NovelToon NovelToon
Sephia

Sephia

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

"Gila ... ini sungguh gila, bagaimana bisa jantung ini selalu berdebar kencang hanya karena tatapan matanya, senyumnya bahkan sentuhan yang tanpa sengaja itu."
~Sephia~

"Rasa ini salah, tapi gue suka ... dia selalu membuat jantung ini berdebar-debar ... damn! kenapa datang di waktu yang salah sih."
~Danar~

Pertemuan itu, membuat mereka ada dalam posisi yang sangat sulit. Terlebih lelaki itu sudah mempunyai seorang kekasih. Sementara hatinya memilih gadis lain.

Entah waktu yang salah ... atau takdir yang mempermainkan mereka. Apakah akan berakhir dengan indah atau sama-sama saling melepaskan ... meski CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan pernah pergi

Sore itu Ni Luh dan Sephia berada di sebuah Mall di bibir pantai. Seperti biasanya mereka membeli beberapa roti dan dua cup minuman yang berisi kopi kekinian. Duduk di taman dengan hamparan rerumputan, memandang laut lepas di depan sana.

Teringat tadi saat Sephia keluar dari ruangan Danar wajahnya memerah, bukan karena tersipu malu namun menahan sesak di dadanya.

Dan disinilah dia bersama Ni Luh, Ni Luh dengan senang hati menemani gadis itu untuk meluapkan isi hatinya.

"Kalo mau nangis ... nangis aja Phi," ujar Ni Luh menatap Sephia yang sedang memandangi deburan ombak yang saling berkejaran dengan mata yang berkaca-kaca.

Sephia menghela nafasnya panjang, sesak itu terasa seperti tumpukan batuan gunung yang tertahan di dadanya.

"Cinta ini seperti gak bisa berhenti Mbok, entahlah aku merasa belum bisa melepaskan rasanya, untuk merubahnya jadi benci pun aku gak bisa."

Sephia mulai mengusap air matanya.

"Phi, hidup itu pilihan ... tapi hati bukan untuk di pilih," ujar Ni Luh memetik sebuah penggalan lagu yang sering ia dengar. "Danar menentukan pilihan hidupnya, namun dia tidak bisa memilih hati mana yang akan memenuhi ruang hatinya sendiri, itu sudah karma untuk dirinya." Jangan lupakan Ni Luh adalah seorang Balinese yang percaya akan karma.

"Mau seberapa besar cintamu jika terjatuh pada orang yang salah, maka akan percuma," ujar Ni Luh lagi.

Benar yang dikatakan oleh sahabatnya itu, mau ratusan kali Sephia mengatakan cinta pada lelaki itu jika Danar bukan miliknya, maka semuanya akan percuma.

"Sakit Mbok ...," ujar Sephia, memukul-mukul dadanya lalu terisak menangis.

"Luapkan semua kekesalan kamu, rasa sakit hati kamu, lalu setelahnya kita pikirkan kedepannya seperti apa." Ni Luh memeluk gadis itu.

Apakah waktu yang salah yang sudah mempertemukan mereka atau takdir yang memang tidak memihak padanya. Semesta seakan belum memberikan kesempatan padanya untuk bahagia.

Selama dua jam lebih mereka berada di taman itu, tepat pukul delapan malam, Sephia memutuskan untuk pulang. Berhenti di pekarangan bangunan dua lantai itu, Sephia mendapati Danar berdiri menghembuskan asap rokoknya ke langit malam.

Sepertinya sudah lama Danar berada di sana, terlihat dari puntung rokok yang sudah berserakan di sekitar kakinya.

Danar menatap sayu gadis itu. Sephia melepaskan helmnya dan turun dari motor. Berjalan santai menaiki tangga tanpa melihat Danar yang sedang memperhatikannya.

Hati Sephia hanya tak siap terluka, jika harus berhadapan lagi dengan Danar. Dia hanya takut ini akan menyakitkan lebih dari sebelumnya.

"Phia ...." Danar memanggilnya.

Sephia menghentikan langkahnya pada anak tangga tanpa menoleh.

"Mau apa lagi?"

"Aku ...." Danar merasakan sakit di dadanya. Mungkin sama sakitnya dengan sakit yang Sephia rasakan.

"Bukannya aku sudah bilang, jangan lagi temui aku."

"Phia ...." Danar mensejajarkan dirinya.

Dia raih tangan Sephia. Dia gengam erat tangan gadis itu, membawanya ke pelukannya. Sephia masih berdiri kaku di sana, tidak membalas bahkan terkesan tak ada respon dari dirinya, namun matanya terpejam merasakan debaran jantung yang saling bertaut dengan rasa perih di hatinya.

"Kasih aku kesempatan," bisik Danar.

"Aku terlalu bodoh untuk percaya sama kamu," ujar Sephia.

Danar menarik tubuhnya, menatap netra itu yang ternyata sudah sembab karena menangis.

"Kamu dari mana?"

"Apa peduli kamu," Sephia melepaskan tangannya dari genggaman Danar.

"Jelas aku peduli," jawabnya.

"Seorang atasan hanya perduli pada staf di kantor, bukan di luar kantor," ujar Sephia ketus mengingat siang tadi, masih terngiang jelas di telinganya saat Danar mengatakan jika ia adalah stafnya.

"Aku minta maaf, Phi."

"Please, jangan pernah datang lagi ... dan sudah sebaiknya, kita bersikap secara profesional seperti drama siang tadi."

Sephia melangkah kembali menaiki anak tangga dan meninggalkan Danar yang masih terdiam di sana. Danar melangkah lebar menaiki dua anak tangga sekaligus, mengejar Sephia. Sayangnya, kamar gadis itu sudah tertutup rapat. Berkali-kali Danar mengetuk namun tak ada tanggapan dari Sephia.

...----------------...

Sephia benar-benar melakukan perannya dengan baik. Sephia berusaha bersikap profesional selayaknya bawahan yang tidak mempunyai hubungan khusus dengan atasan.

Jika ada laporan yang harus dia berikan pada Danar, maka dia tetap akan mendatangi ruangan itu dan secepatnya meninggalkan ruangan itu dan berusaha tak beradu pandang dengan Danar. Beberapa kali dia juga menemukan Wulan berada di sana, duduk di sofa dengan angel yang sangat cantik.

Sementara Danar, masih dengan tatapan yang sama, tatapan yang tak pernah berubah. Danar hanya menahan dirinya, sesuai permintaan Sephia agar bersikap secara profesional layaknya atasan dan bawahan.

Malam menjelang launching produk baru perusahaan tempatnya bekerja, Sephia datang bersama Ni Luh. Gadis itu begitu manis, mengenakan dress panjang berwarna hitam dengan belahan di samping diatas lutut, dan model dress tanpa lengan. Rambutnya hanya di cepol rendah. Aksesoris yang tidak berlebihan dan make up yang begitu simpel.

Namun Sephia, berhasil memikat semua mata yang melihatnya, tak terkecuali Danar. Gadis itu begitu anggun, mata Danar tak lepas dari memandangnya sejak pertama kali Sephia menginjakkan kakinya di hall hotel itu.

Sephia benar-benar menikmati malam itu, sesekali pandangan mata mereka bertemu. Apalagi saat Danar memberikan kata sambutan dan meresmikan produk yang baru saja disahkan beredar di pasaran luar dan dalam negeri, tatapannya tak lepas dari Sephia.

Seharusnya Agung datang sebagai perwakilan pemimpin tertinggi perusahaan, tetapi sayangnya Bapak Hermawan sedang membutuhkannya untuk pemeriksaan kesehatan di Singapura.

Wulan tak hentinya menempeli dirinya pada Danar. Ya, wanita itu masih berada di Bali hingga esok hari, dia sengaja tetap berada di Bali hingga acara perusahaan ini selesai dilaksanakan.

Begitu bangganya Wulan memperkenalkan dirinya selaku calon istri pemimpin perusahaan itu. Bisik-bisik dari semua karyawan dari bisikan menyanjung kecantikannya hingga membicarakannya seperti parasit yang selalu menempel pada Danar pun terdengar.

"Mbok, aku ke toilet sebentar ya, aku titip ini," ujar Sephia memberikan clutch dan ponselnya pada Ni Luh.

"Iya, jangan lama ya ... sudah setengah sembilan," ujar Ni Luh yang sedang berbincang dengan Made.

Sephia melangkahkan cepat kakinya menuju toilet, masih mencari-cari dimana keberadaan toilet itu dan akhirnya menemukannya. Bergidik ngeri karena dia mendapatkan toilet paling ujung di dekat tangga darurat.

Begitu terkejutnya Sephia ketika dia keluar dari toilet menemukan Danar sudah menunggunya di sana. Danar tadi memang mengikutinya, ia mencari cara bagaimana lepas dari Wulan hanya untuk menemui Sephia saat sedang seorang diri.

Bersandar pada dinding di dekat pintu keluar toilet, Danar menunggu Sephia di sana. Danar tersenyum ketika melihat wajah Sephia yang terkejut melihatnya berdiri di situ.

"Kaget ya," ujar Danar.

"Permisi." Sephia melewati Danar yang masih tersenyum padanya.

Dengan cepat lelaki itu membawa Sephia keluar dari pintu darurat. Memojokkan gadis itu di dinding dekat tangga. Dia hanya butuh berdua dengan gadis itu, melepaskan rasa rindunya walau sesaat. Mencegah gadis itu agar tak lagi menghindarinya. Dan membuat gadis itu agar jangan pernah pergi darinya.

Sumpah demi apapun, perasaan itu tak pernah hilang, malah semakin subur tumbuh di hati Danar. Benar mungkin ungkapan itu, bahwa hidup itu pilihan, namun hati tidak untuk di pilih.

Ya, hatinya memilih Sephia meski dia harus menjalankan hidupnya bersama Wulan nanti. Egois memang, tapi jangan lupa hati juga tak bisa dipaksakan.

Danar menatap gadis dihadapannya itu, membelai pipi itu dengan lembut. Sakit hatinya melihat Sephia bersikap cuek padanya.

"Mau apa?" tanya Sephia lirih.

"Mau kamu." Danar mulai menciumi leher gadis itu lembut, menghirup wangi tubuh Sephia yang sudah lama tak tercium oleh indera penciumannya. "Aku kangen," ujarnya meremat pinggang gadis itu.

Sephia diam kaku dan menegang.

Ya Tuhan, aku juga merindukan lelaki ini batin Sephia dengan mata berkaca-kaca menikmati setiap sentuhan Danar.

"Kamu cantik malam ini ... selalu cantik, harusnya aku yang berada di samping kamu bukan teman-teman kamu, dan mengenyahkan semua mata yang menatap kamu seenaknya." Danar mendengus kesal.

"Danar, stop." Danar masih menyusuri leher itu, lalu mengangkat wajahnya, memandang Sephia yang terpejam.

"Ijinkan aku, Sephia ...." Mata Danar menatap sendu, ada kerinduan di sana, dia menyentuh bibir gadis itu, menciumnya lembut, menahan tekuk Sephia agar lebih lama menautkan bibir mereka.

"Aku mohon Danar, jangan membuat ini semakin menyakitkan." Sephia menarik tubuhnya, Sephia menangis.

"Aku cinta sama kamu," ujar Danar terbata-bata. "Sangat cinta sama kamu, aku mohon ijinkan aku ... sekali saja beri aku kesempatan." Mata Danar berkaca-kaca.

"Maaf aku gak bisa ... aku gak mau tersakiti lagi, aku gak mau jadi benalu di antara kalian, aku gak mau seperti ibu kamu yang hadir di antara Papa dan Mama kamu, aku gak mau." Sephia kembali menangis.

"Phia, aku mohon." Danar menyugar rambutnya frustasi.

Sephia melepaskan dirinya dari lelaki itu.

"Jangan pernah pergi, aku mohon Phi ...."

Sephia tetap berlalu, membuka pintu itu dan melangkah cepat lalu menghapus air matanya.

Ini terakhir kalinya Danar ... batin Sephia menangis.

***pergi saja engkau pergi dariku ...

enjoy reading 😘***

1
74 Jameela
aq sllu senep mules kl pas dtg pelajaran akuntansi blm lg matekmatika...ws kudu ndang lulus ae kpn yaaa..aaahh tp syukur Alhamdulillah udh terlewati masa" ituuuuu🤭
Enisensi Klara
udah lewat batas teritorial mah tuh Danar wkwkwk 🤣😂
Enisensi Klara
Udah sering aneh 2 danar nya pak
Enisensi Klara
Udah di iya iya terus masa mau pisah
Enisensi Klara
Baca ulang aku 😂😂
Enisensi Klara
Ya kali minta ijin bawa anak gadis orang bawa ke Bali tapi blm di nikahin piye Tah danar 😳😳
Enisensi Klara
Dan Kalla ku bayangjn kyk Maxim 😂
Enisensi Klara
Demi shepia aku baca ulang lagi utk sekian kalinya 😂
Enisensi Klara
Aku baca ulang lagi ini utk sekian kali nya 😇😇kangen sama KK chida 😇
Rianty Permata
Luar biasa
Deistya Nur
keren semangat terus ka 👍💪
Dewa Rana
Thor, baju satu Tali itu di bahu, bukan di lengan
Chida: mungkin melorot talinya jadi sampe ke lengan ...
total 1 replies
Dewa Rana
basement Thor bukan basemant
Chida: makasih koreksinya 🙏
total 1 replies
Dewa Rana
kayaknya danar udah punya pacar atau tunangan
Dewa Rana
visual sephia cakep 👍
Dewa Rana
basement Thor bukan basemant
Dewa Rana
baca ulang Thor
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
piwpie
JANGAAAAAAANNNNNN kasih Phiaaaaaaaaaa
piwpie
gimana sih phia... kesannya kek munafik gak sih. kok gak kayak karakter phia di awal.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!