Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Titik Balik
Rumah itu kini tak ubahnya sebuah barak yang disiplin namun kehilangan nyawa. Alisa menjalankan perannya dengan ketepatan yang mengerikan. Setiap pagi, kopi Cakra sudah tersedia di meja dengan suhu yang pas. Sepatu larsnya sudah mengkilap di depan pintu. Sarapan tersedia tanpa ada satu pun remah yang tertinggal di meja. Namun, semua itu dilakukan Alisa tanpa suara, tanpa kontak mata, dan tanpa senyum. Ia menjadi bayangan yang efisien. Cakra, yang terbiasa memimpin ribuan orang, mendapati dirinya tak berdaya menghadapi keheningan seorang remaja perempuan. Ia menyita laptop itu dengan harapan bisa mengarahkan Alisa kembali ke "jalur yang benar", namun ia justru mendapati dirinya kehilangan akses ke hati putrinya sepenuhnya. Setiap kali mereka berpapasan di lorong sempit rumah dinas, Alisa hanya akan menunduk sedikit sebagai tanda hormat, lalu melipir pergi seolah Cakra adalah atasan yang harus dihindari, bukan ayah yang dirindukan.
Malam itu, hujan turun lagi dengan sisa-sisa badai yang membuat dahan pohon mangga di samping rumah beradu dengan atap seng, menimbulkan bunyi berisik yang konsisten. Cakra duduk di ruang kerjanya, menatap laptop Alisa yang masih tergeletak di pojok meja, tertutup rapat dan berdebu tipis. Ia merasa menang secara otoritas, tapi kalah secara moral. Untuk mencari pelarian dari rasa sesak itu, Cakra kembali membuka lemari besi tempat ia menyimpan dokumen pribadi dan barang-barang peninggalan Shifa. Ia mengambil buku harian merah marun yang sering dibaca Alisa. Ia ingin mencari pembenaran. Ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Shifa, istrinya yang lembut, akan setuju dengan caranya mendidik Alisa menjadi wanita yang tangguh dan disiplin.
Cakra membalik halaman-halaman buku itu dengan perlahan. Awalnya ia hanya menemukan catatan tentang resep masakan dan jadwal imunisasi Alisa sewaktu kecil. Namun, jarinya berhenti pada sebuah halaman yang tanggalnya tertulis tepat setahun sebelum Shifa meninggal. Tulisan tangan Shifa di sana tampak sedikit terburu-buru, namun tetap rapi. Cakra mulai membaca, dan setiap kata di sana terasa seperti peluru yang menembus baju zirah kebanggaannya.
"Hari ini Alisa marah besar karena aku melarangnya ikut Cakra ke lapangan latihan. Dia tidak menangis kencang seperti anak-anak lain. Dia hanya diam, masuk ke kamar, dan membereskan semua mainannya dengan sangat rapi, lalu menolak bicara padaku seharian. Cakra, kalau kamu membaca ini suatu saat nanti, kamu harus tahu bahwa putrimu adalah replika sempurnamu. Dia memiliki keras kepalamu, caramu memendam luka, dan caramu membangun tembok saat merasa disakiti. Aku sering takut melihatnya. Aku takut karena dia terlalu mirip denganmu, dia akan merasa harus selalu kuat sendirian. Menunggu itu berat, Cakra. Aku menjalaninya selama bertahun-tahun, tersenyum saat kau pergi dan berdoa saat kau di medan tugas. Tapi Alisa... dia anak yang lahir dari rahim penantian itu. Dia punya api di kepalanya, dia butuh ruang untuk bicara, bukan hanya ruang untuk patuh. Jangan buat dia menjadi ksatria yang hanya tahu cara memegang pedang, tapi lupa cara merasakan kasih sayang. Jika suatu saat kalian berbenturan, ingatlah bahwa kau sedang bertarung dengan dirimu sendiri."
Cakra meletakkan buku itu dengan tangan gemetar. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, menatap langit-langit ruangan yang remang. Replika sempurna. Kata-kata itu menghantamnya telak. Selama ini ia menganggap Alisa lemah karena ia emosional dalam tulisannya, karena ia mengeluh tentang kesepian. Namun Cakra baru menyadari bahwa diamnya Alisa selama berminggu-minggu ini adalah bentuk perlawanan yang paling keras, persis seperti cara Cakra menghadapi atasan yang ia benci atau musuh di medan perang. Alisa tidak sedang memberontak karena manja; dia sedang bertahan hidup dengan cara yang dia tahu, cara yang dia warisi dari ayahnya sendiri.
Ia teringat malam saat ia membaca draf tulisan Alisa yang ia anggap sebagai penghinaan. Ia teringat kalimat "Dia adalah pahlawan bagi ribuan orang, tapi dia adalah orang asing bagi anaknya sendiri." Dulu ia membacanya dengan kemarahan, tapi sekarang, setelah membaca peringatan Shifa, ia membacanya dengan rasa malu. Ia telah memaksa Alisa menjadi ksatria demi kenyamanannya sendiri agar ia tidak perlu merasa khawatir saat bertugas. Ia telah merampas suara putrinya karena ia takut mendengar kebenaran yang menyakitkan.
Pukul dua pagi, Cakra berdiri dari kursinya. Ia mengambil laptop putih itu, mendekapnya di bawah lengan, dan berjalan menuju kamar Alisa. Ia tidak mengetuk. Ia hanya membuka pintu perlahan. Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah gorden. Alisa tampak tertidur pulas, namun jejak air mata yang mengering di pipinya terlihat jelas saat cahaya lampu mengenai wajahnya. Di samping bantalnya, buku harian biru itu tergeletak terbuka, seolah-olah ia tertidur saat sedang mencoba menulis sesuatu tanpa laptopnya.
Cakra meletakkan laptop itu dengan sangat pelan di atas meja belajar Alisa. Ia tidak langsung pergi. Ia duduk di kursi belajar putrinya, memandangi sosok remaja yang kini sudah tumbuh begitu besar namun tampak begitu rapuh dalam tidurnya. Ia menyentuh buku harian biru itu, tidak bermaksud membacanya, tapi hanya ingin merasakan keberadaan pikiran putrinya di sana. Alisa terbangun karena suara decit kursi yang kecil. Ia langsung terduduk, matanya yang masih mengantuk seketika berubah waspada dan penuh pertahanan saat melihat siluet Ayahnya.
"Ada apa, Yah? Ada tugas mendadak?" tanya Alisa, suaranya parau namun tetap formal.
Cakra menggeleng pelan. Ia menggeser laptop itu ke depan Alisa. "Ayah kembalikan. Tulis apa pun yang ingin kamu tulis. Ayah tidak akan melarangnya lagi."
Alisa terdiam. Ia menatap laptop itu, lalu menatap Ayahnya dengan bingung. Ia mencari jebakan dalam kalimat itu, tapi yang ia temukan hanya wajah Ayahnya yang tampak sangat lelah dan tidak lagi memiliki otoritas yang mengintimidasi.
"Kenapa?" tanya Alisa singkat.
"Ayah membaca catatan Ibumu," kata Cakra, suaranya sedikit pecah. "Ibumu benar. Kamu terlalu mirip dengan Ayah. Dan itu menakutkan karena Ayah tahu betapa sepinya menjadi orang yang selalu ingin terlihat kuat. Ayah tidak mau kamu tumbuh dengan rasa benci pada rumah ini, atau pada seragam ini. Ayah... Ayah minta maaf karena sudah mencoba membungkammu."
Alisa merasa dadanya sesak. Permintaan maaf adalah kata yang hampir mustahil keluar dari mulut seorang Cakrawala Pradipta Yudha. Ia melihat Ayahnya menunduk, menghindari tatapan matanya. Tembok yang selama ini memisahkan mereka seolah runtuh dalam sekejap, menyisakan dua orang manusia yang sama-sama terluka dan sama-sama merindukan Shifa.
"Aku tidak benci Ayah," bisik Alisa, air matanya mulai jatuh lagi, kali ini bukan karena marah. "Aku cuma kangen. Aku cuma mau Ayah tahu kalau aku ada di sini, bukan cuma sebagai asisten rumah tangga atau prajurit kecil Ayah. Aku anak Ayah."
Cakra mendekat, lalu dengan kaku ia menarik Alisa ke dalam pelukannya. Alisa menangis sesenggukan di bahu keras Ayahnya, menumpahkan semua rasa sakit yang selama ini ia kunci rapat di dalam buku birunya. Cakra mengusap punggung putrinya, merasakan getaran tubuh Alisa yang begitu rapuh.
"Tuliskan semuanya, Lis. Tuliskan tentang betapa buruknya Ayah, tentang betapa sepinya rumah ini. Ayah akan membacanya nanti saat Ayah siap. Tapi tolong, jangan berhenti bicara pada Ayah. Jangan jadi orang asing di rumah kita sendiri," bisik Cakra.
Malam itu menjadi titik balik bagi mereka. Konflik yang tadinya membara kini mendingin menjadi sebuah pemahaman baru. Alisa menyadari bahwa Ayahnya bukannya tidak peduli, melainkan ia hanya tidak tahu cara menjadi ayah tanpa melibatkan protokol militer. Sementara Cakra menyadari bahwa kekuatan Alisa bukan terletak pada kepatuhannya, melainkan pada kejujuran perasaannya.
Keesokan harinya, suasana rumah tidak lagi kaku. Alisa masih menyiapkan kopi, tapi kali ini ada percakapan kecil tentang rencana sekolahnya. Cakra tidak lagi memberikan perintah, ia mulai memberikan saran. Alisa kembali menulis, namun kali ini ceritanya tidak lagi hanya berisi kemarahan. Ia mulai menulis tentang ksatria yang belajar untuk melepas lencananya saat sampai di depan pintu rumah. Ia mulai menulis tentang harapan.
Alisa menyadari bahwa untuk menjadi penulis yang bebas, ia tidak perlu membenci dunianya. Ia hanya perlu memahaminya. Dan dengan laptop yang kini kembali di tangannya, serta dukungan sunyi dari Ayahnya, Alisa merasa ia siap untuk menuliskan bab baru dalam hidupnya—bab di mana ksatria dan penulis bisa hidup berdampingan di bawah atap yang sama. Perang dingin itu berakhir bukan dengan kemenangan salah satu pihak, tapi dengan perdamaian yang lahir dari sebuah buku harian lama dan pelukan di tengah malam