[[ TAMAT ]]
IG : @rumaika_sally
Menikahi temen sebangku semasa SMA. Bagaimana rasanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rumaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melukis Mimpi
"Susi dulu pacaran Bim pas SMP. Ya karena merasa nggak ada yang sayang sama Susi di rumah. Pacar Susi SMA. Susi nurut banget sama dia. Bodoh banget kalau dipikir. Susi sering bohong ke Papa kalau pulang telat. Susi juga sering bolos."
"Bima tau kan kenapa Susi nggak percaya sama Bima? Susi pikir pergaulan Bima kayak Susi dulu." Bima mengangguk.
"Susi rusak banget dulu. Mama tau juga. Susi nggak sanggup menampung penyesalan sendiri. Mama mengerti. Dia juga merasa bersalah. Seharusnya Mama ambil Susi. Tapi Mama pikir Susi bahagia sama Papa dan keluarga baru. Mama meyakinkan kalau Susi tetap berharga. Susi tetap disayang. Dia mengalihkan perhatian Susi sama apa yang Susi suka. Jadi volley itu pelarian Susi juga. Untuk sampai di titik ini, cukup panjang. Susi sama Mama yang simpan sendiri. Tapi sekarang Bima sama Mayang tahu. Susi percaya sama kalian. Ini rahasia kita bertiga. Oke?" Mereka mengangguk setuju.
"Bima jagain Mayang ya. Mayang masih panjang jalannya. Dia baru 15. Dia bisa lebih baik lagi dari kita berdua."
"Oh iya. Mayang sama Bima rencana mau lanjut kuliah dimana setelah lulus?"
Mayang menggeleng, "Nggak tau. Kemarin-kemarin Mayang ngerasa kayaknya Mayang mau nggak lanjut dulu. Tapi sekarang Mayang udah ngerasa berbeda. Nggak kayak dulu lagi."
Lalu giliran Mayang memulai ceritanya. Ia menceritakan segala kegelisahannya. Tali tak sampai ke psikolog seperti Susi. Papa menyarankannya ke psikolog, tapi ia merasa bisa mengatasinya sendiri. Dulu ia yang merasa sendiri, merasa tidak normal, merasa tidak diterima. Tapi tempat ini mengubahnya. Papanya juga menyarankannya untuk rehat dulu setelah lulus. Tapi sekarang Mayang menemukan kepercayaan dirinya lagi. Tapi ia tak tahu, apa yang ia suka. Apa kuliah yang ingin diambilnya.
"Kalau Bima gimana?" Susi melempar pertanyaannya pada Bima.
"Belum tau. Tapi Bima mau kuliah ambil jurusan film kayaknya."
Mayang menoleh mengahadap Bima. Ia menatap tak percaya.
"Mas Bima berubah pikiran?"
"Mmm...Gimana ya. Bima ngerasa selama ini udah banyak bikin Mama kecewa tentang sekolah. Ya Mayang tahu sendiri kan. Nggak tahu nanti Mama ngasih izin nggak. Mama pengin Bima kuliah bisnis kayak dia. Jelas Bima nggak suka. Tapi Mama kayaknya udah putus asa banget. Dia bilang setidaknya Bima lulus SMA aja dia udah seneng. Bima juga banyak berpikir setelah kemarin ketemu teman-teman Om Wira. Mereka lulusan kampus seni. Toh, kuliah sesuai yang kita suka kayaknya Bima bisa."
"Bima banyak nyusahin Mama juga ya selama ini," Bima menatap langit. Tangannya ialipat ke dada. Mayang disampingnya. Memandangnya lekat-lekat. Mas Bimanya, dia sudah banyak berubah.
"Mayang jangan bilang dulu ya sama Mama. Takut Mama kecewa." Mayang menjawab dengan anggukan.
"Menurut Susi, Bima bisa kok. Coba bilang sama Mamanya pelan-pelan. Selama ini mungkin Bima keras kepala. Tapi kalau Bima benar-benar serius, pasti Mamanya bakalan luluh juga. Cuma ya Bima juga buktiin. Kita kan udah dewasa, Bim. Harus mikirin masa depan juga. Coba bikin target 5 tahun kedepan. Bima mau jadi apa, Bima mau kayak apa. Bilang sama Mamanya. Mayang juga. Coba deh."
Ucapan Susi mengingatkan Bima dengan ucapan Om Wira. "5 tahun lagi, Bim. Buktikan kalau kamu pantas."
"Mmm...Mayang Suka apa ya. Mayang udah coba semua dari SMP. Apapun yang Mayang lagi suka, pasti Papa dukung. Sekarang Mayang lagi suka videography juga karena Mas Bima. Kalau musik, Mayang juga suka. Tapi Mayang bener-bener nggak tau. Aneh ya, Mayang nggak punya keinginan atau cita-cita khusus."
"Susi nonton konten yang kalian bikin. Bagus loh. Keren. Unik. Kenapa nggak jadi konten kreator kayak anak-anak Jakarta? Ah, kalian masih mau menetap di sini setelah lulus? Atau balik ke Jakarta?" Susi merasa penasaran.
"Mayang suka tempat ini."
"Bima juga suka."
"Emang jadi konten kreator ada masa depannya?"
"Ada. Bima bisa dikenal banyak orang. Dari situ banyak yang tahu kalau karya Bima bagus. Youtube juga bisa dimonetisasi. Mungkin banyak brand yang bisa kerjasama setalahnya. Itu sumber uang. Susi sejujurnya pengin cepet bisa ngehasilin uang sendiri. Nggak mau nyusahin Mama lagi. Susi pengin fokus kuliah. Kayaknya kalau masih aktif di volley bikin susah fokus."
Sadari kecil, Mayang tak pernah kesulitan uang. Yang ia tahu, kalau butuh sesuatu, Papa akan mengupayakannya dengan mudah. Sekarang dia baru memikirkannya. Suatu saat, dia juga akan menjadi dewasa. Dia tak boleh selamanya bergantung sama Papa.
"Bima pengen jadi sutradara. Atau apa saja pekerjaan di balik layar. Belajar dari apa yang Bima suka kayaknya lebih mudah kan? Bima juga sama kayak Susi. Pengin punya uang sendiri. Apalagi Bima cowok. Udah saatnya Bima mandiri."
"Kenapa kita ngobrolnya jauh banget ya," Susi tertawa. "Tapi Susi seneng. Ada teman berbagi cerita. Susi punya beban pikiran dan keinginan yang banyak juga buat hidup Susi. Udah banyak kesalahan di belakang. Susi nggak mau ulangin."
Mereka bertiga menuliskan mimpinya masing-masing di langit. Susi yang memintanya. Dengan tangan, mereka menuliskannya di langit. Mereka tertawa-tawa. Dia bilang ini rahasia. Suatu hari bertahun-tahun lagi, kalau waktu mempertemukan, ia akan bilang apa yang ia tulis. Mayang ragu, ia belum tau apa mimpinya. Tapi ia menulis juga. Hari itu 3 anak remaja menuliskan mimpinya di langit.
Apapun karya mu bagus thor,,Aku salut sgn perjuangannya Bima 👍🏻👍🏻👍🏻⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️🌺🌺🌺🌺🌺🌹🌹🌹🌹