Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Universitas Jing Yang
Colly Yang duduk di perpustakaan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Foto yang sama juga diterima oleh kakaknya.
Holdes—bersama seorang wanita muda—terlihat begitu mesra di Paris.
Mata Colly membulat. Rahangnya mengeras saat ia menahan amarah yang mendidih di dadanya.
“Colly!”
Suara Jacky membuatnya tersentak. Pria itu datang dan langsung duduk di kursi berseberangan dengannya.
“Iya,” jawab Colly singkat, tetap menatap layar ponselnya.
“Kau terlihat kesal. Ada apa?” tanya Jacky, memperhatikannya dengan saksama.
“Tidak ada,” sahut Colly cepat. Ia segera menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket, lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Jacky begitu saja.
Jacky menatap punggung gadis itu yang menjauh. Senyum tipis, sinis, terbit di sudut bibirnya.
“Colly Shen… sekarang kau dan kakakmu pasti sedang gelisah,” gumamnya pelan.
“Ayah kalian yang katanya setia ternyata hanya pandai berpura-pura. Usia boleh tua, tapi pria tetap tak pernah kebal terhadap pesona wanita muda.”
Matanya menyipit tajam.
“Janetta Lee… aku tak sabar melihat reaksimu.”
Malam hari
Colly datang ke markas Xiao Han. Wajahnya tegang saat berdiri di samping kakaknya, menatap foto di ponsel dengan mata yang masih memerah.
“Kakak… apa benar foto ini?” suara Colly bergetar. “Aku tidak percaya Papa berselingkuh.”
“Aku juga tidak percaya,” jawab Xiao Han pelan. “Monica sudah mengirim orang ke sana untuk mencari tahu. Tapi…”
Suaranya terhenti.
“Tapi apa?” Colly menoleh cepat.
“Hari ini Papa masuk hotel bersama wanita itu. Mereka baru keluar pagi tadi,” jawab Xiao Han dengan wajah dingin.
Colly mengepalkan tangannya.
“Pantas saja dia tidak pulang-pulang,” ucapnya geram. “Padahal sudah tahu Mama terluka. Aku tidak akan diam saja. Kalau sampai Papa benar-benar berselingkuh, aku akan memutuskan hubunganku dengannya.”
“Colly,” Xiao Han menahan emosinya, “jangan sampai Mama tahu. Kita tunggu Papa pulang. Kalau Papa mau memutuskan hubungan itu, kita diam saja. Biarkan masalah ini dikubur selamanya.”
Colly menjatuhkan diri ke sofa. Bahunya merosot, wajahnya penuh kelelahan dan kesedihan.
“Bukankah Papa dan Mama saling mencintai?” suaranya lirih, hampir seperti bisikan. “Kenapa bisa jadi seperti ini? Aku tidak sabar ingin memberi pelajaran pada wanita itu… tepat di depan Papa.”
Xiao Han menatap adiknya dengan sorot mata berbahaya.
“Tenang saja,” ujarnya dingin. “Kalau terbukti wanita itu berniat jahat dan ingin memisahkan Papa dan Mama, aku yang akan maju pertama. Dan aku sendiri yang akan menghancurkannya.”
Paris
Sebuah kamar hotel yang hanya diterangi lampu meja tampak redup dan sunyi. Seorang wanita muda perlahan membuka matanya. Pandangannya beralih ke samping—seorang pria tengah mengenakan jas dan dasi dengan raut dingin.
“Holdes… kau mau ke mana?” tanya wanita itu. Dialah Chimmy.
“Sudah waktunya aku pulang,” jawab pria itu datar. “Kau juga harus kembali ke keluargamu.”
“Aku tidak mau pulang,” Chimmy bangkit setengah duduk. “Aku ingin ikut denganmu.”
“Ikut denganku?” Holdes berhenti sejenak, menoleh tajam. “Apa kau tidak takut harus berhadapan dengan istriku?”
“Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa padaku,” jawab Chimmy penuh keyakinan. “Aku akan menemuinya dan memintanya menerimaku.”
Dalam sekejap, Holdes melangkah mendekat. Tangannya mencengkeram leher Chimmy tanpa ragu.
“Hol—Holdes…” Chimmy tersengal menahan sakit.
“Apakah kau merasa pantas?” suara Holdes rendah dan berbahaya. “Jangan pernah melewati batas. Tidak akan pernah ada pernikahan di antara kita.”
“Tapi… kita sudah sering melakukannya,” balas Chimmy dengan suara bergetar.
“Aku membayarmu setiap kali,” jawab Holdes dingin. “Itu tidak berarti aku harus menikahimu. Kalau kau tidak takut, silakan ikut aku pulang. Tapi siapkan mental dan jiwamu jika istriku mengetahui keberadaanmu.”
Tanpa menoleh lagi, Holdes meninggalkan kamar itu.
“Uhuk… uhuk…”
Chimmy terbatuk sambil memegangi lehernya. Matanya menyipit penuh kebencian.
“Aku tidak akan diam saja,” gumamnya. “Lihat saja nanti. Istrimu pasti akan menangis di hadapanku ketika tahu kau tidur denganku.”
Pandangan Chimmy beralih ke sudut kamar—sebuah kamera kecil tersembunyi di sana.
“Setiap kali kau menyentuhku, semuanya terekam,” ucapnya dingin. “Sudah saatnya aku mengirimkannya pada istrimu. Biar dia tahu suaminya begitu nafsu dengan tubuhku. Kita bahkan melakukannya berulang kali dalam satu malam."
Holdes melangkah keluar dari hotel tanpa menoleh sedikit pun. Malam Paris terasa dingin, namun aura pria itu jauh lebih membekukan. Bowie sudah berdiri tegap di samping mobil hitam dengan sikap siaga.
“Bos,” sapa Bowie singkat, menunduk hormat.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Holdes datar, sambil merapikan manset jasnya.
“Setelah Tuan Muda memberikan informasi, orang-orang kita langsung bergerak,” jawab Bowie. “Dan benar, Bos. Semua sesuai dengan dugaan Anda.”
Holdes menyipitkan mata. Tidak ada keterkejutan di wajahnya—seolah semua ini sudah ia perhitungkan sejak awal.
“Bagus,” ucapnya singkat.
Ia melangkah satu langkah lebih dekat pada Bowie, suaranya diturunkan, namun tekanannya justru semakin berat.
“Sampaikan pada istriku dan anak-anakku,” perintahnya, “agar mereka berhati-hati terhadap orang itu. Aku punya terlalu banyak musuh, dan tidak semuanya bermain bersih.”
“Dimengerti, Bos.”
Holdes berhenti tepat di depan pintu mobil. Tangannya terhenti di gagang pintu.
“Ada satu hal lagi,” katanya pelan.
Bowie langsung menegakkan badan.
“Orang yang berani menyerang istriku…” Holdes berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tenang namun mematikan, “tidak mungkin bertindak sendiri. Pasti ada hubungan dengan mereka. Aku ingin semua terungkap. Satu pun jangan ada yang terlewat.”
“Baik, Bos. Kami akan gali sampai ke akarnya.”
Holdes akhirnya membuka pintu mobil.
“Dan dengarkan baik-baik,” ucapnya sebelum masuk, tanpa emosi sedikit pun, “siapa pun yang berani menyentuh istriku—”
Ia menoleh, tatapannya gelap dan absolut.
“—tidak perlu diadili. Mereka harus mati.”
Shen Xiao Han/Little Tiger
Micheal Lin, memiliki sifat yang sulit ditebak. identitas misterius.
Jacky Yin, menyamar sebagai mahasiswa Yang Jing. mengincar keluarga Shen