Spinn Off cerita dari Vira dan Firlan dari novel "Pesona Cinta Amartha". Kelakuan Vira yang seperti bocil dan sifat keras Firlan membuat hubungan cinta keduanya semakin sulit untuk dilanjutkan ataupun diakhiri. Kehadiran Gusti yang notabene duda beranak satu pun semakin memperkeruh suasana. Bagaimana akhir cerita dari Vira dan Firlan? apakah mereka akan bersatu dalam satu ikatan perkawinan? ataukah mereka memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangan Kosong?
Setelah 15 menit, mobil Firlan sudah sampai di pelataran kontrakan Vira. Pria itu memandang wajah Vira yang sedang tertidur pulas.
"Jadi nggak tega buat banguninnya," gumam Firlan yang juga bersandar di sandaran kursinya sambil menoleh sedikit ke arah Vira.
"Kalau lagi anteng kayak gini, cantiknya nggak ketolong. Tapi kalau lagi ngomel, suaranya juga nggak ketolong. Vira Vira..." Firlan tertawa sendiri jika mengingat tingkah konyol wanita yang sudah memilih membuka hatinya kembali itu.
Cup
Firlan mengecup pipi kanan Vira.
"Bangun, Ay. Udah sampai depan kontrakan..." kata Firlan.
"Emh, ya nanti aku ambil duit dulu! taro aja disitu!" gumam Vira.
"Lah, ngelindur nih bocah!" Firlan geleng-geleng kepala.
"Vir ... Vira ... bangun, Vir..." Firlan menepuk pipi Vira yang tirusan.
"Emh," Vira membuka matanya perlahan dan terlihat jelas sosok Firlan ada di hadapannya.
Vira langsung membenarkan posisi duduknya yang tadi agak leyehan dikit.
"Udah sampai," jata Firlan.
"Oh, engh, iya..." Vira jadi salah tingkah sendiri membuat Firlan sangat gemas melihatnya.
"Mandilah dulu, aku akan kesini satu jam lagi, abis itu kita ke salon..." kata Firlan yang ingin membuat Vira tampil mrmukau di acara resepsi pernikahan Ricko.
"Iya," sahut Vira yang kemudian keluar dari mobil Firlan.
Dan pria tampan itu memundurkan mobilnya dan segera pergi meninggalkan kontrakan Vira menuju sebuah hotel.
"Nggak nyampe kalau harus balik ke apartemen, mending cari hotel deket sini aja buat mandi..." kata Firlan seraya memacu kendaraannya.
Sementara Vira yang sebenarnya sudah sangat lelah, duduk di tepi ranjangnya sebentar.
"Kenapa aku bisa sampai lupa kalau hari ini ada acara sepenting ini!" gumam Vira.
Wanita itu pun bergegas menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan mengusir kepenatan setelah seharian bekerja.
Setelah beberapa saat, Vira keluar dengan handuk yang membungkus kepalanya.
Disaat itu juga ponselnya berdering.
"Halooo?" sapa Vira.
"Haloo ini Gia Tanteee..."
"Hai, Nona kecil sudah bangun ternyata," ucap Vira.
"Sudah dari sore. Tante kenapa antar Gia ke rumah? padahal kan Gia mau bermain clay!" Gua merajuk.
"Karena Gia tidur, dan tante nggak tega kalau maksain Gia buat main clay, sedangkan kita bisa ketemu beberapa hari lagi, ya walaupun tadi siang tante pengen banget main sama Gia, tapi it's okay, kita bisa bermain lagi di lain waktu," jelas Vira.
"Hemmm," Gia hanya berdehem, Vira tahu jika gadis kecil itu sedang ngambek.
"Senyum dong, Cantik..." rayu Vira.
"Hemm..."
"Ya sudah kalau Gia lagi ngambek, nggak apa-apa. Tapi ngambeknya jangan lama-lama ya? nanti cepet keriput kayak nenek-nenek," kata Vira.
"Iya, Tante..." kata Gia.
"Giaa Sayang!" seru seorang pria dari kejauhan.
"Papi pulang, Gia tutup telfonnya ya Tante...?" ucap Gia.
"Iya, Sayang... bye!" kata Vira sebelum menutup sambungan teleponnya.
Vira pun membuka bungkusan handuk yang membubgkus rambutnya sedari tadi, ia mengeringkan rambutnya yang habis ia cuci dengan shampoo.
Vira pun beralih papper bag besar yang ada di atas meja riasnya.
"Wew, gaun cantik untuk wanita cantik!" Vira memuji diri sendiri.
Sementara di tempat lain, Firlan sedang menikmati guyuran air hangat dari kucuran shower. Rasanya semua otot-otot yang tegang kini bisa relax sejenak. Tak lama ia pun keluar dengan handuk kimono yang melilit di tubuhnya.
Ia mengusap kepalanya yang basah dengan handuk berwarna putih dan melihat pantulan dirinya di cermin.
"Aku harus segera bersiap, aku nggak mau Vira terlalu lama menunggu...," gumam Firlan mengingatkan dirinya sendiri kalau dia sedang diburu waktu.
Pria itu memakai sebuah jas yang ia bawa dari mobil, ia mulai mengancing kemeja berwarna putih tulang yang kini membungkus tubuh tegapnya.
Setelah selesai bersiap, Firlan pun membawa sebuah papper bag yang ia gunakan untuk menyimpan jas yang ia pakai tadi pagi. Pria itu keluar untuk check out.
Penampilannya sungguh sempurna malam ini, pria itu kini pergi memacu kendaraannya menuju kontrakan Vira.
Tak lama Firlan pun akhirnya sampai di pelataran kontrakan Vira. Pria itu pun turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu.
Tokkk.
Tokkk.
Tokkk.
Firlan mengetuk pintu dan perlahan pintu pun terbuka menampilkan sosok Vira yang sudah memakai gaun off shoulder dengan warna pastel yang sangat cocok di kulitnya.
Firlan pun dibuat melongo pasalnya Vira sudah sangat cantik, wanita iru sudah merias wajahnya.
"Kenapa? menor? jelek?" tanya Vira yang melihat reaksi Firlan yang hanya diam melihat dirinya.
"Heh?" Vira melambaikan tangannya di depan wajah kekasihnya. Vira berniat berbalik untuk ke kamarnya lagi untuk mengoreksi sentuhan make up di wajahnya, namun Firlan dngan secepat kilat menangkap tangan Vira.
"Kamu cantik!" puji Firlan.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Firlan, yqng dipuji pun hanya mengangguk malu.
"Aku ambil dompet dulu," kata Vira yang melihat genggaman tangan Firlan.
"Oh, oke. Aku tunggu!" Firlan segera melepaskan tangannya dari Vira dan wanita itu dengan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Deuh, kenapa juga dipuji begitu muka langsung jadi panas kayak gini? biasa aja kali, Viraaa!" Vira mengibaskan tangannya di wajahnya sambil melihat cermin. Setelah memasukkan ponsel ke dalam dompet, Vira pun bergegas menemui Firlan di ruang tamu yang sudah gagah dengan jas berwarna biru.
"Sudah siap?" tanya Firlan ketika melihat Vira berjalan mendekatinya.
"Hu'um!" Vira mengangguk.
"Baiklah, kita pergi sekarang," kata Firlan yang main menggandeng Vira keluar rumah.
Dan tiba-tiba wanita itu melepaskan tangannya dari Firlan.
"Kenapa?" tanya Firlan.
"Pintunya belum di kunci, noh! kalau ada maling bisa berabe!" Vira berbalik ke arah pintu kemudian menguncinya. Firlan hanya tertawa mengingat mereka berdua hampir pergi dengan membiarkan pintu rumah yang terbuka lebar.
"Heh, malah bengong! ayo," kata Vira yang berjalan mendahului Firlan.
"Tunggu, Viraaaa!" Firlan berlari mengejar Vira yang menyingcing gaunnya.
Firlan membukakan pintu untuk kekasihnya itu, setelah Vira sudah masuk, dia pun berjalan memutar menuju kursi kemudi.
"Nggak ada yang ketinggalan?" tanya Firlan.
"Astagfirllah! aku belum punya kadooooooooo!" teriak Vira panik.
"Astagaaa! bisa nggak sih jangan bikin aku jantungan mulu dengan mendadak teriak kayak gitu? astagaaaaa!" Firlan mengelus dadanya yang kaget.
"Iya, tapi aku lupa. Aduh belum nyari kado, hadiah atau apapun itu. Masa kesana cuma makan doang? mau ditaruh dimana muka ku ini? aduh, gimana dong?"
"Hahahahahahah, ck! kamu emang payah! masa mau kondangan cuma bawa diri ajah? ckc ck ck!" ujar Firlan.
"Jangan ngatain aja! cari solusi, kek! ke mall bentar yah," kata Vira.
"Nggak mau ah, udah jam segini!"
"Ya terusss? masa aku kondangan dengan tangan kosong?" tanya Vira.
"Aah, ya nggak. Karena aku udah nyiapin satu set perhiasan buat kamu bawa sebagai hadiah buat pengantin wanita. Nih..." Firlan menyerahkan satu kotak perhiasan pada Vira.
Vira yang merasa terselamatkan pun dengan refleks, mencium pipi Firlan.
Cup.
"Makasih! ayok, jalan sekarang!" suruh Vira yang kini sangat senang.
"Ck, dia kira aku supir?" batin Firlan.
...----------------...
ceritamu selalu bisa bikin hati hanyut thor. semangat Thor ❤️