NovelToon NovelToon
Mr. Billionare Obsession

Mr. Billionare Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusi Fitria

Semua berawal dari rasa percayaku yang begitu besar terhadap temanku sendiri. Ia dengan teganya menjadikanku tumbal untuk naik jabatan, mendorongku keseorang pria yang merupakan bosnya. Yang jelas, saat bertemu pria itu, hidupku berubah drastis. Dia mengklaim diriku, hanya miliknya seorang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusi Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 30

Akhirnya aku bisa bernafas lega jika harus meninggalkan Mama sekarang. Namun sebelum pulang ke California, Evelyn ingin jalan-jalan sebentar. Tempat yang kupilih adalah Mall elite yang berada di Jakarta.

"Mall disini sangat ramai, Si. Berbeda jika di Amerika yang cenderung sepi."

Aku mengangguk setuju dengan ucapan adik iparku ini. Beberapa kali aku pergi ke mall sekitar Los Angeles, pusat belanja seperti supermarket jauh lebih ramai ketimbang sebuah mall.

"Ingin beli sesuatu?" tawar Elbarra, aku menggeleng pelan.

Memang niatnya hanya ingin sekedar jalan-jalan, bukan untuk berbelanja.

"Sayang, aku ingin ke kamar mandi sebentar. Tunggulah disini bersama Evelyn, oke? Aku tidak akan lama."

"Hati-hati..." anggukku seraya tersenyum.

Selepas kepergian Elbarra, aku mengajak Evelyn untuk pindah ke sudut mall. Disana terdapat sebuah kursi yang di khususkan untuk pengunjung.

Disaat kami hendak berjalan kesana, seseorang tiba-tiba menabrakku hingga aku kehilangan keseimbangan.

Bruukk!

"Apa kau tidak punya mata?" bentak Evelyn pada pria yang baru saja menabrakku.

Mungkin karena pria itu terburu-buru, ia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Meminta maaf kepadaku saja tidak.

"Heyyy!!!" teriak adik iparku ini.

"Sudahlah, Eve. Lagipula dia tidak sengaja."

Evelyn berdecak sebal sembari menatap punggung pria tersebut yang kian menjauh. Ia lalu membantuku untuk berdiri, kemudian memapahku menuju kursi yang kumaksud tadi.

"Si, tidakkah kau merasa pria tadi sedikit aneh?"

Aku berpikir sejenak, apanya yang aneh? Hanya seorang pria dengan pakaian serba hitam.

"Bukankah banyak pria semacam itu?"

Gadis itu menggeleng tidak setuju, "Dia menutupi wajahnya, seolah takut jika kita melihatnya."

Ah, aku tidak terpikir kesana. Jika kuingat kembali, memang pria tadi sempat menurunkan topinya agar wajahnya tidak terlihat. Lalu buru-buru meninggalkan kami.

"Mungkin dia seorang buronan," celutukku asal.

"Bisa jadi! Mungkin dia orang jahat, Si. Kita harus berwaspada."

Suamiku telah kembali dari kamar mandi, aku segera melambaikan tangan agar dia tahu posisiku dan Evelyn dimana.

"Apa yang kau lakukan di kamar mandi? Kenapa lama sekali?" sungut Evelyn.

"Menurutmu, apa yang biasanya orang lakukan di kamar mandi?"

Adik iparku itu menggerutu pelan, namun hanya dia yang dapat mendengarnya. Selalu saja berdebat, pikirku.

"Kita pulang sekarang?" tanyaku, Elbarra mengangguk setuju.

Dia mengulurkan tangannya, segera mungkin aku menggapai tangan itu. Ketika aku sudah berdiri, aku hampir saja terjatuh jika Elbarra tidak cekatan menahan pinggangku. Aku lupa jika kaki-ku sedang sakit.

"Ada apa denganmu, Sayang?" Suamiku bertanya dengan nada penuh khawatir. Ia tiba-tiba berjongkok untuk memeriksa kaki-ku.

"Kenapa kakimu bisa terluka?" Elbarra menggeram, pandangannya beralih tertuju pada Evelyn, seolah meminta penjelasan.

"Tadi ada yang menabraknya."

"Siapa? Mana orang itu?"

"Dia sudah pergi, El. Sudahlah, tidak apa-apa. Sebentar lagi juga sembuh." Aku tersenyum menenangkan.

Elbarra menghembuskan nafasnya kasar. Ia bergegas menggendongku untuk segera pergi dari sana. Sembari di gendong, aku melirik kaki-ku yang memerah di bagian mata kaki. Pantas saja terasa sakit.

"Kita langsung pulang ke California!" kata suamiku dengan pandangan datarnya. Sepertinya ia marah.

Aku saling pandang dengan Evelyn yang berjalan di belakang kami. Ia mengangkat bahunya acuh, seolah tak peduli.

Melihat suamiku yang memasang wajah seperti itu, aku jadi takut untuk mengajaknya bicara. Jadinya aku memilih diam, sama seperti Evelyn yang sedari tadi enggan mengeluarkan suara.

...****************...

Belasan jam berada di udara, akhirnya kami tiba di mansion. Evelyn langsung meminta untuk diantar pulang kerumah orangtuanya. Sedangkan aku disuruh Elbarra untuk segera istirahat.

Lalu, apa yang di lakukan pria itu? Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas ada Lucas yang menemaninya di ruang kerja. Mungkin ada sesuatu yang penting sedang di bicarakan oleh mereka.

Sambil berdiam diri, aku masih terngiang dengan pria yang menabrakku tadi pagi. Aku berdecak saat mengingat pria aneh tersebut tidak mengucapkan permintaan maafnya kepadaku. Benar-benar tidak sopan huhu. Saat kejadian aku tidak mau memperpanjang, karena akan berbelit apalagi sedang ada Evelyn bersamaku.

Aku menghela nafas bosan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi aku belum merasa mengantuk. Mungkin saat di pesawat tadi terlalu banyak tidur.

Kruuyuuukk~ Kruyuuukk~

"Ish, perutku ini..." Aku mengusap perutku yang berbunyi nyaring.

Makan tengah malam bisa membuat berat badan bertambah naik. Tapi jika perutku terus berbunyi seperti ini, aku pasti tidak akan bisa tidur.

Kuputuskan untuk melangkah keluar menuju dapur. Namun sebelum memasuki lift, kulirik pintu ruang kerja Elbarra yang tidak tertutup rapat. Niatku untuk memasuki lift kuurungkan sejenak. Aku beralih menuju ruang kerja suamiku, tanpa berniat untuk masuk.

"Dia sudah kembali, Tuan. Bagaimana sekarang?"

Siapa yang sudah kembali? gumamku dalam hati.

Telingaku semakin kudekatkan ke daun pintu. Samar-samar kudengar suara Elbarra yang menggeram marah.

"Tetaplah berhati-hati, Lucas. Dia pasti akan menyasar titik lemah D.S Company!!"

"Bukan hanya D.S Company yang di incarnya, tapi dia tidak akan segan-segan menyakiti anggota keluargaku," sambung Elbarra.

Aku tersentak. Siapa yang dimaksud mereka? Kenapa orang itu ingin menyakiti 'kami'? Begitu banyak pertanyaan di kepalaku, hingga aku tak sadar saat Lucas tiba-tiba membuka pintu.

"Nyonya..." Ia menyapaku seraya menunduk sopan.

Elbarra menatapku tajam, "Apa yang sedang kau lakukan disitu?"

"Hahaha..." Aku tertawa garing, bagaimana menjelaskannya? Alasan apa yang harus kuberikan.

"Aku tak sengaja lewat. Aku ingin kebawah," alibiku sambil tersenyum lebar.

"Lift ada di sebelah kiri dari kamar kita, Sayang. Sementara ruang kerjaku ada di sebelah kanan dari kamar. Kau tak perlu berputar melewati ruang kerjaku!"

Bodohnya kau Sisi. Bagaimana bisa kau memberikan alasan tak masuk akal! Kamarmu berada di sebelah kiri, dekat dengan lift. Sedangkan ruang kerja suamimu di samping kamar, wajar jika Elbarra mencurigaimu.

Tak ada pilihan lain, selain mengeluarkan jurus andalan. Aku berjalan mendekati suamiku lalu duduk di pangkuannya. Kupeluk erat leher itu sembari menyembunyikan wajahku disana.

"Aku lapar. Maka dari itu, aku keluar dari kamar." lirihku seraya berpura-pura sedih.

"Kenapa tidak memberitahuku? Kau bisa langsung masuk keruang kerjaku, bukannya malah menguping!"

Refleks, aku menjauhkan wajahku dari lehernya. Tatapan tajam dan datar itu menusuk mataku, seolah ingin mengulitiku hidup-hidup.

"Aku takut menganggumu, El..."

"Takut mengganggu atau ingin mendengar lebih banyak isi percakapanku dengan Lucas?"

Entah kenapa rasanya aku kesal sekali karena terus-menerus di pojokan seperti ini. Bergegas aku bangkit, kemudian melangkah keluar tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Mau kemana?" tanya-nya saat aku sudah berada di ambang pintu.

"Mencari suami baru!" jawabku tanpa berbalik. Aku kembali melanjutkan langkah tanpa memperdulikan ocehan dan gerutuannya. Siapa suruh menyebalkan.

"SISIIII, KEMBALIIII!!!"

Aku tersenyum kecil sambil berlari menuju lift. Setelah masuk lift, Elbarra terlihat mengejarku. Buru-buru aku menekan tombol agar pintu lift segera tertutup. Sungguh, ini adegan yang mendebarkan.

Ketika pintu lift berhasil tertutup, aku mengusap dadaku sembari bernafas lega. Ekspresinya begitu mengerikan tadi. Seperti seekor harimau yang siap menerkam.

Habislah kau, Sisi! Elbarra tidak akan melepaskanmu malam ini. Aku bersusah payah meneguk ludah sambil membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini.

Tuhan, tolong aku...

1
Ika Yeni
penasarann smaa ellbaraa ,, hilang bagai di telann bumi
Ika Yeni
benerann elbaraa punyaa perempuann lainn ini? ya ampunn kasiann sisi,, apa cumaa slah paham?
Ika Yeni
elbaraa kmanaa istimu hamill ell
Ika Yeni
baguss kak ceritaa nyaa ,, semangat up yaa 😍
Yushi_Fitria: Terima kacih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!