Seorang gadis miskin yang terjebak dalam kehidupan duda kaya berdarah Jerman. Bukan atas keinginan Naina mau menikah dengan duda yang super dingin dan cuek ini. Tetapi keadaan dan juga rasa terima kasih yang membuatnya mau tidak mau menerima pernikahan tersebut.
Awalnya Naina pikir hidupnya akan tenang setelah menikahi bule berstatus duda ini. Namun Naina salah besar!
Suaminya bahkan tidak pernah memandangnya sebagai istrinya sedikit pun. Bule dingin itu menganggapnya hanya sebagai baby sitter putranya yang sudah berusia tujuh tahun
Tidak hanya itu, Steven, putra sambungnya, juga tidak pernah menganggap dirinya sebagai ibu sambungnya.
Semuanya begitu rumit baginya, menghadapi dua makhluk dingin yang setiap harinya mengolok-olok dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia Butera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan
Setelah mendapat perawatan intensif, Naina bisa sembuh dengan cepat. Setelah empat hari, Naina sudah keluar dari rumah sakit, dan melanjutkan perawatan di rumah.
Dan selama menjalani perawatan di rumah, Naina merasa aneh, karena Reygan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Jelas Naina bertanya-tanya. Reygan adalah sosok pria workaholic. Bekerja tanpa kenal waktu, dan paling tidak suka absen ke kantor.
Reygan selalu bekerja di rumah. Dan yang lebih anehnya, pria itu selalu berada di dekatnya dimana pun Naina berada di rumah ini.
Jika kalian pikir, Naina dirawat oleh Elisa, maka kalian salah total. Reygan lebih sering membantu Naina melakukan apapun. Kecuali mandi. Naina tidak akan mau.
Sore itu Naina sedang bersandar di tempat tidur. Pintu balkon terbuka lebar, membiarkan matahari sore menerobos ke dalam kamar, memancar tepat di tempat tidur.
Naina begitu menikmati momen ini. Dia memejamkan matanya, merelaksasikan tubuhnya yang hanya berbaring selama empat hari ini.
Pintu kamar terbuka, bukan Steve yang datang, melainkan pria tertampan di rumah ini. Siapa lagi kalau bukan Reygan.
Pria itu membawa sebuah mangkuk kaca berisi salad buah. Dia meletakkan di nakas sebelah tempat tidur.
"Salad?" tanya Naina, memperhatikan Reygan bingung. Pasalnya dia tidak meminta dibuatkan salad.
"Elisa yang buat." kata pria itu dengan wajah datarnya.
Reygan berjalan ke sofa, melanjutkan pekerjaannya lagi.
"Kamu nggak kerja lagi?" tanya Naina. Tangan mungilnya memindahkan mangkuk ke pangkuannya, kemudian memakan buah pertamanya.
Reygan hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kenapa? Bukannya di kantor kalian sangat sibuk?" tanyanya lagi. Karena memang benar. Akibat kerja sama antara CA Corp Dan DA Corp, kedua perusahaan itu semakin sibuk-sibuknya. Baik karyawan maupun atasan. Apalagi Reygan, harusnya pria itu menghabiskan 24/7 waktunya di kantor beberapa bulan ini.
Reygan tidak menjawab pertanyaannya, membuat Naina berdecak kesal.
Naina akhirnya memilih menghidupkan TV. Naina bosan, karena selama beberapa hari ini dia hanya menonton, tidur, jalan kaki sebentar lalu tidur lagi. Semua itu dilakukan berulang-ulang setiap harinya.
Naina tidak tertarik menonton lagi. Dia butuh teman bicara. Tidak mungkin dia bicara dengan manusia kulkas di depan sana. Sedangkan Steve masih belajar bersama guru privatnya.
Reygan tiba-tiba berdiri, berjalan menghampirinya. Sebuah kertas yang sudah dilipat dengan rapi diberikan padanya.
"Apa ini?" tanya Naina bingung.
"Baca saja."
Naina menerima surat itu. Membukanya dan mulai membaca. Maniknya membulat sempurna hanya membaca surat kepala.
Surat Pengunduran Diri.
"Apa-apaan ini?!" protesnya.
Reygan seakan tidak merasa bersalah, "Masih ingat perintahku waktu itu? Kamu harus menurutinya." ujar Reygan dengan aura dinginnya. Berharap Naina menurut padanya.
Namun Reygan salah total. Naina terlalu keras kepala untuk diatur oleh manusia macam dirinya.
"Tidak mau! Aku tidak mau!" kecam Naina, dengan melempar surat itu.
Reygan terperangah, pertama kali melihat Naina sangat marah. Wajah mungil itu merah padam, pun matanya juga melotot. Tapi Reygan tidak takut sama sekali. Baginya Naina hanyalah gadis lemah yang tidak bisa apa-apa.
"Tidak ada penolakan. Setelah kamu sembuh, segera antar surat itu ke CA Corp."
Reygan tidak peduli dengan protes Naina.
Naina memejamkan matanya, lalu membukanya lagi seiring dengan helaan kasarnya.
"Apakah ini masih karena Kak Chris?"
Suaranya sangat dalam, dan itu penuh kebencian. Dia muak sampai tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi makhluk yang satu ini.
Reygan diam, menandakan memang benar begitu.
Naina tersenyum sinis, tetapi di saat bersamaan pikirannya terus bekerja untuk mencari cara.
"Oke Baik. Jika memang seperti itu mau Bapak." putusnya.
"Bapak boleh saja menghakimi hubunganku dengan Kak Chris. Dan sebaliknya aku juga harus begitu bukan?" lanjutnya.
"Alena." Naina mengucap nama sang sekretaris, membuat Reygan menyipitkan mata.
"Aku tidak salah jika aku menganggap hubungan kalian lebih dari atasan dan bawahan bukan? Kurasa aku memang tidak salah. Kalian memang memiliki hubungan khusus." kecamnya.
Akhirnya Naina menggunakan cara ini. Membuat kesepakatan pada manusia es ini.
"Sebagai seorang istri tentu aku juga merasa sangat keberatan anda dekat-dekat dengan wanita lain." Naina tersenyum sinis. "Tidak mungkin kan aku memintamu mengundurkan diri dari perusahaan? Maka dari itu pecat Alena dari perusahaanmu, jangan biarkan dia berkeliaran di sekitarmu."
Reygan lagi-lagi dibungkam wanita kecil itu. Naina terlalu pandai melawannya.
"Bagaimana Pak Reygan? Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan Kak Chris. Tetapi aku juga harus mendapat keadilan. Pecat Alena dari perusahaan."
Senyum kemenangan terbit di wajah Naina. Dia berpikir Reygan pasti tidak akan mau menerima kesepakatan ini. Mana mungkin dia mau jauh-jauh dari Alena.
"Baik. Aku akan melakukannya."
Sebuah jawaban yang tidak terduga keluar dari mulut tajam Reygan Dos Santos. Dan sanggup membuat wajah sang istri memucat.
Dasar!!!!
TBC
ngaca lah dikit,sok sokan mo nyuruh nyuruh dia sendiri aja sama!! bahkan lebih buruk, kekasih!!👿😈
sudah kau punya istri seindah itu bak bidadari turun kayangan Masih aja lu ya SAIPUL!!!👿