Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Keluarga Keysa
“Maaf jika lancang,” ucap Reynan seraya mengusap pipi Zara, di mana tempat ia mengecupnya barusan.
“Em-ya-ya … kamu memang lancang,” kata Zara dengan gugup, ia pun berjalan menuju meja rias. Menjauh dari Reynan.
Sungguh saat ini wajahnya terasa panas, debar jantungnya pun cukup cepat.
Reynan mendekat lagi ke arah Zara. “Baju ini cocok dipakai kamu,” kata Reynan lagi.
“Y-ya. Aku tau,” jawabnya, seraya mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Reynan mengulum senyum. Ia tahu jika Zara tengah gugup.
“Mau ngapain?” tanya Zara cepat, kala tubuh Reynand merunduk dengan tangan kanan terulur ke meja rias.
Dari belakang, nampak jika Reynan tengah memeluk Zara.
“Mau ambil ini,” kata Reynan seraya mengambil minyak rambut.
“Ooh …”
“Hem.” Reynan menjawab dengan gumaman. Tangannya mengambil minyak rambut, lalu ia usap-usapkan ke rambut.
“Bisa jauhan dikit gak sih?” Zara merasa risih, kala Reynan berdiri di belakangnya.
“Memangnya kenapa? Saya lagi bersiap. Kalo nunggu kamu, nanti kita akan terlambat,” ucapnya.
Zara mendengus. Namun ia kembali melanjutkan kegiatannya dan membiarkan Reynan berada di belakangnya.
Setelah memakai minyak rambut, Reynan menyisir rambutnya dengan rapi.
Setengah jam kemudian, keduanya sudah siap.
Zara memakai long dress midi berwarna merah marun dengan belah samping setinggi paha. Dengan model kerah sweetheart neckline.
Rambutnya ia biarkan terurai dengan ujung rambut dibuat curly.
Tampak cantik dan begitu elegan. Di tangan kiri melingkar jam tangan dan tangan kanannya menenteng tas berwarna hitam. Senada dengan heels yang ia pakai.
Sedangkan dengan Reynan, ia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna abu dengan celana jeans berwarna navy.
Keduanya tampak serasi, yang satu cantik elegan sedangkan satunya lagi tampan menawan.
“Kita ke rumah Papa dulu,” ucap Reynan.
“Iya,” jawab Zara singkat.
Saat ini, hatinya masih berdebar-debar dan entah kenapa, tatapan Reynan padanya seperti begitu dalam.
“Oh iya … besok hari sabtu, kamu libur ‘kan?” tanya Reynan pada Zara.
“Iya … libur,” jawabnya.
Reynan menganggukan kepalanya. “kita harus bahas lagi tentang kerja kamu, Za.”
Zara langsung menoleh pada Reynan. “jadi mau kamu gimana?” lanjut Reynan.
Zara diam sebentar. “Em- masih mau kerja,” jawab Zara dengan lirih.
Reynan mengangguk-anggukan kepalanya. “Ya sudah kalo itu mau kamu. Saya tidak bisa memaksa. Tapi ya maaf, saya tidak bisa ikut kamu. Ya … nanti mungkin, seminggu sekali saya akan ke Tangerang.”
Keduanya kembali diam.
“Kalo saya lagi gak ada waktu, ya kamu yang ke Jakarta. Lagian sabtu minggu libur,” lanjutnya.
Zara diam sebentar. “Apa gak apa-apa?” tanyanya.
“Sebenarnya … terlihat kurang baik, tapi ya gimana lagi? Kamu resign gak mau dan saya juga gak bisa tinggal di Tangerang terus.”
“Em- ya sudah, kita jalanin dulu seperti itu. Nanti kita liat lagi kedepannya gimana.”
Reynan menganggukan kepalanya. Ia setuju.
Kini mobil Reynan sudah tiba di kediaman Reza.
“Udah siap?” tanya Reynan pada kedua orang tuanya, yang sedang duduk di ruang tamu.
“Kita udah nunggu dari tadi. Rey,” sahut Yola.
“Ya udah, ayo kita berangkat sekarang. Kayaknya mereka udah sampai,” kata Reza.
“Oh ya … kalian pake ini.” Tiba-tiba Yola menyerahkan satu kotak berwarna merah pada Reynan.
“Em- apa ini, Ma?” tanya Reynan.
“Buka aja,” titahnya.
Reynan pun membuka kotak itu. “Cincin?”
“Iya, cincin. Tadi Mama mendadak beli. Mama inget kalo kalian gak pake cincin nikah, bisa berabe nanti keluarga Keysa kalo kalian udah nikah tapi gak pake cincin,” ucap Yola.
“Oh iya. Aku gak kepikiran. Makasih, Ma.” Reynan bicara, setelah itu ia mengecup pipi Yola.
“Sama-sama,” jawab Yola dengan senyum, tidak lupa tanggalnya mengusap lengan sang anak.
“Tapi maaf ya, Za. Kalo misal cincinya agak longgar, soalnya Mama gak tau ukurannya,” lanjutnya. “Kalo memang kebesaran, nanti diperbaiki lagi. Ini soalnya lagi urgen,” sambungnya.
“Iya, Ma. Gak apa-apa,” jawab Zara.
“Sini tangan kamu,” kata Reynan.
Dengan ragu, Zara pun mengulurkan tangannya dan Reynan pun langsung memakaikan cincin itu ke jari manis Zara.
“Pas, ya? Gak longgar ‘kan?” tanya Reynan seraya memutar-mutar cincin itu di jari Zara. Yang memang susah.
“Iya. Ini Pas, Ma. Gak longgar,” kata Zara.
“Alhamdulillah … syukurlah kalo begitu. Ya sudah, sekarang ayo pergi. Gak ada yang ketinggalan ‘kan?” tanya Yola.
“Rendi gak ikut?” tanya Reynan.
“Gak mau ikut dia,” jawab Yola.
“Ayo kita pergi sekarang,” kata Reza.
Kini mereka pun masuk ke dalam mobil. Reza dan Yola seperti biasa, mereka ada di mobil sendiri dengan sopir pribadinya.
***
Tiga puluh menit di perjalanan, mereka pun sampai di restoran ternama di Jakarta.
Zara merasa gugup, apa yang akan terjadi di sana? Zara mulai overthinking, dengan segala macam yang mungkin akan terjadi.
Bisa pula nanti si cewek itu, tetap ingin menikah dengan Reynan. Menjadi madu tidak apa-apa.
Lalu nanti dirinya bagaimana? Mundur atau maju?
Mundur, sudah pasti dengan segala resikonya. Maju pun, sama saja.
Mundur, mungkin dengan segala omongan-omongan orang diluar sana. Mengingat ia sudah gagal menikah dengan Danish, lalu dinikahi Reynan. Namun tidak lama, cerai juga.
Kalau maju, apa ia akan kuat dengan hati dan segala masalahnya? Tidak mungkin tidak ada masalah bukan?!
Meski belum ada perasaan pada Reynan, tapi rasanya sangat disayangkan jika melepaskan seorang Reynan begitu saja.
Zara membuang napas dengan kasar.
“Kenapa, gugup?” tanya Reynan, yang mendengar Zara membuang napas kasar.
“Em, nggak.”
“Ayo keluar,” ajak Reynan.
Keduanya pun, keluar dari mobil. Reza dan Yola sudah keluar lebih dulu.
Kini mereka mengayunkan langkahnya untuk masuk ke restoran itu.
“Jangan dilepas,” ucap Reynan, seraya mengambil tangan Zara lalu melingkarkan pada tangannya.
Zara menjawab dengan deheman.
Selain ia gugup, jantungnya pula berdebar-debar.
Mungkin kalo tidak pakai make up, sudah dipastikan jika pipinya memerah dan akan malu, jika itu sampai ketahuan.
“Selamat malam Pak Joko,” kata Reza seraya mengulurkan tangannya.
“Eh, Pak Reza. Malam … malam …” Joko menyambut kedatangan calon besannya dengan suka cita.
Namun tidak lama, senyum itu surut. Kala melihat Reynan berjalan dengan seorang wanita di sampingnya.
“Pak Reza … siapa yang dibawa Reynan itu?” tanya Joko langsung.
“Oh i-ini—”
“Istri saya, Pak.” Reynan langsung menjawabnya tanpa ada keraguan.
Joko membulatkan matanya, ia shock. Begitu pula dengan Keysa.
“Maksud Mas Rey apa? Bukannya kita akan menikah?” tanya Keysa dengan mata tajam menatap Zara.
“Em … begini. Sebelum kita bicara ke inti, lebih baik kita makan dulu ya Pak Joko. Perut saya sudah lapar,” ucap Reza dengan setengah candaan, meski terasa garing.
Ya bagaimana tidak, sekarang situasinya tidak mengenakkan.
Sebenarnya sudah Reza tebak akan seperti ini. Namun tidak secepat ini juga mungkin, ya?!
Joko berdecak kesal. Namun begitu, Joko pun menuruti apa kata Reza.
Hidangan yang sebelumnya sudah Joko persiapkan untuk tamu spesial, dengan menu yang mahal dan tentunya enak. Kini, makanan itu seolah seperti makanan yang biasa saja. Rasanya hambar. Makan sate pun, terasa sedang makan karet. Makan sop ikan, yang seharusnya terasa enak dan segar, kini terasa sedang memakan ikan godog yang tidak dikasih bumbu.
Makan Dessert pun, yang seharusnya terasa manis dan lembut di mulut. Kini terasa sedang memakan tanah, pahit dan berpasir.
Tapi itu bagi keluarga Kesya, sedangkan dengan keluarga Reza, mereka makan dengan lahap dan begitu menikmati.
Apalagi Reza dan Reynan, seolah mereka tidak punya beban apapun.
“Saya tidak bisa menikmati makanan ini, Pak Reza.” Joko langsung menaruh alat makannya di atas piring. “saya mau tau jelasnya, dengan apa yang dikata Reynan tadi.”
***
terima kasih yang udah baca karya perdana author disini.
jangan lupa komen ya, biar author tambah semangat. maaf, jadwal updatenya gak tentu. kalo boleh, komen ya mau update di jm berapa?!