NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memecah Tembok Aliansi

Udara dingin di luar gerbang The Golden Bridge terasa jauh lebih ramah daripada atmosfer yang diciptakan oleh Kirana Widjaja di dalam ruang komite. Nadia melangkah perlahan menuju area parkir utama. Kunci Ruang Arsip, kunci fisik kecil berukir inisial KGS (Komite Gerbang Selatan), terasa hangat di telapak tangannya.

Itu adalah trophy pertamanya, hadiah kecil dari Ibu Rina yang sedang kelelahan. Nadia tahu, kunci itu bukan didapatkan dari Kirana, melainkan dari titik kelemahan Kirana yang paling rentan: sekutu yang haus pengakuan.

Ibu Rina, atau Rina Atmadja, adalah Ibu Beta dalam kawanan Kirana—sosok yang paling dekat namun paling rapuh. Ia memiliki semua kekayaan dan koneksi yang dibutuhkan komunitas elit ini, tetapi kurang memiliki ketegasan dan kecerdasan Kirana. Rina sering menjadi proxy (perwakilan) Kirana, tetapi di balik layar, ia adalah ibu yang dilanda kecemasan.

Ia adalah salah satu suara pertama yang memotong beasiswa Aksa dua tahun lalu, tetapi Nadia tahu, Rina bertindak bukan atas kejahatan yang murni, melainkan atas rasa takut dan kebutuhan yang kompulsif untuk menyenangkan Kirana. Rina adalah simpul terlemah di tembok aliansi Kirana, dan Nadia harus mengikat simpul itu pada dirinya sendiri.

Di area lobby penjemputan yang ramai namun sunyi—suara mobil mewah dan obrolan berbisik adalah satu-satunya melodi di sana—Nadia melihat Rina sedang berbicara dengan sopirnya dengan raut wajah cemas. Ini adalah momen kelemahan yang Nadia tunggu.

"Bu Rina," panggil Nadia, mendekat dengan senyum yang ramah, "mobil saya terparkir agak jauh. Boleh saya menumpang sebentar ke gerbang depan sambil menunggu sopir saya? Sekalian saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan kunci arsip tadi."

Rina terlihat sedikit terkejut, namun segera menyambut dengan keramahan yang dipaksakan. "Oh, tentu saja, Bu Nadia. Silakan. Masuk saja. Anda tampak lelah. Itu adalah sesi rapat yang sangat panjang."

Di dalam Mercedes hitam Rina, aroma peppermint yang mahal dan udara AC yang terlalu dingin berpadu. Mereka duduk dalam keheningan singkat yang canggung. Nadia memutuskan untuk menyerang, bukan dengan plot balas dendam, tetapi dengan masalah yang paling mendominasi pikiran setiap ibu di sana: anak-anak mereka.

"Maafkan saya harus menanyakan ini, Bu Rina," Nadia memulai, memecah keheningan dengan nada empati yang dalam, yang jarang ia berikan sejak tragedi Aksa. "Tapi saat rapat tadi, saya melihat Anda mengirimkan pesan teks pada putra Anda, Rio. Rio tidak terlihat baik-baik saja, ya?"

Wajah Rina langsung menegang. Masalah Rio adalah rahasia yang ia jaga mati-matian dari Kirana. Rio, putra Rina yang berusia 12 tahun, menghadapi kesulitan berat di sekolah, bukan secara akademik, tetapi dalam hal sosial—ia adalah sasaran empuk cyberbullying yang sistematis di Grup Chat kelas. Kirana, yang anak-anaknya selalu sempurna, sering menggunakan masalah kecil anak-anak lain sebagai gossip untuk menenangkan dirinya sendiri dan menekankan statusnya.

"Bagaimana Anda tahu?" Rina berbisik, panik. Kepanikan itu otentik, dan Nadia menangkapnya.

"Saat Anda sedang sibuk membahas bunga dengan Kirana, saya sempat melirik ke ponsel Anda. Saya melihat ada simbol emoji tertentu dan beberapa kata kunci yang saya kenali. Saya tahu dari pengalaman teman saya di komunitas lain, itu adalah kode umum untuk cyberbullying yang dilakukan oleh geng-geng remaja di sekolah elit," jelas Nadia, mengalirkan informasi dengan kepastian seorang profesional. "Rio sedang diserang oleh tiga anak kelas 9, kan? Dan ironisnya, salah satunya adalah keponakan Ibu Kirana, si Andre."

Rina menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang di matanya yang dipenuhi maskara mahal. "Ya, itu benar. Rio tidak mau masuk sekolah selama seminggu. Saya sudah mencoba berbicara dengan Kirana—karena Andre keponakannya—tetapi dia bilang Rio harus 'belajar menjadi jantan' dan menuduh saya terlalu memanjakan. Dia bilang itu hanya prank anak-anak, dan saya harus fokus pada Gala Dinner."

Nadia meraih tangan Rina dengan kehangatan yang tulus, kehangatan yang telah ia simpan mati-matian. "Dengarkan saya, Bu Rina. Anda tidak memanjakan. Anda adalah ibu yang melindungi. Dan saya pernah menghadapi masalah sekolah yang jauh lebih buruk." Nadia mengambil napas dalam.

Ia tidak menceritakan detail Aksa, tetapi hanya rasa sakitnya yang universal. "Saya tahu betapa hancurnya hati seorang ibu ketika harga diri anaknya diinjak-injak oleh orang dewasa yang bersembunyi di balik anaknya."

***

Nadia tidak memberikan nasihat yang umum, dia memberikan solusi terstruktur—keahlian yang sangat ia rindukan. Ini adalah strategi branding untuk menghancurkan citra orang lain.

"Kita tidak bisa menyerang frontal," Nadia berbisik, mendekatkan diri. "Kirana mengendalikan Komite Sekolah. Jika Anda mengajukan keluhan resmi, kasus Rio akan dibatalkan, dan Kirana akan membuat Anda terlihat seperti ibu yang panik dan tidak kompeten. Kita harus menghancurkan reputasi mereka secara sosial terlebih dahulu. Apakah Anda punya bukti screenshot chat yang menindas itu?"

Rina mengangguk, mengeluarkan ponselnya yang mewah dan gemetar.

"Bagus. Saya adalah mantan konsultan branding. Saya tahu bagaimana narasi diciptakan dan dibalik," kata Nadia, matanya berkilat dengan kecerdasan yang tersembunyi. "Kita akan menggunakan platform yang sama yang mereka gunakan untuk menyerang Rio. Tapi kita tidak akan menyerang dengan kebencian. Kita akan menyerang dengan fakta dan rasa malu yang dirancang dengan elegan."

Nadia menjelaskan rencana detail:

Rina akan mengambil screenshot chat yang tidak terlalu eksplisit, namun cukup menyentuh hati.

Nadia akan membantu Rina menulis surat anonymous (tapi jelas dari seorang ibu yang tertekan) yang ditujukan ke Grup WA Inner Circle yang Lebih Besar—grup para ibu yang bersimpati pada Rina, yang jumlahnya lebih banyak daripada Elite Moms Kirana.

Surat itu tidak boleh menuduh siapa pun secara eksplisit, tetapi hanya menceritakan kisah seorang ibu yang patah hati melihat anaknya menderita dan mempertanyakan moral komunitas.

Surat itu harus menyertakan kode moral yang kuat: "Anak-anak kita adalah cerminan didikan kita. Jika mereka menindas dengan kejam, berarti kita, para ibu, telah gagal dalam memberikan pengajaran moral yang seharusnya."

"Dalam waktu 24 jam, surat ini akan menyebar ke seluruh komunitas," jelas Nadia dengan tenang. "Para ibu akan bersimpati pada Anda, dan yang lebih penting, mereka akan mulai mencurigai Super-Moms yang anaknya adalah penindas. Kirana tidak akan bisa mengendalikan simpati emosional ini. Dia tidak bisa terlihat melawan seorang ibu yang sedang berduka tanpa merusak citra angel amalnya."

Rina menatap Nadia, matanya yang tadi dipenuhi ketakutan kini dipenuhi harapan, dan yang lebih penting, loyalitas baru dan utang budi.

"Anda... Anda sangat cerdas, Bu Nadia. Saya merasa seperti baru bangun tidur. Saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini," kata Rina, menggenggam erat tangan Nadia.

Nadia tersenyum, senyum penuh perhitungan. "Jangan dibalas pada saya, Bu Rina. Balaslah dengan bersikap adil. Dan sebagai gantinya, bisakah saya meminta satu hal kecil? Besok malam, saya butuh waktu pribadi yang tenang di Ruang Arsip. Saya ingin mengambil foto-foto high resolution Kirana untuk promosi lelangnya. Bisakah Anda memastikan tidak ada orang lain di sana setelah jam delapan malam? Saya hanya butuh satu jam."

Rina mengangguk tanpa ragu. "Tentu. Saya akan pastikan keamanan di sana hanya ada petugas malam, dan saya akan bilang ke mereka bahwa Anda sedang menyiapkan display khusus untuk Kirana. Mereka pasti tidak akan mengganggu proyek Kirana."

***

Nadia turun dari mobil Rina di gerbang. Ia tidak hanya mendapatkan akses resmi ke Ruang Arsip; dia juga mendapatkan perisai dan simpul loyalitas di dalam lingkaran Kirana. Rina kini adalah sekutu terikat yang berhutang budi emosional padanya, dan akan menjadi mole (mata-mata) yang tidak disengaja.

Malam itu, setelah Rina menjalankan rencana Nadia dan surat anonymous itu mulai menyebar dari satu Grup WA ke Grup WA lainnya, Nadia merasakan kepuasan yang dingin. Ia telah berhasil menciptakan konflik yang Kirana tidak bisa menangkan tanpa terlihat seperti tiran yang haus kekuasaan.

Di rumah, Nadia memeluk Aksa, memastikan anaknya merasa dicintai dan aman. Namun, fokusnya sudah tertuju pada besok malam. Ia mengeluarkan flash drive terenkripsi dari laci kecilnya.

"Besok malam, Aksa," bisik Nadia pelan, "Ibu akan mengambil kembali apa yang mereka curi darimu, inci demi inci. Dan itu dimulai dengan data yang mereka sembunyikan."

Ia tahu, di balik setiap citra kesempurnaan Kirana, pasti ada keretakanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!