Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekutu Pertama
Udara dingin di luar gerbang The Golden Bridge terasa jauh lebih ramah dibandingkan atmosfer yang diciptakan Kirana Widjaja di dalam ruang komite. Setidaknya, dingin di luar sana jujur—tak berpura-pura hangat, tak menyembunyikan niat.
Nadia melangkah perlahan menuju area parkir utama. Langkahnya tenang, punggungnya tegak, seolah rapat barusan hanyalah rutinitas biasa. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja cepat, rapi, dan penuh perhitungan.
Di telapak tangannya, sebuah kunci fisik kecil terasa hangat. Logamnya dingin, namun kehangatan tubuh Nadia telah menempel di sana. Di permukaannya terukir inisial KGS—Komite Gerbang Selatan. Kunci Ruang Arsip.
Itu adalah trofi pertamanya.
Bukan hadiah yang mencolok. Bukan kemenangan besar. Namun bagi Nadia, benda kecil itu adalah simbol bahwa tembok Kirana tidaklah seutuh yang selama ini terlihat. Ada celah. Ada retakan.
Dan kunci itu tidak ia dapatkan dari Kirana.
Ia mendapatkannya dari titik terlemah Kirana—sekutu yang terlalu lama hidup dari bayang-bayangnya.
Ibu Rina.
Rina Atmadja adalah apa yang oleh sebagian ibu lain sebut sebagai “Ibu Beta” dalam kawanan Kirana. Selalu di sisi Kirana, selalu siap menjadi kepanjangan tangan, selalu mengangguk lebih dulu sebelum yang lain sempat berpikir.
Ia memiliki kekayaan, koneksi, dan posisi sosial yang membuat banyak orang iri. Namun ada satu hal yang tidak pernah ia miliki: ketegasan dan kecerdasan strategis Kirana.
Rina sering menjadi juru bicara keputusan-keputusan kejam, tetapi jarang menjadi penggagasnya. Ia menjalankan perintah, bukan menyusun rencana. Di balik senyum sosialitanya, Rina adalah ibu yang hidup dalam kecemasan konstan—takut salah langkah, takut tersingkir, takut kehilangan perlindungan Kirana.
Dua tahun lalu, Rina adalah salah satu suara pertama yang menyetujui pemotongan beasiswa Aksa.
Nadia tidak lupa itu.
Namun Nadia juga tahu, Rina bertindak bukan karena kejahatan murni. Ia bertindak karena ketakutan dan kebutuhan kompulsif untuk menyenangkan Kirana. Dalam dunia ini, rasa takut sering kali lebih mematikan daripada kebencian.
Dan orang-orang seperti Rina—yang takut kehilangan tempat—selalu menjadi simpul terlemah dalam aliansi sekuat apa pun.
Nadia berniat mengikat simpul itu ke dirinya sendiri.
Di area lobi penjemputan yang ramai namun anehnya sunyi, suara mesin mobil mewah berpadu dengan bisikan-bisikan tertahan. Tidak ada tawa lepas di sana. Semua percakapan terdengar seperti rahasia.
Nadia melihat Rina berdiri di dekat Mercedes hitamnya, sedang berbicara dengan sopir. Wajah Rina tampak tegang, alisnya berkerut, jari-jarinya menggenggam ponsel seolah benda itu bisa runtuh kapan saja.
Itulah momen yang Nadia tunggu.
Kelemahan selalu muncul saat seseorang berpikir dirinya aman.
“Bu Rina,” panggil Nadia sambil mendekat, senyum ramah tersungging di bibirnya. “Maaf mengganggu. Mobil saya terparkir agak jauh. Boleh saya menumpang sebentar sampai gerbang depan? Sopir saya masih dalam perjalanan.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ringan, “Sekalian saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan kunci arsip tadi.”
Rina tampak sedikit terkejut. Namun refleks sosialnya segera mengambil alih. Senyum dipasang, bahu ditegakkan.
“Oh, tentu saja, Bu Nadia. Silakan,” katanya cepat. “Masuk saja. Anda kelihatan lelah. Rapat hari ini benar-benar panjang.”
Di dalam Mercedes hitam itu, aroma peppermint mahal langsung menyergap indra. Udara AC terasa terlalu dingin, membuat Nadia merapatkan lengannya ke tubuh. Mobil melaju perlahan, meninggalkan gerbang sekolah yang megah di belakang mereka.
Beberapa detik pertama diisi keheningan canggung. Nadia membiarkannya. Ia tahu, keheningan sering kali lebih membuat orang gelisah daripada percakapan.
Lalu ia mulai berbicara.
“Maafkan saya harus menanyakan ini, Bu Rina,” ucap Nadia dengan nada empati yang tulus, “tapi saat rapat tadi, saya melihat Anda mengirim pesan pada putra Anda. Rio, ya?”
Rina menegang seketika. Tangannya yang memegang ponsel mengeras.
“Rio tidak terlihat baik-baik saja,” lanjut Nadia pelan, seolah ragu. “Saya salah, ya?”
Wajah Rina memucat.
Masalah Rio adalah rahasia yang ia jaga mati-matian dari Kirana.
Rio, putra Rina yang baru berusia dua belas tahun, tengah menghadapi badai sosial di sekolah. Bukan nilai, bukan prestasi, melainkan perundungan digital yang sistematis—olok-olok, ancaman, dan hinaan yang datang tanpa henti melalui grup chat kelas.
Bagi Kirana, anak-anak selalu sempurna. Masalah anak orang lain sering ia jadikan bahan gosip halus, sekadar untuk menegaskan posisi.
“Bagaimana… bagaimana Anda tahu?” bisik Rina panik.
Kepanikan itu mentah, asli. Nadia mengenalinya dengan baik.
“Saat Anda sibuk berdiskusi dengan Bu Kirana tentang bunga, ponsel Anda sempat terbuka,” jelas Nadia hati-hati. “Saya melihat beberapa simbol emoji dan kata kunci yang… familiar.”
Ia menoleh, menatap Rina dengan sorot mata penuh pengertian.
“Saya pernah mendampingi teman saya di komunitas lain. Polanya sama. Itu kode yang sering dipakai dalam cyberbullying di sekolah elit.”
Nadia menarik napas perlahan.
“Rio sedang diserang oleh tiga anak kelas sembilan, bukan? Dan salah satunya… Andre. Keponakan Bu Kirana.”
Rina menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung menggenang, tak sempat ia sembunyikan.
“Ya,” suaranya bergetar. “Rio tidak mau masuk sekolah selama seminggu. Dia bilang semua orang menertawakannya.”
Ia terisak pelan.
“Saya sudah bicara dengan Kirana. Karena Andre keponakannya. Tapi dia bilang Rio harus belajar ‘menjadi jantan’. Katanya ini hanya prank anak-anak. Dia menyuruh saya fokus pada Gala Dinner.”
Nadia meraih tangan Rina. Sentuhannya hangat, nyata, tanpa kepalsuan.
“Dengarkan saya, Bu Rina,” ucapnya lembut. “Anda tidak memanjakan. Anda sedang melindungi anak Anda.”
Rina menangis tanpa suara.
“Saya pernah berada di posisi Anda,” lanjut Nadia. “Dan tidak ada yang lebih menghancurkan hati seorang ibu selain melihat anaknya diinjak-injak, sementara orang dewasa bersembunyi di balik kekuasaan dan status.”
Ia tidak menyebut nama Aksa. Tidak perlu. Rasa sakit seorang ibu selalu saling mengenali.
Setelah emosi Rina sedikit mereda, Nadia mengubah nada suaranya. Lebih tenang. Lebih terstruktur.
“Kita tidak bisa menyerang frontal,” katanya pelan. “Kirana mengendalikan Komite Sekolah. Jika Anda mengajukan laporan resmi, kasus Rio akan dibungkam. Dan Anda akan dicap sebagai ibu panik yang tidak kompeten.”
Rina mengangguk, pahit.
“Kita harus mengubah narasi sosial,” lanjut Nadia. “Apakah Anda punya bukti? Screenshot chat itu?”
Dengan tangan gemetar, Rina membuka ponselnya dan memperlihatkan beberapa tangkapan layar.
“Bagus,” kata Nadia. “Ini cukup.”
Ia kemudian menjelaskan rencana itu dengan detail, langkah demi langkah—sebuah keahlian yang selama ini ia kubur.
“Kita tidak akan menuduh siapa pun secara langsung. Kita akan menulis surat anonim. Dari seorang ibu. Bukan korban, tapi saksi penderitaan anaknya.”
Nadia menatap Rina serius.
“Surat itu akan bicara tentang kegagalan moral. Tentang bagaimana anak-anak kita adalah cerminan didikan kita.”
Ia mengutip kalimat kunci dengan suara pelan namun tegas,
“Jika anak-anak kita menindas dengan kejam, maka kita—para ibu—telah gagal menanamkan nilai kemanusiaan.”
Rina mendengarkan seperti murid yang baru menemukan cahaya.
“Dalam dua puluh empat jam,” lanjut Nadia, “surat ini akan menyebar. Kirana tidak bisa melawan simpati kolektif. Dia tidak bisa terlihat menyerang seorang ibu yang berduka tanpa merusak citranya sendiri.”
Harapan perlahan menggantikan ketakutan di wajah Rina.
“Anda… Anda luar biasa, Bu Nadia,” ucapnya lirih. “Saya tidak tahu bagaimana membalas ini.”
Nadia tersenyum tipis.
“Jangan balas saya. Balas dengan keberanian,” katanya.
Lalu ia menambahkan, seolah teringat sesuatu, “Oh ya, saya hanya butuh satu hal kecil. Besok malam, saya perlu waktu pribadi di Ruang Arsip. Satu jam saja. Untuk foto-foto promosi Kirana.”
Rina mengangguk tanpa ragu.
“Tentu. Saya akan pastikan tidak ada siapa pun di sana.”
Mobil berhenti di gerbang.
Nadia turun dengan hati yang tenang.
Ia tidak hanya membawa kunci. Ia membawa simpul loyalitas baru.
Malam itu, saat surat anonim mulai menyebar di grup-grup WhatsApp, Nadia memeluk Aksa di rumah.
Namun pikirannya sudah tertuju pada esok malam.
Ia mengeluarkan flash drive terenkripsi dari laci.
“Pelan-pelan, Nak,” bisiknya. “Ibu akan mengambil kembali semuanya.”