Aku mencintaimu, Ale, tapi aku berpacaran dengan Elang yang tak lain keponakanmu. aku tidak pernah sakit hati putus dengan Elang. tapi aku sakit hati atas pernikahanmu (Kiara)
Kiara Putri Sanjaya, 21 tahun. terlibat hubungan salah sasaran. ia menjalani hubungan palsu dengan Elang selama setahun. terbebas dari Elang, berharap bisa dekat dengan Ale yang tak lain adalah Paman Elang. Namun, Kiara harus menelan pil pahit karena Ale akan menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nas Nasya Nuriva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 33
Ting...
Rio merogoh saku celananya. Indra pendengarannya menangkap sinyal ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Rio mengusap layar ponselnya dan muncul nama Olive sebagai pengirim pesan. Rio membuka pesan dari Olive dengan segera.
Rupanya Olive mengirim pesan berupa video. Rio harus mengunduh video itu terlebih dahulu karena Rio tidak mengatur ponselnya dalam mode otomatis. Hanya butuh beberapa detik bagi ponsel pintar Rio untuk mengunduh video kiriman Olive.
"Haiii Rio! Maaf aku baru berani bicara kepadamu meskipun tidak langsung"
Deg...
Rio membelalakkan matanya. Seketika tubuhnya mematung. Rio mengucek matanya berkali-kali. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat netranya dan di dengar telinganya.
Mimpi? Apa ini mimpi? Rio takut dia sedang berhalusinasi. Ia memukul kepalanya berkali- kali dan tentu saja hal itu membuatnya nyeri. Rio tersenyum. Ternyata dia masih sadar. Rio melanjutkan memutar video kiriman Olive dengan perasaan berdebar.
“Aku hanya bisa mengatakan maaf, maaf, dan maaf atas tindakan kasar Dira kepadamu dan Evan. Aku sungguh malu. Rasanya meskipun aku meminta maaf berkali-kali kepada kalian, itu rasanya tidak cukup"
"Aku pastikan Dira tidak akan melakukan hal itu lagi kepadamu dan Evan. Aku berjanji. Oh iya terima kasih atas gaunnya. Gaun yang cantik. Kau tahu? Saat aku mencobanya aku langsung membayangkan kau berada di sampingku dan tentu saja kau memotretku seperti saat aku pertama kali menginjakkan kaki di kantor Evan.”
“Aku harap momen itu bisa terulang kembali. Aku rindu menjadi model pemotretanmu. Satu lagi, kau tampak jelek. Kemana Rio yang tampan dulu? Aku hampir saja tidak mengenalimu. Aku harap aku bisa bertemu dengan Rio yang dulu. Sudah dulu ya Rio. Bye"
Rio mencium layar ponselnya berkali-kali. Hatinya yang semula hampa kini berubah berbahagia. Air mata lolos begitu saja dari netranya.
Sial! Rio merutuki dirinya sendiri yang berubah menjadi melankolis. Rio memutar kembali video kiriman dari Olive. Sekali, dua kali rasanya tak cukup. Rio benar-benar merindukan Kiara.
“Boy..!”
Evan tiba-tiba masuk ke ruangan Rio. Rio yang masih tenggelam dalam romansa cintanya tidak sadar jika Evan masuk ke ruangannya. Evan yang merasa diacuhkan Rio, segera mendekat dan memperhatikan raut wajah Rio.
“Hei, kau kenapa? Mengapa kau menangis? Oh tidak! Aku benar-benar tidak percaya kau menangis. Kemana jiwa playboy mu, hah?" tanya Evan tidak percaya.
Evan yakin ini pasti ada hubungannya dengan Kiara. Wanita itu benar-benar membuat Rio kacau dan melankolis seperti ini. Bertahun-tahun Evan mengenal Rio, baru hari ini Evan melihat Rio meneteskan air mata. Biasanya Rio yang membuat para wanita menangis bukan sebaliknya.
“Kau rindu Nona Kiara?" tanya Evan.
Rio menggeleng. Dia menyerahkan ponselnya agar Evan bisa melihat video kiriman Olive. Raut wajah Evan berubah sendu setelah memutar video kiriman Olive. Dia bisa merasakan bagaimana perasaan sahabatnya saat ini.
“Boy, aku sudah menyuruhmu mengejarnya berkali-kali tapi kau tidak mau. Aku tahu bagaimana perasaanmu kepadanya.....”
“Aku akan mengejarnya!” ucap Rio memotong perkataan Evan.
“Sudah saatnya aku bergerak. Aku tidak mau diam lagi. Aku akan memperjuangkan cintaku sebelum terlambat” ucap Rio lagi.
“Boy....!!! Apa kau yakin?" tanya Evan dan Rio mengangguk mantap.
Evan memeluk Rio dengan erat. Pertama kalinya sepanjang sejarah persahabatan Rio dan Evan. Bos dan bawahan yang biasanya adu mulut, kini mereka berpelukan erat.
“Kejar cintamu! Dapatkan dia, Boy!" ucap Evan menyemangati.
“Pasti! Aku akan mengejar cintaku" ucap Rio.
“Oh, iya aku sampai lupa!" teriak Evan kemudian melepaskan pelukannya.
“Aku kesini karena ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu"
Evan memberikan sebuah tiket pesawat pada Rio dengan kedua alisnya yang ia gerakkan ke atas beberapa kali. Rio mengambil tiket pesawat pemberian Evan. Ia mengerutkan dahinya. Rio tidak paham dengan maksud Evan yang tiba-tiba menyodorkan tiket pesawat kepadanya..
“Kau akan aku kirim ke Jakarta" ucap Evan.
“Jakarta? Indonesia?” tanya Rio.
Evan mengangguk.
“Kau akan bekerja dengan saudara kembarku, Ivana. Kemarin dia menghubungiku untuk memintamu bekerja dengannya selama beberapa bulan"
“Aku? Kenapa aku? Apakah disana tidak ada fotografer handal?" tanya Rio.
“Bukannya tidak ada tapi dia memang ingin kau yang memegang proyeknya. Ivana melihat foto-foto hasil karyamu dan dia tertarik memakaimu. Sudahlah, jangan banyak pertimbangan! Anggap saja ini hadiah dari Tuhan untukkmu agar bisa memuluskan niatmu" ucap Evan tersenyum menggoda Rio.
“Lalu kapan aku berangkat?" tanya Rio.
“Minggu depan"
“Minggu depan? Secepat itu?" tanya Rio tak percaya.
“Gerak cepat, boy, sebelum wanitamu diambil orang lain” ucap Evan enteng.
“Aku juga sedang dalam proses membuatkan gaun untuk Nona Kiara. Nanti aku bawakan juga dan berikan padanya” tambah Evan.
“Kau gila! Apa Jakarta itu sempit sehingga kau yakin aku bisa bertemu dengan Kiara di sana?” tanya Rio sambil menggelengkan kepalanya.
“Apa gunanya ada Olive yang bisa kau jadikan petunjuk? Sudahlah kau siap-siap saja. Aku akan meneruskan gaun untuk Nona Kiara” ucap Evan kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja Rio.
Sementara di ruang kerja Dira
“Apa??? Si breng sek Vaston akan bekerja di Jakarta?" tanya Dira geram.
Saat ini Dira tengah berbicara dengan salah satu mata-mata yang ia tugaskan untuk memantau gerak-gerik Rio dan Evan.
Sejak peristiwa keributan Rio dan Dira beberapa hari yang lalu, entah mengapa Dira merasa Rio dan Evan perlu diawasi dan benar saja, laporan orang suruhannya hari ini benar-benar membuatnya geram.
“Katakan! Mengapa dia akan bekerja di Jakarta?” tanya Dira lagi.
“Rio akan bekerja selama beberapa bulan dengan saudara kembar Evan, Ivana. Nona Ivana adalah desainer terkenal di Jakarta. Mereka akan terlibat proyek bersama di Jakarta"
“Hmm... proyek bersama? Alasan!!! Mereka pasti sedang merencanakan sesuatu. Kapan Vaston akan berangkat ke Jakarta?”
“Satu minggu lagi, Tuan"
“Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?” tanya Dira dengan senyum liciknya .
“Saya mengerti, Tuan" ucap orang suruhan Dira.
“Pastikan kedua kakinya tidak menyentuh Jakarta”
“Apa perlu saya lenyapkan,Tuan?”
“Tidak perlu! Laksanakan segera tugasmu!” usir Dira.
Orang suruhan Dira membungkuk dan segera keluar dari ruang kerja Dira.
“Jangan pernah berharap kau bisa bertemu Kiara, Vaston! Sampai mati pun aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi" ucap Dira.
___***___
Olive masuk ke ruangan Kiara dengan tumpukan berkas yang harus ia berikan kepada Kiara. Berkas itu adalah laporan-laporan mengenai perusahaan yang kini di tangani Kiara.
Kiara saat ini sedang fokus dengan laptopnya. Beberapa kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada banyak file yang harus dia pelajari mengenai perusahaan miliknya. Kiara harus mempelajari bagaimana pamannya dulu mengelola perusahaan ayahnya itu. Kiara tidak mau perusahaan ini mengalami kemunduran. Kiara bertekad akan membuat perusahaan ini menjadi lebih baik lagi.
“Nona Kiara, ini ada laporan yang harus Anda periksa” ucap Olive sopan. Ia meletakkan tumpukan berkas itu di meja kerja Kiara.
Kiara membelalakkan matanya melihat tumpukan berkas yang dibawa Olive. Ia menatap Olive dan muncullah senyum kecut milik Kiara. Kiara menarik nafas dan membuangnya. Ia menarik kedua tangannya ke atas sambil meregangkan otot-otot badannya.
“Paman kemana?" tanya Kiara.
“Beliau sedang rapat, mewakili Anda, dengan salah satu klien” jelas Olive.
Meskipun Kiara menjadi presdir, Kiara masih meminta Pamannya untuk menghandle tugas-tugas penting yang tidak mungkin ia handle sebagai presdir pemula. Kiara menyandarkan tubuhnya.
“Apa Nona lelah ? Sejak tadi Nona belum istirahat sama sekali" ucal Olive. Ia sebenarnya kasihan melihat Kiara saat ini.
Kiara menggeleng.
“Apa Nona butuh sesuatu? Biar saya minta OB untuk membawakan kesini" tawar Olive lagi dan Kiara tetap menggeleng.
“Oh iya, apakah kau sudah mengirimkan pesanku untuk Rio?" tanya Kiara. Entah mengapa Kiara perlu selingan obrolan agar otaknya tidak jenuh memikirkan pekerjaannya.
Olive tersentak kaget.
“Maaf Nona Kiara, saya lupa mengatakan jika pesan dari Nona sudah saya sampaikan dan Rio sudah membaca pesan dari Anda" ucap Olive sambil membungkuk.
Kiara tersenyum mendengar ucapan Olive. Entah mengapa mendengar Rio membaca pesannya, membuat hati Kiara senang.
“Apa Rio merindukanku?” tanya Kiara tiba-tiba dan hal itu tentu saja hal itu membuat Olive kaget.
“Apakah Nona merindukan Rio?" tanya Olive.
“Entahlah. Aku juga bingung. Ha ha ha..." ucap Kiara dengan tawa garingnya.
Olive melihat kebingungan dalam wajah Kiara. Kiara seperti bingung dengan perasaannya sendiri. Selama ini Olive hanya melihat tatapan cinta dari Rio sedangkan pada Kiara, Olive belum menemukannya.
Interaksi Kiara dan Rio bisa terbilang singkat. Sehingga Olive tidak dapat memastikan bagaimana perasaan Kiara pada Rio.
“Rio merindukanmu, Nona Kiara. Dia selalu merindukanmu” ucap Olive lirih.
“Kalau dia merindukanku. Mengapa dia tidak pernah menemuiku? Atau menghubungiku misalnya?" tanya Kiara lagi.
Matanya menerawang ke atas. Ada rasa kecewa menyelimuti hatinya.
Olive menunduk. Dia ragu ingin mengatakan hal ini pada Kiara atau tidak.
“Rio selalu menemui Anda, Nona, bahkan setiap hari dia pergi ke kampus Anda agar bisa melihat Anda dari jauh”
“Apa maksudmu?" Kiara menoleh ke arah Olive, menatap tajam ke arahnya.
“Nona tidak tahu jika Rio setiap hari datang ke kampus Anda? bahkan saat Anda wisudapun Rio hadir disana”
“Apa?" Kiara menggebrak meja.
“Rio menghadiri wisudaku? Lalau kenapa dia tidak menghampiriku?" tanya Kiara kesal.
“Rio tidak berani, Nona. Dia takut dengan Tuan Adiraka" ucap Olive.
Kiara menepuk dahinya.
“Kenapa harus takut pada Dira? Memangnya ada apa sih antara Rio dan Dira?"
“Ja...jadi Nona tidak tahu?" tanya Olive tak percaya.
Kiara menggeleng.
Olive menghela nafas. Ia memberanikan diri menceritakan perihal masa lalu Dira dan Rio. Bagaimana awal mula kebencian Dira pada Rio.
Kiara mendengarkan cerita Olive dengan seksama. Entah mengapa ada rasa sakit di hatinya ketika mengetahui masa lalu Rio yang sering gonta ganti wanita. Rasa yang sama ketika Kiara mengetahui Ale akan menikah.
“Nona...Anda tidak apa-apa kan?" tanya Olive.
Ia menghentikan ceritanya ketika melihat raut wajah Kiara yang merah padam.
“Aku tidak apa-apa, Olive. Terima kasih kau sudah memberitahuku. Kau bisa keluar dan kembalilah bekerja"
Olive membungkuk dan keluar dari ruang kerja Kiara.
Kiara mengambil ponselnya dan membuka aplikasi lovagram. Dengan gerakan jarinya, Kiara membuka halaman lovagram milik Rio dan melihat foto-foto Rio satu-persatu.
“Rio, kenapa hatiku sakit ketika mengetahui masa lalumu? Se breng sek itukah kau? Sudah berapa banyak wanita yang kau tiduri?" gumam Kiara lirih.
Tak terasa air mata lolos membasahi pipinya. Kiara menangis dalam diam. Berkali-kali ia menyeka air mata yang membasahi pipinya hingga tanpa sadar Kiara tertidur di atas meja kerjanya.
jangan lupa komen, vote dan tap love ya
Tidqk patut dicontoh, IDE YG ABSURD, KARAKTER YG HALU.....
ADA YQ PEREMPUAN SEPERTI KIERA nemplok diidenyq thor
ABSURD BANGET
ABSURD BANGET