Albie Putra Dewangga, 32 tahun.
Dokter bedah trauma—pria yang terbiasa berdiri di antara hidup dan mati, tapi justru kalah saat menghadapi percintaan.
Kariernya gemilang. Tangannya menyelamatkan nyawa.
Namun hatinya runtuh ketika Alya, kekasihnya yang seorang model, memilih mengejar mimpi ke Italia dan menolak pernikahan.
Bagi Albie, itu bukan sekadar perpisahan melainkan kegagalan.
Di malam yang sama, di sebuah bar ia bertemu Qistina Aulia, 22 tahun.
Mahasiswi cantik dengan luka serupa, ditinggal pergi oleh pria yang ia cintai.
Dua hati yang patah.
Dua gelas yang terus terisi.
Hadir satu keputusan gila yang lahir dari mabuk, kesepian, dan rasa ingin diselamatkan.
“Menikah saja denganku. Aku cowok kaya dan tampan,dan bisa membahagiakan mu."
Kalimat itu terucap tanpa rencana, tanpa cinta atau mungkin justru karena keduanya terlalu lelah berharap.
Apakah pernikahan yang dimulai dari luka bisa berubah menjadi cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan 5
*
*
*
Layar besar di hadapan Albie dan Adrian menampilkan potongan demi potongan tubuh pasien.
Gambar abu-abu yang bagi orang awam mungkin tak berarti apa-apa, tapi bagi mereka adalah bahasa paling jujur.
"Faktur iga multipel, beberapa tulang rusuk patah sekaligus" seru Albie.
Jarum penunjuk di tangannya bergerak ke sisi kanan layar. Area gelap tampak memenuhi rongga dada.
"Darahnya banyak, ada penumpukan darah dalam jumlah besar di rongga dada." lanjutnya.
Adrian menelan ludah. "Hemotorax masif, dan itu paru kanannya—”
"Tertekan–" potong Albie. "...paru-paru tidak bisa mengembang normal karena terdesak darah".
Ia meluruskan tubuhnya, sorot matanya mengeras. Tidak ada ruang untuk berharap ini akan selesai dengan tindakan ringan.
"Ini bukan ringan," ucapnya datar, namun tegas. "Darahnya terlalu banyak."
Pintu ruang tindakan terbuka. Naufal sudah berdiri di sana, jas operasi setengah terpasang, wajahnya tak lagi santai seperti biasanya.
"Berat?" tanyanya singkat.
Albie mengangguk kecil. "Hemotoraks masif. Fraktur iga multipel."
Naufal langsung melihat monitor. Tekanan darah rendah, nadi berlari tak karuan.
Albie menoleh ke Hana. "Pasang chest tube sekarang."
(chest tube: selang yang dimasukkan ke rongga dada untuk mengeluarkan darah dan udara)
Hana menyiapkan alat, tangannya cekatan meski keningnya berkerut.
"Dok, aku mulai anestesi." Ucap Naufal sambil menyuntikkan obat agar pasien tidak sadar dan tidak merasakan nyeri.
"Jangan khawatir Pak, semua akan baik-baik saja saat Bapak bangun." Kalimat yang sering Naufal katakan pada pasien.
Pasien mengerang pelan sebelum matanya terpejam. Monitor berbunyi ritmis—masih bertahan.
Naufal berdiri di sisi kepala pasien. Tangannya menyesuaikan alat bantu napas, matanya sesekali melirik monitor.
"Tekanan enam puluh," lapor Naufal. "Aku jaga napasnya."
Albie membuat sayatan kecil di sela tulang iga.
Begitu selang masuk, darah langsung mengalir deras ke tabung penampung.
Hana menahan napas. "Dok… keluar banyak."
Albie menatap tabung yang cepat terisi. "Lebih dari satu setengah liter "
Jumlah ini menandakan perdarahan berat dan indikasi operasi darurat.
Naufal menoleh cepat. "Tekanan makin turun. Kita nggak bisa nunggu."
Albie mengangguk tegas. "Siapkan OK. Kita harus membuka rongga dada untuk menghentikan sumber pendarahan–Torakotomi."
Naufal sudah bergerak, mengatur obat dan alat bantu napas. "Aku jaga jalan napas dan tekanannya. Fokus ke dadanya."
Tatapan Albie dan Naufal sempat bertemu—tak ada kata, hanya pemahaman. Mereka sudah terlalu sering berada di situasi seperti ini. Dan mereka tahu, tidak semua pertarungan bisa dimenangkan.
Adrian langsung bergerak, tak menunggu instruksi ulang.
"Hana, koordinasi perawat. Siapkan set bedah toraks lengkap," ucapnya cepat.
Ia menoleh ke pasien, lalu ke monitor. "Minta darah sekarang. PRC dan plasma. Sel darah merah untuk mengganti darah yang hilang."
"Baik, Dok" Hana tak lagi menunggu.
Brankar mulai menuju ruang operasi. Monitor tetap berbunyi, darah masih mengalir dari selang dada.
Albie berjalan di sisi pasien, ikut mendorong brankar. Tatapannya lurus ke depan. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: menghentikan perdarahan sebelum semuanya terlambat.
***
Selesai mata kuliah akuntansi manajemen, membuat kelas kembali riuh. Dosen pembimbing sudah meninggalkan kelas. Qistina, Zifa dan Yoan bersama melangkah keluar ruangan.
Qistina melirik jam di ponselnya, 13.00 wib. Masih sempat untuk pulang kerumahnya, sebelum berangkat ke kafe. Ia kepikiran untuk mengetahui keadaan ibunya yang tadi pagi mual muntah.
"Aku mau langsung balik ya, aku mau lihat keadaan Ibuk." Qistina sambil menyelempangkan Tote bag di bahunya.
"Ibuk? Ibu kamu?" tanya Zifa.
"Iya, Ibu aku tadi pagi mual muntah. Udah di anter Bapak ke Rumah sakit. Tapi, aku kepikiran sama keadaannya sekarang." ujar Qistina datar.
"Duh, Qis. Semoga Ibu kamu nggak kenapa-napa ya."
"Aamiin. Makasih ya Do'a nya. Aku duluan. Da..."
Qistina mempercepat langkahnya sambil melambaikan tangan pada Zifa dan Yoan.
Sepeninggalnya Qistina, Zifa menoleh pada Yoan.
Ia menghela nafas, menimbang-nimbang dengan apa yang ingin ia katakan.
"Yo, Qistina kasihan ya. Banyak banget cobaan yang harus dia hadapi."
Yowan mengangguk. "Iya, tapi dia cewek kuat. Aku yakin dia bisa hadepin semuanya."
Zifa meliriknya sebentar, lalu menunduk. 'Fix, Yoan tertarik sama Qistina. Dia pasti takjub, buktinya bilang kalau dia cewek kuat.'
"Kamu nggak niat buat deketin Qistina? Kamu takjub kan sama dia?"
Yoan menatap ke depan, langkahnya tidak berhenti namun lambat menjajari langkah Zifa.
"Kagum itu beda sama rasa yang bikin kita ingin tinggal lebih lama," ucap Yoan pelan, seolah bicara pada jalanan di depan mereka.
Zifa mendongak. "Maksud kamu?"
Yoan tersenyum tipis, samar.
"Qistina itu kuat. Tapi ada orang yang tanpa berbuat apa-apa, bikin aku pengen jadi lebih kuat."
Zifa terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia memilih diam.
Yoan melanjutkan, suaranya tenang namun dalam,
"Orang itu nggak pernah minta ditemani, tapi entah kenapa aku selalu berjalan di sampingnya. Karna aku nyaman."
Langkah mereka sejenak melambat.
"Kalau aku tertarik sama Qistina," lanjut Yoan, menoleh sekilas, "...harusnya aku merasa berdebar saat dia pergi. Tapi nyatanya, aku lebih memperhatikan siapa yang berjalan di sampingku sekarang."
Zifa menelan ludah. "Maksudnya apa sih?"
Yoan hanya tersenyum, lalu menatap ke depan lagi.
"Tenang aja. Ada perasaan yang nggak perlu diucapkan keras-keras. Cukup dijaga, sampai waktunya pas."
"Apa sih?" Zifa menautkan alisnya.
Yowan malah mempercepat langkah setengah tapak di depan Zifa, lalu berhenti sebentar.
"Yuk. Jangan kebanyakan mikir. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan menggantung, sampai suatu hari jatuh sendiri."
Zifa mendengus kecil.
"Yaelah, ngomong kamu tuh muter-muter. Dengerin kamu bisa bikin orang overthinking, tau."
Yoan melirik sekilas. "Aku nggak maksa kamu mikir."
"Iya sih," Zifa nyengir, "tapi kamu hobi ninggalin kalimat nggantung. Niat bikin orang insomnia?"
Yoan tertawa pelan. "Kalau kamu insomnia gara-gara aku, berarti aku berhasil dong."
Zifa berhenti mendadak.
"HAH? Berhasil apaan?!"
Yoan ikut berhenti, pura-pura polos.
"Berhasil ngomong."
"Yoan!" Zifa menepuk lengannya. "Nyebelin."
"Katanya tadi nggak mau overthingking," balas Yoan santai. "Kok sekarang kamu yang ribet sendiri?"
Zifa memutar mata. "Sumpah ya, cowok paling ngeselin itu yang sok bijak tapi ujung-ujungnya ngeselin."
Yoan terkekeh. "Anehnya, tapi kamu masih jalan bareng cowok itu."
Zifa refleks menjawab, "Karena… ya nggak nyebelin-nyebelin amat."
Yoan berhenti tertawa. "Nah."
"Nah apaan?"
"Berarti aku aman."
Zifa menyadari ucapannya, wajahnya langsung memanas.
"Enggak! Maksud aku—kamu masih tolerable!"
Yoan tertawa lebih lepas.
"Oke, aku terima. Tolerable itu sudah pencapaian besar."
Zifa mendorong bahunya pelan.
"Pede banget sih."
Yoan mengangkat bahu.
"Pede dikit boleh dong. Orang yang jalan di sampingku aja masih betah."
Zifa tersenyum kecil tanpa sadar.
"Ih, ge-er."
Yoan nyengir.
"Biarin. Lagian kamu nggak pergi."
Zifa berhenti, pura-pura memegang perut.
"Kenapa?" tanya Yoan agak sedikit khawatir.
"Laper" jawab Zifa santai.
"Laper terus perasaan, ya udah ayok aku traktir."
"Beneran?"
"Iya tapi jangan yang mahal-mahal. Kantong mahasiswa tipis."
"Gas!"
'Aku tahu kamu akan menenggelamkanku, tapi aku tetap melubangi perahuku.'–Yoan.
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍
Ringan dan menarik.👍
Rekomend...👍