karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberangkatan dan Kedatangan
__________________________________
Satu minggu telah berlalu . Di bawah penjagaan ketat dan perawatan intensif di Mansion Aethelred, luka Annelise kini mulai membaik. Meskipun masih terasa nyeri jika digerakkan secara tiba-tiba, ia tidak lagi memerlukan bantuan penuh untuk sekadar bangkit dari tempat tidur. Namun, pagi ini, ada rasa sakit yang berbeda yang merayap di dadanya rasa cemas yang tidak bisa diredam oleh obat apa pun.
Reynard berdiri di depan cermin besar di kamar mereka, merapikan tatanan rambutnya. Wajahnya yang tegas tampak lebih tegang dari biasanya. Hari ini adalah hari keberangkatannya ke Asia Tenggara untuk menjalankan skenario besar yang telah ia susun untuk memancing musuh-musuhnya keluar.
Annelise duduk di tepi tempat tidur, memerhatikan setiap gerak-gerik suaminya. "Apakah kau benar-benar harus pergi sekarang?" suaranya terdengar lirih, hampir seperti bisikan.
Reynard berhenti merapikan rambutnya. Ia berbalik dan menatap istrinya. Dalam kehidupan sebelumnya, ia tidak akan pernah peduli pada keberatan Annelise. Ia akan pergi begitu saja dengan keangkuhan. Namun kini, melihat ketakutan di mata cokelat madu itu, hatinya terasa seperti diremas. Ia melangkah mendekat, lalu berlutut di depan Annelise agar mata mereka sejajar.
"Hanya sebentar, sayang," ucap Reynard lembut sambil menggenggam tangan Annelise yang terasa dingin. "Aku harus pergi agar mereka percaya bahwa pertahananku sedang lengah. Jika aku terus di sini, mereka tidak akan pernah berani menampakkan diri."
Annelise menunduk, bulu matanya yang lentik tampak basah. "Aku takut, Reynard.... aku merasa seolah-olah setiap detik bersamamu adalah pinjaman yang bisa ditarik kapan saja. Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu di sana?"
Reynard menarik napas panjang, lalu mengecup telapak tangan istrinya. "Aku telah menyiagakan Leonard dan tim keamanan terbaik untuk menjagamu. Kau akan dipindahkan ke apartemen rahasia segera setelah jet pribadiku lepas landas. Tidak ada yang akan tahu di mana kau berada, bahkan staf mansion sekalipun."
"Tapi bagaimana denganmu?" Annelise mendesak, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Reynard yang kelam. "Kau adalah target utama mereka."
Reynard tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung tekad baja. "Kali ini, aku tidak buta, Sayang. Aku tahu siapa yang akan menusukku dari belakang. Di Asia Tenggara, aku akan pastikan jika mereka yang mencoba menggigit akan langsung terjepit."
Di teras depan, mobil hitam yang akan membawa Reynard ke bandara sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus.
Reynard menarik pinggang Annelise, merapatkan tubuh mereka hingga tak ada celah sedikit pun. Ia menangkup wajah Annelise dengan kedua tangan besarnya, ibu jarinya mengusap pipi istrinya dengan sangat lembut.
"Dengar aku," ucap Reynard, menatap tepat ke dalam manik mata Annelise. "Aku pergi untuk memastikan tidak akan ada lagi orang yang bisa menyentuhmu. Aku pergi untuk menjemput kedamaian kita."
Perlahan, Reynard menundukkan kepalanya. Ia mengecup kening Annelise lama, lalu turun ke kelopak matanya, dan terakhir, ia menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh perasaan. Itu bukan sekadar ciuman perpisahan itu adalah janji perlindungan dan pengabdian. Annelise membalas ciuman itu, melingkarkan lengannya di leher Reynard, seolah ingin menahan pria itu lebih lama di sisinya. Ciuman itu terasa manis sekaligus getir, sebuah pelampiasan dari rasa takut dan cinta yang berbaur menjadi satu.
Saat mereka akhirnya melepaskan tautan itu, napas keduanya memburu. Reynard menyatukan kening mereka. "Tunggu aku. Jangan keluar dari apartemen rahasia yang sudah disiapkan Leonard. Aku akan kembali sebelum kau sempat merindukanku lebih jauh."
"Tunggu aku kembali," bisik Reynard tepat di telinga Annelise. "Dan saat aku kembali, kita akan memulai segalanya tanpa bayang-bayang mereka lagi."
Di teras depan, mobil hitam yang akan membawa Reynard ke bandara sudah menunggu. Reynard melepaskan pelukannya dengan berat hati. Ia masuk ke dalam mobil, namun matanya tetap tertuju pada sosok istrinya yang berdiri di ambang pintu hingga mobil itu hilang di balik gerbang tinggi mansion.
**********
Sementara itu, di sebuah bandara kecil di perbatasan Eropa, sebuah pesawat bersiap untuk lepas landas. Di dalam kabin yang kedap suara, Seraphina Valerius sedang menyesap anggur merahnya dengan tatapan yang dipenuhi kebencian. Di hadapannya, Victor Deville sibuk dengan tablet yang menampilkan pergerakan saham Aethelred Group.
"Reynard sudah berangkat," ujar Victor dengan seringai puas. "Mata-mata kita di bandara mengonfirmasi bahwa jet pribadinya baru saja lepas landas menuju Singapura satu jam yang lalu."
Seraphina meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan keras hingga isinya sedikit terpercik. "Akhirnya! Pria bodoh itu pergi?"
Victor terkekeh, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "biarkan dia bersantai saat ini, tapi dia tidak tahu bahwa saat dia kembali nanti, kursi kepemimpinannya sudah tidak ada lagi."
. "Aku ingin melihat wajahnya saat dia menyadari bahwa semua akses keuangannya telah kita bekukan" ucap Seraphina penuh dendam.
"Rencana kita sudah matang, Sayang," kata Victor sambil mengenggam tangan Seraphina "Kita akan mendarat di New York saat malam tiba."
Seraphina tersenyum licik. Mereka kembali untuk mengambil harta, kekuasaan, dan kehancuran total bagi siapa pun yang menghalangi jalan mereka.
"Mari kita selesaikan ini, Victor," gumam Seraphina. "Satu hari tanpa Reynard adalah waktu yang lebih dari cukup untuk meruntuhkan kerajaan Aethelred dari dalam."
Pesawat itu membelah awan, membawa dua predator yang sedang kelaparan kembali ke tanah yang sedang ditinggalkan oleh pelindungnya.
**********
Annelise yang baru saja sampai di apartemen rahasianya, tiba-tiba merasa merinding. Ia memeluk dirinya sendiri, menatap langit malam dari balik kaca jendela yang tinggi, berdoa agar suaminya segera kembali sebelum kegelapan benar-benar menyelimuti mereka semua.
Malam pertama tanpa Reynard terasa begitu sunyi bagi Annelise. Meskipun apartemen itu sangat mewah dan nyaman, ia merasa seperti orang asing. Leonard berdiri di depan pintu kamar, memberikan laporan .
"Semua jalur komunikasi telah diamankan, Nyonya. Tuan Reynard baru saja mendarat di Singapura dan langsung menuju hotel. Beliau berpesan agar Anda segera beristirahat."
"Terima kasih, Leonard, sekarang kau kembalilah dan beristirahat" jawab Annelise .
‘’baik nyonya’’ jawab leonard
Malam semakin larut namun, matanya tidak bisa terpejam. Pikirannya melayang pada suaminya kenapa belum mengabarinya jika sudah sampai.
Kegelisahan Annelise semakin memuncak saat jarum jam terus berputar, namun ponsel di genggamannya masih tetap membisu. Ia duduk di sofa ruang tengah apartemen rahasia itu, menatap layar gelap ponselnya dengan perasaan waswas. Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi benaknya.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar kuat di tangan. Sebuah notifikasi panggilan video masuk dengan nama "my husband" terpampang di layar. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Annelise segera menggeser tombol hijau.
Layar ponselnya menampilkan wajah Reynard yang tampak sedikit lelah namun tetap terlihat sangat tampan. Latar belakangnya adalah pemandangan kota Singapura yang terang dengan cahaya matahari.
"Kau belum tidur, Sayang?" Suara bariton Reynard terdengar lembut, mengalun melalui speaker ponsel dan seketika meredakan badai kecemasan di hati Annelise.
Annelise mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot. "Bagaimana aku bisa tidur jika kau belum mengabariku? Aku pikir terjadi sesuatu ."
Reynard terkekeh pelan, matanya menatap Annelise melalui layar dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah ia sedang berusaha menyentuh istrinya dari jarak ribuan mil. "Maafkan aku. Begitu mendarat, Leonard memberitahuku bahwa ada beberapa protokol keamanan tambahan yang harus aku periksa secara pribadi sebelum aku bisa menghubungimu. Aku baru saja masuk ke kamar hotel."
"Kau aman?" tanya Annelise lagi, suaranya sedikit bergetar.
"Aku sangat aman," jawab Reynard meyakinkan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melonggarkan ikatan dasinya. "Tim keamananku sudah menyisir seluruh lantai ini. Tidak ada yang bisa mendekat. Sekarang, katakan padaku, bagaimana keadaanmu di apartemen itu? Apakah kau merasa nyaman?"
Annelise mengangguk pelan. "Mewah, tapi terasa sangat kosong tanpamu. Aku merasa seperti orang asing di sini."
Reynard tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan janji. "Hanya beberapa hari, Anne. Bertahanlah sebentar lagi demi masa depan kita. Aku ingin kau beristirahat sekarang. Wajahmu terlihat pucat di kamera."
"Reynard..." Annelise menjeda kalimatnya, menempelkan jemarinya ke layar ponsel, tepat di bagian wajah suaminya. "Cepatlah selesaikan urusanmu dan pulanglah. Aku merindukanmu."
Mata Reynard berkilat karena rasa rindu yang tak kalah sama "Aku juga sangat merindukanmu. Tidurlah. Biarkan ponselmu menyala di samping bantalmu, aku akan tetap terhubung di sini sampai aku melihatmu terlelap. Aku tidak akan mematikan panggilannya."
Mendengar itu, Annelise merasa sedikit lebih tenang. Ia membawa ponselnya ke tempat tidur, merebahkan dirinya sambil tetap menatap wajah suaminya di layar. Kehangatan suara Reynard yang menceritakan perjalanannya.
Namun, di Singapura, begitu Reynard melihat napas Annelise mulai teratur dan matanya terpejam, senyum lembut di wajahnya menghilang. Ia menoleh ke arah jendela, menatap kota itu dengan mata yang kini berubah menjadi dingin dan tajam seperti mata elang.
Ia mengambil ponsel lainnya dan menghubungi asistennya.
"Leonard, laporkan," ucap Reynard dingin.
"Mereka sudah mendarat di New York, Tuan. Persis seperti yang Anda duga, Seraphina dan Victor akan bergerak secepat mungkin menjalankan rencana mereka," lapor Leonard dari seberang telepon.
"Bagus," desis Reynard. "Biarkan mereka masuk ke dalam jebakan itu. Pastikan brankas di mansion pusat tetap terlihat 'kurang terjaga'. Aku ingin mereka merasa menang sebelum aku benar-benar menghancurkan mereka di bawah kakiku."
Reynard mematikan teleponnya. Ia kembali menatap layar yang masih menampilkan wajah tidur Annelise. "Satu hari lagi, Sayang, Satu hari lagi, dan semua duri dalam hidup kita akan tercabut selamanya."
orang kaya mereka harus membusuk