NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Paman Suamiku

Terjerat Cinta Paman Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Saling selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan / Penyesalan Suami
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

"Ketika cinta datang disituasi yang salah"

Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.

Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.

"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.

Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?

Ikuti kisah mereka...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Hari Pertama.

"Dia yang akan menjadi mentormu," ucap Arlan. "Rihana."

Rieta tersenyum hangat, sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk kesopanan.

"Mulai hari ini, dia menjadi tanggung jawabmu, bantu dia," ucap Arlan lagi pada Rihana.

"Saya mengerti, Tuan." jawab Rihana menunduk sopan. "Kalau begitu saya undur diri," sambungnya kemudian.

Arlan mengangguk, memberikan isyarat pada Rieta untuk mengikuti langkah Rihana yang sudah berbalik dan melangkah menuju pintu. Dan tak lama, ruang kerjanya kembali sunyi, hanya menyisakan dirinya bersama sang asisten.

.

.

Rieta mengikuti langkah Rihana, mendengarkan semua penjelasan yang wanita itu ucapkan, mengikuti semua arahan yang di berikan sampai wanita itu menunjuk sebuah meja kerja lengkap dengan komputer di atasnya.

"Ini meja kerjamu. Kamu bisa bertanya padaku jika ada sesuatu yang tidak kamu pahami," ucap Rihana mengakhiri penjelasan yang ia berikan.

"Aku mengerti ... Uhm ... Kakak? Boleh aku panggil begitu?" tanya Rieta ragu.

Rihana tertawa, menepuk bahu Rieta lembut sambil mengangguk.

"Jangan terlalu kaku padaku. Kita bekerja di kantor yang sama, itu artinya kita rekan." ujar Rihana menurunkan tangan dari bahu Rieta. "Kalau begitu, aku tinggal. Kamu bisa menemuiku di meja sana." sambungnya menunjuk meja yang berada dalam jarak beberapa meter dari meja Rieta.

"Baik, terima kasih." jawab Rieta segera membungkukkan badan.

Rihana mengangguk, kembali ke meja kerjanya sendiri dan membiarkan Rieta mengerjakan tugas awal yang ia berikan. Sayangnya, hal itu tak berlangsung lama ketika satu jam setelahnya, Rihana menghampiri meja Rieta dan meminta Rieta untuk mengantarkan kopi ke ruang kerja atasan mereka.

"Apakah mengantarkan kopi juga menjadi tugas seorang sekretaris?" tanya Rieta polos.

"Entahlah." Rihana mengangkat bahu. "Tapi, tiga kandidat lain juga mendapatkan tugas yang sama, jadi lakukan saja."

"Jangan buat Tuan Avalon menunggu terlalu lama, atau kamu akan mendapatkan masalah karena sudah membuat Tuan marah," Rihana menambahkan.

"Baiklah." Rieta menjawab lesu, bangun dari duduknya, lalu beranjak pergi menunju pantry.

Sejenak, Rihana masih terpaku di tempat ia berdiri, menatap punggung Rieta yang sudah berjalan menjauh, lalu menghilang dari pandangan saat wanita itu berbelok masuk ke dalam pantry. Tak bisa ia pungkiri, Rieta memiliki kecantikan yang berbeda, dan wanita itu lebih muda darinya.

"Ah sudahlah." Rihana menggeleng pelan, meninggalkan meja kerja Rieta dan kembali ke meja kerjanya sendiri.

.

.

"Ulangi!"

Satu kata tegas bernada dingin itu seketika menghentikan gerakan tangan Rieta saat ia akan membuka pintu ruang kerja Arlan. Benaknya bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat pamannya itu kesal.

Dengan satu hembusan napas cepat, Rieta mengetuk pintu dengan harapan diriya tidak menjadi sasaran amarah sang paman, mendorong pintu itu setelah mendapatkan ijin dan mendapati seorang wanita tengah berdiri di depan meja kerja pamannya sembari menutup dokumen yang wanita itu bawa.

"Selesaikan hari ini juga," ucap Arlan lagi.

"Baik." wanita itu menunduk, melangkah mundur, lalu berbalik pergi.

Bisa Rieta lihat sorot takut dari mata wanita itu saat dia melewati Rieta sebelum mencapai pintu, langkahnya bahkan terlihat tergesa seolah wanita itu tidak tahan jika berada di dalam ruang kerja Arlan lebih lama.

"Apakah Paman selalu seperti itu?" batin Rieta bertanya. "Seperti apa sebenarnya sosok paman Arlan jika di depan para karyawan?"

"Kenapa hanya berdiri di sana?" tanya Arlan seraya melonggarkan dasi di lehernya.

Rieta tersentak, segera tersadar dari lamunannya dan melangkah mendekat ke meja Arlan dengan nampan berisi secangkir kopi di tangannya, lalu meletakkan cangkir itu di meja.

"Kau yang membuatnya atau kau meminta orang lain untuk membuat ini?" tanya Arlan tetap duduk di kursinya.

"Saya yang membuatnya, Tuan," jawab Rieta.

Sebelah alis Arlan terangkat, senyum tipis tersungging di bibirnya menyadari Rieta menjawab tanpa menatap dirinya. Dan ia tidak suka hal itu.

"Kemarilah."

"Eh ...?" wajah Rieta yang sebelumya menunduk seketika terangkat.

Pandangan keduanya bertemu, tetapi Rieta menangkap nada lembut dalam suara Arlan saat berbicara dengannya, jauh berbeda dengan suara yang digunakan saat berbicara dengan karyawan wanita itu beberapa saat lalu.

"Bantu aku merapikan dasiku," ucap Arlan lagi.

"Tapi itu ..."

"Kau tidak bisa?" potong Arlan.

"Benar, saya tidak bisa memasang dasi," dusta Rieta.

Arlan tergelak singkat sembari menggelengkan kepala, satu tangannya terulur meraih cangkir kopi yang Rieta suguhkan, lalu menyesapnya.

"Aku menyukai kopi buatanmu. Seterusnya, kamu yang membuatkan kopi untukku," putus Arlan kemudian.

"Saya?" Rieta reflek menunjuk dirinya sendiri, kedua matanya membulat, merasa keberatan.

"Ya, kamu." jawab Arlan meletakkan kembali cangkir itu ke meja. "Sekarang kemarilah sebentar, bantu aku merapikan dasiku."

"Tapi saya tidak bi-"

"Aku tahu kamu berbohong," potong Arlan lagi.

"Anda bisa melakukannya sendiri, Tuan," jawab Rieta.

"Oh ... kau mau menentangku?" sambut Arlan dengan alis terangkat, menutupi rasa tidak sukanya dengan cara Rieta berbicara di saat tidak ada siapapun di sekitar mereka.

"Bukan begitu, tapi-"

Rieta menghela napas panjang, berusaha untuk meredam emosi yang sudah mulai ia rasakan, lalu meletakkan nampan di meja, dan membawa langkahnya mendekat pada Arlan yang duduk menunggu.

Tangan Rieta terulur dengan sedikit membungkukkan badan, pandangannya tertuju pada dasi Arlan. Akan tetapi, sebelum niatnya terlaksana, Arlan justru meraih pergelangan tangan Rieta sekaligus menariknya yang membuat Rieta kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di pangkuan Arlan.

"Apa yang Anda lakukan?" Rieta memekik kaget, segera turun dari pangkuan pamannya yang sayangnya gagal ia lakukan.

"Tuan?" ulang Arlan setengah menyindir, kedua tangannya menahan Rieta yang akan berdiri.

"Karena Anda atasan saya, tolong lepaskan," jawab Rieta.

Alih-alih melepaskan wanita di pangkuannya, Arlan justru menekan paha Rieta sekaligus melingkari pinggang Rieta lebih erat yang membuat kekesalan di hati Rieta bertambah.

"Paman!"

"Begitu lebih baik," desah Arlan. "Caramu memanggilku membuatku tidak nyaman."

Rieta tak habis pikir, padahal pamannya sendirilah yang menetapkan peraturan untuk bersikap profesional, tetapi pamannya sendiri juga yang melanggar peraturan yang dia buat.

"Akan kulepasan setelah kamu merapikan dasiku," jawab Arlan tanpa beban.

"Apakah semua bos akan bersikap seenaknya seperti ini?" sindir Rieta.

"Mungkin." Arlan mengangkat bahu. "Tapi siapa peduli? Kamu bisa turun atau tidak tergantung dengan apa yang akan kamu lakukan."

Untuk kesekian kalinya, Rieta menghembuskan napas panjang, merapikan dasi di leher Arlan dengan posisi yang membuat dirinya kurang nyaman. Berbeda dengan Rieta yang merasa kesal, Arlan justru menikmati setiap detik ketika Rieta berada di dekatnya. Sama seperti saat ini, entah mengapa hatinya merasa puas melihat kekesalan itu terlihat begitu jelas di wajah Rieta.

"Sudah selesai."

Rieta turun dari pangkuan Arlan setelah selesai merapikan dasi pria itu, tetapi urung menjauh saat Arlan kembali menahan pergelangan tangannya.

"Apakah kau bahagia dengan pernikahanmu, Rie?"

Satu pertanyaan itu membuat Rieta membalikan badan dengan gerakan cepat, menatap sang paman dengan tatapan bertanya. Namun, pertanyaan itu tak sempat ia utarakan ketika ponsel di saku celana Rieta berdering, menampilkan nama ibu mertua pada layar ponsel dan memberikan kabar yang membuat Rieta nyaris menjatuhkan ponsel di tangannya.

. . . .

. . . . .

To be continued...

1
Reni Anjarwani
lanjut doubel up
Patrick Khan
untung saja rie gk di sentuh paman..mw ngereg q..klo sampek terjadi🔥🔥😑
Dewi Payang
Si paman gak may kalah sama Wvan di sebelah🙈
Dewi Payang: Ya ampun typo ku untung kaak Zira faham🤣
total 2 replies
Dewi Payang
Jedag jedug nih si Re dengar🤭
Dewi Payang: Nah. iya, jadi si Re lebih mantap mutusin langkah selanjutnya😁
total 2 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ini juga ngapain nyosor duluan🤣
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
astaga🙄🙄🙄 gak tau tempat banget ya🤣🤣🤣 astagfirullaaaah
〈⎳ FT. Zira: /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ayo mau ngapain ke hotel
〈⎳ FT. Zira: mau nina ninu🤣🤣🤣
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
ketahuan kan🙄🙄
Zhu Yun💫
Aku ngarepnya adegan panas mereka bukan karena obat malah, biar lebih alami perselingkuhannya, bukan karena salah satu melakukannya karena paksaan 🤭🤣🤣🤣✌️
〈⎳ FT. Zira: oiiik/Curse//Curse//Curse//Curse/
total 9 replies
Zhu Yun💫
Bilang saja kamu yang ingin dimakan 😅😅😅
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Zhu Yun💫
Obat nganu 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Masukkan aja kedalam troli dan dorong, Rie 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: ide bagus
total 1 replies
Zenun
malah memberi keuntungan Buat si paman😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo, mlh si paman dapat apem legit, si evan gigit jari, salah sendiri milih kue bolong🤭🤭🤭, kaboooorrrr
total 2 replies
j4v4n3s w0m3n
lalalal kelicikan yg udah biasa di lakukan sama ulat.bulu yg suka menaruh seauatu di minuman orang...ya biarunlah rieta tidur sama.arlan bagus malahan jd gak sama evan udah terlalu sakit rieta sama evan
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat , semoga tfk kejadian arlan dan reta , takut kalau dividio orang tak bertanggung jwb itu
〈⎳ FT. Zira: anuu pokoknya kak🤭🤭
total 1 replies
Dewi Payang
Udah Re, tueuti aja si bos, biar kamu tampil beda nanti, Eihana mah lewat, dah tuir, ups🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Dewi Payang
Ini modus ya kan paman.....🙈
Dewi Payang
Sepeduli itu si Paman....
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
gk usah sungkan rie, ambil aja. si paman itu punya lumbung duit kok🤭
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Fhatt Trah (fb : Fhatt Trah)
yes, that's a good idea
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!