NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 — JALAN YANG MENGHILANG

Mesin Isuzu Elf itu mengerang kasar, seolah memprotes tanjakan tanah liat yang tak kunjung habis. Di dalam kabin yang berbau karet terbakar dan parfum jeruk murahan, enam mahasiswa itu terdiam. Bukan diam yang tenang, melainkan kebisuan yang lahir dari kelelahan dan kegelisahan yang perlahan merayap naik ke tengkuk.

​Nara mencengkeram pegangan tangan di atas pintu penumpang depan. Matanya nanar menatap jalan setapak di depan yang mulai ditelan kabut. Jam di dasbor menunjukkan pukul 17.45. Langit di luar jendela bukan lagi biru atau jingga, melainkan ungu lebam—warna luka memar yang lama.

​"Rak, masih jauh?" tanya Nara. Suaranya serak. Ia berusaha terdengar tegas, seperti seharusnya seorang ketua KKN, tapi getar di ujung kalimatnya mengkhianati keraguannya.

​Raka yang duduk di kursi pengemudi memukul pelan layar ponselnya yang retak. Cahaya layar itu menjadi satu-satunya penerangan di area kemudi. "Sinyal ilang total, Nar. Terakhir Google Maps bilang lurus terus, sisa dua kilometer. Tapi..."

​"Tapi apa?" sela Bima dari kursi belakang. Suara baritonnya terdengar tajam. Atlet kampus itu duduk dengan bahu tegang, seolah siap meninju sesuatu yang tak kasat mata. "Ini bukan jalan, Rak. Ini jalur babi hutan. Kita udah masuk hutan lindung, kan?"

​"Gue cuma ikutin peta, Bim!" Raka membentak balik, frustrasi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, menetes ke leher kaus yang basah. Ada aroma feromon laki-laki yang tajam bercampur kecemasan di udara yang pengap itu. AC mobil sudah mati sejak setengah jam lalu, menyisakan udara lembap yang menyesakkan.

​Di baris tengah, Lala mengipasi lehernya dengan tisu basah. Kancing kemejanya terbuka satu di bagian atas karena gerah, memperlihatkan kulit yang memerah karena panas. "Udah dong jangan berantem. Kepala gue pusing banget. Mual."

​Siska, yang duduk di sebelah Lala, hanya memejamkan mata. Bibirnya berkomat-kamit tanpa suara. Jemarinya mencengkeram tasbih digital di saku jaketnya begitu erat hingga jari-jarinya memutih. Siska merasa ada yang salah dengan hutan ini. Bukan karena gelapnya, tapi karena heningnya. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara jangkrik. Hanya deru mesin mobil yang terengah-engah dan napas mereka sendiri.

​Tiba-tiba, mobil tersentak hebat. Ban belakang selip di atas lumpur basah. Raka membanting setir ke kiri, lalu ke kanan, berusaha mendapatkan traksi. Mesin menderu, roda berputar sia-sia, melemparkan tanah ke udara.

​"Mundur dikit, Rak! Pelan-pelan!" teriak Nara.

​Raka menginjak pedal gas lagi, kali ini lebih dalam. Mobil melompat ke depan, lolos dari kubangan, namun guncangannya membuat kepala Dion terbentur kaca jendela di kursi paling belakang.

​"Aduh!" Dion meringis. Ia mengusap dahinya, lalu kembali menatap keluar jendela. Dion, mahasiswa psikologi yang biasanya paling tenang, merasa perutnya melilit sejak mereka melewati gapura hutan tadi. Ia melihat sesuatu di luar.

​Pohon-pohon jati di kiri-kanan jalan itu tampak aneh. Batang-batang mereka tidak tegak lurus, melainkan melengkung ke arah jalan, seolah-olah membungkuk. Ranting-ranting kering yang mencuat dari dahan tampak seperti jemari kurus yang ingin meraih atap mobil. Dan kabut itu... kabut itu tidak turun dari atas, melainkan merembes keluar dari tanah.

​"Guys..." panggil Dion pelan.

​Tidak ada yang menjawab. Semua fokus pada jalan yang semakin menyempit.

​"Guys, jalan di belakang kita..."

​Nara menoleh ke belakang. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Jalan tanah yang baru saja mereka lewati sudah tidak ada. Tertutup semak belukar setinggi pinggang orang dewasa yang seolah tumbuh dalam hitungan detik.

​"Jangan liat belakang," bisik Nara, lebih kepada dirinya sendiri. "Fokus depan, Rak. Lanjut terus."

​Mereka tidak bisa putar balik. Pilihan itu sudah diambilkan untuk mereka.

​Sepuluh menit kemudian, saat azan Maghrib sayup-sayup terdengar entah dari mana—atau mungkin hanya imajinasi kolektif mereka—hutan itu tiba-tiba terbuka.

​Seperti tirai panggung yang ditarik paksa, pepohonan rimbun menyingkir, memperlihatkan sebuah desa yang terhampar di lembah kecil. Desa Wanasari.

​Tidak ada lampu jalan. Hanya obor-obor bambu yang menyala di beberapa titik, dan cahaya kuning suram dari dalam rumah-rumah panggung berarsitektur Jawa kuno. Atap-atap joglo itu tampak hitam legam menantang langit malam.

​Raka menghela napas panjang, melepaskan cengkeramannya dari setir. "Sampe. Gila. Gue pikir kita bakal mati konyol di hutan."

​Mobil merayap pelan memasuki jalan desa yang berbatu rapi. Anehnya, meskipun ini desa terpencil, jalan utamanya bersih. Terlalu bersih. Tidak ada daun kering, tidak ada kotoran hewan.

​Yang membuat bulu kuduk Nara meremang bukan suasana desa itu, melainkan warganya.

​Di kiri-kanan jalan, di beranda rumah-rumah kayu itu, orang-orang berdiri. Bapak-bapak bersarung, ibu-ibu berkemben jarik, bahkan anak-anak kecil. Mereka tidak melambai. Mereka tidak bersorak. Mereka hanya berdiri diam, menatap mobil Elf itu lewat dengan senyum yang identik. Senyum sopan, tipis, namun mata mereka... mata mereka seperti menelanjangi. Seolah sedang menaksir bobot daging sapi di pasar ternak.

​"Mereka... tau kita mau dateng jam segini?" tanya Lala, suaranya mengecil. Ia membetulkan kancing bajunya, tiba-tiba merasa risih diawasi sedemikian rupa.

​"Mungkin Pak Kades udah ngabarin," jawab Nara cepat, mencoba merasionalkan ketakutannya sendiri. "Ayo, pasang muka ramah. Kita tamu di sini."

​Mobil berhenti di depan sebuah bangunan joglo terbesar di ujung jalan. Di pendopo, seorang pria paruh baya dengan blangkon dan beskap lurik sederhana sudah berdiri. Di sebelahnya, seorang wanita dengan sanggul besar memegang nampan berisi gelas-gelas tanah liat.

​Itu Pak Wiryo. Dan senyum di wajahnya jauh lebih lebar daripada warga lainnya.

​"Sugeng rawuh," sapa Pak Wiryo saat Nara membuka pintu mobil. Suaranya berat, berwibawa, namun memiliki getaran aneh yang membuat telinga berdengung. "Selamat datang di Wanasari. Kami sudah menanti lama sekali."

​Nara turun, kakinya menyentuh tanah yang terasa anehnya hangat. Ia menyalami Pak Wiryo. Tangan pria tua itu kasar, kapalan, namun dingin seperti es. Kontras dengan tanah yang dipijaknya.

​"Maaf kami terlambat, Pak. Jalanannya..." Nara mencoba menjelaskan.

​"Tidak ada yang terlambat, Nak Nara," potong Pak Wiryo lembut. Matanya menatap lekat ke manik mata Nara, seolah mencari sesuatu di sana. "Kalian tiba tepat saat... waktunya pas."

​Di belakang Pak Wiryo, wanita pembawa nampan—Bu Kanti—melangkah maju. Aroma melati yang sangat menyengat menguar dari tubuhnya, menutupi bau keringat mahasiswa.

​"Minumlah," tawar Bu Kanti. "Air jahe merah dan gula aren. Supaya sukma kalian kembali menyatu dengan raga setelah perjalanan jauh."

​Bima, yang turun paling akhir sambil meregangkan otot bisepnya yang kaku, menatap gelas itu curiga. Namun rasa haus mengalahkan segalanya. Ia mengambil satu gelas dan meneguknya.

​"Gimana, Bim?" bisik Raka.

​"Manis," jawab Bima, menyeka bibirnya. "Tapi ada pait-paitnya dikit di ujung lidah. Kayak... rasa besi."

​Malam itu, kabut turun sempurna menutup Desa Wanasari, memisahkannya dari dunia luar. Peta digital di ponsel Raka berkedip sekali, menampilkan lokasi mereka sebagai titik abu-abu di tengah area kosong tanpa nama, sebelum layarnya mati total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!