua hanya bisa saling melempar senyuman.

"Bukankah, ini pertama kali kita berbicara tanpa bertengkar?" seloroh Isna di iringi tawa.

"Kau ramah saat bersama Wisnu, tapi denganku kau selalu bersikap kurang ajar," sahutnya sembari menahan tawa.

"Wisnu, seseorang yang pertama kali, saya kenal ketika saya tidak punya siapa-siapa untuk berbagi rasa," jawab Isna jujur.

"Lalu, aku apa bagimu?" tanya Krisna lagi sambil mengulum bibirnya.

Sesaat dia menyadari kebodohan pertanyaannya. Ini pertama kali menanyakan perasaan seorang wanita. Dia merasa sangat malu.

"Anda? seseorang yang bersikap sok keren, hanya untuk menutupi perasaan, manusia ambigu," jawab Isna sambil tertawa.

"Kau ahli, menebak sifat laki-laki? ledek Krisna sedikit mengakui.

"Saya pacaran 5 kali, Tuan," balas Isna pamer.

"Kaku begitu, pasti kau payah sekali," balasnya tak mau kalah.

"Siapa yang bilang?" adus Isna masih tertawa.

"Buktikan," tantangnya tak mau kalah dalam berkata-kata dengan Isna.

Krisna segera tergelak menatap perubahan di wajah Isna yang nampak memberinya tatapan waspada.

"Kau lucu sekali," ledek Krisna sambil melangkah melewati Isna dan membuka pintu yang berada di pojokan.

Isna segera mengekor dan sedikit melongok kepala di samping Krisna yang masih di berdiri di depan pintu.

"Apa! bukankah itu kamar saya?" setengah teriak memandang Krisna sambil menutup bibirnya.

Jadi saat itu dia lewat sini?

"Siapa suruh kau memilih kamar ini? ini kamar favoritku," sahutnya dengan gaya yang narsis.

"Wah, saya terjebak kata-kata anda. Anda pasti playboy ya?" Isna semakin merasa dikerjai.

"Bukan dong, istri baru dua sudah kau sebut playboy?" elaknya sambil tertawa.

Isna hanya menggelengkan kepalanya, merasa Krisna sudah aneh. Lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya dan segera menutup pintunya tepat dihadapan Krisna.

Bersambung ...

🍃

Hai Readers ...

Terimakasih sudah membaca karyaku ini.

Berikan like dan komentar positif ya. vote juga bila suka. (bab berikutnya masih diketik😀)

Salam dari saya ~ With Love ~ Syala Yaya 🌹🌹

1
Ayu Faridiyah
q sudah baca brulang2 kk...TPI masih aja suka n slalu terbawa suasana,kyk q jga ikut dlm cerita😉
🍃EllyA🍃
Luar biasa
🌸ReeN🌸
keren bgt novelnya... 👍👍👍
Syala Yaya (IG @syalayaya): Terima kasih, kak. semoga suka dengan jalan ceritanya, yaaa ❤️❤️
total 1 replies
N Talia
keren...🥰
N Talia
Lumayan
Koni Dwi N
perang lagi ya thor?
Naja Naja nurdin
so sweet
Koni Dwi N
peliharaan kok ular sih
Koni Dwi N
rentenir melulu kasusnya thor
Koni Dwi N
ngganggu aja /Grin//Grin//Grin/
Koni Dwi N
nah lho isna hamil tuh
Koni Dwi N
novelnya bagus, menarik ceritanya thor, JD semangat berkarya trs ya thor
Koni Dwi N
Wisnu ktemu calon jodoh
Koni Dwi N
Krisna udah bucin bgt
Koni Dwi N
lanjut thor
Koni Dwi N
udah hampir selesai ya thor?
Koni Dwi N
isna akan jadi istri ikrisna satu2nya
Koni Dwi N
cinta bertepuk sebelah tangan, pasti sakit banget ya Wisnu?
Koni Dwi N
suami idaman
Koni Dwi N
maju trs pnting mundur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!