Dua Orang yang tidak mempercayai cinta, dipertemuan dalam sebuah pernikahan yang dilakukan hanya untuk pencitraan semata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian
Entah kenapa Dhiv merasa jika Lala saat ini sedang ada di penjara. Nalurinya mengatakan jika Dario sengaja memenjarakan gadis itu setelah setelah ia mengakui semua kesalahannya di depan awak media.
Aku yakin dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan Lala saat gadis itu tidak memberikan keuntungan untuknya.
Dhiv kemudian memerintahkan Sammy untuk mencari Lala di lapas wanita.
"Sebaiknya kau cari Lala di lapas wanita, aku rasa ia mungkin ada di salah satu lapas wanita di Jakarta, mengingat apa yang sudah disampaikan oleh ayahku kepadanya," ucap Dhiv
"Baik Mas, aku akan mendatangi satu persatu lapas wanita di Jakarta," jawab Sammy kemudian bergegas meninggalkan Dhiv
Setelah memberikan perintah kepada Sam, Dhiv kemudian mengadakan pertemuan dengan Dewan Direksi. Bukannya meminta maaf seperti yang diinginkan Dario. Dhiv justru mengakui kesalahannya di depan Dewan Direksi karena sudah melakukan pernikahan kontrak dengan Lala demi mendapatkan posisi CEO di DC Group.
"Sebelumnya saya minta maaf karena Sudah melakukan kesalahan yang merugikan perusahaan. Atas nama pribadi saya minta maaf karena telah melakukan pernikahan kontrak demi untuk mendapatkan posisi CEO di perusahaan ini. Maafkan atas keserakahan ku, yang tidak memikirkan dampaknya bagi perusahaan. Jika kesalahan ku memang tak bisa dimaafkan maka saya bersedia mengundurkan diri dari posisi ku sebagai CEO DC Group, terima kasih atas pengertian kalian," ucap Dhiv membuat semua Dewan Direksi tercengang
Dario segera mendatangi ruang rapat saat sekertarisnya memberitahukan kejadian tersebut padanya.
"Apa yang sudah kau lakukan Dhiv!!" hardik Dario menarik pemuda itu keluar dari ruang rapat
"Apa kau ingin membunuh ayahmu dan menghancurkan perusahaan kita hanya demi gadis miskin itu, apa kau tidak lihat kondisi pasar saham hari ini, saham kita anjlok dipasaran karena berita Pernikahan Kontrak kalian!" imbuh Dario
"Jadi kau sengaja meminta Lala melakukan konferensi pers untuk menaikkan harga saham perusahaan kita, baiklah kalau begitu aku juga akan melakukan hal yang sama agar harga saham langsung melejit dan mulai hari ini aku juga secara resmi mengajukan pengunduran diri sebagai CEO DC Group," ucap Dhiv kemudian meninggalkan Dario
Dario segera menarik lengan Dhiv dan menampar wajahnya dengan keras.
*Plakkk!
"Dasar bodoh, apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu hingga menjadi pembangkang seperti ini. Aku sudah bersusah payah mempertahankan posisi mu sebagai CEO tapi kau malah melakukan hal bodoh seperti ini. Sebaiknya jangan masuk kantor dulu sebelum pikiranmu tenang, aku memberimu cuti satu minggu untuk merefresh otakmu. Temui aku jika kau sudah siap kembali ke kantor ini," terang Dario
**********
"Yes!!" seru Benigno meluapkan kebahagiaannya saat mendengar pengakuan Dhiv didepan dewan direksi
Lelaki itu kemudian memberitahukan kepada Ibunya tentang apa yang terjadi di kantor hari ini.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang rencana kita berhasil. Sekarang yang terpenting adalah kita harus mencari dukungan kepada para pemenang saham agar mereka mau menjadikan mu sebagai CEO DC Group," ucap Shelomita
"Baik Ibu, aku akan melobi beberapa pemilik saham yang dekat denganku," jawab Ben
"Jangan lupa jika istrimu adalah pemilik saham terbesar ke tiga di DC Group. So jangan acuhkan dia, berikan perhatian lebih padanya dan manjakan dia kali ini. Rebutlah hatinya agar ia mau mendukungmu dan memberikan sahamnya padamu," tutur Shelomita
"Baik Ibu,"
*****************
Melihat reaksi Dhiv yang begitu emosional saat melihat konferensi pers membuat Dario berpikir untuk melenyapkan gadis itu.
Ia kemudian memerintahkan Saddam untuk menghabisi gadis itu di penjara.
"Bagaimana mungkin aku bisa membunuh gadis itu di dalam penjara, itu terlalu beresiko Bos," ucap Saddam
"Aku yakin kau bisa melakukannya, seperti saat menghabisi ibu gadis itu, lakukanlah hal yang sama kepadanya," sahut Dario kemudian mengakhiri obrolannya
"Sial, bagaimana bisa aku membunuh Lala, meskipun aku sangat membencinya karena ia menolak ku. Tapi tetap saja aku tak sampai hati membunuh wanita yang aku cintai,"
Siang itu Saddam bergegas menuju ke Jakarta untuk menjalankan tugasnya. Ia terpaksa melakukan pekerjaan itu karena iming-iming imbalan yang begitu besar dari Bos DC Group.
Setibanya di Jakarta, Saddam segera menuju ke lapas wanita Pondok Bambu untuk menemui Lala.
"Apa yang ingin kau sampaikan hingga jauh-jauh menemui ku di sini?" tanya Lala acuh
"Jujur saja aku sangat prihatin melihat nasibmu yang berakhir di teralis besi ini. Aku jadi merasa bersalah karena sudah membuat mu harus mengalami semua ini. Aku ingin memberikan penawaran menarik untukmu, sebagai bukti rasa peduliku padamu," jawab Saddam
"Aku tidak butuh belas kasih mu, sebaiknya kau pergi saja dan jangan pernah muncul lagi dihadapan ku," sahut Lala
"Aku suka keteguhan hatimu, meskipun kau sudah terdesak tapi tetap saja kau masih angkuh dan keras kepala. Andai saja kau tahu jika nyawamu dalam bahaya mungkin kau akan mempertimbangkan tawaran dariku," ucap Saddam menyeringai
"Apa kua datang kesini untuk membunuh ku?" tanya Lala sinis
"Kau benar aku memang ditugaskan untuk membunuhmu, tapi aku tak sampai hati membunuh wanita yang aku cintai. Bagaimana kalau kau menerima tawaran ku untuk menjadi istri keempat ku, aku berjanji akan menyelamatkan mu dari kematian. Aku bisa saja melaporkan jika kau sudah mati dan membuat mu tetap hidup dengan menggunakan identitas orang lain. Kau akan hidup tenang sebagai istriku dan tidak ada satu orangpun mengenalimu, aku pastikan mereka juga tidak akan bisa menemukan dimana keberadaan mu," terang Saddam
"Maaf aku tidak tertarik, aku lebih memilih mati daripada harus menikah dengan lelaki tua yang tidak aku cintai," jawab Lala
"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi aku akan kembali ke sel ku," imbuhnya kemudian meninggalkan Saddna
Dasar wanita bodoh kau pikir mati itu enak apa, aku yakin suatu saat nanti kau akan berlutut di kakiku dan meminta belas kasihku.
Malam itu tiba-tiba lapas membunyikan sirene tanda bahaya saat seorang napi terkulai lemas di lantai setelah menyantap makan malamnya.
Sebuah mobil ambulance meluncur ke rumah sakit membawa korban keracunan ke rumah sakit.
Raffa terlihat letih menyisir satu persatu rumah sakit untuk mencari keberadaan Lala.
Ia duduk sejenak di koridor rumah sakit setelah memeriksa ruang IGD.
Tiba-tiba beberapa orang perawat berlarian keluar untuk menjemput pasien yang baru saja tiba.
Raffa terlihat sibuk menghubungi Shopia dan Jack untuk menanyakan hasil kerja mereka saat para tenaga medis membawa pasien MB ñpñyk on h??menuju ke ruang UGD.
fqhr ia hendak meningg melihatsebuah benda eneterjatuh di depannya.
Ia segera membungkukkan badannya dan mengambil sebuah cincin yang tergeletak di lantai.
"Sepertinya aku tidak asing dengan cincin??" Raffa kemudian mengamati cincin itu dengan seksama.
Matanya membulat saat melihat ukiran nama yang tertera pada cincin tersebut.
"Dhiv & Lala!!" ia segera berlari mengikuti para tenaga medis yang membawa pasien ke ruang UGD.
Saat ia mencoba masuk untuk memastikan pasien itu mereka langsung menyuruhnya untuk menunggu di depan.
"Maaf sebaiknya anda menunggu didepan saja, kami akan memanggil anda jika sudah selesai melakukan tindakan terhadap pasien," ucap seorang perawat
Raffa kemudian menunggu di depan ruang UGD. Ia berharap jika pasien yang ada di dalam adalah Lala.
Tidak lama dua orang polisi wanita datang ke tempat itu.
Seorang dokter keluar dari ruang UGD dan memanggil keluarga pasien.
Raffa segera berlari menemui sang dokter, namun dua orang polisi wanita juga mendatanginya.
"Apa anda keluarga pasien?" tanya salah seorang polisi wanita
"Benar, saya kakaknya," jawab Raffa
"Kalau begitu kami berikan waktu setengah jam untuk menjenguk terdakwa karena setelah itu pihak keluarga dilarang menjenguk kecuali pengacara terdakwa,"
Raffa sedikit tercengang saat wanita itu menyebut Lala sebagai terdakwa. Ia kemudian menanyakan apa yang terjadi kepada Iparnya itu kepada sang Polisi Wanita.
Raffa begitu terkejut saat mengetahui jika Lala adalah seorang terdakwa kasus penipuan dan sedang menjalani masa tahanan di lapas wanita Pondok Bambu.
Ia dilarikan ke rumah sakit karena terindikasi keracunan setelah menyantap makan malamnya.
Raffa segera masuk ke ruang UGD untuk memastikan bahwa wanita yang didalam adalah Lala.
Lelaki itu begitu terkejut saat melihat wanita yang terbaring di depannya ternyata bukan Lala.
Kalau dia bukan Lala, lalu kenapa cincin ini ada padanya??
Raffa kemudian menanyai wanita itu dengan lembut. Dengan kepiawaiannya dalam mendekati wanita ia berhasil mendapatkan informasi tentang cincin itu dari wanita tersebut.
Wanita itu sengaja mengambil cincin pernikahan Lala darinya sebagai upeti karena ia tidak mempunyai barang berharga lain untuk dijadikan sebagai upeti.
Karena kesal dengan sikap Lala yang selalu membangkang dan cenderung melawan membuat wanita itu memukulinya hingga babak belur dan mengambil jatah makan malamnya yang ternyata sudah diberi racun oleh Saddam.
"Begitu ceritanya," ucap wanita itu merasa bersalah
"Ok, terimakasih sayang atas informasinya. Semoga kau cepat sembuh. Aku harap setelah ini kamu tidak lagi melakukan hal tercela lagi pada napi baru, karena itu bisa berbalik padamu seperti kejadian hari ini," ucap Raffa
"Iya Abang, terimaksih atas perhatiannya,"
Malam itu juga Raffa segera mengunjungi Lala di lapas wanita Pondok Bambu. Didampingi oleh Pengacaranya ia berhasil menemui Lala di lapas.
Lelaki itu begitu terkejut melihat wajah Lala yang babak belur, ia segera memeluk erat gadis itu dan memberinya semangat.
"Maafkan aku yang baru bisa menemui mu, Andai saja kau memberitahukan aku sebelumnya pasti kau tidak akan menjadi seperti ini," ucap Raffa
Lala langsung terisak mendengar ucapan Raffa, ia begitu terharu mendengar ucapan lelaki itu yang ternyata begitu peduli dengannya.
"Terimakasih Raf, tapi aku tidak mau merepotkan mu lagi," jawabnya singkat
Raffa kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata gadis itu.
"Kenapa harus berpikir seperti itu, feel free aja," ucap Raffa menyunggingkan senyumnya
"Thanks Raf,"
"Sama-sama La,"
Seorang pengacara kemudian menghampiri keduanya.
"Aku sudah berhasil meminta penangguhan penahanan untuk Lala, jadi malam ini juga dia bisa pulang ke rumah," ucap Sang Pengacara
"Alhamdulillah, thanks Bro," ucap Raffa
"Sama-sama Mas Raffa,"
Raffa kemudian mengajak Lala pergi meninggalkan Lapas. Saat keduanya keluar dari lapas Dhiv melihat keduanya dari kejauhan.
Andai saja aku lebih cepat, mungkin aku bisa lebih dulu menemukan mu,
ada