Dara adalah gadis cantik berusia 22 tahun. Dia harus terjebak dalam situasi yang sangat rumit di mana dia harus menghadapi dua pria yang sama-sama mencintainya. Yang satu sebagai tunangannya, sedangkan yang satu adalah adik dari tunangannya.
Dara selalu dihadapkan dalam sebuah situasi yang sulit dan rumit karena sang calon adik ipar begitu pemaksa dan suka mengambil keuntungan darinya. Namun siapa yang menduga jika akhirnya Dara malah terjebak dalam perasaan tak wajar itu.
Akankah dara bisa lepas dari jerat cinta calon adik iparnya, atau dia tetap menikahi calon tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jessica_226, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Jodoh
"Ken, pelan sedikit. Ahhh, jangan keras-keras, ahh..."
Tubuh Dara terhentak-hentak seiring dengan semakin dalamnya tusukan Ken pada Miss-nya. Wanita itu meremas sprei dibawahnya yang sudah tidak berbentuk lagi, berantakan.
Des*han-des*han panjang nan er*tis berkali-kali lolos dari bibir ranum tipisnya. Dara akui jika suaminya ini memang sangat luar biasa dan memiliki tenaga yang seperti kuda.
Ken selalu memanjakannya hampir setiap saat, entah itu ketika malam hari, pagi hari bahkan siang hari. Jika ada waktu, mereka pasti akan melakukannya.
"Teruslah mend*sah seperti itu, Sayang. Jangan ragu-ragu, keluarkan semua milikmu. Dan apa kau menikmatinya, hm?"
Dara mengangguk. "Ya, aku sangat-sangat menikmatinya. Dan~ aaahhh, jangan keras-keras, Ken. Uhhh, kau ingin membuatku tidak bisa berjalan lagi ya?" Ken hanya terkekeh menyikapi ucapan sang istri.
Sekali lagi dia membenamkan bibirnya pada bibir Dara dan mel*matnya seperti tadi. Dan ciuman kali ini lebih dalam dan lebih panas dari ciuman mereka sebelumnya. Menjadikan malam ini seolah-olah hanya milik mereka berdua.
Des*han liar dan erangan panjang yang keluar dari bibir mereka membuat orang yang berdiri di depan pintu berpelitur elegan tersebut sampai panas dingin.
Bahkan air liurnya sampai menetes, beberapa kali dia terlihat mengusap liurnya sendiri. "Ya Tuhan, kenapa engkau selalu memberikan cobaan dan ujian yang sangat berat untuk hambamu yang tampan dan rajin menabung ini."
"Berikan jodoh yang baik untuk hamba. Tidak perlu cantik. Yang penting dia berkulit putih dan halus, bermata bulat seperti mata boneka, berbibir merah muda dan tipis, berambut panjang dan bertubuh mirip gitar spanyol. Tuhan, tolong kabulkan permohonan hamba yang terlewat sederhana ini."
Jelas sekali itu bukanlah sebuah permohonan yang sederhana. Melainkan sebuah permohonan yang sangat-sangat berlebihan.
"Aaahhh!!! Ken.."
Pria itu 'Henry' terlonjak kaget karena pekikan keras Dara di dalam sana. Tak ingin semakin tersiksa oleh kegiatan sepasang suami-istri tersebut. Dia pun memutuskan untuk pergi dari sana.
Dan sementara itu, di dalam sana kegiatan mereka berdua masih terus berlanjut. Tak peduli dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh keduanya, atau AC di kamar yang tidak lagi berfungsi dengan baik, mereka benar-benar tak menghiraukannya.
Menjadikan malam yang panjang ini sebagai ajang untuk saling menghangatkan, meskipun sebenarnya tubuh mereka sudah sama-sama lelah. Karena malam ini akan mereka habiskan untuk saling memiliki.
-
-
-
"Berikan aku satu gelas lagi."
Anna menahan tangan Kai saat pria itu hendak meneguk gelas ketujuhnya. Dengan kasar Kai menyentak tangan Anna dan menatapnya tajam. "Lepaskan, jangan menghalangiku, ******!!" Bentaknya marah.
"Kau sudah mabuk berat, Kai. Kau terlalu banyak minum, kau harus berhenti atau kau akan di buang dari sini?!"
Kai mengangkat wajahnya dan menatap Anna dengan tatapan yang sama. "Memangnya siapa yang berani melakukan hal itu padaku?! Aku adalah calon pewaris seluruh kekayaan keluarga Lu!!"
"Aku tau, tapi tetap saja minum tidak baik untukmu!! Kau harus berhenti dan pulang denganku!!"
"Dasar ******!! Aku bilang lepaskan!!" Bentak Kai marah dan penuh emosi.
"Pulang sekarang atau kau ingin aku membuat dirimu membusuk di dalam penjara?!" Ancam Anna bersungguh-sungguh.
Dan akhirnya Kai menyerah dengan ancaman wanita itu. Diapun menurut di ajak pulang. Meskipun dalam hati Kai memaki wanita yang tengah memapahnya ini.
Sedangkan Anna melakukannya juga karena terpaksa, jika bukan karena Kai adalah calon pewaris Lu Empire, dia juga tidak akan Sudi. Apalagi mengakui jika Kau adalah ayah dari anaknya.
-
-
-
Bagun lebih awal dan menyiapkan sarapan setiap paginya adalah hal wajib yang selalu Jia lakukan setiap harinya.
Bukan karena dia tidak mempercayai para pelayannya, hanya saja kedua putranya lebih menyukai masakannya dibandingkan masakan orang lain. Ken terutama.
Jia tau jika sejak kecil putra bungsunya itu memang sangat pemilih soal makanan. Dan ketika masih anak-abak, Ken hanya mau makan, makanan yang dimasak oleh dirinya.
Langkah kaki Jia harus terhenti mana kala dia melihat seorang wanita yang sangat dia kenal tengah duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh. Wanita itu menyeringai melihat kedatangan ibu dua anak itu.
"Pagi calon ibu mertua," sapanya.
"Mau apa lagi kau datang kemari? Bukankah aku sudah mengusir mu keluar dari rumah ini?!"
"Tidak perlu emosi calon ibu mertua, aku adalah calon istri Kai dan ibu dari cucumu, wajar dong jika aku ada di sini." Ujarnya.
"Jangan bermimpi, karena sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkan putraku menikahi wanita tak tau malu seperti dirimu!!"
"Hahaha!!" Alih-alih tersinggung. Anna malah tertawa keras, wanita itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Jia.
"Ibu mertua, aku tidak tau apa dendam yang kau miliki padaku, sampai-sampai kau begitu membenciku. Padahal aku sudah memberikan satu cucu padamu!!"
"Jika kau yakin anakmu adalah keturunan keluarga Lu, maka segera lakukan tes DNA." Sahut seseorang dari arah tangga. Dara turun bersama Ken.
Glukk...
Susah payah Anna menelan salivanya, melihat bagaimana panasnya Ken dalam balutan singlet hitam dan Vest berwarna kopi susu yang melekat pada tubuh atasnya. Celana hitam panjang membingkai kaki jenjangnya.
Lalu beberapa saat kemudian, Kai muncul dari kamarnya dengan sebuah celana panjang dan kemeja berwarna biru gelap. Anna membandingkan penampilan mereka berdua, dan dilihat dari segi mana pun, Ken memang lebih tampan dari pada Kai dilihat dari segi manapun.
Dara menyeringai sinis. "Lihatlah air liurmu yang hampir saja menetes. Apa begitu reaksimu ketika melihat pria tampan?"
Anna pun segera tersadar. Wanita itu menatap Dara yang tengah tersenyum meremehkan ke arahnya. "Kau menyindirku?"
"Kau merasa tersindir? Hatimu sungguh sangat sensitive ya, mudah sekali terbawa perasaan oleh ucapan orang lain." Jawabnya dengan seringai yang sama.
Anna mengepalkan tangannya. Dia benar-benar tersudut oleh ucapan-ucapan Dara. Wanita itu benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata.
Jika saja tidak ada Ken dan Jia. Mungkin saja Anna sudah membuat perhitungan dengan wanita itu. Tapi sayangnya ada mereka berdua, nama baiknya bisa semakin buruk Dimata mereka berdua.
Anna merubah ekspresi wajahnya. "Dara, ada apa denganmu sebenarnya? Apa kau terlalu takut jika Ken akan beralih mencintaiku lalu membuang mu? Tenang saja, calon adik ipar. Aku tidak tertarik pada suamimu. Aku hanya mencintai Kai, dan perasaan itu tidak akan pernah berubah!!"
"Sudah cukup basa-basinya. Sebaiknya kita sarapan sekarang. Anna, aku setuju dengan usul Dara. Bawa putrimu kemari, dan kita akan melakukan tes DNA. Jika terbukti dia adalah putri Kai, maka secepatnya aku akan menikahkan kalian berdua!!"
"Tentu calon ibu mertua, malam ini juga aku akan menjemput Sellena pulang." Jawabnya dengan seringai penuh kemenangan.
Rencananya berhasil. Jika dia bisa membuktikan Sellena adalah putri kandung Kai dan cucu pertama keluarga Lu, maka dia akan mendapatkan banyak keuntungan dari konspirasinya ini.
-
Bersambung.