Terlempar kembali pada saat ulang tahunnya yang ke 19 tahun, Deena Prameswari Bakara atau yang sering di sapa Deena itu harus menelan kenyataan yang membuat hatinya bagai tertusuk belati berkarat, perlahan tapi menyakitkan.
Penghianatan, hinaan, dan kehilangan orang terkasih membuat dendam dalam hati tertumpuk, gadis itu bersumpah akan membalas lebih menyakitkan pada mereka yang telah menyakitinya.
Bertemu dengan sosok Hanska Regantara Alzavier, seorang presdir sekaligus mafia kejam berdarah dingin yang dengan menatap matanya saja membuat musuh bergetar. Namun satu hal, Hanska itu bucin jika sudah cinta, possesive setengah mati, membuat yang baca pada ilfeel.
hati-hati gregetan,
mengandung beberapa bawang,
ingin jitak kepala pelakor,
bawaannya kesemsem..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ritsmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemoy
Lanjut dah lanjut :*
Hati hati typo, Happy Reading 💜
__________________
"Ga mau mas, udah ya, Dee mau makan sendiri aja." Rengek gadis itu setengah kesal, melihat lagi-lagi Hanska menyuapinya dengan paksaan.
Pagi ini hari kelima dirinya dirawat dirumah sakit, dan selama itu pula setiap sarapan, makan siang, makan malam, hingga hal apapun yang berhubungan dengan Deena.
Maka Hanska berperan layaknya suami siaga, menyuapi, mengantikan baju, menuruti keinginan gadis itu sepenuh hati. Tentu saja, kecuali penolakan-penolakannya seperti tadi.
"Buka mulutnya Dee!" Tekan Hanska menyodorkan sesendok bubur kehadapan gadis itu.
Apalagi ini makan bubur segala? Deena itu sakit luka aja, bukan asam lambung kronis.
Batinnya teriak.
"Ga mau ga suka ge.." Ucapannya terpotong.
"Nakal ya, mau mas pake cara yang kemarin lagi?" Ancam pria itu membuat Deena menggeleng cepat.
Bagaimana tidak, ingatannya terlempar pada kemarin malam, saat Hanska menyuapkan obat kedalam mulut Deena dengan mulut pria itu.
Awalnya Hanska menyuapinya dengan sendok, namun di tolak mentah-mentah olehnya membuat Hanska hilang sabar. Tanpa aba-aba, pria itu meminum obat nya tanpa ditelan, lalu dengan cepat menyuapkan kedalam mulut Deena.
Obat yang bagi Deena pahitnya terasa tujuh turunan, hingga sekarang masih terasa, iyuh banget. Demi alek dia menyumpah serapahi penemu obat-obatan tersebut.
Gadis itu cemberut, menggembungkan pipinya tanda merajuk.
Memar-memar di wajahnya sudah sembuh total, iya, akibat obat-obat pahit itu.
Kini tinggal luka pada bagian punggung saja yang masih tampak mengering, hanya butuh beberapa kali oles obat, maka bekasnya menghilang.
Mata Hanska menyipit tak suka, beberapa detik kemudian, pria itu memajukan dirinya mendekat kearah Deena.
Chupp. Kraukk.
"Aduh aduh jangan di gigitin ini pipinya, sakiyt tau." Rengek gadis itu kesal, kali ini pipinya yang jadi sasaran kegemasan Hanska.
Bila kemarin-kemarin masih di dagu, atau bahu dan terkadang menjalar ke ceruk leher Deena.
Nah sekarang malah bagian pipi pula.
"Duh aduh, serasa obat nyamuk deh, hayuk lah ayang kita balik aja." Ledek Rihlah di depan pintu, menggandeng lengan suaminya ancang-ancang pergi.
Refleks Deena mendorong dada bidang Hanska agar menjauh darinya. Seolah mereka tengah terciduk telah berbuat mesum di pagi hari.
Hanska dan Deena sontak menoleh. Deena dengan raut malu, sedangkan Hanska biasa saja, pria itu lalu mendudukkan dirinya lagi tapi kali ini di sofa ruangan.
"Mama, papa.. mari masuk lah, Dee nya kangen nih." Teriak gadis itu manja, takut kedua mertuanya beneran pergi.
Rihlah mendekat kearahnya. "Hahah.. gimana sayang keadaan kamu?" Kekeh Rihlah mencubit gemas pipi gempal Deena.
Regan sudah mendudukkan dirinya di sofa, bersebelahan dengan putranya. Mereka ini sekilas tampak seperti abang beradik, lihatlah mulai dari cara mereka duduk, hingga sikap dan postur tubuh. sebelas duabelas.
"Mendingan ma, yang di muka juga untung lebih cepat sembuh." Jawab gadis itu menghela napas.
"Kenapa? kamu takut muka jadi jelek terus Hanska ninggalin kamu?" Tanya wanita itu menyipit kearah putranya penuh ancaman.
Deena menggeleng cepat. "Bukan ma.."
"Awas saja dia kalau berani." Ancam Rihlah menonjok telapak tangannya sendiri. Isyarat pukulan maut.
Gadis itu hanya terkikik geli.
"Dee.. udah ada tanda tanda belum?" Tanya Rihlah ambigu.
Mata Rihlah menunjuk kearah perut Deena, gadis itu pun ikut menoleh kearah perutnya, seakan paham kemana arah pembicaraan mertuanya.
"Mama ih.. udah ah, Deena masih sakyit nih." Manja gadis itu memeluk Rihlah minta di sayang.
Tentu saja wanita itu sangat senang, Dia membalas pelukan Deena tanpa kikuk. Dielusnya puncak kepala Deena lembut.
Bersyukur dalam hati, Deena telah diberi mertua yang bagai ibu kandung ini kedalam hidupnya, inilah yang Dia impikan selama ini.
Rihlah terkekeh. "Kan sambil nyelam minum air sih nak, emang kamu ga mau gitu nyobain di rumah sakit?" Racun Rihlah menghasut pikiran polos Deena.
"Huh mama malu ihh." Rengek manja gadis itu.
"Dee.. kamu karus hati hati sama si Hans, dia itu nge jomblo bertahun tahun loh, duh ga bisa mama bayangin deh kalau dia berubah jadi buas karna selama ini puasa." Rihlah berbisik horor di telinga Deena.
Rona gadis itu sudah berubah makin memerah, matanya membelalak, sedangkan bibirnya Dia majukan tanda merajuk.
Apa-apaan mertuanya ini, hal beginian juga di bahas.
Batinnya ngenes.
"Tuh kan mama mulai deh.." Rengeknya malu menyembunyikan wajah di dada sang mertua.
Gadis itu mendusel-nduselkan wajahnya ngambek.
Tak sadar, sedari tadi ada yang kesal setengah mati, melihat mereka berdua berpelukan sayang bagai teletubis.
di posisi Regan, kesal melihat istrinya memeluk orang lain, sedangkan Hanska kesal melihat istrinya lebih manja di pelukan sang mama.
Kenapa saat dirinya memeluk, malah Deena berulang kali mendorongnya.
Ah intinya sama sajalah mereka berdua.
"Hahaha malu? duh gemoy banget sih Dee, sini mama tium." Gemas Rihlah mencubit kedua pipi Deena pelan, membuat wajah gadis itu mendongak kearahnya.
Orang normal sih yang melihat yah biasa saja, bagai ibu dan anak kok yah, wajar saling menunjukkan kasih sayang mereka.
Tapi tidak bagi kedua pria di sofa itu, mereka refleks bangkit mendekati ranjang pasien.
"Lepas Honney!"
"Puas ya bocil?!"
Ucap mereka berbarengan sambil melepas pelukan Deena dan Rihlah.
Regan menarik istrinya kedalam pelukan, sedangkan Hanska menenggelamkan wajah Deena dalam dadanya.
"Begini baru benar, cukup aku aja yang memeluk mu." Ucap Regan menyeret Rihlah untuk duduk di sofa bersamanya. Ralat, mendudukan Rihlah di pangkuannya lebih tepat.
Sedangkan Hanska sudah mulai menyuapi Deena dengan khidmat, dengan sabar walau beberapa kali Deena menolak suapannya.
Ceklek.
Suara pintu terbuka menginterupsi kegiatan mereka. Masuklah Aleta dengan drama, berlari kedalam ruangan Deena seolah ikut lomba maraton.
Muncul seorang lelaki berjalan santai di belakangnya.
"Huhuhuuu bebi ku intan berlian besi bekarat lope lope, tragis nya hidupmu zeyeng." Ucap Aleta sedih dalam pelukan Deena.
Deena menepuk pundak Aleta pelan. "Udah aku ga apapa nih, kan sehat wal afiat." Jawabnya menenangkan sang sahabat.
Walau begitu Aleta masih belum puas.
"Apanya yang sehat wal afiat? mana ada orang sehat di rawat di rumah sakit." Rengek gadis itu cemberut.
"Siapa? siapa yang buat? si tua itu lagi? biar ku ketapel bokongnya sampai bengkak." Tambah gadis itu lagi belum melepas pelukannya, malah menyembunyikan wajahnya diantara ceruk leher Deena.
Hanska kesal lagi, bisa-bisanya Deena memeluk siapa saja dengan bermanja ria.
Sedangkan pada dirinya? boro-boro deh.
"Ale! Lepas pelukanmu itu, bukan disana tempat mu bersandar, tapi disini." Kesal Dirga melepas paksa pelukan gadisnya pada Deena, Dia membawa Aleta dalam pelukannya.
Hey apa-apaan ini? bertambah lagi satu lelaki bucin. Datang dari mana sebenarnya pria-pria itu?
"Aihh.." Deena menyengir gamang, tak tahu harus apa.
Nyutt.
Telunjuk Hanska terulur menoel pipi Deena gemas. "Makanya sini sama mas aja." Tawar pria itu terdengar seperti perintah.
Entah terlalu fokus melihat sahabatnya di atas bangsal, ataukah memang tak sadar ada beberapa manusia selain Deena dalam ruangan ini.
Aleta, gadis itu cemberut dalam pelukan Dirga. Wajahnya menghadap kearah sofa, barulah Dia sadar sedari tadi ada yang melihat tingkah lakunya.
Wajahnya terangkat. "Mama?" Ucap gadis itu heran, terpelongo, terdiam, Deena pun ikut terheran.
To Be Continue >>>>
Triple baby belum lahir