"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tutor Privat
Setelah satu jam perdebatan dan fitting yang melelahkan, aku berdiri di depan cermin tiga sisi (triptych mirror) yang dibawa oleh tim desainer.
Ruangan hening sejenak. Bahkan Lily berhenti mengoceh tentang sepatu pitanya.
Aku menatap pantulanku.
Gaun midnight blue itu membalut tubuhku dengan presisi yang menakutkan. Kain satin tebalnya jatuh lurus, menyembunyikan tulang rusukku yang menonjol, memberikan ilusi postur yang lebih tegap dan berisi. Potongan lehernya tinggi dan sopan, tapi bagian punggungnya sedikit terbuka, memperlihatkan kulit pucatku yang kontras dengan warna gelap kain.
Warnanya begitu gelap hingga menyerap cahaya di sekitarnya. Itu warna lautan dalam. Warna langit malam tanpa bintang. Warna kesedihan yang mahal.
Si desainer maju sedikit, merapikan ujung rok dengan hati-hati. "Harus saya akui... selera Anda tajam, Nona. Ini membuat Anda terlihat seperti..."
Dia mencari kata yang tepat.
"...berbahaya," lanjutnya. "Dalam artian yang baik. Berwibawa."
Aku menyentuh permukaan cermin dingin itu.
Di sana, aku tidak melihat Elara si gadis panti. Aku tidak melihat Elara yang memungut roti dari tempat sampah.
Aku melihat seorang wanita muda yang dingin. Rambutku yang biasanya kusut kini disisir rapi dan digelung sederhana di tengkuk, memperlihatkan leher jenjangku. Lebam di pipiku masih ada, tapi anehnya, dengan gaun gelap ini, lebam itu tidak lagi terlihat menyedihkan. Lebam itu terlihat seperti tanda perang. Seperti seorang ratu yang baru pulang dari medan laga.
Sebuah realisasi menghantamku, lebih kuat dari tamparan siapa pun.
Uang bisa membeli kulit baru.
Uang bisa menghapus jejak kemiskinan dalam hitungan jam. Dengan kain yang tepat, potongan yang tepat, dan warna yang tepat, aku bisa menipu dunia. Aku bisa membuat mereka lupa bahwa di balik sutra ini ada jiwa yang kelaparan.
Aku teringat tatapan Isabella tadi. Tatapan yang merendahkan Lily karena gaun kuningnya.
Isabella berpikir dia lebih baik dariku karena dia lahir di atas tumpukan emas. Tapi sekarang aku tahu rahasianya. Emas itu hanyalah kostum. Dan sekarang, aku juga punya akses ke kostum yang sama.
Aku tersenyum tipis pada bayanganku. Senyum yang tidak ramah. Senyum yang kuhapal dari wajah Ciarán Vane.
"Aku akan ambil ini," kataku, suaraku terdengar lebih berat, lebih stabil. "Dan semua yang senada dengannya."
Aku berbalik menatap Lily yang masih memegang gaun kuningnya dengan ragu.
"Pakai apa yang kau suka, Lily," kataku padanya, tapi mataku menatap pintu tempat Isabella menghilang tadi. "Biar aku yang memakai baju perang."
Aku akan menggunakan fasilitas ini. Aku akan menghabiskan uang Julian Vane untuk membeli "kulit" termahal yang bisa kudapat. Dan kali berikutnya Isabella menatapku, dia tidak akan melihat tikus selokan yang bisa dia injak.
Dia akan melihat cermin gelap yang memantulkan kembali kekejamannya.
"Greta," panggilku.
Pelayan itu, yang sedari tadi berdiri diam di pojok, tersentak pelan. "Ya, Nona?"
"Siapkan sepatu yang cocok untuk gaun ini. Hak tinggi. Hitam," perintahku. "Dan pastikan tidak ada lubang di jempolnya."
***
Transformasi fisik ternyata adalah bagian yang mudah.
Uang bisa membeli sutra untuk menutupi kulit kasar. Uang bisa membeli krim mahal untuk menyamarkan lebam. Tapi uang tidak bisa membeli sepuluh tahun pendidikan yang hilang begitu saja di jalanan.
Pagi ini, perpustakaan Vane Manor diubah menjadi ruang kelas dadakan.
Julian Vane tidak main-main dengan ucapannya tentang "mendidik" kami. Dia menyewa seorang tutor privat. Mr. Abernathy, seorang pria Inggris tua dengan setelan jas tweed bau kapur barus dan kacamata yang melorot di hidung mancungnya.
Kami duduk di meja mahoni panjang. Aku mengenakan gaun midnight blue baruku, rambutku disanggul rapi. Secara visual, aku terlihat seperti seorang wanita muda terpelajar dari keluarga bangsawan.
Tapi begitu aku membuka mulut, ilusi itu hancur.
"Nona Elara," suara Mr. Abernathy terdengar sengau dan membosankan. Dia mengetuk papan tulis kecil yang dibawanya. "Bisakah Anda menjelaskan dampak Revolusi Industri terhadap struktur sosial ekonomi Eropa pada abad ke-19?"
Hening.
Aku menatap papan tulis itu seolah-olah itu ditulis dalam bahasa alien.
Revolusi Industri?
Satu-satunya "revolusi" yang kutahu adalah saat harga beras naik dan ibu-ibu di pasar saling jambak berebut stok terakhir. Satu-satunya "struktur ekonomi" yang kupahami adalah bagaimana caranya membagi satu bungkus mie instan untuk dua kali makan.
Tanganku yang memegang pena mahal mulai berkeringat.
"Saya... tidak tahu," jawabku pelan.
Mr. Abernathy menghela napas panjang, suara yang menyiratkan kekecewaan mendalam. "Baiklah. Mari kita coba Matematika dasar. Aljabar?"
Dia menulis sebuah persamaan di papan tulis.
Aku menatap angka-angka dan huruf x dan y itu. Mereka menari-nari mengejekku. Terakhir kali aku belajar matematika adalah saat SD, sebelum Ayah menyeret kami pergi. Sejak itu, matematikaku hanya sebatas menghitung uang kembalian di minimarket.
"Lily?" Mr. Abernathy beralih pada adikku.
Lily, yang mengenakan gaun kuning barunya, menggigit bibir sambil mencoret-coret di buku tulisnya.
"X sama dengan 5?" jawab Lily ragu.
"Tepat sekali, Nona Lily," Mr. Abernathy tersenyum tipis, lalu kembali menatapku dengan pandangan iba yang menyakitkan. "Nona Elara, adik Anda yang berusia enam belas tahun bisa menjawabnya. Anda dua puluh empat tahun. Kesenjangan pengetahuan Anda... sangat memprihatinkan."
Wajahku terasa panas.
Rasa malu ini berbeda dengan saat Ciarán menghina sepatuku. Itu rasa malu karena kemiskinan materi. Ini adalah rasa malu karena kebodohan.
Aku merasa telanjang. Baju mahalku tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa otakku kosong. Aku merasa bodoh, lambat, dan tidak berguna. Di dunia mereka, kecerdasan adalah mata uang lain yang tidak kumiliki.
"Mungkin kita harus mulai dari kurikulum sekolah dasar untuk Nona Elara," gumam Mr. Abernathy sambil mencatat sesuatu di buku besarnya. "Kita akan butuh waktu bertahun-tahun untuk mengejar ketertinggalan ini."
Aku mencengkeram pena di tanganku sampai buku jariku memutih.
Aku benci perasaan ini. Aku benci merasa kecil di hadapan pria tua ini. Aku benci melihat Lily menatapku dengan simpati.
"Aku butuh udara segar," kataku tiba-tiba, berdiri kasar hingga kursiku berderit.
"Nona, pelajaran belum selesai—"
"Aku bilang aku butuh udara!" bentakku.
Aku berbalik dan berjalan cepat keluar perpustakaan, sepatu hak tinggiku berbunyi keras di lantai parket. Aku butuh melarikan diri dari bau kapur barus dan rasa malu yang mencekik ini.