NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Di Antara Hidup dan Mati

​Lampu indikator di atas pintu ruang operasi menyala merah terang, kontras dengan lorong rumah sakit yang didominasi warna putih pucat. Baunya khas—campuran antiseptik dingin dan ketakutan manusia.

​Aku duduk di kursi tunggu berbahan logam yang terasa membekukan tulang punggungku. Atau mungkin, dingin itu berasal dari hatiku sendiri. Aku menunduk, menatap kedua telapak tanganku. Darah Mbak Sarah sudah mulai mengering di sana, menciptakan pola abstrak berwarna merah kecokelatan yang mengerikan.

​"Kalau terjadi sesuatu pada Sarah dan anakku... aku tidak akan pernah memaafkanmu."

​Kalimat Arvino terus bergaung di kepalaku, memantul-mantul di dinding tengkorakku seperti bola liar.

​Di seberang lorong, Arvino duduk dengan siku bertumpu pada lutut, wajahnya dibenamkan di telapak tangan. Dia tidak menangis, tapi bahunya bergetar hebat. Kemeja biru mudanya ternoda darah di bagian dada—darah istrinya, darah kakakku.

​Suara langkah kaki tergesa memecah keheningan mencekam itu.

​"Aluna! Arvino! Di mana Sarah?!"

​Itu Mama. Beliau datang bersama Ardo, wajahnya basah oleh air mata. Nenek didorong di kursi roda oleh sopir di belakang mereka.

​Arvino mengangkat wajahnya. Matanya merah dan hampa. "Ma..." suaranya pecah. "Sarah di dalam... pendarahan hebat..."

​Mama langsung lemas, untung Ardo sigap menahan tubuhnya sebelum ambruk ke lantai. "Ya Tuhan, anakku... Bagaimana bisa? Tadi pagi dia masih menelpon Mama, dia bilang dia ingin makan asinan..." Mama meraung pilu.

​Aku bangkit, ingin menenangkan Mama. "Ma..."

​"Jangan sentuh aku!" Mama menepis tanganku kasar saat aku mencoba meraih bahunya.

​Aku tertegun, tanganku menggantung di udara.

​Mama menatapku dengan mata nanar. "Kau dokter, Aluna! Kau ada di rumah! Kenapa kau biarkan kakakmu sampai seperti ini? Apa gunanya kau sekolah tinggi-tinggi di Inggris kalau menjaga kakakmu sendiri saja tidak becus?!"

​Hantaman kedua. Setelah Arvino, kini Mama.

​"Ma, ini bukan salah Aluna," Ardo mencoba membela, tapi suaranya tenggelam oleh isak tangis Mama.

​"Tadi malam..." Arvino tiba-tiba bersuara, nadanya datar namun tajam menusuk. "Tadi malam Aluna bilang Sarah sakit. Dia bilang ada yang salah. Tapi cara bicaranya... seolah dia ingin itu terjadi."

​Aku menatap Arvino tak percaya. "Kak Vino, aku mendiagnosisnya! Aku memperingatkanmu!"

​Arvino menatapku, tatapan yang dulu selalu hangat kini sedingin es. "Kau cemburu padanya, kan? Kau tidak pernah suka melihat kami bahagia. Kau pulang hanya untuk membawa sial ini."

​"Cukup!"

​Suara tongkat yang dipukulkan ke lantai menghentikan perdebatan itu. Nenek, dengan sisa tenaganya, menatap semua orang dengan tajam.

​"Kalian ini bicara apa? Sarah sedang bertaruh nyawa di dalam sana, dan kalian malah mencari kambing hitam? Aluna adik kandungnya! Tidak mungkin dia mendoakan kakaknya celaka!" Nenek menatapku, memberi isyarat agar aku mendekat.

​Aku berjalan tertatih menuju Nenek, berlutut di samping kursi rodanya. Nenek mengusap kepalaku yang berantakan, dan saat itulah pertahananku runtuh. Aku menangis tanpa suara di pangkuan Nenek, sementara Arvino dan Mama terus memanjatkan doa-doa panik di sudut lain.

​Satu jam berlalu. Rasanya seperti satu abad.

​Pintu ruang operasi terbuka. Bukan Papa yang keluar, melainkan seorang perawat dengan masker yang diturunkan sedikit. Wajahnya panik.

​"Keluarga Nyonya Sarah?"

​Kami semua serentak berdiri. Arvino yang paling dulu sampai di hadapan perawat itu.

​"Bagaimana istri saya? Dia baik-baik saja, kan?" cengkeraman Arvino di lengan perawat itu terlihat menyakitkan.

​"Pak, tolong tenang," ujar perawat itu gugup. "Kami butuh persetujuan segera. Pasien mengalami Solusio Plasenta total. Plasentanya lepas sebelum waktunya, menyebabkan pendarahan masif yang tidak mau berhenti. Kadar trombositnya anjlok drastis. Kami kehabisan stok darah golongan AB negatif di bank darah rumah sakit."

​Dunia seakan berputar. AB negatif. Golongan darah yang langka. Golongan darah Mbak Sarah.

​"Ambil darahku!" teriak Arvino. "Ambil sebanyak yang kalian mau!"

​"Golongan darah Bapak apa?"

​"O Positif."

​Perawat itu menggeleng. "Tidak bisa, Pak. Rhesusnya beda. Kita butuh Rhesus negatif."

​"Saya B positif," sahut Ardo cepat. Mama juga menggeleng, dia A positif.

​Kepanikan melanda wajah Arvino. "Cari! Beli! Lakukan apapun! Saya bayar berapa pun! Jangan biarkan istri saya mati konyol karena kurang darah!" Dia mulai berteriak histeris, mengguncang bahu perawat itu.

​"Saya," suaraku terdengar lirih, tapi mampu menghentikan teriakan Arvino.

​Aku melangkah maju, menggulung lengan kemejaku. "Golongan darahku AB negatif. Sama seperti Mbak Sarah."

​Perawat itu menatapku dengan kilat harapan. "Anda yakin?"

​"Saya dokter. Saya tahu golongan darah saya. Ambil darah saya. Sekarang," ucapku tegas.

​Perawat itu mengangguk cepat. "Mari ikut saya ke ruang sterilisasi, Dok. Kita lakukan transfusi langsung (direct transfusion) jika diperlukan, atau pengambilan cepat. Kondisinya sangat kritis."

​Aku berjalan mengikuti perawat itu masuk ke dalam area terlarang. Sebelum pintu tertutup, aku sempat menoleh ke belakang. Arvino menatapku. Tidak ada rasa terima kasih di matanya, hanya ketakutan dan keputusasaan. Seolah dia membenci fakta bahwa nyawa istrinya kini bergantung pada darahku—wanita yang dia tuduh sebagai pembawa sial.

​Masuk ke ruang operasi, bau amis darah semakin menyengat. Bunyi monitor EKG yang berisik (beep... beep... beep...) mengisi ruangan.

​Aku melihat Papa sedang berdiri di meja operasi, gaun operasinya yang hijau tua kini berwarna merah pekat di bagian depan. Tangan Papa bergerak cepat namun gemetar—sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Papa adalah dokter bedah paling tenang yang kura tahu, tapi hari ini, dia hanyalah seorang ayah yang sedang berusaha menyelamatkan putrinya.

​"Papa..." panggilku pelan saat perawat mulai memasang jarum infus besar ke venaku.

​Papa menoleh sekilas. Matanya di balik kacamata medis terlihat basah. "Aluna... Maafkan Papa harus mengambil darahmu. Stok PMI kosong."

​"Ambil Pa. Selamatkan Mbak Sarah," kataku sambil menahan perih saat jarum menembus kulitku.

​Aku berbaring di brankar sebelah meja operasi, selang darahku terhubung ke mesin, lalu menuju tubuh Mbak Sarah yang terbaring pucat seperti mayat.

​Dari posisiku, aku bisa melihat wajah Mbak Sarah. Dia tidak sadarkan diri karena bius total. Tapi perutnya... perut besarnya sudah terbuka.

​"Bayinya!" teriak asisten dokter. "Detak jantung janin melemah! 60 per menit!"

​"Kita harus keluarkan bayinya sekarang!" perintah Papa, suaranya serak. "Tapi pendarahannya belum berhenti. Jika kita angkat bayinya, kontraksi uterus mungkin akan memicu pendarahan lebih hebat pada ibunya."

​Ini adalah dilema medis terburuk. Pilihan yang tidak pernah ingin dihadapi dokter mana pun.

​Jika bayi dikeluarkan, ibunya bisa kehabisan darah dalam hitungan detik karena rahim yang gagal berkontraksi (atonia uteri). Jika menunggu pendarahan berhenti, bayinya akan mati kehabisan oksigen.

​Papa menatapku, lalu menatap tubuh Sarah. Tangan Papa berhenti di udara, pisau bedah di tangannya bergetar hebat. Dia tidak bisa memilih. Dia tidak sanggup memilih antara anak dan cucunya.

​"Pa..." bisikku lemah karena darahku disedot keluar dengan cepat. "Lakukan Sectio. Selamatkan Lili (nama panggilan bayi itu). Mbak Sarah... Mbak Sarah pasti ingin anaknya selamat."

​Aku tahu kakakku. Di balik sifat manjanya, dia mencintai anaknya lebih dari nyawanya sendiri.

​Papa memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu mengangguk. Keputusan telah dibuat.

​"Siapkan inkubator!" teriak Papa. "Kita keluarkan bayinya dalam hitungan ketiga!"

​Detik-detik itu terasa lambat. Aku melihat tangan Papa masuk ke dalam rahim yang terbuka, dan mengangkat tubuh mungil yang merah dan diam.

​Bayi perempuan.

​Tidak ada suara tangis.

​Ruangan hening. Hanya bunyi monitor jantung Sarah yang semakin cepat dan tidak beraturan. Beepbeepbeepbeepbeep...

​"Bayinya tidak bernapas!" teriak dokter anak yang bersiap di sudut ruangan.

​"Sarah! Tensi turun! 60/40!" teriak anestesi.

​Darahku mengalir ke tubuh Sarah, tapi sepertinya itu tidak cukup. Lubang di hatiku melebar melihat kekacauan ini. Di luar sana ada Arvino yang menunggu keajaiban, tapi di sini... kematian sedang berdiri di setiap sudut ruangan, bingung memilih siapa yang akan ia bawa pergi.

​"Ayo Nak... menangislah..." bisikku, pandanganku mulai kabur karena efek pengambilan darah yang masif. "Menangislah untuk Papamu..."

​Dan seolah mendengar bisikanku, suara itu terdengar.

​Oekkk! Oeeekkk!

​Tangisan bayi yang lemah namun nyaring memecah kekacauan. Lili hidup.

​Tapi di saat yang bersamaan, monitor jantung di sebelahku berbunyi panjang dan melengking.

​Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.

​"Henti jantung! Asistol!"

​"Mbak Sarah!" aku mencoba bangun, tapi kepalaku pusing hebat dan tubuhku diikat di brankar.

​"Resusitasi! Siapkan Defibrilator! Charge 200 joule!" Papa melempar pisau bedahnya dan mulai melakukan pijat jantung (CPR) pada dada putrinya sendiri yang terbuka.

​"Ayo Sarah! Kembali! Jangan tinggalkan Papa!" teriak Papa, air matanya menetes jatuh ke wajah pucat Sarah. "KEMBALI SARAH!"

​Tubuh Sarah tersentak saat listrik dialirkan.

​Garis di monitor tetap datar.

​Aku memalingkan wajah, air mataku mengalir deras membasahi bantal brankar. Di telingaku, suara tangisan bayi yang baru lahir bersahut-sahutan dengan bunyi flatline kematian ibunya.

​Suara kehidupan dan kematian yang datang di detik yang sama. Dan aku tahu, saat pintu ruang operasi ini dibuka nanti, hidupku akan berubah menjadi neraka yang sesungguhnya.

...****************...

Bersambung...

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!