NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:920
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah lalu

Dan saat itu… ponselnya bergetar.

Naura tersentak kecil. Satu pesan masuk dari nomor yang sama, nomor yang sejak kemarin meminta pesan antar makanan. Kini ia tahu pasti, nomor itu milik Hamka.

Bodohnya… pantas saja ia merasa begitu familiar dengan deretan angka itu.

Naura memejamkan mata sesaat. Ada dorongan kuat untuk mengabaikannya, meletakkan ponsel itu jauh-jauh, berpura-pura tak pernah melihat apa pun. Namun jarinya berkhianat. Ia tetap membacanya.

08255558xxxx

Hai tetangga…

Naura mengernyit, dadanya kembali bergetar. Sapaan itu...terlalu sederhana, terlalu akrab, terlalu menyakitkan.

Belum sempat ia menenangkan diri, pesan lain masuk.

08255558xxxx

Jangan kebanyakan mikir. Istirahat. Udah malem.

Naura melongo. Matanya bergerak ke kanan dan kiri, refleks menoleh seolah ada yang mengawasinya. Bagaimana bisa Hamka tahu? Bagaimana bisa laki-laki itu menebak bahwa ia memang belum tidur, bahwa ia sedang duduk di lantai dengan mata basah dan pikiran berantakan?

Getaran ketiga menyusul.

08255558xxxx

Besok kita ketemu ya. Please… jangan lari lagi.

Naura menghembuskan napas panjang, dadanya naik turun perlahan. Air mata yang tadi mengalir kini tertahan, berganti rasa lelah yang dalam.

Ia menatap layar ponsel itu lama.

Untuk pertama kalinya, tak ada alasan untuk pergi.

Tentu saja… kali ini ia tak bisa lari lagi.

Esok harinya, Naura kembali menjalani rutinitasnya. Ia memiliki jadwal kuliah pagi, dan beruntung pekerjaannya di kafe cukup fleksibel, memungkinkan ia menyesuaikan jam kerja dengan kewajiban kampus. Meski begitu, Naura lebih sering mengambil sift siang—memberinya waktu bernapas sebelum kembali ke hiruk-pikuk kafe.

Saat keluar dari kamar kosnya, langkah Naura terhenti mendadak. Di luar gerbang, sebuah motor sudah terparkir, dan di atasnya duduk Hanif. Laki-laki itu tersenyum begitu melihat Naura, lalu tanpa banyak kata menyodorkan helm ke arahnya..gestur sederhana yang terasa begitu akrab.

Naura menerima helm itu dengan sedikit linglung. Pemandangan itu menghadirkan sensasi dejavu yang tak ia duga. Sekilas, anak dari teman ayahnya ini begitu mirip dengan Haikal, teman SMA-nya dulu,bukan pada wajahnya semata, melainkan pada caranya bersikap: tenang, tanpa banyak bicara, selalu ada di waktu yang tepat.

Naura menghela napas kecil, berusaha menepis kenangan yang tiba-tiba muncul. Ia mengenakan helm itu, lalu naik ke motor Hanif, tanpa menyadari bahwa hari ini..sekali lagi,masa lalu dan masa kini saling berpapasan di dalam kepalanya.

Flashback on

Sebelum Naura pergi ke Jogja bersama ayahnya, ia sempat bertemu Haikal. Saat itu, senja turun pelan, dan halaman rumah Naura terasa lebih sunyi dari biasanya.

“Kal… makasih ya. Selama ini lo banyak bantu gue,” ucap Naura lirih. “Lo emang teman terbaik gue, selain Sisi sama Lala.”

Kata teman ia pertegas, sengaja, meski terasa menyakitkan bagi salah satu pihak.

Naura menunduk sejenak sebelum melanjutkan, “Maaf ya, Kal… kalau gue sering bikin lo nggak nyaman. Lo berhak dapet cewek yang jauh lebih baik.”

Bukan sekali itu Naura menjelaskan bahwa hubungan mereka tak akan pernah lebih dari sekadar teman. Namun meski tahu batas itu jelas, Haikal tetap datang ke rumahnya hampir setiap pagi, menunggu untuk berangkat sekolah bersama, seolah berharap waktu bisa mengubah segalanya.

Karena itu, Haikal benar-benar terkejut saat suatu hari Naura pamit—bukan hanya pamit, tapi pergi untuk pindah sekolah ke kota lain. Tak ada alamat, tak ada tujuan yang disebutkan.

Naura memilih diam.

Ia hanya bercerita pada Sisi dan Lala. Dua sahabatnya itu memang sudah tahu sejak awal bahwa Naura akan pindah ke Jogja. Dan Naura meminta satu hal penting: rahasiakan dari siapa pun. Terutama dari Hamka.

Flashback off

Motor Hanif tiba di kampus tepat saat lonceng pergantian jam hampir berbunyi.

Naura turun dari boncengan, melepas helm, lalu tersenyum kecil.

Kebetulan jadwal mereka sama hari itu, jadi Hanif memang sengaja menjemput Naura.

Bukan hal yang istimewa, tapi cukup untuk membuat pagi terasa lebih ringan.

Mereka berjalan berdampingan menuju gedung fakultas. Di sekitar mereka, mahasiswa lain lalu-lalang,ada yang tergesa, ada yang masih sempat tertawa. Naura menyesuaikan langkahnya, berusaha menenangkan pikirannya yang sejak semalam belum benar-benar tenang.

Hanif melirik sekilas. Ia tahu, Naura sedang banyak pikiran, tapi memilih diam.

Ia bukan tipe yang memaksa orang bercerita.

Sebelum berpisah menuju kelas masing-masing, Hanif berkata pelan,

“Nanti pulang bareng lagi?”

Naura tersenyum tipis..dan berpikir sejenak ,

"Mmmm...boleh ."

Hanif mengangguk, lalu melangkah pergi.

Naura menatap punggungnya sebentar sebelum akhirnya masuk ke kelas,mencoba kembali pada rutinitas, meski hatinya belum sepenuhnya pulang.

Naura dan Hanif kuliah di tempat yang sama.

Dulu, justru Haniflah yang merekomendasikan kampus itu pada Naura.

Saat Naura masih bingung menentukan pilihan antara biaya, jarak, dan waktu yang harus ia bagi dengan pekerjaan.Hanif datang dengan banyak pertimbangan yang masuk akal. Ia bercerita tentang kampus itu dengan mata berbinar, tentang dosen-dosennya yang ramah, jadwal yang cukup fleksibel, dan lingkungan yang tidak menuntut lebih dari kemampuan mahasiswanya.

“Kampusnya nggak ribet, Ra. Cocok buat lo yang harus kerja juga,” kata Hanif waktu itu, santai, seolah hanya memberi saran biasa.

Naura mengangguk, mencatat semua hal yang ia ucapkan. Tanpa banyak ekspektasi, ia akhirnya mendaftar di sana. Dan tak disangka, ia diterima.

Sejak itu, kampus itu menjadi ruang pertemuan mereka. Hanif sering menemaninya mengurus administrasi, menunjukkan gedung-gedung, bahkan menunggu di luar kelas saat Naura masih canggung dengan lingkungan barunya.

Bagi Naura, Hanif adalah teman yang datang di waktu yang tepat.

Tak menuntut, tak memaksa.

Hanya ada,seperti pegangan kecil di kota yang masih asing baginya.

Saat awal kedatangannya ke Jogja, Naura sering ditinggal bekerja oleh ayahnya. Ia terbiasa menyesuaikan diri dengan kesibukan ayahnya yang tak pernah ada waktu luang, meski hati kecilnya kadang rindu akan perhatian yang tak ia dapatkan.

Namun, bertepatan dengan masa kelulusannya dari sekolah, kabar buruk datang menghampiri tanpa ampun. Tiba-tiba rumah mereka ramai didatangi pihak kepolisian. Naura yang tak mengerti apa-apa hanya bisa menangis saat menyaksikan ayahnya dibawa pergi oleh petugas.

Ia tak bisa percaya bahwa ayahnya melakukan hal kotor itu. Ia tahu betapa ayahnya sangat sibuk bekerja, bahkan sering lupa untuk mengunjungi anaknya sendiri. Namun Naura tidak tahu bahwa ayahnya bekerja sama dengan seseorang yang menyebut dirinya teman, namun justru menusuknya dari belakang. Satu tanda tangan yang ia percayai, satu dokumen yang tak diperiksa dengan teliti, mampu membuat dunianya berbalik seratus delapan puluh derajat.

Naura tak cukup bukti untuk meringankan hukuman ayahnya.Meksi saat itu ia dibantu seorang pengacara dari keluarga Hanif,namun tetap saja ayahnya dijatuhi vonis penjara lima belas tahun. Semua aset keluarga disita, meninggalkan Naura dalam kesendirian dan ketidakpastian.

Beruntunglah, di saat-saat paling sulit itu, Hanif berada di sisinya. Ia menjadi sandaran yang bisa diandalkan,membantu Naura mencari tempat tinggal baru, menenangkannya ketika rasa kehilangan dan kebingungan datang, dan memastikan bahwa meski dunianya runtuh, Naura tetap bisa berdiri sedikit lebih kuat setiap harinya.

1
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!