Perjodohan? Ya mereka menikah karena perjodohan.
Seperti seperti cerita lain, jika menyangkut perjodohan maka mereka adalah dua insan yang tidak saling mengenal yang terpaksa duduk di depan pak penghulu dan menjadi pusat perhatian.
Kira-kira bagaimana kisah dua insan tersebut dalam menjalani bahtera rumah tangga? Dengan sifat lelaki itu yang dingin dan juga sifat perempuan yang sedikit bar-bar?
Ikuti kisahnya di novel Mr. Vazquez & Mrs. Vazquez
Salam kenal,
ptrmyllln
(PROSES REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ptrmyllln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tigapuluhtiga
"Viola, sampah udah penuh, buang," titah Ardo. Tidak di kantor tidak di rumah Viola akan selalu jadi babunya Ardo.
"Bentar! Lagi tanggung!"
"Cepat! Habis itu kuras aquarium,"
"Woi! Gue bukan pembantu, Saodah!"
"Cepat, saya nggak mau ada lalat di sini," katanya sambil makan snack dari kentang itu. Sialan emang, dia enak-enak nyemil lah Viola jadi babu.
Viola mendelik kesal. "Enggak liat apa orang lagi nonton, kayak dia punya kerjaan aja!" gerutu Viola namun ia masih menuruti perintah Ardo.
"Di lantai bawah beliin saya kerupuk basah dari Kalimantan itu, apa namanya?"
"Temet!"
"Nah itu Memet, beliin jangan sampe lupa!"
"Temet woi Temet, bukan Memet, enak aja ngubah-ngubah sembarangan!" gerutu Viola. Itu tuh makanan khas, enggak usah diubah ubah namanya.
"Terserah saya, orang mulut saya yang ngomong."
"Terserah!" ketus Viola.
"Cepat! Lelet banget kamu, kayak siput,"
Viola mendelik kesal, namun tak urung ia melakukan apa yang Ardo perintahkan. Mungkin di zaman dahulu dia ini adalah seorang babu kerajaan, mau aja disuruh gitu. Dia membuka pintu apartemen dengan dua kantong sampah dijinjingnya.
"Halo Kakak ipar," sapa seorang lelaki yang lebih muda tujuh tahun dari Viola.
"Dion? Kok di sini?" Viola mengernyit bingung melihat sepupu suaminya berada di sini, diusir keluarganya 'kah? pikir Viola.
"Loh, Bang Marvel juga?" lagi-lagi Viola terkejut dengan adanya Marvel di sini. Gadis itu bisa merasakan perasaan nggak nyaman di sini.
"Kita mau nginap," ucap Marvel dan Dion serempak. Nah! Ini nih pasti laen dah urusannya.
"Boleh ya Kak, jarang-jarang lho aku nginap sini, boleh ya?" Dion berucap sambil memasang wajah memelas.
Viola memutar bola matanya malas. "Iya deh iya, kalian boleh nginap sini,"
"Yeay thanks Viola," ucap Grace yang sedari tadi bersembunyi.
Viola terbelalak dengan mulut sedikit terbuka. "Kok? Lo juga ... mau nginap?" tunjuk Viola pada Grace.
Grace mengangguk. "Kita juga bawa camilan banyak nih," ucap Grace seraya mengangkat kantong belanjaan mereka.
"Hah?!" Viola melongo melihat belanjaan mereka yang banyak itu.
"Ayo Kakak, Abang kita masuk, anggap aja rumah Dion," ucap Dion yang entah kapan sudah masuk ke apartemen Ardo dan Viola.
Mereka pun masuk dan meninggalkan Viola yang masih melongo dengan kantong sampah dijinjingnya.
"Kak, jangan lupa sampahnya buang," kata Dion menunjuk kantong sampah yang dijinjing Viola. "Eh sekalian nitip buang ini," Dion mengambil sesuatu dari saku bajunya. "Kenangan bersama mantan," lalu ia membuang angin itu ke dalam keresek Viola.
Viola menatap kantong sampah di tangannya.
Kayaknya gue emang reinkarnasi dari babu.
***
"Jadi?" Viola melipat tangannya di atas dada. "Kalian janjian?" lanjut Viola dengan alis terangkat semua.
Semua yang berada disana menyengir ada yang menggaruk kepalanya ada juga yang menggaruk pipinya.
Viola menghembuskan nafas berat. "Yaudah—"
"Ngapain kalian ke sini?" ucap seseorang yang baru turun dari tangga.
Mereka meneguk ludah kasar.
"Anu Mas. Kita numpang tidur di sini satu malem doang kok," Dion berucap sambil menggaruk tengkuk nya. Remaja delapan belas tahun itu sebenarnya sudah keringatan melihat wajah datar sepupunya itu. Ini mah lebih parah dari ulangan matematika dan yang ngawas itu guru killer.
Ardo langsung berlalu meninggalkan mereka yang masih deg degan kayak lihat setan tanpa busana aja.
"Huh selamat," ucap mereka serempak.
"Ardo, ke sini lagi ya. Kita ngobrol bareng!" teriak Marvel.
"Gue ambilin minum dulu ya," ucap Viola.
"Gue ikut,"
Viola mengangguk lalu pergi dari sana di ikuti Grace di belakangnya.
"Lu ada dapat kabar Prilly enggak?" tanya Viola pada Grace.
Grace menutup pintu kulkas lalu menggigit apel yang baru dia ambil. "Enggak, kan udah lama kita lost contact sama dia," jawab Grace.
"Gue kangen sama dia," ucap Viola. Kawanan mereka itu sebenarnya ada tiga, Viola, Grace, Prilly. Nah Prilly itu enggak tau pergi ke mana, udah sekitar enam tahunan atau lebih gitu mereka lost contact.
"Hm, gue juga." Grace membenarkan ucapan Viola. "Gimana hubungan lo?"
"Hubungan apa?"
"Ck, hubungan sama suami lo!"
"Oh. Ya gitu deh," jawab Viola seadanya.
"Lo gak berniat bunuh dia lagi kan?" Grace memincingkan matanya.
Viola melotot. "Yakali, eh diem dong entar si Ardo denger bisa berabe gue,"
Grace tertawa. "Jadi lo udah mulai sayang nih ceritanya?"
Pipi Viola bersemu. "Bernad diem dong," rengek Viola. Tawa Grace semakin pecah mengetahui ucapannya benar.
***
"Udah subuh guys. Mending kita tidur, Grace tidur sama gue—"
"Eh jangan!" cegat Marvel. Viola mengernyitan dahinya. "Kenapa?"
"Grace tidur di kamar tamu aja, terus kamu sama Ardo tidur di kamar kalian, aku sama Dion tidur di sofa aja, ya kan?"
"Eh—iya. Gue sama Bang Marvel tidur di sini aja, sofa nya gede banget nih udah kayak spring bed," ucap Dion.
"Loh kok—"
"Cepetan tidur sana, gue udah ngantuk nih," Grace mendorong pelan badan Viola agar naik ke atas. Sedangkan Ardo mengangkat sebelah alisnya, ia merasa ada yang aneh di sini. Tapi mau tak mau ia pun menyusul Viola masuk ke kamar.
Setelah Ardo dan Viola masuk ke kamar, Marvel menyeringai licik. "Gimana?" tanya Marvel.
Dion dan Grace mengacungkan jempol mereka. Ok malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi pasutri itu.
***
Semoga sehat selalu ya thor,semoga sukses selalu🤲🏻🤲🏻🤲🏻🌺🌺🌺🌺🌺⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️