NovelToon NovelToon
SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

SCALPEL SKINCARE : Resep Cinta Gawat Darurat

Status: tamat
Genre:Dokter / Slice of Life / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
​Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
​Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Koas Kevin yang Malang

​Dalam hierarki rantai makanan di rumah sakit, posisi paling puncak diduduki oleh Direktur. Di bawahnya ada Dokter Spesialis Konsultan, lalu Dokter Spesialis, Residen (PPDS), Perawat Senior, Satpam, Tukang Parkir, Kucing Liar RS, Bakteri, dan barulah di urutan paling bawah: Dokter Muda alias Koas.

​Dr. Kevin, koas stase Bedah minggu ke-3, merasa posisinya bahkan lebih rendah dari bakteri hari ini.

​"Kevin! Kenapa hasil lab pasien bed 4 belum keluar?!" teriak Rania dari ujung lorong UGD.

​"Kevin! Kenapa kopi saya suhunya sudah turun di bawah 60 derajat?!" suara Adrian terdengar dari arah lift VIP (entah bagaimana dia bisa tahu suhu kopi tanpa termometer).

​Kevin berdiri di tengah persimpangan lorong, memeluk tumpukan rekam medis dengan mata berkaca-kaca. Dia ingin membelah diri menjadi dua layaknya amuba, tapi sayangnya dia hanya manusia biasa yang kurang tidur.

​"Sabar ya, Vin," Suster Yanti menepuk bahu Kevin prihatin. "Anggap aja ujian hidup. Kalau lolos dari dua monster itu, kamu bisa jadi Menteri Kesehatan."

​Siang itu, UGD kedatangan pasien baru. Seorang gadis remaja berusia 17 tahun, selebgram lokal, terpeleset saat membuat konten TikTok di tangga. Dagu dan dahinya robek cukup dalam. Tidak ada cedera kepala berat, tapi darah mengucur deras.

​Gadis itu menangis histeris. Bukan karena sakit, tapi karena takut wajahnya cacat.

​"Tenang, Dek. Tenang," bujuk Kevin yang sedang membersihkan luka dengan NaCl. "Cuma robek dikit kok."

​"Dikit?! Ini muka aset masa depan aku, Dok! Aku mau endorse skincare minggu depan!" raung si pasien.

​Rania menyibak tirai, masuk dengan langkah tegas. "Ada apa ribut-ribut? Kevin, lapor status."

​"Luka robek di regio mentalis (dagu) dan frontalis (dahi), Dok. Panjang 3 cm dan 2 cm. Kedalaman sampai subkutis. Perdarahan aktif," lapor Kevin dengan sigap.

​"Oke. Siapkan set hecting (jahit). Lidokain dua ampul. Benang Silk 3.0," perintah Rania cepat. "Kevin, ini kesempatan bagus buat lo belajar jahit wajah. Kerjakan sekarang. Gue supervisi."

​Mata Kevin berbinar. Akhirnya! Kesempatan memegang jarum di manusia hidup, bukan di manekin busa!

​"Siap, Dok!" Kevin dengan semangat 45 membuka bungkusan instrumen steril. Dia memakai sarung tangan, mengambil needle holder (pemegang jarum), dan menjepit jarum dengan benang hitam tebal.

​"Bagus," komentar Rania sambil melipat tangan. "Sekarang, tusuk tegak lurus. Masuk 0,5 cm dari tepi luka. Tarik simpulnya kuat-kuat biar darahnya berhenti. Jangan ragu. Ingat, time is tissue. Semakin cepat lo jahit, semakin cepat pasien pulang."

​Kevin mengangguk. Dia menarik napas, mengarahkan jarum ke dahi gadis itu yang masih sesenggukan.

​"Tahan napas, ya Dek. Sakit dikit kayak digigit semut..."

​"BERHENTI!"

​Suara bariton yang familiar menggelegar. Tirai UGD tersibak kasar.

​Dr. Adrian berdiri di sana, menatap tangan Kevin dengan horor seolah-olah Kevin sedang memegang granat aktif, bukan jarum jahit.

​"Jangan sentuh wajah pasien itu dengan benang tambang kapal itu!" seru Adrian.

​Kevin membeku. Jarumnya berhenti satu milimeter dari kulit pasien. "Eh? Tambang kapal, Dok? Ini Silk 3.0..."

​Adrian masuk, mengambil alih ruang sempit di samping brankar, mendesak Rania minggir sedikit.

​"Benang Silk 3.0 itu terlalu besar untuk wajah remaja perempuan, Kevin! Itu akan meninggalkan bekas seperti rel kereta api!" omel Adrian. Dia menoleh ke Rania. "Dan kamu, Rania. Kamu menyuruh anak ini menjahit dahi seorang gadis dengan teknik simple interrupted kasar? Kamu mau menghancurkan masa depannya?"

​Rania mendengus. "Adrian, ini UGD. Lukanya terbuka, kotor. Yang penting tutup dulu, cegah infeksi, hentikan perdarahan. Estetika itu urusan belakangan. Nanti kalau sudah sembuh kan bisa dikasih salep keloid."

​"Salah!" Adrian menatap Kevin tajam. "Buang benang itu. Ganti dengan Prolene 6.0 atau Nylon 5.0. Jarum cutting yang paling kecil."

​Kevin bingung. Dia menatap Rania, lalu menatap Adrian. Kepalanya pusing. Kiri kanan kulihat saja banyak dokter galak.

​"Kevin, lanjut pakai Silk! Kita nggak punya waktu main sulam alis!" perintah Rania.

​"Kevin, ganti Nylon! Atau nilai stase kamu saya buat E permanen!" ancam Adrian.

​Tangan Kevin gemetar hebat. "Aduh... Dok... saya harus nurut siapa?"

​Si pasien remaja melihat perdebatan itu dan tangisnya makin kencang. "HUWAA! JANGAN BERANTEM! MUKA AKU GIMANA?!"

​Adrian menghela napas, menatap pasien itu dengan tatapan menenangkan andalannya. "Nona, tenang ya. Saya akan pastikan tidak ada bekas luka. Anda tahu artis Korea? Nah, teknik jahitannya akan seperti itu."

​Tangis pasien langsung berhenti. "Beneran, Dok? Kayak Song Hye Kyo?"

​"Persis," jawab Adrian yakin. Lalu dia menatap Kevin. "Kevin, minggir. Biar saya contohkan satu jahitan, sisanya kamu teruskan. Tapi pakai teknik saya."

​Rania memutar bola matanya. "Oke, fine. Silakan Sang Maestro beraksi. Tapi awas ya kalau kelamaan. Pasien demam berdarah di sebelah butuh infus."

​Adrian mengambil posisi. Dia meminta Suster Yanti mengambilkan benang khusus dari kotak pribadinya (karena stok UGD memang cuma punya benang tebal).

​"Lihat cara memegang needle holder, Kevin," Adrian mulai kuliah dadakan. "Bukan digenggam kayak mau nonjok orang begitu. Pegang dengan ujung jari. Lembut. Seperti memegang kuas lukis atau busur biola."

​Kevin mencoba meniru, jarinya kaku.

​"Rileks," Adrian menepuk punggung tangan Kevin. "Tusukan jarum harus mengikuti garis Langer (garis lipatan kulit alami). Jangan melawan arus. Masuknya jangan 0,5 cm, terlalu lebar. Cukup 1-2 milimeter dari tepi luka. Kita mau menyatukan kulit, bukan mengikat karung beras."

​Rania yang berdiri di belakang mereka, memperhatikan dengan seksama. Dia ingin sekali mengejek betapa ribetnya Adrian, tapi... sialnya, penjelasan Adrian sangat logis dan anatominya sempurna.

​"Tarik benangnya pelan," instruksi Adrian. "Jangan ditarik sentak. Simpulnya jangan terlalu kencang, nanti jaringan iskemia (mati karena kurang darah). Cukup sampai tepi luka bertemu. Kissing edges. Mencium, bukan menabrak."

​Kevin menelan ludah. "Cium, Dok. Siap. Mencium."

​Dengan bimbingan Adrian yang super detail (dan cerewet), Kevin berhasil membuat satu jahitan yang... wow. Rapi. Sangat kecil. Nyaris tak terlihat.

​"Gimana?" tanya Adrian bangga.

​Kevin tersenyum lebar. "Wah... rapi banget, Dok! Beda banget sama jahitan saya di manekin kemarin yang kayak ulat bulu."

​Rania maju, melihat hasilnya. Dia harus mengakui, itu jahitan yang cantik.

​"Lumayan," komentar Rania pelan. "Tapi Vin, lo butuh 5 menit buat satu jahitan. Lukanya panjang 3 cm. Keburu pasiennya wisuda baru kelar lo jahit."

​"Kecepatan akan datang dengan latihan, Rania," bela Adrian. "Yang penting teknik dasarnya benar dulu. Jangan ajarkan kebiasaan buruk."

​"Kebiasaan buruk lo bilang? Itu namanya survival skill di medan perang UGD!" balas Rania tak mau kalah.

​"Sudah, sudah!" Suster Yanti melerai sambil membawa nampan berisi kapas. "Kalian berdua ini kayak suami istri yang lagi ngajarin anaknya naik sepeda, tau nggak? Kevin bingung tuh!"

​Hening.

​Kevin, Rania, dan Adrian saling pandang dengan canggung.

​"Suami istri?" ulang Adrian dengan nada jijik yang dibuat-buat. "Selera saya jauh lebih tinggi dari wanita yang pakai sandal Crocs ke tempat kerja."

​"Dih!" Rania membalas cepat. "Gue juga ogah punya suami yang bedaknya lebih tebal dari gue!"

​"Saya tidak pakai bedak! Ini natural glow hasil perawatan rutin!"

​Kevin mengangkat tangannya perlahan. "Emm... Dok? Jahitan kedua boleh saya lanjutin? Pasiennya mulai ngantuk."

​Adrian dan Rania berdeham bersamaan, membuang muka.

​"Lanjutin, Vin. Pakai teknik dia," Rania menunjuk Adrian dengan dagunya. "Khusus pasien ini aja. Karena dia rewel soal estetika. Tapi kalau nanti ada pasien preman pasar yang kepalanya bocor kena botol, lo pakai teknik gue. Paham?"

​"Paham, Dok!" Kevin mengangguk semangat.

​Sore itu, Kevin belajar dua hal penting.

Pertama, teknik menjahit subcuticular yang estetik.

Kedua, cara bertahan hidup di antara dua gajah yang sedang bertarung adalah dengan menjadi kancil yang pura-pura bodoh tapi penurut.

​Saat Adrian keluar dari UGD setelah memastikan Kevin bekerja dengan benar, dia berpapasan dengan Rania di pintu keluar.

​"Vin itu punya bakat," kata Adrian tiba-tiba tanpa melihat Rania. "Tangannya stabil. Cuma butuh dipoles."

​"Gue tau," sahut Rania. "Makanya gue kerasin dia. Biar mentalnya kuat. Jadi dokter bedah bukan cuma soal tangan cantik, tapi soal keberanian ambil keputusan."

​Adrian menoleh sedikit. "Kombinasi. Dia butuh kombinasi. Tangan yang cantik dan mental baja."

​"Oke, sepakat," Rania mengangguk singkat. "Mungkin... sesekali lo boleh ajarin dia lagi. Tapi jangan racuni otak dia buat beli skincare mahal."

​Adrian tersenyum tipis. Sangat tipis. "Kita lihat saja. Wajah Kevin itu kusam, pori-porinya besar. Dia butuh pertolongan."

​Adrian berlalu.

​Rania menggelengkan kepala. Tapi dia tidak marah.

Untuk pertama kalinya, mereka sepakat tentang sesuatu: Masa depan dr. Kevin.

​Di dalam bilik UGD, Kevin bersin keras.

"Hacim! Duh, siapa yang ngomongin gue?"

​Jarum di tangannya meleset sedikit.

"Eh maaf, Mbak! Maaf! Jangan laporin saya!"

...****************...

Bersambung.....

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
Wien Ibunya Fathur
aku sampai maraton bacanya...
ceritanya bagus banget
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah betah bacanya😍
total 1 replies
ms. S
ga terasa udah tamat aja.. sng bgt novel kayak gini... good job
tanty rahayu: mamasih kak sudah baca sampai tamat 😍
total 1 replies
Wien Ibunya Fathur
ceritanya seru
tanty rahayu: makasih banyak kaka udah mau baca novel ku 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
keren..bahasa nya sih berat istilah" orang pinter tp asik d buat jdi komedi romantis🥰
tanty rahayu: makasih kaka 😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
masih sepi nih tp ini novel seru banget sumpah,kalian wajib baca😍
ms. S: bnr, novel ini layak dapat view yg banyak bgt dan authornya harusnya masuk platinum karena beberapa karya yg udah aku baca, ceritanya out of the box semuanya. Dan risetnya cerita bagus
total 2 replies
ms. S
ya ampun ngakak bgt cemburu nya 😄
ms. S
gombalan paling unik, aneh tapi bikin melting dan senyum2 sndiri😍
tanty rahayu: ikut gemess ya
total 1 replies
ms. S
sumpah.. sumpah aku kyk baca Drakor dokter itu lho.. good job
tanty rahayu: hehehe kebetulan aku emang suka nonton drakor juga ka jd terinspirasi deh
total 1 replies
ms. S
mereka yg ciuman aku yg senyum2 sendiri... 😍😍😍
tanty rahayu: gpp senyum asal jangan bayangin 🤣🤣🤣
total 1 replies
ms. S
mmg cinta bisa DTG kpn aja bahkan DTG saat operasi DTG 😍🤭
ms. S
co cuit😍😍😍
ms. S
diem2 cinta tapi benci uluh..uluh🤭😍😍😍
Murni Asih
gombalan paling manis , laen dr yg laen....
tanty rahayu: makasih banyak kaka sudah mau mampir dan baca karya ku
total 1 replies
ms. S
cerita yg cukup menarik biasanya kita disuguhkan dgn ceo, mafia dan anak SMA jrg ada yg BNR mengulik dokter sungguhan. semoga ke blkg juga jauh lbh menarik
ms. S: tapi mmg novelnya menarik bgt buat dibaca syg klo novel sebagus ini krg view-nya.. karena biasanya novel dokter itu ga da BHS dokternya jadi ga meresap smpe ke hati ini bnr2 dokter bgt novelnya merasa kita lihat Drakor: good doctor. bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟
total 2 replies
Frida Fairull Azmii
🤣🤣gila dokter ciuman jg pake diskusi segala bilang aja silaturahmi bibir..wkwk
tanty rahayu: wkwkwkkw 😍😍😍
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
novel nya bagus,lanjut...lanjut..
tanty rahayu: makasih kaka sudah baca novelku jangan lupa baca novel ku yang lain ya ka 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!