Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 KEHANGATAN DAN KECEMASAN
Pagi itu datang dengan langkah yang pelan, seolah ikut menyesuaikan suasana di rumah besar tersebut.
Sari terbangun lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang beberapa detik, menarik napas panjang, menenangkan degup jantungnya yang sejak semalam tak benar-benar kembali normal.
Tenang… hari ini harus seperti biasa. Ia bangkit, merapikan diri sekadarnya, lalu melangkah menuju kamar Queen.
“Nona,” panggilnya lembut sambil membuka tirai jendela. “Sudah pagi.”
Queen menggeliat kecil, lalu membuka mata dengan senyum polos. “Kak Sari…”
Sari tersenyum, senyum yang ia paksa agar terlihat tulus. “Ayo bangun. Kita mandi dulu, nanti Oma nunggu di meja makan.”
Queen mengangguk antusias. “Queen mau pakai baju yang kemarin.”
“Boleh,” jawab Sari sambil membantu Queen turun dari ranjang.
Rutinitas pagi berjalan seperti biasa mandi, menyisir rambut Queen dengan hati-hati, memilihkan pita kecil, lalu menggandeng tangan mungil itu menuju ruang makan.
Namun langkah Sari melambat begitu mendekati ruang makan. Ia melirik ke dalam. Semua sudah ada di sana.
Mommy duduk di ujung meja dengan Queen segera disambut senyuman hangat. Daddy membaca koran pagi, Exsel duduk santai dengan secangkir kopi di tangannya.
Satu kursi kosong. Kursi Ammar. Entah kenapa, dada Sari terasa lebih ringan.
Syukurlah… Ia tahu itu mustahil. Cepat atau lambat, mereka pasti akan bertemu. Tapi setidaknya… bukan sekarang.
“Cucu Oma sudah cantik,” ujar Mommy ceria. “Sini duduk dekat Oma, sayang.”
“Baik, Oma,” jawab Queen ceria.
Sari membantu Queen duduk, lalu hendak mundur seperti biasanya. Namun Mommy menatapnya.
“Sari.”
Sari menoleh cepat. “Iya, Nyonya?”
Mommy menghela napas pelan. “Tolong bangunkan Ammar di kamarnya. Sepertinya semalam dia minum terlalu banyak.”
Jantung Sari seperti terjatuh. Tangannya refleks meremas ujung pakaiannya.
Sebelum ia sempat menjawab, Exsel menimpali dengan nada santai, “Semalam dia memang minum banyak, Mom. Mungkin karena pikirannya sedang penuh masalah.”
Deg.
Sari menunduk. Napasnya terasa pendek.
Kenapa… harus aku?
“Sari,” panggil Mommy lagi, lebih tegas.
Sari tersadar dari lamunannya. “Iya, Nyonya.” Ia membungkuk sopan, lalu berbalik pergi dengan langkah yang terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Lorong menuju kamar Ammar terasa lebih sunyi pagi itu.
Setiap langkah membuat Sari semakin gelisah. Bayangan semalam kembali terlintas tatapan Ammar, nada suaranya, jarak yang terlalu dekat. Ia berhenti di depan pintu kamar Ammar.
Menarik napas. Ini hanya membangunkan tuan rumah. Tidak lebih.
Tok.
Tok.
Tidak ada jawaban.
Sari mengetuk lagi, sedikit lebih keras. “Tuan… Maaf, Tuan. Sudah pagi.”
Hening.
Dengan ragu, Sari memutar kenop pintu. Tidak terkunci. Ia membuka pintu perlahan.
Cahaya pagi menyelinap masuk, memperlihatkan Ammar yang masih terbaring di ranjang, punggungnya menghadap pintu. Jas dan kemeja semalam tergeletak sembarangan di kursi.
Sari berdiri di ambang pintu, tak berani masuk terlalu jauh. “Tuan Ammar,” panggilnya pelan. “Nyonya meminta Tuan turun untuk sarapan.”
Tidak ada respons. Ia melangkah satu langkah ke dalam.
Dua langkah.
“Tuan…”
Ammar bergerak sedikit. Ia membalikkan badan, matanya terbuka setengah, jelas masih dipenuhi sisa mabuk dan kelelahan.
Tatapan mereka bertemu. Wajah Sari langsung pucat.
Ammar terdiam beberapa detik, seolah butuh waktu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
“Sari…” suaranya serak.
Sari refleks menunduk. “Maaf mengganggu, Tuan. Saya hanya diminta membangunkan Tuan.”
Ammar bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya. Rambutnya sedikit berantakan, rahangnya mengeras ketika ingatan malam tadi menyerbu kepalanya.
Keheningan itu menyesakkan. “Aku…” Ammar membuka suara, lalu terhenti.
Sari menggenggam kedua tangannya sendiri di depan tubuhnya, berdiri kaku. Ia tidak berani menatap.
“Kalau tidak ada lagi yang perlu disampaikan,” lanjut Sari dengan suara nyaris bergetar, “saya permisi, Tuan.”
Ammar menoleh cepat. “Tunggu.”
Sari berhenti, namun tidak berbalik.
Ammar berdiri, menjaga jarak. “Semalam… aku tidak seharusnya... ”
“Tidak apa-apa, Tuan,” potong Sari cepat, terlalu cepat. “Saya hanya pengasuh. Tugas saya menjaga Nona Queen.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Ammar duga. “Sari,” ucapnya lebih pelan.
“Aku tidak bermaksud...”
“Saya mohon,” Sari akhirnya menoleh, matanya berkaca-kaca namun suaranya berusaha stabil.
“Jangan bicarakan hal itu lagi.”
Ammar terdiam. Ia melihat ketakutan yang belum sepenuhnya pergi dari mata gadis itu.
“Baik,” ucapnya akhirnya, berat. “Aku akan turun sebentar lagi.”
Sari mengangguk kecil, lalu segera keluar.
Pintu tertutup perlahan.
Ammar berdiri sendiri di tengah kamarnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa… benar-benar bersalah.
Di ruang makan, Queen sudah selesai setengah porsi sarapannya.
“Oma,” katanya ceria, “Kak Sari lama ya?”
Mommy tersenyum. “Mungkin Papah susah bangun.”
Tak lama, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ammar muncul dengan wajah yang lebih segar, meski jelas kurang tidur.
“Sore—eh, pagi,” ucap Exsel menggoda.
Ammar hanya mengangguk singkat. Matanya refleks mencari satu sosok. Sari tidak ada.
“Mana Sari?” tanya Mommy.
“Dia kembali ke kamar Queen,” jawab Ammar singkat sambil duduk.
Exsel meliriknya sekilas, lalu tersenyum samar.
Queen mengangkat wajahnya. “Papah, nanti kita main lagi kan?”
Ammar mengangguk, memaksakan senyum. “Iya, sayang.”
Namun pikirannya tidak benar-benar ada di sana.
Karena di sudut rumah itu, ada seorang gadis yang kini mulai belajar menjaga jarak dan seorang pria yang baru menyadari, bahwa ia bisa kehilangan… bahkan sebelum sempat memiliki.
...----------------...
Siang itu rumah Oma dan Opa dipenuhi aroma manis yang menggoda. Dapur yang biasanya tenang kini terasa hidup. Mommy menggulung lengan bajunya, mengenakan celemek bermotif bunga kecil, sementara Sari berdiri di sebelahnya dengan sikap sedikit kaku seperti seseorang yang masih takut melakukan kesalahan di tempat yang bukan miliknya.
“Tenang saja,” ucap Mommy lembut sambil tersenyum.
“Kita cuma bikin kue. Anggap saja sedang di rumah sendiri.”
Sari mengangguk kecil. “Iya, Oma.”
Di meja dapur, berbagai bahan telah tersusun rapi tepung, mentega, telur, cokelat, dan beberapa cetakan lucu berbentuk bintang dan bunga.
“Queen pasti suka,” gumam Sari tanpa sadar.
Mommy menangkap gumaman itu dan tersenyum lebih lebar. “Betul. Dan Ammar juga, meskipun dia jarang mengaku.”
Sari tersenyum kecil, lalu mulai bekerja. Tangannya cekatan, gerakannya rapi dan terlatih. Ia menakar bahan tanpa ragu, mencampur adonan dengan teknik yang sederhana tapi presisi.
Mommy memperhatikannya dengan penuh minat.
Tak butuh waktu lama sampai adonan mulai dibentuk.
“Oh,” Mommy mendekat, matanya berbinar. “Kok bisa rapi sekali?”
Sari mengambil cetakan berbentuk kelinci kecil, menekannya pelan ke adonan. “Saya biasa bikin kue ini waktu kecil. Ibu sering minta bantuan.”
Mommy tertawa kecil. “Wah, Oma kalah jauh ini.”
Beberapa menit kemudian, loyang penuh kue kecil dengan bentuk-bentuk lucu. Ada bunga, hati, dan binatang kecil.
Mommy menepuk tangannya sendiri. “Wah, Oma nggak nyangka loh kalau kamu sangat pintar membuat kue. Bentuknya lucu-lucu begini. Oma kalah, hehehe.”
Sari tersenyum malu. “Kebetulan ibu di kampung sangat rajin membuat kue, Oma. Biasanya ibu titipkan ke warung-warung.” Nada suara Sari terdengar bangga, matanya berbinar saat menyebut ibunya.
Mommy berhenti sejenak mengaduk adonan. “Kedengaran hangat sekali.”
Sari mengangguk. “Ibu selalu bilang, kue itu bukan cuma soal rasa… tapi juga niat.”
Mommy menatap Sari dengan pandangan lembut. “Oma yakin, ibu kamu perempuan yang hebat.”
Sari hanya tersenyum, lalu kembali fokus ke adonan.
Beberapa saat kemudian, Mommy bertanya dengan hati-hati,
“Kalau Oma boleh tahu… ayah kamu di mana, Sari?”
Gerakan tangan Sari terhenti. Hanya sesaat.
Lalu ia mengangkat wajahnya, tersenyum manis senyum yang terlalu tenang untuk sebuah kehilangan besar. “Bapak sudah tenang di surga,” jawabnya singkat.
Tidak ada air mata. Tidak ada nada sedih berlebihan.
Justru itulah yang membuat hati Mommy terenyuh.
“Oh…” Mommy terdiam, lalu segera tersenyum kembali.
“Pasti beliau bangga sekali punya anak seperti kamu.”
Sari mengangguk kecil.
Mommy tidak melanjutkan pertanyaan itu. Ia tahu, beberapa luka tidak perlu dikorek untuk membuktikan empati.
“Oya,” Mommy cepat-cepat mengalihkan pembicaraan.
“Setelah ini kita bikin kue cokelat ya. Queen paling suka yang itu.”
Sari terlihat lega. “Baik, Oma.”
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.
kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍
Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍