NovelToon NovelToon
TAK ADA JALAN KEMBALI

TAK ADA JALAN KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Masalah Pertumbuhan / Kebangkitan pecundang / Selingkuh / Anak Lelaki/Pria Miskin / Balas Dendam
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.

Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.

Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.

Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.

Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?

"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Mengejar Mimpi

.

Riko yang telah menyelesaikan shift terakhirnya di Jaya Elektronik, berpamitan dengan teman-teman kerjanya. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajahnya. Hatinya riang tak terkira, membayangkan betapa bahagianya ibunya saat mendengar kabar baik ini. Ia tidak sabar untuk segera tiba di rumah dan berbagi cerita.

Motor yang kini tak lagi butut setelah berhasil membeli baru tiga bulan lalu, ia pacu dengan kecepatan sedang, menikmati semilir angin sore yang menyapu wajahnya. Pikirannya sudah melayang, membayangkan masa depan yang lebih cerah. Ia tidak lagi hanya seorang satpam dengan gaji pas-pasan. Ia akan menjadi asisten profesor di sebuah perusahaan keamanan, sebuah kesempatan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sesampainya di depan rumah kontrakan, Riko memarkirkan motornya dengan tergesa-gesa. Ia melompat turun dan berlari kecil menuju pintu.

“Assalamualaikum, Bu. Ibu… Riko pulang. Bu…” pintu terbuka, menampilkan wajah teduh Ibu Maryam.

"Ibu…" Riko dengan ceria, langsung memeluk ibunya erat.

Bu Maryam yang terkejut, membalas pelukan Riko, seraya mengerutkan keningnya melihat putranya yang tampak begitu bahagia. "Waalaikumsalam," jawab Bu Maryam. "Ada apa, Nak? Apa habis gajian atau habis dapat bonus lagi?" tanyanya bercanda.

Riko semakin mengeratkan pelukannya, menggelengkan kepalanya dengan gemas. "Tidak, Ibu. Lebih dari itu," jawab Riko dengan suara yang penuh semangat.

“Benarkah?"

Riko melepaskan pelukannya dan menarik ibunya masuk ke dalam rumah. "Iya, Bu. Ayo sini, Ibu duduk dulu, biar Riko ceritakan semuanya."

Dengan antusias, Riko menceritakan pertemuannya dengan Profesor Rahmat di Jaya Elektronik. Tawaran pekerjaan, dan gaji yang pasti lebih besar.

Bu Maryam mendengarkan setiap kata yang diucapkan putranya dengan seksama. Dalam hati ia bersyukur, tidak menyangka, putranya yang telah mengalami begitu banyak cobaan, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk meraih kesuksesan.

"Alhamdulillah, Nak," ucap Bu Maryam dengan suara yang bergetar, air mata haru mulai membasahi pipinya. "Ibu sangat senang mendengarnya. Ini semua berkat kerja kerasmu, kejujuranmu, dan ketakwaanmu kepada Allah SWT."

Riko meraih tangan ibunya dan menciumnya takzim. "Semua ini berkat doa Ibu. Tanpa Ibu, Riko tidak akan bisa seperti ini," ucap Riko tulus.

"Jangan lupakan Allah, Nak," pesan Bu Maryam dengan lembut. "Tetaplah rendah hati dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. Ingatlah selalu, kesuksesan duniawi tidak akan berarti apa-apa jika kamu melupakan akhiratmu."

Riko mengangguk mendengar pesan ibunya, dan berjanji akan selalu mengingat dan melaksanakan. Namun, ada satu hal lagi yang masih mengganjal di hatinya. "Tapi, Bu," ucap Riko ragu. "Pekerjaan ini mengharuskan Riko untuk tinggal di kota. Riko mungkin hanya bisa pulang sebulan sekali."

Mendengar perkataan Riko, hati Bu Maryam merasa berat karena harus berpisah lagi dengan putranya. Namun, ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada Riko. Ia tidak ingin menghalangi putranya untuk meraih impiannya.

"Ibu mengerti, Nak," ucap Bu Maryam berusaha tegar. "Jangan khawatir, Ibu akan baik-baik saja. Yang penting, kamu fokus pada pekerjaanmu dan raihlah kesuksesanmu. Ibu akan selalu mendoakanmu."

"Terima kasih, Ibu," ucap Riko lalu memeluk ibunya erat. "Riko janji, Riko akan sering-sering menelpon Ibu dan pulang jika ada waktu luang."

Bu Maryam membalas pelukan Riko dengan sayang. "Iya, iya. Ibu percaya padamu, Nak.

Riko melepaskan pelukannya dan menatap wajah ibunya dengan tatapan yang penuh kasih sayang. Ia berjanji kepada dirinya sendiri. Kali ini, ia tak kan bertindak bodoh lagi. Kali ini, ibunya adalah prioritas.

*

Mentari pagi belum sepenuhnya menampakkan diri, namun di rumah kontrakan sederhana itu, kehidupan sudah mulai menggeliat. Riko terbangun dengan semangat membara, siap menyambut lembaran baru. Keluar dari kamar, Riko mendapati ibunya juga sudah sibuk di dapur.

Aroma nasi goreng yang menggugah selera langsung menyambutnya. Ia melihat Ibu Maryam dengan telaten mengaduk nasi di atas wajan, sesekali bersenandung kecil.

"Waah… harum sekali baunya, Bu," ucap Riko yang telah berdiri di samping ibunya.

Ibu Maryam tersenyum lembut. "Ibu membuatkan sarapan untukmu sebelum kamu berangkat."

Riko terharu melihat perhatian ibunya. “Pasti Riko bakalan kangen sama masakan Ibu." Riko mengambil Sutil dari tangan ibunya, lalu mengambil sedikit nasi goreng dan meletakkannya di tangan untuk ia icipi.

"Hemmm… lezat.” Riko mengunyah sambil memejamkan mata. Menikmati cita rasa maksakan ibunya yang selalu berhasil membuatnya ketagihan.

“Sana mandi, habis gitu sarapan!" usir Bu Maryam.

Riko pun berlari ke kamar mandi belakang setelah memberikan ciuman kecil di pipi ibunya. "Saranghae, Ibu,” teriaknya sambil berlari, membuat Bu Maryam menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.

*

Riko dan Bu Maryam menikmati sarapan dengan suasana yang hangat dan penuh kasih sayang. Sesekali, mereka bercanda dan tertawa, mencoba mengusir kesedihan yang mulai menghantui.

Setelah selesai sarapan, Riko bergegas mengambil tas ranselnya dan bersiap untuk berangkat. Ia merasa berat meninggalkan ibunya sendirian di rumah kontrakan ini. Namun, ia berjanji kepada dirinya sendiri, suatu saat, ia akan membawa ibunya ke tempat yang lebih baik.

"Sudah siap, Nak?" tanya Ibu Maryam, menghampiri Riko.

Riko mengangguk. "Sudah, Ibu," jawab Riko, meskipun hatinya terasa berat.

"Berangkatlah dengan hati yang lapang dan penuh semangat," pesan Ibu Maryam dengan lembut. "Ingatlah selalu pesan Ibu: jujur, ikhlas, dan selalu berdoa kepada Allah SWT."

Riko mengangguk dan kemudian melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia berlutut di hadapan ibunya dan merangkul tubuh wanita itu erat. Kepalanya menempel di perut ibunya. “Restui Riko, ya, Bu."

Bu Maryam terkejut dengan tindakan Riko. Namun, ia mengerti apa yang sedang dirasakan putranya. Ia mengusap kepala Riko dengan lembut, berdoa dalam hati untuk keselamatan dan kesuksesan putranya. Bu Maryam tersenyum dan mengangguk. "Ibu merestuimu, Nak. Berangkatlah dan kejar mimipimu. Ibu akan selalu mendoakanmu."

Riko mencium tangan ibunya takzim lalu berdiri dan memeluk ibunya erat. "Riko pamit ya, Bu," ucap Riko dengan suara yang bergetar.

Ibu Maryam membalas pelukan Riko dengan sayang. "Hati-hati di jalan, Nak," pesan Ibu Maryam. "Jangan lupa kabari Ibu kalau sudah sampai di kota."

Riko melepaskan pelukannya dan mengangguk. "Pasti, Bu," jawab Riko dengan senyum yang dipaksakan.

Ia berbalik dan melangkah menuju pintu, meninggalkan ibunya yang berdiri di ambang pintu. Ia tidak berani menoleh ke belakang, takut air matanya akan tumpah.

Ia menghidupkan mesin motornya dan melaju meninggalkan rumah kontrakan. Ia melambaikan tangannya ke arah rumah kontrakan itu, seolah berpamitan untuk terakhir kalinya.

Bu Maryam melambaikan tangannya hingga bayangan Riko tak lagi terlihat. "Ya Allah, lindungilah anakku di mana pun ia berada. Berikanlah ia kemudahan dalam segala urusannya. Berikanlah ia kekuatan untuk menghadapi segala cobaan. Dan berikanlah ia kesuksesan yang gemilang. Aamiin…” doanya dalam hati.

1
Cindy
lanjut
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
gak tahunya perhiasannya KW🤭
Aidil Kenzie Zie
Aldo mana Aldo
Yana Phung
sepertinya berlian pemberian aldo juga palsu
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
ora
Yakin bisa di jual kan, Ras😁😁
ora
Kamu juga usaha dong, jangan nyuruh aja bisanya...
Tini Uje
jangan2 palsu lagi kan prhiasan nya 😅😅
Masha 235: ho oh...kalo palsu, kasian.....rugi berkalikali🤭
total 1 replies
Dew666
💎💎💎💎
Masha 235
andaikan hukum di negeri ini sperti cerita ini,,,,alangkah senangnya hati ini....
Cindy
lanjut
Piet Mayong
daripada hotel mending cari kontrakan donk Bu Ratna yg terhormat
🤭😁😁😁😄
Patrick Khan
guna nya aldo apa sih😅😅😅
Tini Uje
yg kata nya horang kaya pacar nya larass kmnaa atuhh..bantuin tuh ayang mbeb kamu aldo 😅😅
Ayudya
lanjut kak
juwita
si aldo kmn laras bknya pacar km🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
anda
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sorry, gak nerima barang bekas
Gadis misterius
Lnjutkan riko memang harus begitu .....jngn smpai lengah dan tertipu dngn laras lg cukup 1 x
Ayudya
seperti bom waktu yg kapan aja meledak itu lah amarah riko🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Ayudya
lah Laras kok ga tau malu banget mau minta balikan ma Riko mimpi kali kamu laras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!