Dikhianati oleh orang yang dicintai yaitu sang istri membuat Louis Gabriel menutup diri dari wanita, dia menjalani hari-harinya dengan begitu kesepian bahkan tinggal di rumah mewah dan besar miliknya tanpa ditemani oleh siapapun.
Dingin, kasar, dan arogan menjadi sifat Louis yang merupakan salah satu pengusaha terkaya di negaranya. Meskipun Luois menutup hatinya akan seorang wanita, namun, tidak dengan nafsu dan birahi yang ada di dalam dirinya.
Sebagai seorang laki-laki normal tentu saja dia tetap membutuhkan kaum wanita untuk memenuhi kebutuhan biologisnya itu, dan Loius selalu menggunakan jasa wanita penghibur untuk memuaskan nafsu birahinya.
Sampai akhirnya, dia bertemu dengan seorang wanita yang cuek, urakan bahkan pecicilan bernama Arista yang mampu membuka hati bahkan mencairkan jiwa yang selama ini membeku.
Seperti apakah pertemuan mereka berdua? akankah Arista menerima cinta dari seorang laki-laki kaya raya, namun, memiliki sifat Arogan dan semena-mena tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan Bipolar
"Mommy?" Lirih David saat matanya menangkap sosok wanita yang mirip dengan ibunya.
Dia pun menghentikan langkah kakinya membuat Jodi seketika melakukan hal yang sama dengan perasaan heran menatap wajah David yang terlihat menatap sekeliling.
"Ada apa, Den? Kenapa berhenti?" Tanya Jodi menatap wajah David enggan perasaan heran.
"Mommy! Tadi aku liat Mommy, Om." Jawab David masih menatap sekeliling mencari sosok sang ibu yang kini telah menghilang di balik kerumunan orang.
"Mantan Nyonya besar? Eu ... Maksud Om Nyonya Clara ibu kamu?" Tanya Jodi mengikuti tatapan mata David dalam menatap sekeliling.
"Iya, Om. Tadi dia ada di sana, tapi sekarang udah gak ada."
"Den David, mungkin itu cuma perasaan kamu aja karena Aden terlalu merindukan ibu Aden."
"Benarkah? Tapi tadi aku jelas-jelas liat dia, Om."
"Nanti kita cari ya. Sekarang kita ke tempat Tante Arista dulu, katanya kamu mau nemenin Daddy?"
David pun menganggukkan kepalanya dengan perasaan khawatir lalu pasrah saat tangannya ditarik pelan oleh Jodi orang kepercayaan ayahnya.
Yang dilihat oleh David memanglah Clara. Dia sedang berada di Rumah Sakit yang sama saat ini. Clara ke sana bukan untuk berobat, dia juga tidak punya penyakit mematikan ataupun penyakit yang menular.
Clara datang ke Rumah sakit untuk menemui psikiater, dia mengidap gangguan Bipolar atau mania depresif yaitu gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, serta kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Pengidap bipolar yang sebelumnya merasa sangat gembira bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan putus asa.
Sebenarnya, dia sudah memiliki gangguan Bipolar sejak lama dan berhasil mengatasinya dengan sering berkonsultasi dengan Dokter Psikiater dan meminum obat penenang. Akan tetapi, setelah kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini, penyakitnya yang satu ini semakin parah dan dia sangat membutuhkan perawatan khusus dari Dokter agar bisa mengatasi penyakitnya itu.
Hal itu jugalah yang membuatnya menyerahkan David kepada mantan suaminya, dia tidak ingin David sang putra tau bahwa dirinya memiliki riwayat penyakit seperti itu.
Clara berjalan menuju parkiran setelah dirinya berkonsultasi dengan Dokter hari, dia pun menatap sekeliling seperti ada seseorang yang memanggil namanya. Clara memang sengaja mengambil waktu malam hari untuk membuat janji bersama sang Dokter karena dirinya sudah benar-benar tidak bisa menahan lagi setiap perubahan emosi yang dia rasakan akhir-akhir ini.
♥️♥️
Sementara itu, Louis yang masih menunggu dengan perasaan cemas di depan ruang pemeriksaan. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi tangannya kini.
"Astaga, itu Dokter lagi ngapain si? Lama banget." Gerutu Louis berjalan mondar-mandir.
Ceklek ....
Akhirnya, Dokter pun keluar dari dalam raungan dan Louis seketika langsung masuk ke dalam ruangan itu menghiraukan Dokter tersebut membuat sang Dokter merasa heran.
"Arista ... Kamu baik-baik aja 'kan?" Tanya Louis berdiri tepat di samping ranjang membuat perawat di sana pun mendelik'kan matanya merasa heran.
Arista yang masih merasa lemas dan baru saja siuman pun hanya bisa mengangguk kecil seraya tersenyum menatap wajah Mas Louis tersayangnya yang terlihat begitu khawatir.
"Kamu benar-benar sesuatu, Rista. Hari ini kamu sukses obok-obok perasaan Mas. Untung aja Mas gak jantungan,'' ucap Louis mengusap lembut kepala Arista.
Dokter yang tadi keluar dari dalam ruangan itu pun kembali masuk ke dalam dan menatap wajah Louis dengan tersenyum lucu.
"Nona Arista tidak apa-apa, Tuan. Beliau cuma kelelahan dan sepertinya dia belum makan karena kami menemukan bahwa tubuh pasien kekurangan nutrisi dan juga kekurangan cairan." Jelas sang Dokter membuat Louis seketika terperangah.
"Hah? Dokter gak salah? Dia itu jatuh dari tangga lho, kenapa jadi malah kekurangan Nutrisi dan Cairan?" Ketus Louis menatap sang Dokter dengan perasaan tidak percaya.
"Seperti itulah yang kami temukan. Coba anda tanya sama pasien, apa dia sudah makan?"
"Rista, sayang. Apa kamu sudah makan hari ini?" Tanya Louis lembut dan penuh kasih sayang.
Arista menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Astaga, Arista. Apa-apaan kamu? Emang di rumah gak ada makanan? Emangnya Bibi gak masak? Ya Tuhan ... Kamu ini ...!" Gerutu Louis merasa kesal, perasaannya benar-benar di buat tidak karuan hari ini.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut mungilnya.
"Dokter, tadi dia sempat jatuh, tubuhnya gak ada yang luka 'kan? Tulang-tulangnya masih aman 'kan gak ada yang patah? Otak ... Otak calon istri saya juga baik-baik aja 'kan gak ada yang terganggu sedikitpun?" Tanya Louis secara bertubi-tubi membuat Dokter tersebut kembali tersenyum merasa lucu.
"Tuan tidak usah khawatir, semua yang Tuan sebutkan tadi baik-baik saja. Kening Nona Arista memang sedikit memar tapi, keadaan tubuhnya masih baik-baik saja dan beliau bisa langsung pulang sekarang juga setelah menghabiskan satu labu infus dan kami juga akan menyuntikkan vitamin ke dalam tubuh pasien.''
"Syukurlah ..."
"Di suntik?" Arista tiba-tiba membulatkan bola matanya seraya berteriak kencang.
"Iya, kenapa? Kamu takut?"
"Nggak, aku gak mau di suntik. Mendingan aku di suntik si piton'nya Mas Louis dari pada di suntik sama jarum suntik yang tajam itu. Aku gak mau ..." Teriak Arista lagi dengan wajah pucat pasi.
"Hahaha ... Arista, di suntik gak sakit ko, sayang. Kayak di gigit semut gitu lho. Justru malahan lebih sakit di suntik sama piton'nya Mas." Jawab Louis tertawa lucu.
"Nggak pokoknya gak mau. Aku mau pulang sekarang,'' rengek Arista, dirinya memang memiliki trauma tersendiri terhadap jarum suntik.
"Sayang ... Kalau kamu gak di kasih Vitamin nanti kamu sakit lho. Lagian kata Mas juga gak bakalan sakit, kayak di gigit semut," ucap Louis masih mencoba membujuk.
Arista hanya terdiam mengerucutkan bibirnya sedemikan rupa.
"Lagian suruh siapa kamu gak makan, hah?" Louis sedikit menaikan suaranya merasa kesal.
"Aku nungguin Barbeque, makannya gak makan. Hehehe ...''
"Astaga, Arista ... Kamu ini ... Ya Tuhan, Mas benar-benar gemes sama kamu, lama-lama Mas telan juga kamu bulat-bulat ya." Gerutu Louis semakin merasa kesal.
Louis pun hendak memuntahkan rasa kesalnya terhadap Arista karena sengaja tidak makan seharian hanya demi mencicipi barbeque yang dijanjikan, tiba-tiba saja pintu di buka secara tergesa-gesa dan sedikit bertenaga membuat Louis dan semua yang ada di sana merasa terkejut seketika.
"Tuan, Den David, Tuan. Dia hilang." Ucap Jodi membuat Louis terkejut bukan kepalang.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️