Season 1 dan Season 2
Sugar daddyku berbeda. Temukan bedanya dalam kisahku ini. Percayalah! Ia benar-benar berbeda.
Tidak selamanya sugar daddy merupakan lelaki berperut buncit dengan kepala plontos. Pria mesum yang liurnya menetes setiap kali melihat gadis muda nan cantik.
Sugar Daddyku buktinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bemine_97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Heroin
Tangan Om Gabriel dengan cekatan mengolesi lembar-lembar roti di hadapannya, ini sudah lembar kelima dan ia masih terus mengolesi rotinya dengan fokus. Setiap sudut lembar roti ia olesi dengan rata, tak ada selai yang menumpuk di satu sisi dan tebal selainya sama. Aku menggeleng heran, apa ia menggunakan rumus fisika saat mengolesinya? Atau menggunakan rumus bangun ruang? Entahlah, aku yang bodoh ini tak akan paham persoalan rumit seperti itu.
“Om?” panggilku. Aku mulai bosan hanya menatapi dirinya mengolesi roti di meja makan.
Ia masih saja fokus dengan pekerjaannya lalu mengambil roti keenam. Wajah rupawannya terlihat kelelahan dan sepertinya berat badannya sedikit berkurang, rahangnya terlihat lebih tirus, urat-urat di lengannya jadi lebih menonjol.
“Om Gabriel?” panggilku lagi.
“Sebentar Queen, selainya belum rata.” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada lembar roti di tangannya.
Ia meletakkan lembar keenam dan meraih lembar ketujuh, aku kesal dibuatnya. Masa ia akan mengolesi satu bungkus roti? Yang benar saja!
“Om, ini sudah roti ketujuh loh,”
“Masih ada tiga lembar lagi,”
“Om akan mengolesi semuanya? Dengan sempurna?”
“Ia, aku tidak suka pekerjaan setengah-setengah,” tangannya meraih lembar kedelapan setelah menyusun lembar ketujuh di piring kedua.
“Aku tidak bisa menghabiskan semuanya, aku bisa mati kekenyangan Om.”
“Aku akan memakan setengah dari roti-roti ini,”
“Om belum makan?” aku menatap wajahnya yang sangat fokus pada olesan selai coklat.
“Aku tidak sempat makan, aku segera lari kesini saat Naila terlelap dan menitipkannya pada Wahyu.”
Aku tertegun mendengar jawabannya, laki-laki di hadapanku belum sarapan demi menemuiku? Apa ini mimpi? Atau ilusi? Seberat itukah hidupnya sebulan ini?
Aku meraih tangan Om Gabriel, mencuri pisau dan roti dari tangannya lalu memindahkannya ke dapur. Keningnya berkerut saat tangannya mendadak kosong padahal ia belum selesai mengolesi roti kedelapannya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu pada Om,” kataku begitu kembali duduk di kursi di hadapannya. Saat ini kami hanya dipisahkan meja makan dengan dua piring roti berselai coklat hasil kerja keras Om Gabriel.
“Hem? Masih ada yang ingin kamu katakan padaku Queen?” ia melipat tangannya di meja dan memandangiku tanpa ragu-ragu. Jantungku kembali berpacu bahkan debarannya bisa kudengar dengan telingaku hanya karena ditatapi pria berusia 13 tahun di atasku ini. Bagaimana bisa aku tidak mempersoalkan sama sekali jarak usiaku dengannya? Menerimanya tanpa ragu-ragu bahkan akan segera menikahinya.
Laki-laki di hadapanku ini, saat ia kelas 2 SMP, aku baru di lahirkan di kampungku. Saat ia menerima gelar pertamanya aku bahkan belum tamat dari SD. Lalu persimpangan unik mempertemukan kami dan kami mulai merencanakan menghabiskan sisa hidup bersama.
“Om, bisakah Om percayakan perawatan Naila padaku jika kita menikah nanti?” alis pedang Om Gabriel bertemu, ia pasti bingung dengan pertanyaan tiba-tibaku.
“Lanjutkan Queen,”
“Aku memang tidak pintar Om, nilaiku anjlok di tiap mata kuliah. Aku juga tidak bisa membantunya membuat PR karena ia pasti lebih pintar dariku. Tapi aku benar-benar ingin membantu perawatan Naila,” kini Om Gabriel menopang dagunya dengan tangannya.
“Kamu tidak keberatan mengurusi putriku yang nakal itu?”
“Tidak sama sekali, bolehkah? Aku akan mengantarnya ke TK dan menjemputnya jika perlu,”
“Aku tidak akan memaksamu memenuhi semua kewajibanmu sebagai Ibu sambung Naila, tapi jika kamu benar-benar ingin melakukannya, aku dengan senang hati membantumu sebisaku.”
Aku tersenyum mendengar jawaban dari Om Gabriel. Aku bertanya bukan tanpa alasan, aku khawatir jika kami menikah nanti putri kecilnya dikuasai Pak Wahyu dan aku tidak punya tempat sama sekali di hati gadis mungil itu. Tidak lucu rasanya jika aku berebut perhatian dari putriku sendiri dengan pamannya. Putriku? Yang benar saja!
Om Gabriel mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Dahinya berlipat dan ia bergegas mengangkat telfonnya,
“Wahyu, apa sesuatu terjadi pada Naila?” tanyanya.
Kasihan sekali Om Gabriel, ia belum sempat menikmati lembaran roti yang sudah susah payah ia olesi.
“Baiklah, aku akan pulang sekarang. Tenangkan ia sebentar lagi ya? Akan kuusahakan sampai di rumah secepatnya.”
Om Gabriel mematikan panggilan di telfonnya dan segera bangkit dari duduknya. Ia terlihat begitu khawatir dan sangat tergesa-gesa, ia bergegas keluar dari dapur dengan langkah setengah berlari. Melihatnya kalang kabut, aku ikut berlari menyusulnya.
“Om, tenanglah.” Aku meraih lengannya berusaha menenangkan kekasihku itu.
Om Gabriel segera berbalik dan memelukku. Ia melabuhkan kecupan di keningku, lalu di kelopak mataku, di hidung dan berakhir dengan lumatan di bibir. Baru saja hendak membalas ciumannya, Om Gabriel segera menarik bibirnya dari pangutan kami,
“Aku pulang dulu Queen, Naila membutuhkanku. Baik-baiklah di sini, jangan berpikir untuk kabur lagi,” bisiknya.
Ia kembali mengecup bibirku sebelum berlari keluar dari apartemenku, menyisakan diriku yang mematung sendirian di ruang tamu.
****
“Aku sudah bilang kan? Jadi orang jangan asal ambil keputusan, apa jadinya kalau hari ini kita sudah keluar dari sini Queen?” celoteh Moly sembari membantuku mengisi kembali almari di kamarku.
“Jangan mengejekku Moly, keadaanmu tak jauh berbeda saat kamu mengetahui kebenaran tentang Pak Jey.”
“Setidaknya aku tidak berniat kabur dari sini, untung saja aku bertemu Om Gabriel tadi. Jika tidak aku sudah membayar kamar itu dan kita kehilangan seluruh Rupiah yang susah payah kita kumpulkan.”
“Moly, kamu tidak mau berhenti mengoceh? Kamu mau perang bantal di sini?” aku melirik bantal terdekat di atas ranjang.
“Tidak, harga bantal-bantal di sini mahal. Jika rusak aku tidak sanggup membayarnya,”
“Bantal-bantal itu milik suamiku.” Aku terkekeh setelah menyadari kalimatku barusan.
“Dasar lo, kemarin aja jungkir-balik nangis bombay.” Moly melempariku dengan bantal terdekat yang berhasil ia raih dari ranjang.
“Wah curang, katanya ga main perang bantal,” aku segera bangkit dan meraih bantal lainnya.
Kami saling serang, melempar bantal, saling kejar, melompat kesana-kemari hingga kamarku berantakan. Aku tak perduli pada kondisi kamar yang mengenaskan, saat ini aku bahagia, kuyakin Moly juga bahagia untukku dan untuk dirinya.
Kami berbaring di ranjang setelah menguras habis tenaga karena perang kekanak-kanakan tadi. Nafas kami masih memburu dengan tubuh bermandikan keringat. Kami saling menatap, lalu tertawa, menertawai nasib kami yang berubah 180 derajat di banding beberapa bulan lalu,
“Apa rencanamu sekarang?” tanya Moly dengan mata menatap loteng kamar.
“Aku akan menemui Naila secepatnya, lalu menghubungi Ibu di kampung dan memintanya datang ke pernikahanku dengan Om Gabriel.”
“Apa Ibumu akan datang?”
“Entahlah, aku tidak yakin. Setelah kepergianku dan Reynold dari rumah itu, Ibu memutuskan komunikasinya dengan kami. Aku pernah mencoba menghubunginya saat wisuda dulu, kamu tahu apa yang Ibu katakan? Ia tidak punya uang untuk mengirimiku. Padahal aku hanya mengundangnya untuk datang ke wisudaku,”
“Aku tahu cerita itu Queen, kamu menangis seharian setelahnya. Kamu akan tetap menghubunginya kan?”
“Tentu, apa artinya sebuah pernikahan jika keluargaku tidak datang.”
“Reynold dan Paman Jun?”
“Aku akan meminta mereka pulang, mereka satu-satunya keluargaku yang masih menjalin komunikasi denganku.”
“Apa Om Gabriel tahu keadaan keluargamu ini?”
“Aku pernah menceritakan tentang Ibuku padanya, tapi tidak dengan Reynold King dan Paman Jun. Mungkin saat mereka tiba di sini, aku akan memperkenalkannya langsung pada Om Gabriel.”
“Aku mendoakan kebahagiaan untukmu, please doakan aku cepat menyusul,” rengek Moly.
“Lupakan dulu Pak Jey dan hatimu akan bertemu dengan pemiliknya,” jawabku puitis.
“Jangan sebut nama iblis itu Queen, tubuhku meradang tiap mendengar namanya. Oh ia, kamu tidak lupa kan dengan masalah di kampusmu dan skorsmu itu?”
Aku menoleh pada Moly, “Segera setelah menyandang status Nyonya Halim, aku akan membereskannya satu persatu.”
Moly tersenyum, sedangkan aku menahan tawa. Bagaimana bisa aku mengatakan kalimat menggelikan sepert itu?
To Be Continued,
Berikan dukungan pada Om Gabriel dan Queen dengan klik like, vote, komen dan rate bintang 5 ya?
love love,
bemine_97