Dicky Pradita, seorang Dokter muda spesialis anak, menyelamatkan Fitri, seorang wanita korban pemerkosaan yang akan bunuh diri karena depresi.
Untuk menutup aibnya karena Fitri hamil, Dokter Dicky terpaksa menikahi wanita itu, niat awal hanya untuk melindunginya.
Akankah cinta akan tumbuh di antara mereka yang berbeda kehidupan dan latar belakang? Akankah trauma yang di alami Fitri akan hilang melalui ketulusan hati sang Dokter?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap Di Rumah Sakit
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu kamar mengejutkan Dicky dan Fitri. Reflek Fitri melepaskan tangannya dari milik Dicky, padahal Dicky baru saja menikmati sentuhan tangan Fitri yang beberapa saat lamanya tadi bermain-main di benda pusaka milik Dicky itu.
Fitri baru belajar mengenal benda itu, yang ternyata begitu indah dan menggemaskan, Fitri belajar membuang rasa takut dan traumanya dulu terhadap benda milik pria.
Ternyata benda itu bukanlah hal yang menakutkan, justru kini Fitri semakin mengagumi kejantanan Dicky yang bahkan membuatnya bergetar.
Fitri berjalan ke arah pintu, sementara Dicky berusaha memasukan kembali miliknya yang kini jadi sesak itu.
"Ada apa Bi Sumi?" tanya Fitri setelah membuka pintu kamarnya.
"Anu Mbak, maaf mengganggu, di bawah ada telepon penting dari rumah sakit, mencari Pak Dokter!" jawab Bi Sumi.
"Baiklah Bi,aku akan sampaikan ke Mas Dicky!" kata Fitri. BI Sumi segera berlalu kembali turun ke bawah.
Dicky baru saja membuka ponselnya, ada banyak panggilan tak terjawab di sana.
"Aku ke bawah dulu Fit, pasienku sedang gawat darurat!" ucap Dicky sambil mengelus kepala Fitri. Fitri menganggukan kepalanya.
Dicky bergegas menuruni tangga, dia langsung menuju ke meja telepon.
"Halo!"
"Halo Dokter, ini suster Wina, pasien anak Vania harus di operasi malam ini juga, bisakah Dokter ke rumah sakit sekarang?" tanya suster Wina.
"Baik Suster, aku segera datang, siapkan peralatan, hubungi dokter bedah sekarang!" titah Dicky.
"Baik Dokter!" sahut Suster Wina.
Tak lama kemudian sambungan teleponpun di matikan.
Buru-buru Dicky kembali naik ke atas menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian.
"Kau mau kerumah sakit sekarang?" tanya Fitri.
"Iya Git, kemungkinan aku akan bermalam di rumah sakit, anak ini adalah pasienku, dia menderita gagal jantung, biasanya operasi akan berlangsung lama!" jawab Dicky.
"Pergilah Mas, pasienmu lebih membutuhkanmu!" ujar Fitri.
"Maafkan aku Fit, kalau malam ini kau terpaksa harus tidur sendiri, aku janji akan secepatnya pulang, kalau bisa subuh aku sudah pulang!" ucap Dicky.
Setelah selesai berganti pakaian, Dicky lalu turun kembali ke bawah dan langsung berjalan menuju garasi mobilnya.
"Tapi kau belum makan Mas!" kata Fitri.
"Aku tidak sempat Fit, nanti aku akan makan di rumah sakit, kau makan duluan saja ya, minta Bi Sumi menemanimu!" ucap Dicky.
Sejenak dia menatap ke arah Fitri, lalu dengan gerakan cepat dia kembali mengecup bibir Fitri.
"Mas Dicky, kau hati-hati ya!" ucap Fitri setelah Dicky masuk ke dalam mobilnya.
"Iya sayang!" jawab Dicky.
Fitri tertegun, sejak kapan Dicky memanggilnya sayang, ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Dicky.
Perasaan Fitri menghangat seketika, dia merasa bahagia, hanya dengan sebuah panggilan sayang.
Tanpa sadar mobil yang di kendarai Dicky sudah beranjak pergi dari hadapan Fitri.
Fitri kemudian kembali masuk ke dalam rumah itu.
Di meja makan, sudah terhidang masakan yang di masak oleh Bi Sumi, sayang Dicky tidak sempat untuk memakannya.
"Bi Sumi, temani aku makan yuk!" ajak Fitri.
"Eh, iya Mbak!" sahut Bi Sumi.
Bi Sumi kemudian menemani Fitri makan di meja makan itu.
"Mas Dicky kelihatannya akan menginap di rumah sakit, karena operasi pasiennya akan berlangsung lama!" kata Fitri.
"Oh, dulu juga Pak Dokter beberapa kali pernah menginap di rumah sakit, karena operasi besar pasiennya, apalagi Pak Dokter adalah Dokter yang bertanggung jawab penuh terhadap pasiennya, tuh lihat saja di lemari kaca, Pak Dokter banyak mendapat penghargaan!" ujar Bi Sumi sambil menunjuk sebuah lemari kaca.
Fitri baru sadar, selama ini dia tidak terlalu memperhatikan profesi suaminya itu, ada begitu banyak piala dan piagam penghargaan untuk Dicky, sebagai Dokter muda terbaik, sebagai Dokter teladan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Fitri semakin mengagumi suaminya itu, rasa cinta semakin dalam di hatinya.
"Iya Bi, Mas Dicky tenyata Dokter yang berprestasi!" kata Fitri.
****
Sementara itu di rumah sakit, Dicky langsung mempersiapkan operasi dengan beberapa tim dokter spesialis.
Mereka akan melaksanakan operasi besar malam ini.
Beberapa perawat mulai memindahkan pasien Vania yang baru berumur lima tahun itu ke ruang operasi.
Wajah kedua orang tua anak itu nampak mendung, mereka sedih melihat kondisi anaknya yang kini berjuang melawan penyakitnya.
"Vania, kau anak yang hebat, kau kuat sayang, tetaplah berjuang untuk Mama dan Papamu!" bisik Dicky lembut sebelum mereka masuk ke ruang operasi.
"Tapi aku takut Dokter ..." ucap Vania.
"Kau tidak takut Vania, Dokter Dicky akan menemanimu, Vania harus semangat, nanti kita akan nyanyi sama-sama lagi seperti biasanya, oke Vania!" kata Dicky memberikan motivasi.
"Tapi janji ya, Dokter Dicky jangan tinggalin aku, aku mau Dokter ada di sampingku terus!" ujar Vania sambil menatap ke arah Dicky.
"Dokter janji!" sahut Dicky sambil menautkan kelingkingnya ke jari kelingking Vania, gadis kecil itu pun mulai tersenyum.
Kemudian para perawat kembali berjalan sampai menuju ruang operasi.
Dicky kemudian menghampiri ke dua orang tua Vania yang wajahnya terlihat cemas dan tegang.
"Bapak dan Ibu, perlihatkan senyum kalian di depan Vania, rahasia kesembuhan adalah semangat hidup dan hati yang gembira, ketika melihat orang-orang di sekelilingnya tersenyum gembira, otomatis aura kegembiraan juga bisa di rasakan Vania, dan semangat hidup akan muncul pada dirinya!" ucap Dicky. sambil menepuk lembut bahu Papa Vania sebelum dia kembali masuk ke dalam ruang operasi.
"Terimakasih Dokter!" ucap kedua orang tua Vania sambil tersenyum, Dicky mengacungkan kedua jempolnya kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
****