Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Di belahan dunia lain, tepatnya di sebuah rumah sakit privat eksklusif di jantung kota London, Tuan Narendra berdiri tegak di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota yang dingin. Ia baru saja meletakkan ponselnya setelah memerintahkan anak buahnya di Indonesia untuk menutup rapat semua akses informasi mengenai Sheila.
Baginya, Sheila kini hanyalah masa lalu yang sudah "mati" secara status dalam hidup Devano. Selagi rahasia ini tidak mengganggu kenyamanan putra mahkotanya dan cucu kandungnya, Tuan Narendra tidak akan membiarkan satu celah informasi pun bocor.
Langkah kakinya yang berat bergema di koridor sunyi menuju ruang NICU privat. Setelah melewati pintu keamanan berlapis, ia sampai di depan sebuah inkubator yang paling canggih di ruangan itu.
Di dalamnya, seorang bayi mungil sedang berjuang bernapas dengan bantuan peralatan medis terbaik. Itulah anak kandung Sheila dan Devano yang sebenarnya—bayi yang seharusnya dianggap sudah meninggal oleh dunia, namun secara rahasia diculik dan dibawa ke London oleh Tuan Narendra.
Tuan Narendra menatap bayi itu dengan tatapan yang sulit diartikan; ada rasa bangga karena memiliki pewaris darah Narendra, namun juga ada kekejaman yang tak tergoyahkan.
"Tumbuhlah dengan kuat di sini, Nak," bisik Tuan Narendra sambil menyentuh kaca inkubator dengan ujung jarinya. "Di kota ini, tidak akan ada yang tahu siapa ibumu. Kamu akan tumbuh menjadi seorang Narendra sejati, tanpa bayang-bayang wanita dari masa lalu ayahmu yang tidak selevel dengan kita."
Ia tidak peduli jika harus menghancurkan kewarasan Sheila atau menipu putranya sendiri seumur hidup. Baginya, garis keturunan yang bersih dan murni adalah segalanya. Ia telah mengatur skenario kematian palsu yang sempurna, dan selama bayi ini berada di bawah kendalinya, rahasia itu akan tetap terkubur bersama tanah di pemakaman palsu di Indonesia.
Di kantor pribadinya yang mewah, Devano duduk terdiam menatap tumpukan dokumen kerja sama yang harus ia tandatangani. Di setiap sudut hidupnya, ia kini menyadari bahwa dirinya tak lebih dari sekadar bidak catur di papan permainan besar milik ayahnya, Tuan Narendra.
Pintu terbuka tanpa ketukan, dan Tuan Narendra melangkah masuk dengan wibawa yang mengintimidasi. Ia berdiri di hadapan putranya, meletakkan tangan di pundak Devano dengan cengkeraman yang terasa seperti belenggu.
"Ingat, Devano," suara Tuan Narendra terdengar berat dan dingin. "Darah yang mengalir di tubuhmu adalah darah penguasa. Seorang pewaris kerajaan bisnis Narendra tidak boleh bersanding dengan wanita rendahan yang hanya akan menjadi kerikil dalam langkahmu."
Devano mengepalkan tangannya di bawah meja, rahangnya mengeras. Bayangan Sheila sempat melintas—sebuah kenangan tentang cinta yang tulus namun kini dipaksa untuk ia anggap sebagai aib.
"Aku sudah mengikuti semua keinginan Papa," sahut Devano lirih, suaranya sarat akan rasa putus asa. "Aku meninggalkan Indonesia, aku menerima pernikahan politik ini, dan aku membiarkan Papa mengatur setiap detik hidupku. Apa itu belum cukup?"
Tuan Narendra tersenyum sinis, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Belum cukup sampai kamu menyadari bahwa perasaan adalah kelemahan. Kita adalah singa, Devano. Dan singa tidak akan mengandalkan belas kasihan."
Devano hanya bisa menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan hiruk-pikuk kota London. Ia merasa hidupnya kini telah mati rasa. Kebebasannya telah direnggut, identitasnya telah dikaburkan, dan ia telah sepenuhnya disetir untuk menjadi mesin kekuasaan ayahnya. Ia tidak menyadari bahwa di balik tembok rumah sakit yang ia kunjungi setiap hari, ada kebohongan besar tentang darah dagingnya sendiri yang sedang disembunyikan oleh sang ayah.
Suasana tegang di ruangan itu pecah saat terdengar ketukan sepatu hak tinggi yang berirama di atas lantai marmer. Seorang wanita cantik dengan pakaian high-fashion yang modis melangkah masuk. Ia adalah Clara, putri dari kolega bisnis terbesar Tuan Narendra yang kini telah resmi menjadi istri Devano melalui pernikahan politik yang telah diatur sedemikian rupa.
"Sayang, apa kamu masih sibuk dengan dokumen-dokumen itu?" tanya Clara dengan nada manja yang terdengar dibuat-buat. Ia menghampiri Devano dan dengan santai mengalungkan tangannya di bahu pria itu, mengabaikan ketegangan yang tadi sempat terjadi antara ayah dan anak itu.
Tuan Narendra tersenyum puas melihat menantunya. "Ah, Clara. Pas sekali kamu datang. Bawa suamimu ini keluar sebentar, dia terlalu banyak bekerja."
Cup!
Devano hanya bisa menghela napas berat. Ia membiarkan Clara mengecup pipinya, namun matanya tetap terasa kosong. Tidak ada percikan cinta, tidak ada rasa hangat; hanya ada tuntutan bisnis dan citra keluarga yang sempurna di mata publik. Baginya, Clara adalah simbol penjara emas yang kini ia tinggali.
"Ayo, Dev. Malam ini ada gala dinner penting. Kita harus tampil sempurna sebagai pasangan paling berpengaruh tahun ini," ajak Clara sambil merapikan kerah kemeja Devano yang sebenarnya sudah rapi.
Devano menatap pantulan dirinya dan Clara di cermin besar kantor itu. Di sana mereka tampak seperti pasangan ideal—kaya, berkuasa, dan rupawan. Namun, dalam hatinya, Devano merasa seperti mayat hidup yang sedang memainkan peran dalam sandiwara panjang milik ayahnya.
"Baiklah, aku akan bersiap," jawab Devano singkat, suaranya datar tanpa emosi.
Clara tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak peduli apakah Devano mencintainya atau tidak, baginya status sebagai Nyonya Narendra dan kekuasaan yang menyertainya jauh lebih dari cukup. Sementara itu, Tuan Narendra mengangguk bangga, merasa rencananya untuk menjadikan Devano sebagai penguasa tanpa celah sudah berjalan sempurna.
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom mewah itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, selaras dengan denting gelas sampanye dan tawa basa-basi para sosialita. Devano berdiri di tengah kerumunan, mengenakan tuksedo mahal yang terasa mencekik lehernya. Di sampingnya, Clara terus tersenyum ke arah kamera, sesekali membanggakan perhiasan berliannya kepada tamu lain.
Devano merasa muak. Setiap percakapan di sini hanya berkisar tentang saham, ekspansi bisnis, dan pamer kekayaan. Segalanya terasa begitu plastik dan tanpa jiwa.
"Dev, tersenyumlah sedikit. Kita sedang diperhatikan oleh editor majalah Vogue," bisik Clara dengan nada tajam di balik senyum lebarnya.
Devano tidak menjawab. Ia justru memalingkan wajah, menatap ke arah teras balkon yang sepi. Pikirannya tiba-tiba melayang jauh melintasi samudra, kembali ke sebuah sore yang sederhana di taman sekolah yang rindang.
Ia teringat Sheila.
Sheila yang hanya mengenakan kemeja katun sederhana, rambutnya yang hanya diikat asal, dan senyum tulusnya yang selalu membuat hati Devano tenang. Di sana, mereka tidak bicara tentang jutaan dollar; mereka bicara tentang impian, tentang membantu orang, dan tentang masa depan yang ingin mereka bangun bersama di atas sebuah kesederhanaan.
"Kamu terlihat sangat cantik hari ini, Sheil," kenang Devano akan suaranya sendiri di masa lalu.
"Aku hanya memakai baju lama, Vano. Apa yang cantik?" jawab Sheila saat itu sambil tertawa kecil, tawa yang jauh lebih merdu daripada musik orkestra yang sedang bermain di pesta ini.
Devano memejamkan mata sejenak, merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Di tengah kemewahan London ini, ia menyadari bahwa dirinya adalah orang yang paling miskin. Ia memiliki segalanya, kecuali kebahagiaan yang nyata.
"Permisi, aku butuh udara segar," ucap Devano dingin, melepaskan kaitan tangan Clara dari lengannya tanpa peduli pada tatapan bingung istrinya.
Ia melangkah cepat menuju balkon, meninggalkan riuh rendah pesta itu. Di bawah langit London yang gelap, Devano berbisik lirih, nama yang seharusnya sudah ia lupakan. "Maafkan aku, Sheila..."
Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/