Gita adalah cewek gendut dan tomboy, dia sangat sangat pede dengan penampilannya bahkan dia tidak peduli jika ada orang yang menghinannya.
Suatu hari, Gilang cowok paling populer, ganteng, baik hati, cool datang ke kelas Gita dan mengajak ngedate.
Apakah Gita akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budy alifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngambek
Gita membuka mata lalu mengucek kedua matanya.
"Kemana mereka?" tanyanya sambil menguap. Gita bangun lalu memutari toko boneka.
"Sial.. gue di tinggalin ini. Keterlaluan mereka ya. Sengaja banget kayaknya mau ngerjain gue." Gita manyun. Dia kesal lalu pergi untuk mencari taksi.
"Sial banget sih gue, dasar Gilang sinting. Lihat saja besok gue bakalan balas lo." Gita terus mengomel.
Gita duduk halte depan mall menunggu taksi yang lewat. Dia tidak bisa menelpon Raka atau yang lainnya karena dia tidak membawa ponsel.
...◇◇◇◇◇...
Gilang, Raka dan Qila kembali ke Toko boneka untuk menemui Gita.
"Bahaya nih dia udah nggak di sini." kata Raka.
"Bisa ngamuk nih nanti dia." tambah Qila.
"Mbak maaf mau tanya, apa mbak tadi lihat cewek seumuran kita tingginya sebahu saya sama gendut." Gilang bertanya serta menyebutkan ciri-cirinya.
"Sudah pergi, tadi sempat ketiduran di kursi itu."
"Ok makasih Mbak." kata Qila.
"Ayo buruan sebelum Gita naik taksi." Raka lari lebih dulu agar bisa menyusul Gita.
Gilang dan Raka lari dengan cepat, mereka harus segera menemukan Gita. Gilang dan Raka mengatur napasnya yang ngos-ngosan .
"Dia sudah pulang kali." kata Gilang masih ngos-ngosan.
"Ya udah yuk buruan kita pulang." ajak Raka.
Mereka bertiga yang awanya mau santai jadi panik. Mereka jadi kepikiran Gita apa lagi di telpon berkali-kali tidak di angkat.
"Ka, gue takut kalau Gita kenapa-kenapa." Qila panik.
"Tenang, dia pasti baik-baik saja. lo jangan cemas." Raka menenangkan Qila. Padahal dirinya sendiri juga panik namun dia menyembunyikan di depan Gilang dan juga Qila.
"Gue jadi merasa bersalah." kata Gilang.
"Udahlah nggak usah merasa bersalah sendirian begitu. Kita bertiga bersalah karena melupakan Gita.
Setelah sampai rumah Raka langsung turun dari mobil, dia berlari masuk rumah. Gilang tertunduk sebentar dia merasa semakin bersalah melihat Raka yang sangat cemas meskipun dia sepanjang perjalanan menenangkan dirinya dan Qila.
"Tenang saja Gita akan baik-baik saja kok." kata Qila. "Lo balik saja sudah malam nanti gue kabarin."
"Iya." Gilang kembali menuju mobilnya.
"Qila, gue mau tanya sesuatu." Gilang memutar tubuhnya.
"Apa?"
"Sebenarnya apa hubungan Raka sama Gita, apa Gita tinggal satu rumah dengan kalian?" tanya Gilang.
Qila terdiam, dia menggigit bibirnya karena bingung menjelaskannya.
"Iya, Gita selalu tidur di rumah ini. Karena kami tumbuh dari kecil bersama jadi kita sering menghabiskan waktu bersama. Seperti tidur di rumah ini."
"Apa keluarganya tidak keberatan dia kan anak gadis dan di rumah lo ada beberapa laki-laki."
"Lo sangat perhatian sama Gita, gue sebenarnya iri sama Gita karena dia selalu mendaptkan perhatian penuh dari orang-orang sekitarnya." Qila menatap Gilang nanar sambil tersenyum tipis.
"Kenapa harus iri bukan kan banyak juga yang perhatian sama lo. Lo itu cewek idaman di sekolah. Udah cantik pintar lagi lalu apa yang lo iri dari Gita." jelas Gilang.
"Benar juga." kata Qila tiba-tiba malu karena berkata yang tidak-tidak.
"Ya sudah gue balik dulu ya, kabarin gue kalau udah ketemu Gita." pinta Gilang.
"Pasti."
Qila melambaikan tangan saat mobil Gilang mulai meninggalkan rumahnya.
"Asal lo tahu Lang, gue iri sama Gita yang mendapatkan hati lo tanpa susah payah mengejarnya. Dia juga sangat ceria dan berani membuat keputusan. Dan semua itu gue tidak bisa mendapatkanya bahkan tidak ada yang bisa menerima gue setulus lo mencintai Gita. Dia hanya akan mengatakan gue cantik, pintar dan hal-hal yang bagus." kata Qila.
...◇◇◇◇◇...
Raka dan Qila kelabakan karena semalam Gita sudah tidak mau membuka pintu dan ngobrol. Dan pagi ini Gita sudah berangkat lebih pagi meninghalkan mereka berdua.
Raka memarkirkan motornya dan bergegas ke kelas menemui Gita.
"Raka!" panggil Gilang sambil lari mengejar Raka.
"Ya, ada apa Lang?"
"Kenapa lo buru-buru?" tanya Gilang masih ikut berlari.
"Gue mau ketemu Gita, dia menghindari gue. Berangkat sekolah aja sendiri."
"Jadi Gita belum memaafkan kita?"
"Ya."
"Gue ikut ke kelas lo, biar gue yang bicara."
Raka berhenti, " Udah lo balik aja deh, daripada dia makin benci sama lo."
"Nggak apa, ini kan memang salah gue juga jadi gue juga harus tanggung jawab." Gilang kekeh ikut menemui Gita.
"Oke, tapi resiko tanggung sendiri ya."
"Hem."
Mereka berdua bergegas menemui Gita sebelum bel berdering.
"Ta." panggil Raka sambil mendekati Gita. Gita melirik sekilas lalu membuang muka.
"Maafin kita, semalam nggak sengaja." ujar Raka.
"Iya, Kita bertiga benar-benar lupa kalau lo ikut. Kan awalnya lo nggak ada jadi kita pikir hanya pergi bertiga." Gilang membantu menjelaskan.
"Ta, please maafin kita." Rengek Raka sambil memegang lengan Gita.
Gita menepis tangan Raka, "Lepasin tangan gue, jangan ngomong lagi sama gue."
"Gita, lo jangan marah sama Raka. Semua itu kemarin salah gue."
"Terutam lo Kak, jangan lagi ngomong sama gue. Lo boleh benci sama gue tapi nggak begitu caranya. Gimana kalau gue kenapa-kenapa apa lo mau tanggung jawab." Gita melimpahkan kekesalannya kepada Gilang.
"Ta, cukup deh. Lo jangan salahin Gilang. Kita sudah minta maaf dan lupa itu manusiawi. Kalau lo emang nggak mau maafin kita nggak masalah. Setidaknya kita sudah minta maaf." Raka menarik gilang keluar kelas.
Gita semakin kesal dengan Raka, "Kenapa jadi dia yang marah, perasaan korbanya juga gue." Gita melipat kedua tangannya di dada dengan wajah cemberut.
"Memangnya kalian kenapa sih?" Anita bingung melihat perdebatan sahabatnya.
"Kemarin itu gue pergi sama Fara, dan nggak sengaja ketemu Raka,Kak Gilang sama Kak Qila. Gue mau balik bareng Fara dan setelah itu gue di tinggalin gitu aja. Untung masih ada taksi." cerita Gita.
"Jadi lo beneran di tinggalin?" samber Fara yang baru saja datang.
"Iya."
"Wah, keterlaluan banget mereka. "
"Sengaja tuh pasti kak Gilang balas dendam sama gue."
"Jangan nething gitu lah, siapa tahu mereka benar-benar lupa." Anita menasehati Gita.
"Masa orang segede gaban bisa ketinggalan."Fara tertawa. Dia tak kuat lagi menahan tawanya.
"Terus...terusin Ra, teman lagi kesal juga di ledekin." Gita makin manyun.
"Ya habis lucu banget."
"Udah ah Ra jangan di ketawain kasian. Gita lo jangan ngambek lama-lama. Maafin mereka apalagi Gilang lo terlalu banyak mengumpat sama dia loh."
"Biarin orang dia yang salah."
"Iya tahu, tapi kan udah minta maaf masa lo nggak bisa maafin dia."
"Belum bisa masih kesal." Gita masih kekeh belum mau memaafkan kesalahan Raka, Gilang dan Qila yang melupakannya.