Di saat Arumi mengalami kesulitan karena ibunya sakit keras, Rina - sang ibu tiri menawarinya uang dalam jumlah besar. Dengan syarat, Arumi harus bersedia tidur dengan calon suami kakak kembarnya.
Tujuh tahun berlalu, seorang anak lelaki berusia enam tahun hadir. Aqeel Elvano, bocah dengan kecerdasan yang luar biasa di bidang kesehatan.
Bagaimanakah nasib Arumi? Dan siapakah Aqeel Elvano? Hanya bisa kamu temukan jawabannya ketika membaca kisah dasyat ini. Happy reading....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi Alena
Deretan suara pintu membuat Alena menolehkan kepalanya guna melihat sosok yang baru saja masuk.
Dahinya berkerut tipis, saat netranya beradu pandang dengan sosok wanita yang kini berdiri diambang pintu. Dalam hatinya bertanya-tanya siapa wanita itu.
Begitu pula dengan sosok wanita itu, ia menelan salivannya susah payah saat melihat Alena, kembaran sahabatnya.
"Mama," Teriak Aqeel menyadarkan adu pandang keduanya.
Alena baru saja hendak berucap, bertanya siapa gerangan orang yang sudah berani masuk tanpa izin. Sesaat kemudian, Alena menghela napas lega. Beruntung ia belum menanyakan siapa wanita itu. Bila saja sudah, penyamarannya pasti akan terbongkar saat itu juga. Alena yakin, sosok yang satu ruang dengannya pastilah Lulu, teman Arumi.
Lulu tersenyum simpul, ia lantas mendekati Aqeel.
"Aku pikir kau hanya bergurau dengan pura-pura sakit, ternyata serius?" Canda Lulu mengelus puncak kepala Aqeel. Setelah puas ia langsung memeluk Aqeel yang kini tengah duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Tentu saja. Aku juga manusia biasa," Ucap Aqeel sedikit memajukan bibirnya.
"Jika kau sadar manusia biasa, harusnya kau tak menguji kekuatan untuk menabrak mobil." Sahut Lulu.
Aqeel semakin geram pada Lulu. Namun, Lulu mengecup pucuk kepala Aqeel dengan lembut. Membuat anak kecil itu tersenyum kembali.
Meskipun mereka tak memiliki ikatan darah, tetapi Lulu sudah merawatnya sejak bayi. Sehingga hubungan keduanya sudah persis seperti ibu dan anak.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Lulu penuh dengan kekhawatiran.
Aqeel menggeleng lemah. "Tidak."
"Apanya yang sakit? Biar Mama panggil dokter ya," Sahut Lulu cemas.
"Tidak. Duniaku menjadi tidak baik-baik sejak kau datang kesini." Ujar Aqeel cepat.
Lulu mendesis gemas. Kalau saja keadaan bocah itu sudah lebih baik, ingin sekali ia menampol mulutnya.
Kedua orang itu, berdrama seperti biasa hingga melupakan sosok Alena. Alena tanpa risih dengan adegan dramatis keduanya. Ia memutar bola matanya malas dan bangkit dari kursi. "Lu, maaf. Aku ingin ke toilet sebentar. Aku titip Aqeel padamu ya?" Tutur Alena lembut mungkin meniru Arumi.
Lulu mengangguk canggung. Ia tahu bila seseorang yang tengah berbicara dengannya bukanlah Arumi, melainkan sosok asing.
Alena berjalan gontai menuju pintu. Berharap setelah keluar ruangan ia bisa menghirup udara bebas.
"Mama dari mana saja? Kenapa baru mengunjungi ku sekarang?" tanya Aqeel.
Awww ....
Suara jeritan Alena membuat bibir Lulu yang hampir terbuka kini tertutup kembali. Netra mereka serempak tertuju ke arah suara, dilihatnya Alena yang tengah mengusap dahinya.
Lulu dan Aqeel telihat sangat terkejut, terkejut bukan karena dahinya tercium pintu, tetapi mereka terkejut mendengar kalimat Alena selanjutnya.
"Apa matamu buta?" Ujar Alena kesal melotot tajam.
"Maaf aku tidak sengaja non ... eh, Alena!" Ucap Fauzan. Walau sebenarnya bukan salahnya juga. Ia hanya sedang membuka pintu dari luar, dan tak sengaja pintu itu mendadak terbuka menampilkan sosok Alena hingga dahi Alena terbentur.
Alena menahan napas sebentar saat sadar di sana mereka tak hanya berdua ia melirik sekilas pada Lulu dan Aqeel. Dan benar saja, reaksi keduanya sangat terkejut. Alena mengepalkan tangannya. Ia tak bisa leluasa untuk memaki laki-laki di depannya yang seperti mengenal dirinya.
"Minggir kau," Ucap Alena sembari menabrak lengan Fauzan yang patah-patah menggeser tubuhnya. Ia terlalu larut dalam emosi hingga tak sadar dari kejauhan ada seseorang yang tengah mengawasinya.
'Benar kata mamah. Sepertinya aku harus melenyapkan semua orang, " Batin Alena kini menjadi yakin.
Fauzan mengelus dadanya. Baru kali ini ia melihat seorang yang ia kenal sebagai istri dari David sekasar itu. Namun, ia tak mau memusingkan nya.
"Mah, apa selama aku berada di rumah sakit terjadi sesuatu? Aku merasa bunda banyak berubah," tanya Aqeel heran. Ini bukan pertama kalinya melihat sang Bunda bersikap seperti itu.
Lulu menghela napas berat. Tentu saja dia bersikap seperti itu. 'Dia bukan bundamu yang asli, 'batin Lulu.
"Apa kau seorang janda?" Tugas Fauzan yang tadi mendengar Aqeel memanggil Lulu sebagai mamanya, dan hal itu juga menyadarkan Lulu jika ada sosok lelaki yang ingin ia lenyapkan dari muka bumi ini.
"Untuk apa kau mengikutiku?" tanya Lulu ketus.
"Aku tidak mengikutimu, ini kan tempatku magang, dan kebetulan tadi aku sedang visit, eh aku lihat bidadari surgaku di sini." Jelas Fauzan membuat Lulu jengah.
"Dia siapa, Mah?" tanya Aqeel penasaran.
"Jangan kau pikirkan, dia ...."
"Kenalkan aku calon suami, mamahmu." Sahut Fauzan memotong ucapan Lulu.
"Calon suami? Ah, kau bercanda om. Selera mamahku itu tinggi." Ketus Aqeel tak percaya dengan ucapan Fauzan.
"Anak genius," puji Lulu pada Aqeel.
"Ah, benar. Aku tahu selera mamah mu itu tinggi, makanya dia bisa mendapatkan, Om. Apa kau tahu, jika selera om itu rendah jadi Om dapat mamahmu?" Tukas Fauzan membuat dua orang itu memancarkan sinar peperangan.
"Aqeel." Panggil Yolanda yang baru saja masuk ke ruang rawat Aqeel. Membuat cahaya peperangan itu menghilang seketika.
"Hem ...." Jawab Aqeel seadanya, ia samar-samar mengingat wanita itu.
"Ini saya orang yang kau selamatkan, perkenalkan nama saya Yolanda." Yolanda mengenalkan dirinya.
"Lain kali berjalan dengan benar." Ketus Aqeel.
"Aqeel, kau tidak boleh berbicara seperti itu." Ujar Lulu sembari menghadiahi Aqeel satu sentilan di dahi Aqeel.
"Sakit Mah. Apa kau ingin membuat ku gagar otak?"
"Aku ingin membuatmu, sadar jika sikapmu itu tidak benar." Jelas Lulu.
Lulu mengalihkan pandangannya pada sosok wanita paru baya yang tadi mengenalkan dirinya bernama Yolanda. Ingatannya kembali berputar pada orang yang sempat ia tanyai tentang Arumi. Jika ia mengenal Aqeel, berarti dugaannya tadi benar. Nyawa Arumi dalam bahaya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Fauzan pada Lulu yang mendapatkan balasan gelengan kepala. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke Yolanda lalu memberikan salam hormat. "Ibu negara ada di sini?"
"Kau kenapa di sini? Bukannya bekerja dengan baik, ingat ya aku bisa saja melaporkan ini semua pada ayahmu."
"Laporkan saja." Jawab Fauzan cuek. "lagipula Aku sedang menemani calon istriku!" Imbuhnya.
"Apa calon istri?"
"Iya ibu Yolanda yang sudah sah menjadi ibu negara. Kenalkan ini Lulu calon istriku." Ungkap Fauzan, tangannya merangkul pundak Lulu, hingga membuat Lulu risih.
Yolanda memijit pelipisnya, tak percaya dengan apa yang diucapkan Fauzan. Baru saja ia berdoa semoga anak dan saudaranya tak menikah dengan wanita seperti Lulu, namun kenyataannya doanya tak terkabul.
Awww ...
Teriakkan Fauzan membuat Yolanda mengalihkan pandangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Yolanda khawatir.
"Dia sudah membuat kejantanan ku terluka." Ujar Fauzan sembari menahan rasa sakit.
Aqeel dan Lulu tersenyum puas melihat Fauzan yang kini kesakitan.
"Om, apa perlu kita lakukan operasi?" tanya Aqeel bergurau.
"Operasi?"
"Ya, operasi kelamin!"
"Sepertinya kau harus diberikan pelajaran." ujar Fauzan mendekati Aqeel, dan bersiap untuk mencekiknya.
"Berani menyentuhnya akan ku buat kau menanggung akibatnya!"