Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 24_Dia Bukan Orang Baik
Dengan bantuan dua anak buahnya yang masih muda, Marco yang tak sadarkan diri diangkat ke atas kapal.
Mereka merebahkannya di atas tumpukan karung goni di bagian tengah dek yang sedikit terlindung dari terik matahari pagi yang mulai menyengat.
"Siapa dia, Nenek?" tanya salah satu pemuda nelayan itu, matanya tak lepas dari luka-luka di tubuh Marco.
"Dia... dia suamiku," bohong Anya, suaranya bergetar.
"Perahu kami dihantam badai dan terhempas ke karang, tolong pak... bawalah kami ke tempat yang aman. Aku punya perhiasan untuk membayar Bapak."
Anya hendak melepas kalung berliannya, namun Pak Yusuf menggeleng pelan.
"Simpan itu nak, di desa kami emas hanya akan mengundang mata-mata jahat. Kita akan ke muara, di sana ada rumah adikku yang jauh dari jalan besar."
Selama perjalanan dua jam menyusuri pesisir, Anya tidak pernah melepaskan tangan Marco.
Ia membersihkan sisa-sisa pasir dari wajah pria itu dengan ujung kain gaunnya yang sudah compang-camping.
Ia bisa merasakan panas yang luar biasa memancar dari tubuh Marco.
Demam mulai menyerang, dan itu adalah pertanda buruk bagi luka yang belum tertangani secara medis.
"kamu harus bertahan, Marco," bisik Anya di telinga pria itu.
"kamu bilang kamu tidak akan mati sebelum memastikanku aman, jangan berani-berani ingkar janji sekarang." seru Anya.
Desa nelayan itu bernama Muara Sunyi, sebuah pemukiman kecil yang tersembunyi di balik barisan pohon bakau yang rapat.
Mereka dibawa ke sebuah rumah panggung kayu yang menjorok ke air.
Di sana seorang wanita paruh baya bernama Mak Salma menyambut mereka dengan wajah khawatir namun sigap.
"Bawa dia ke kamar belakang, cepat!" perintah Mak Salma.
Marco dibaringkan di atas kasur tipis yang beralaskan tikar pandan.
Ruangan itu kecil, berbau minyak kayu putih dan asap dapur, sangat jauh dari kemewahan apartemen atau vilanya yang telah hancur, namun di sini keheningan terasa lebih nyata.
Anya segera mengambil peran sebagai perawat, ia tidak punya waktu untuk merasa lelah.
Di bawah bimbingan Mak Salma yang paham pengobatan tradisional, Anya mulai mencuci luka-luka Marco dengan air rebusan daun sirih dan ramuan herbal.
"Tahan ya, Marco... ini mungkin akan sangat perih," ucap Anya saat ia menempelkan kain hangat ke luka terbuka di bahunya.
Marco mengerang dalam tidurnya, otot-ototnya menegang, dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
Dalam igauannya, ia menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
"Ibu... jangan pergi... Anya... cahayaku..."
Hati Anya bergetar mendengar namanya disebut dalam igauan itu.
Ia menyadari betapa dalam obsesi Marco telah merasuk ke dalam jiwanya.
Bahkan di ambang kematian, pria ini tidak memikirkan kekuasaannya yang hancur atau hartanya yang lenyap tapi dia hanya memikirkan Anya.
"aku di sini Marco dan aku tidak pergi," bisik Anya sambil mengusap keringat di dahi Marco.
Menjelang sore, Anya keluar sebentar ke serambi rumah untuk menghirup udara.
Pak Yusuf sedang duduk di sana sambil menghisap lintingan tembakau, wajahnya tampak tegang.
"Nak Anya," panggilnya pelan.
"Tadi aku ke pasar desa di seberang muara untuk membeli garam, ada banyak orang asing berpakaian hitam dengan mobil-mobil mewah dan mereka menunjukkan foto pria itu."
Jantung Anya seolah berhenti berdetak. "Mereka sudah sampai ke sini?"
"Mereka menyisir setiap desa pesisir dan menawarkan uang banyak bagi siapa saja yang melihat kalian, tapi mereka bilang pria itu adalah penjahat berbahaya yang menculikmu," Pak Yusuf menatap Anya dalam-dalam.
"Apa itu benar?" tanyanya.
Anya terdiam, lidahnya keluh entah haruskah ia jujur? Haruskah ia meminta bantuan Pak Yusuf untuk menyerahkan Marco agar ia bisa bebas? Logikanya berteriak iya, namun nuraninya mengingat bagaimana Marco memeluknya di bawah hujan peluru.
"Dia... dia bukan orang yang baik, Pak," jawab Anya jujur, air mata mulai menggenang.
"Tapi dia menyelamatkan nyawaku berkali-kali, dan orang-orang yang mencarinya... mereka jauh lebih jahat darinya. Jika mereka menemukannya, mereka akan membunuhnya dan mereka mungkin tidak akan membiarkanku hidup karena aku saksi segalanya." tutur Anya.
Pak Yusuf mengangguk pelan, memahami kerumitan di balik mata Anya.
"Dunia luar memang gila, di sini kami hanya tahu cara menjaring ikan tapi kami juga tahu cara menyimpan rahasia, tetaplah di dalam rumah dan jangan biarkan dia bersuara keras."
Malam itu badai kecil kembali datang, suara hujan yang menghantam atap seng rumah panggung menciptakan kebisingan yang mencekam.
Di dalam kamar yang remang-remang, Marco akhirnya membuka matanya.
Pandangannya kabur, namun ia mengenali sosok yang duduk di sampingnya.
Anya sedang tertidur dalam posisi duduk, kepalanya bersandar di tepi kasur, tangannya masih memegang tangan Marco.
Marco mencoba bergerak, namun rasa sakit yang tajam menusuk seluruh tubuhnya.
Ia meringis pelan, suara itu cukup untuk membangunkan Anya.
"Marco? kamu sadar?" Anya langsung tegak, matanya yang lelah kini berbinar cemas.
Marco menatap sekeliling dengan bingung. "Di mana... kita?" suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
"Di desa nelayan, pak Yusuf menyelamatkan kita. Kamu sudah pingsan selama hampir dua belas jam," jelas Anya.
Ia segera mengambil segelas air putih dan membantu Marco minum dengan sangat hati-hati.
Setelah beberapa teguk, napas Marco mulai stabil, ia menatap Anya yang tampak berantakan dengan rambut kusut, gaun yang robek, dan lingkaran hitam di bawah mata.
Namun bagi Marco, Anya tidak pernah terlihat lebih indah daripada saat ini.
"Kenapa... kenapa kamu tidak meninggalkanku di pantai?" tanya Marco.
Kata-katanya sama dengan yang ia ucapkan di gubuk, namun kali ini ada nada keputusasaan yang lebih dalam.
"Kamu punya kesempatan Anya, kamu punya perahu itu." ucap Marco.
Anya meletakkan gelasnya, ia menatap Marco lurus ke mata. "Aku juga bertanya hal yang sama pada diriku sendiri ribuan kali hari ini Marco, logikaku bilang aku harus lari tapi hatiku... hatiku tidak bisa membiarkanmu mati sendirian di air laut yang dingin itu."
Anya menarik napas panjang. "Aku benci kamu Marco, aku benci bagaimana kamu merampas hidupku, tapi aku juga tahu kalau tanpa kamu, aku mungkin sudah mati di tangan Antonio sejak lama. Kita berhutang nyawa satu sama lain sekarang."
Marco meraih tangan Anya, menariknya perlahan hingga wajah gadis itu berada dekat dengannya.
"Anya... dengarkan aku. Anak buah Antonio ada di sekitar sini. Aku bisa merasakannya. Mereka tidak akan berhenti."
"aku tahu. Pak Yusuf juga bilang begitu," sahut Anya getir.
"Dengar," Marco mencoba duduk meskipun ia harus menahan erangan sakit.
"Di dalam gaunku... ada sebuah pelacak kecil yang sudah mati karena air laut, tapi di perahu motor yang kamu bawa tadi, ada pemancar darurat yang masih berfungsi. Bram akan melacak sinyal itu. Dia akan datang." seru Marco.
"Kapan?" tanya Anya dengan penuh harapan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
JANGAN LUPA FAVORIT KAN CERITANYA, ULASAN DAN BINTANGNYA, VOTE, LIKE DAN HADIAHNYA YAAAAA,, DITUNGGU MAWARNYA BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA
KOMEN GIMANA YA SAMA CERITANYA
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪