Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Mobil melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan pedesaan yang sedikit sepi. Namun, mobil itu harus melambat ketika mereka memasuki wilayah perkotaan yang terkenal sangat ramai dan padat.
"Kita pulang ke mana sekarang, tuan muda? Ke rumah baru, atau ke mansion?"
"Tidak keduanya. Aku ingin kita ke klab malam sekarang juga."
"Klab malam? Apa tuan muda yakin?"
"Lakukan saja apa yang aku katakan. Tidak perlu membantah," ucap Dicky dengan nada kesal.
"Baik, tuan muda."
Sopir itu menjalankan mobil menuju klab malam dengan berat hati. Sementara Dicky, diam sambil melihat keluar dengan tatapan kosong.
Di sisi lain, Hero berjalan sendirian keluar dari rumah orang tua Merlin. Wajahnya terlihat tidak baik-baik saja sekarang. Seperti ada masalah yang baru saja dia alami.
"Bagaimana, Hero? Apa bi Imah ada di dalam? Kenapa dia tidak ikut keluar bersama denganmu?"
"Maaf, nona. Bibi yang nona katakan ada di dalam. Namun, kedua orang tua nona tidak mengizinkan bibi itu pergi. Katanya, bibi itu sudah banyak berhutang pada keluarga nyonya. Karena itu, dia tidak boleh pergi sebelum hutangnya lunas."
"Apa! Bi Imah berhutang? Yang benar saja kamu, Hero. Sejak kapan bibi punya hutang banyak pada keluarga ini?"
"Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan mereka bertindak sesuka hati."
Selesai berucap, Merlin langsung beranjak keluar dari mobil. Dengan wajah yang dipenuhi dengan emosi tentunya.
Hero yang melihat hal itu, merasa harus mencegah Merlin masuk ke dalam. Karena dia tidak ingin, nona nya dapat masalah. Atau paling tepatnya, dia tidak ingin Merlin bikin masalah di saat seperti ini. Karena Dicky sedang tidak ada di antara mereka. Hal itu mungkin akan merugikan Merlin nantinya.
"Nona mau ke mana? Tolong jangan bertindak gegabah."
"Aku mau masuk ke dalam. Kamu tenang saja, aku tahu apa yang akan aku lakukan. Tunggu dan lihat saja hasilnya di sini."
"Tapi, nona .... "
"Sudah. Tidak perlu cemas. Ikuti saja apa yang aku katakan," ucap Merlin sambil memberikan senyum kecil pada Hero.
Hero melemah. Dia tidak punya daya untuk terap menahan Merlin. Yang bisa dia lakukan hanyalah, membiarkan dan mengikuti apa yang ingin Merlin lakukan.
Merlin masuk ke dalam dengan wajah galaknya. Dia sangat kesal sekarang. Karena itu, dia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Semua mata tertuju pada Merlin yang langsung menerobos masuk.
"Merlin!" Mita dan Jenny berucap serentak dengan suara sedikit kaget.
"Di mana bi Imah. Aku datang untuk menjemputnya."
"Apa? Kamu datang buat jemput Imah? He ... yang benar saja," ucap Bondan sambil bangun dari duduknya.
"Pa, jangan usir Merlin yah. Aku sangat rindu padanya. Biarkan dia tinggal di sini malam ini," ucap Jenny dengan nada lemah lembut penuh harap.
"Apa? Kamu ingin aku tinggal di sini? Duh ... baiknya kamu Jenny. Pantas papa sayang pada anak tirinya. Anak tirinya terlalu baik sih."
"Tapi sayangnya ... sandiwara itu tidak sempurna. Karena aku orang waras yang tidak buta, jadi bisa melihat dengan jelas siapa kamu. Serigala yang pura-pura jadi domba."
"Merlin! Kamu keterlaluan sekali ya. Sudah untung anakku berbaik hati padamu. Tapi kamu malah bilang dia serigala yang pura-pura jadi domba. Benar-benar tidak punya hati kamu sebagai manusia."
"Lihat, Pa! Anak kamu yang memang tidak tahu sopan santun ini. Sudah datang ke rumah orang tanpa permisi, omongannya pedas banget lagi. Kalau dia anakku, sudah aku beri pelajaran habis-habisan dia. Biar dia tahu disiplin dan sopan santun itu penting."
"Cih! Sayangnya, aku bukan lagi anggota keluarga di rumah ini. Yang tentunya, aku bukan anak dari orang yang bernama Bondan itu lagi."
"Merlin!" Bondan membentak Merlin dengan dengan suara tinggi. Tatapan tajam tak lupa dia berikan pada Merlin sekarang.
"Kenapa? Mau pukul aku? Pukul kalo berani. Jika kamu memang ingin berurusan dengan kantor polisi, maka pukul saja aku sekarang juga."
"Sebelum pukul aku, jangan lupa satu hal. Aku adalah nona muda Prasetya sekarang. Jadi, jika berani pukul aku, maka lakukanlah. Kamu pasti akan dapat hadiah. Bukan hanya masuk penjara, kamu juga pasti akan kehilangan semua aset yang kamu miliki."
Merlin bicara dengan nada penuh percaya diri. Walaupun sebenarnya, dia juga tidak yakin dengan apa yang dia katakan saat ini benar atau tidaknya. Tapi, karena rasa sakit hati, dia terpaksa menggunakan nama keluarga besar itu untuk tempatnya berpijak sekarang.
Apa yang dia harapkan ternyata terujut. Ekspresi takut dari sang papa terlihat dengan sangat jelas. Bukan hanya papanya yang tidak berkutik, Mita dan Jenny yang terkenal selalu berisik pun ikut diam sekarang.
"Sudah! Aku tidak punya waktu untuk berlama-lama di rumah ini. Aku minta bi Imah keluar sekarang juga. Aku akan bawa bi Imah ikut serta bersamaku."
"Tidak bisa! Bi Imah itu asisten rumah tangga di sini. Dia akan tetap bekerja di rumah ini sampai hutangnya selesai."
"Hutang? Hutang apa? Kapan bi Imah punya hutang dengan keluarga ini?"
"Dia punya pinjaman besar untuk dia kirimkan ke kampungnya. Jadi, dia tidak bisa pergi sebelum melunasi hutangnya pada kami."
"Nona."
Saat itulah, bi Imah yang dilarang keluar dari kamar, kini memilih mengabaikan perintah. Dia keluar karena tidak sabar untuk bertemu dengan Merlin sekarang.
"Bibi." Merlin berucap sambil berjalan menghampiri pekerja yang susah dia anggap sebagai keluarganya sendiri. Sontak, dia langsung menghambur ke dalam pelukan bibi itu sesegera mungkin.
"Bi Imah. Aku rindu dengan bibi. Bibi baik-baik saja bukan tanpa aku di rumah ini?"
"Bibi juga rindu, nona. Bibi baik-baik saja."
"Syukurlah kalo begitu, bik. Ayo ikut dengan aku. Bibi pasti akan senang nantinya."
Mendengar ucapan itu, bi Imah langsung menundukkan kepalanya. Dengan wajah yang terlihat sangat sedih penuh beban.
"Maaf nona. Bibi tidak bisa."
"Kenapa, bi? Kenapa tidak bisa? Bukankah kemarin bibi ingin ikut dengan aku? Bibi bilang akan ikut ke mana aku pergi kan? Sekarang aku datang buat ajak bibi ikut dengan aku, bik. Kenapa bibi gak mau?"
"Bibi .... "
"Bibi tidak bisa, nona. Bibi tidak ingin ... tidak ingin membebani nona."
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱