Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Buahahaha!" Frans yang melihat Rio ketakutan karena ayunan bergerak cepat.
"Makanya jangan sok-sokan Lo! Kek bocah aja, selalu penasaran dengan barang baru. Hahaha!" kata Frans sambil mentertawakan Rio.
"Dasar gak ada akhlak! Temen mau jatuh malah diketawain. Huh!" kata Rio kesal sambil berjalan mendekati ketiga temannya yang berada di teras.
"Sudah sore, Yo! Serem kalau malam melewati jalan perkebunan sendiri." jawab Rahma sambil bergidik ngeri.
"Nanti Kami anterin kalau kamu takut. Aku mau ada perlu sama Kamu," sahut Frans.
"Aduuhhhh... Gimana yah, Ibu sendirian di rumah? Aku nggak tega ninggalin beliau sendirian," jawab Rahma bingung.
Rahma tidak hanya takut pulang malam, sang ibu juga menjadi pertimbangannya. Bu Sarifah biasanya akan mengerjakan semua tugas Rahma jika Rahma tidak ada di rumah. Jadi Rahma ingin cepat pulang agar ibunya bisa segera istirahat.
"Nanti Lo Gue bonceng di motor Gue, sepeda Lo tinggal aja di sini. Besok pagi biar diantar Frans!" sahut Rio santai, tidak tahukah dia jika sahabatnya itu tengah menahan emosinya ketika mendengar solusi dari Rio.
"Bunuh! Bunuh aja Gue! Gue ikhlas," sahut Frans kesal.
"Enak di Lo, sesak di Gue. Masak Gue disuruh anterin sepeda Rahma, terus pulangnya Gue jalan kaki, begitu maksud Lo? Niat banget Lo nyiksa Gue!" lanjut Frans.
"Lo kek radio bodol tahu nggak? Berisik!" sahut Rio mengejek Frans.
"Lo terniat banget TP TP ke Rahma!" dengkus Frans.
"Nggak ada salahnya TP TP ke cewek! Apalagi ceweknya cantik dan pintar kek Rahma, pasti banyak yang mau," jawab Rio memainkan matanya sengaja memanasi Frans.
Rio tahu Frans menaruh hati pada Rahma, oleh karena itu dia ingin Frans segera mengungkapkan perasaannya sebelum terlambat. Tidak gampang mendapatkan hati seorang Rahma karena biasanya cewek mandiri itu susah untuk ditaklukkan.
"Gimana Ma, mau 'kan Gue anterin? Dijamin aman dan nyaman dalam boncengan motor Babang Febrio Putra Alaska!" tanya Rio dengan rayuan mautnya.
"Mau aja Ma! Besok Aku anter sepedamu. Nggak usah takut dan khawatir. Ok?" saran Tiara sambil memegang pundak Rahma.
Rahma bingung bagaimana caranya menolak ajakan mereka. Akan tetapi Rahma masih penasaran dengan apa yang mereka bahas nanti dalam percakapan. Selain itu dia juga sudah lama meninggalkan ibunya di rumah sendirian.
"Aku kepikiran Ibu terus. Sedari pagi Aku meninggalkan Ibu sendirian di rumah. Aku takut terjadi apa-apa pada Ibuku," ucap Rahma sendu.
"Frans, Lo pulang terus tukar Ninja Lo dengan Rush biar sepeda Rahma bisa masuk, gih! Nanti kita antar sampai rumahnya sambil ngobrol!" perintah Rio pada Frans seolah-olah dialah bosnya, sambil menahan tawanya. Rio memanfaatkan Rahma untuk menjahili Frans.
Emang Lo aja yang bisa main perintah, Gue juga bisa. Hihihi... rasain Lo!
Sebenarnya Rio tidak tega menjahili Frans tapi Rio ingin tahu sejauh mana perjuangan Frans untuk mendapatkan hati seorang Rahma. Selama ini Frans selalu menutupi rasa cintanya pada Rahma, bahkan rela sakit hati menahan cemburu saat Rahma berbincang akrab dengan lawan jenis.
"Jangan dong! Pakai mobil Aku aja, nggak usah capek-capek tukar motor ke mobil," Tiara menimpali percakapan antara Frans dan Rio.
"Terus, motor kita?" tanya Rio pura-pura bodoh.
"Motor kalian taruh sini aja, pas pulangnya 'kan kalian ikut mobilku lagi. Jadi sekali jalan, tidak capek bolak balik ambil mobil Frans. Ok?" jawab Tiara dengan senyuman manis.
"Lagian keburu malem kalau nunggu Frans ambil mobilnya. Tunggu sebentar ya, Aku ambil kunci mobil!" lanjut Tiara kemudian bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil dompet dan kunci mobilnya.
Rio dan Frans hanya bisa menyetujui permintaan Tiara untuk memuluskan rencananya. Tidak perlu pakai drama membujuk Tiara untuk mendekatkan Rahma pada Frans.
"Ayuk, keburu malem! Rio kamu bantu Frans masukin sepeda Rahma ke mobilku ya!" titah Tiara begitu kembali dari kamarnya.
Akhirnya Frans dan Rio pun menaikkan sepeda Rahma kedalam mobil Tiara tanpa protes sedikit pun. Setelah selesai mereka duduk di mobil dengan formasi Rahma dan Tiara duduk di belakang, sedangkan Frans dan Rio di depan. Frans yang menyopir karena dia lebih mahir dibandingkan Rio.
"Rahma, tumben Lo ke rumah Tiara? Bukankah jarak dari rumahmu ke rumah Tiara lumayan jauh?" tanya Rio memecahkan kesunyian karena suasana di dalam mobil terlalu sepi.
"Aku hanya kebetulan tadi ke sekolah mengurus beasiswa, nggak ada salahnya mampir ke rumah teman 'kan?" tanya Rahma penasaran.
"Lo ambil beasiswa dari kampus mana, Ma? Cerita dong ke kita-kita biar enak lanjutin ngobrolnya!" pinta Rio dengan rayuannya.
"Di Universitas "XX". Hanya kampus itu yang sesuai dengan keinginanku saat ini." jawab Rahma sambil tersenyum.