Dua orang yang pernah saling sangat mencintai, memutuskan untuk tidak saling mengenal ketika bertemu, memutuskan untuk saling berhenti mencintai.
Bagaimana kalau takdir tetap mempertemukan mereka setelah sama-sama dewasa?
Cinta pertama yang tidak mungkin dilupakan dan harus berpisah karena pahitnya perbedaan yang terbentang di antara mereka.
IG Madammeyellow
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madamme Yellow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I Always Beside You
Seharusnya mereka sudah kembali ke Jakarta hari ini tetapi karena Nara masuk rumah sakit terpaksa penerbangan kembali ke Jakarta ditunda, Ronald juga tidak akan meninggalkan Nara sendirian apalagi ada Mamanya yang selalu meneror Nara.
Ronald benar-benar kehabisan akal menghadapi kelakuan Mamanya yang bar-bar seperti itu. Andai saja Monica sedikit mengerti keinginan anaknya dan tahu kebahagiaan Ronald adalah Nara. Sudah lama pasti Ronald bahagia dengan pilihannya.
Sedangkan di sisi lain, Adik Ronald Christin masuk rumah sakit saat ini. Christin mengalami pendarahan hebat karena menggugurkan kandungannya. Monica bahkan segera pulang ke Jakarta mendengar kabar Christin seperti itu.
"Mama harus pulang Rosalinda, kamu temanilah Ronald di sini jangan sampai Ronald lebih dekat dengan wanita manja itu, dia pasti akan menjelekkan Mama di depan Ronald," ucap Monica masih dengan wajah sinisnya.
"Baik Ma, Rosa tunggu di rumah sakit sampai Nara pulih, Rosa akan melihat keadaan Nara di sini, Mama pulanglah urus Christin," ucap Rosalinda dengan wajahnya yang sok polos dan senyum palsunya.
Bahkan dia senang melihat Christin terpuruk di rumah sakit seperti itu. Padahal Christin sudah sering Monica beritahu untuk tidak berhubungan dengan Axel. Meski Axel dari keluarga terpandang tetapi tingkahnya itu seperti berandalan dan profesinya yang pembalap sangat mengkhawatirkan untuk Christin, Monica tidak terlalu setuju.
Dengan mengambil penerbangan paling akhir, Monica terbang menuju Jakarta. Ronald sengaja tidak diberitahu karena kalau sampai Ronald tahu Axel itu pasti akan mati di tangan Ronald.
Ronald selalu di dalam kamar Nara menemani Nara dan memenuhi semua kebutuhannya. Ronald ingin Nara segera pulih. Dokter bilang kalau Nara sehat besok, sore sudah bisa pulang ke Jakarta dan bisa rawat jalan saja di rumah. Itu bagus!
Ronald memang lebih suka menjaga Nara di rumah daripada di rumah sakit seperti ini.
"Honey, kenapa belum tidur sayang? Ini sudah malam," ucap Ronald mengusap pipi Nara dengan lembut. Nara tersenyum tipis dan masih fokus dengan film yang sedang dia tonton saat ini.
"Sebentar lagi ya," jawab Nara dengan lembut.
Ronald pun tidak menghalangi Nara menonton televisi dan kembali dia mengecek email masuk. Besok sebenarnya Ronald sangat sibuk sekali tetapi demi wanita yang dia cintai, jadwalnya terpaksa diundur untuk hari Senin nanti.
Tiba-tiba saat menonton, Nara menangis! Ronald tidak sengaja mencuri lihat Nara yang menghapus air matanya. Dengan cepat Ronald duduk di bibir Ranjang dan membantu Nara menghapus air mata yang begitu deras membanjiri wajahnya.
"Kenapa menangis, honey! Apa film itu begitu sedih untukmu?" tanya Ronald dengan sangat lembutnya. Nara memanyunkan bibirnya dan mengangguk.
Tidak tahan dia melihat film yang tengah berlangsung saat ini.
"Aku tidak punya orang tua Ronald, aku terkadang merindukan mereka di sampingku, saat melihat seorang ibu yang sangat sayang sekali dengan anaknya, aku suka menangis seperti ini," ucap Nara dengan manjanya.
Baik hati sekali! Ronald hanya melihat dengan senyum tipis. Itulah alasan Ronald mengapa dia tidak bisa meninggalkan Nara. Nara begitu tulus, dia sama sekali tidak ada niat memanfaatkan Ronald. Bahkan karena semangat dari Naralah Ronald bisa berhasil seperti ini.
Sayangnya, Monica tidak pernah percaya dan mengatakan kalau semua itu karena Ronald dikuliahkan di luar negeri.
"Jangan menangis lagi, kamu masih punya aku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Ronald menarik Nara masuk ke dalam pelukannya.
Kenapa Monica begitu kejamnya dengan Nara, padahal Nara anak yatim piatu yang butuh kasih sayang. Ronald sangat tahu kalau Nara begitu kesepian dalam hidupnya tetapi dia selalu memaksa untuk Ronald tidak mencintainya. Cinta Ronald begitu sempurna hingga Nara tidak sanggup untuk memikulnya sendiri.
"Hiks …." Terdengar suara tangis yang begitu memilukan, kali ini terdengar sangat menyakitkan. Hingga pelukan itu kembali di eratkan Ronald. Ronald menggosok pelan punggung Nara dengan lembut. Sangat lembut hingga tangis itu berhenti. Ronald tahu Nara sangat sakit saat ini, bukan tubuhnya tetapi hatinya.
Begitu pahamnya Ronald dengan perasaan Nara sampai Nara diam saja, Ronald tahu apa yang dipikirkannya.
"Tidurlah honey! Besok kita kembali ke Jakarta kalau kamu sudah sembuh, malam ini tidurlah dulu," bisik Ronald pelan sembari membantu Nara merebahkan tubuhnya dan menyelimuti Nara dengan pelan. Hingga Nara terus saja menggenggam tangan Ronald dalam tidurnya.
Bagaimana aku bisa meninggalkanmu pergi? Tanganmu begitu erat menggenggam tetapi hatimu begitu rapuh untuk melepaskan.
Ronald akhirnya duduk di samping Nara. Membantu Nara merapikan anak rambut yang mengganggu wajahnya, mengelus pipi Nara dalam tidurnya dan terkadang dia bernyanyi lembut di telinga Nara. Sesekali Ronald merapalkan mantra cintanya.
"I love you, kamu harus ingat kalau aku sangat mencintaimu meski kamu selalu ingin berhenti mencintaiku," bisik Ronald di telinga Nara.
Dalam tidur saja, Nara meneteskan air matanya, entah mimpi buruk seperti apa yang Nara alami tetapi Ronald ingin selalu menemani wanita cantik ini.
Ronald tertidur di samping Nara, mendekatkan kepalanya pada kepala Nara. Dia tidak ingin jauh dari kekasihnya. Memeluknya seperti ini terasa sangat hangat sekali sampai tidak ada lagi yang membuat Ronald khawatir.
Sedang Monica sudah sampai Jakarta dan langsung ke rumah sakit.
"Christin kamu kenapa Nak?" tanya Monica langsung memeluk Christin dengan erat.
"Ma, aku pendarahan Ma, Axel mengajakku menggugurkan kandungan di tempat yang aku tidak tahu di mana, perut ku sakit sekali Ma," ucap Christin menangis sesegukan.
Monica menangis, teganya Axel melakukan itu dengan Christin sampai Christin hampir meregang Nyawa karena menuruti keinginannya.
"Di mana laki-laki berengsek itu sayang, dia tidak menemanimu?" tanya Monica dengan kesalnya.
"Dia ke Singapore Ma, ada balapan di sana, Dia tidak menginginkan bayi yang aku kandung Ma tetapi dia masih menginginkan aku menemaninya," ucap Christin menangis.
Laki-laki berengsek itu malah masih menginginkan anaknya setelah melakukan perbuatan hina seperti ini.
"Sudahlah jangan menangis lagi sayang, setelah ini Mama akan mengirim kamu ke Jerman, kamu tinggal di sana saja dan jauhi Axel. Mama memang tidak suka kamu berhubungan dengannya, kamu bahkan memberikan tubuhmu padanya," ucap Monica kesal. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, dia sudah tidak bisa menyalahkan Christin.
Lebih baik dia menjauhi Christin dari kekasih gilanya itu.
"Bahkan dia tidak peduli padamu dan lebih peduli pada balapannya itu," decak Monica kesal dengan tatapan tajamnya. Ingin sekali Monica menampar wajah laki-laki itu saat ini, enak saja dia melakukan semua ini pada anaknya.
Christin ini anak yang pintar, masa depannya cerah, pendidikannya tinggi sedangkan Axel itu hanya seorang pembalap. Tidak ada yang bisa dibanggakan selain keluarganya yang kaya.
"Kalau Axel mencari Christin bagaimana Ma, aku takut dengannya," ucap Christin memeluk Monica dengan erat.
"Mama jangan beritahu Kak Ronald, dia pasti akan sangat marah padaku, ini rahasia kita saja Ma," lanjut Christin memohon dengan linangan air mata di pipinya. Monica mengangguk.
"Mama akan merahasiakannya," ucap Monica mengelus lembut rambut Christin.
To Be Continued ….
Follow IG Madamme yah
Madammeyellow