Pertemuan yang tidak disangka antara Fatur dan Anggita menjadikan mereka yang awalnya saling membenci menjadi saling cinta. Anggita yang niatnya pergi ke Batam untuk liburan karena sedang patah hati karena kekasihnya dan bertemu dengan Fatur mahasiswa jurusan arsitektur.
Awalnya Anggita hanya menganggap Fatur sebagai teman namun lama-kelamaan mereka saling mencintai dan menjalin hubungan. Anggita yang sudah putus dengan Damar, kini harus menikah dengan Damar karena kedua orang tuanya yang sudah dekat. Anggita terpaksa harus berbohong kepada Fatur dan meninggalkannya tanpa kabar. Dan membuat Fatur trauma serta patah hati hebat.
Setelah perpisahan mereka selama 4 tahun akhirnya Fatur kembali bertemu dengan Anggita. Mereka bertemu saat Anggita mencari seorang arsitek untuk membuat sebuah rumah setelah pernikahannya. Luka dan trauma yang ditinggalkan Anggita masih Fatur rasakan tapi anehnya Fatur kembali jatuh cinta untuk yang kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Anggita Dengan Damar Bripda Pleton 2 Dalmas
Jakarta
Sudah hampir tiga hari Anggita kembali ke Jakarta dan memulai aktivitasnya sepertu biasa, walaupun sebenarnya di dalam hatinya ada yang mengganjal sejak pulang dari Batam. Tentang perasaannya kepada Fatur yang belum juga diutarakan olehnya secara jujur. Sebenarnya Anggita ingin sekali jujur kepada Fatur tentang perasaannya yang juga menyukai lelaki yang membuat hatinya bergetar hebat selain Damar.
Sebenarnya alasan Anggita tidak menerima ungkapan perasaan Fatur bukan karena tidak mau menjalani hubungan LDR, melainkan Anggita sudah mempunyai seorang kekasih yang bernama Damar.
Damar Galih Mahendra atau biasa di sebut Bripda Damar 23 tahun laki-laki berkulit sawo matang perawakan tinggi tegap berisi adalah seorang polisi berpangkat Briptu yang merupakan anggota pleton 2 Dalmas sat Sabhara polres metro Jakarta barat Damar sudah menjadi kekasih Anggita hampir satu tahun. Anak ketiga dari tiga bersaudara mempunyai hobi mendaki, kedua orang tua Damar hanya memiliki anak laki-laki.
Damar bertemu dengan Anggita pertama kali di dalam situasi dan keadaan yang sama sekali tidak menyenangkan, kala itu satu setengah tahun yang lalu mamanya Anggita sedang dirawat di rumah sakit. Pada tengah malam Anggita merasa lapar dan ingin makan sesuatu, Anggita yang saat itu sedang ditemani oleh sepupunya memutuskan untuk membeli cemilan di mini market 24 jam di samping dekat rumah sakit.
Sewaktu Anggita keluar dari mini market memang sedang ada razia malam dari kepolisian, tiba-tiba saja Anggita dikagetkan ketika seseorang menarik tangannya dengan tiba-tiba tanpa permisi terlebih dahulu.
Sontak Anggita dibuat kaget ketika memasukan uang kembalian ke dalam dompetnya, ada seorang polisi memegang tangannya. Anggita menoleh dan menatap polisi yang wajahnya hanya terlihat di bagian matanya saja karena setengah wajahnya tertutup masker, mengapa polisi itu tiba-tiba memegang tangan Anggita dan hendak menariknya?
"Eh, kenapa pegang-pegang sembarangan? lepasin nggak!" ucap Anggita tegas dengan nada panik sambil mencoba melepaskan genggaman tangan seorang polisi yang tiba-tiba saja langsung menarik tangan Anggita baru keluar dari mini market.
Tapi reaksi polisi itu biasa saja tidak memperdulikan Anggita yang terlihat begitu panik dan kaget saat dirinya menggenggam tangannya lalu hendak menariknya tanpa ada penjelasan sepatah kata mengapa Anggita tiba-tiba saja akan dibawa begitu saja.
"Sudah kamu diam saja, dan sekarang ikut kami ke kantor polisi!" tandasnya sambil mencoba kembali menarik tangan Anggita yang terdiam berusaha mepertahankan diri.
Mendengar ucapannya sontak Anggita panik dan terkejut, apa yang di ucapkan oleh polisi itu membuat Anggita tidak mengerti dan membuatnya ketakutan.
"Apa-apaan sih! Mau bawa gue ke kantor polisi? Memang gue salah apa?" tanya Anggita yang semakin panik dan masih berusaha melepaskan tangan Damar yang terus memegang begitu erat lengan Anggita.
"Sudah. Jelaskan nanti saja di kantor polisi." lanjut Damar terus menarik tangan Anggita yang meronta-ronta sejak tadi.
Situasi semakin panas dan sengit antara Anggita dengan Damar, keduanya mencoba saling mempertahankan diri. Anggita terus mencoba untuk bertahan agar Damar tidak membawanya ke kantor polisi, sedangkan Damar terus berusaha untuk tidak bersikap kasar kepada Anggita yang terus melawannya.
"Lo salah orang nih. Memang gue salah apa sih?" Anggita mencoba membela dirinya sambil terus berusaha meminta penjelasan dari Damar.
"Sudah. Mbak jangan banyak bertanya. Ikut saja dengan kami, nanti kamu bisa jelaskan di kantor polisi," jelas Damar yang tidak memperdulikan Anggita untuk mendapatkan penjelasan darinya.
"Nggak bisa. Nyokap gue lagi dirawat, mana bisa gue ke kantor polisi!" kata Anggita dengan mimik wajah panik.
Damar langsung menatap Anggita dengan lekat, pandangan mata mereka bertemu sesaat. Walaupun hanya terlihat bagian matanya saja sudah membuat Anggita tahu jika lelaki berseragam coklat masih muda sama sepertinya, begitu juga degan Damar yang menyukai Anggita sejak pertama kali lelaki itu melihatnya.
"Kalau kamu nggak mau dibawa ke kantor polisi sebaiknya jangan mengulangi kesalahan lagi." Damar yang mulai sedikit kesal karena Anggita tidak mau ikut dengannya menatap tajam ke arah Anggita.
"Kesalahan apa? Memangnya gue salah apa? Sampai lo mau bawa gue?" tanya Anggita semakin tidak mengerti sambil dengan nada sedikit meninggi menatap Damar yang masih setia memegang lengan Anggita tanpa melepaskannya dari tadi.
"Menjadi perempuan nakal," jawab Damar singkat.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Damar membuat Anggita kaget bukan main, Anggita menatap tajam ke arah Damar. Jadi sejak tadi Damar mengira jika Anggita adalah perempuan nakal yang sedang berkeliaran di malam hari.
"Apa lo bilang! Lo jangan sembarangan ngomong. Gue ini perempuan baik-baik, gue bukan perempuan malam!" bentak Anggita tegas dan nada sedikit meninggi sambil menatap Damar dengan tajam.
Tetapi Damar tidak mempercayai ucapan Anggita, baginya ia sudah tahu alasan apa yang dipakai oleh para perempuan malam jika sudah tertangkap. Hanya senyum ringan dan tertawa sinis yang terlukis di bibir Damar saat mendengar ucapan Anggita saat itu.
"Sudah banyak yang bicara seperti itu kalau mereka tertangkap, alasannya selalu itu," tandas Damar membalas tatapan tajam Anggita.
Ingin rasanya Anggita menjambak atau mencakar lelaki yang sudah membuatnya marah dengan menganggapnya perempuan malam. Bagaimana Damar bisa menilai jika Anggita adalah perempuan malam yang sedang membeli sesuatu di mini market pada jam tengah malam, apalagi pakaian yang dipakai oleh Anggita hanya hoodie dan celana jeans serta sandal jepit tanpa make-up di wajahnya.
"Tapi gue benar-benar bukan perempuan malam yang seperti lo pikirin! Gue baru beli cemilan buat nunggu nyokap yang lagi dirawat," jelas Anggita terus membela dirinya mati-matian agar tidak dibawa oleh Damar ke kantor polisi.
Sayangnya Damar tidak percaya begitu saja ucapan Anggita, bagi Damar perempuan malam yang sering ditangkap olehnya alasannya selalu sama dan beragam. Termasuk alasan yang dipakai oleh Anggita saat ini.
"Memangnya nggak ada laki-laki yang bisa disuruh keluar? Perempuan yang keluar malam-malam itu hanya perempuan malam."
Anggita semakin kesal dibuatnya sedari tadi sudah mencoba menjelaskan kepada Damar, namun tidak sedikitpun Anggita diizinkan untuk membuktikan indentitas dirinya.
"Berarti kalau seorang bidan atau suster yang tugas pada malam hari, itu juga sama?" tanya Anggita membentak Damar dengan nada meninggi dan tatapan sinis.
Sontak pertanyaan Anggita membuat Damar sedikit kebingungan dan dilema, sementara Anggita masih terdiam menunggu jawaban yang akan diucapkan oleh Damar.
"Beda dong, mereka kerja sesuai bidangnya. Sedangkan kamu...!" Damar menggantungkan ucapannya seakan tidak ingin menyinggung Anggita.
Anggita mengerti apa yang dimaksud oleh Damar adalah perempuan malam dan Damar semakin kesal untuk berdebat dengan Anggita. Lalu tanpa banyak bicara dengan terpaksa Damar menggendong Anggita dan membawa ke mobil.
Anggita kaget bukan main saat Damar tiba-tiba saja menggendong dirinya tanpa izin darinya, dengan cepat Anggita mencoba untuk turun dan meronta berteriak meminta tolong agar tidak dibawa oleh Damar.
"Lepasin gue! Turunin gue!" teriak Anggita sambil meronta.
Tetapi percuma tidak ada yang akan menolongnya, saat itu Anggita hanya menjadi tontonan para karyawan mini market yang hanya melihatnya dari dalam toko sambil berbisik membicarakan dirinya. Akhirnya Anggita dibawa ke kantor polis bersama dengan perempuan malam lainnya yang tertangkap razia malam itu.
Pasrah, itu yang bisa Anggita lakukan saat ini saat dirinya disatukan dengan perempuan malam yang tertangkap razia, seketika Anggita shock dibuatnya dengan keadaan di dalam mobil pengangkut perempuan malam. Mengapa bisa dirinya ada di sini? Tidak lama Anggita sampai di kantor polisi bersama yang lainnya, lalu mereka dimasukan ke ruangan khusus untuk didata satu per satu. Anggita begitu panik seketika langsung membenci Damar saat itu juga karena dirinya Anggita bisa berada di sini.
"Kamu lagi? nggak bosan sering terkena razia?" tanya salah seorang polisi kepada salah satu perempuan malam yang sedang diinterogasi.
Ada beberapa orang petugas polisi malam itu yang sedang menjalankan tugas mendata para perempuan malam yang terkena razia malam ini. Mata Anggita terbelalak melihat para perempuan yang masih muda dan ada juga yang sangat cantik mengambil pekerjaan ini dengan pakaian yang begitu sangat menantang.
Uang, itu alasan mereka ada di sini dan sebenarnya juga mereka tidak mau sepertu ini. Namun karena terpaksa mereka melakukannya dengan alasan untuk bertahan hidup.
"Bagaimana lagi, Pak. Ini sudah menjadi tuntutan hidup," jawab perempuan yang terlihat sudah berumur dengan wajah memelas.
Entah apa yang akan terjadi malam ini kepada Anggita di sini, apakah nasibnya akan sama dengan mereka yang akan berujung di dalam penjara atau bebas? Dan lagi-lagi semua karena Damar.
"Kamu lagi? Baru kemarin tertangkap sekarang tertangkap lagi?" tanya polisi lainnya yang duduk di meja lain saat Anggita melewati beberapa meja polisi yang sedang melakukan pemeriksaan.
"Sedang butuh uang buat biaya mama di rumah sakit," jawabnya sambil menunduk lesu.
Deg, seketika hati Anggita tersentuh, apa sampai seperti itu mereka mencari uang. Ternyata ada banyak alasan mengapa mereka melakukan itu, beruntung bagi Anggita yang mempunyai pekerjaan walaupun hanya seorang kedi. Ketika Anggita sedang memperhatikan sekelilingnya Damar datang menghampirinya.
"Namanya siapa? Boleh lihat tanda pengenalnya?" tanya Damar sambil menatap Anggita sambil mengulurkan tangannya meminta tanda pengenal Anggita.
Tatapan mata Anggita berubah tajam menghujam Damar karena gara-gara dia Anggita bisa berada di sini bersama dengan mereka, dan Anggita bersumpah akan membalas atas apa yang sudah Damar perbuat kepadanya.
"Buat apa?" tanya Anggita singkat sambil menatap sinis Damar yang saat itu belum juga membuka maskernya.
"Buat didata," jawab Damar singkat.
Berdebat juga tidak akan mungkin dan berguna bagi Anggita, karena dirinya sudah berada di sini tanpa ada pertolongan. Tanpa banyak bicara Anggita memberikan tanda pengenalnya kepada Damar, dan dengan cepat Damar mengambilnya dan membaca nama yang tertera di dalam tanda pengenal milik Anggita.
"Masih muda kenapa kerjanya kaya gini?" tanya Damar saat sesudah membaca tanda pengenal Anggita.
Sontak pertanyaan Damar membuat Anggita kaget menatapnya, ucapan Damar membuat Anggita tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya.
"Kerja seperti apa maksudnya?" tanya Anggita dengan nada tegas.
"Jadi perempuan malam," jawab Damar singkat mempertegas ucapannya.
Bagai disambar petir Anggita kaget dan kesal ketika mendengar ucapan Damar, mengapa Damar masih menganggapnya perempuan malam, memangnya Anggita mirip seperti perempuan malam?
"Apa! Lo jangan sembarangan bicara ya. Gue ini perempuan baik-baik dan itu bukan pekerjaan gue!" tegas Anggita menatap Damar
Damar hanya tersenyum ringan ketika mendengar ucapan Anggita yang sedari tadi membela dirinya seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Anggita kepadanya.
awas dingin ka
semangat Thor 😘
Hanya sebatas komen no like..
Hadir berdasarkan rekomendasi 🥰
jangan lupa mampir juga ya