NovelToon NovelToon
You Are Mine

You Are Mine

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Cintamanis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:6M
Nilai: 5
Nama Author: An Nisa

Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita ~ Banyu Biru

Bagaimana perasaanmu jika hanya karena pesan dari mendiang kakekmu yang mengharuskan dirimu menikah diusia dua puluh enam tahun, ibumu menjodohkan dirimu dengan seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, karena kekasihmu selalu menolak lamaran darimu.

Banyu Biru, diminta oleh sang ibu untuk segera menikahi kekasih hatinya yang sudah ia pacari selama empat tahun lebih. Tetapi sialnya kekasihnya selalu saja menolak lamaran dari dirinya.

Pada akhirnya ibunda Banyu menjodohkan dirinya dengan seorang gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi dan bahkan masih memiliki kekasih, hanya karena Banyu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.

Apakah Banyu dan gadis itu akan menerima perjodohan tersebut?

Atau mereka akan menjalin pernikahan kontrak seperti novel-novel yang sedang booming saat ini?

Simak kisah mereka dalam cerita ini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 31

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Sudah dua minggu Jingga dan Banyu tinggal bersama. Hubungan mereka berangsur membaik. Jingga sudah mulai terbiasa dengan suaminya. Pria itu selalu memiliki cara untuk menghangatkan kebersamaan mereka.

Seperti malam ini. Mereka berdua tengah duduk bersisihan sembari menonton film dan mengunyah beberapa camilan. Jarak mereka pun juga lumayan dekat, tidak seperti dulu yang sering menjaga jarak layaknya orang asing.

"Ji, besok hari Minggu," ujar Banyu tiba-tiba.

Tanpa diberitahu Jingga juga ingat, bahwa besok hari Minggu. "Lalu?" tanyanya cuek sembari membuka satu kaleng minuman soda kemudian meminumnya.

"Bagaimana kalau besok kita joging. Tidak jauh dari sini ada taman. Banyak alat olahraga yang bisa kita gunakan di sana."

Jingga menautkan alisnya. "Bukannya kamu udah punya gym pribadi? Ngapain harus ke taman?" tanya Jingga heran.

"Ya, seru aja kalau olahraga di tempat umum, nanti sekalian cari sarapan." Banyu meringis nenatap istrinya. Gadis itu sudah mulai berani bertanya macam-macam. Tidak seperti dulu yang hanya bisa mengangguk dan mengikuti apa yang Banyu katakan tanpa ada bantahan.

"Gimana? Mau nggak?" tanya Banyu lagi.

"Terserah aja lah, aku ngikut aja yang penting besok bisa bangun pagi."

Keadaan kembali hening. Mereka kembali fokus pada televisi besar yang tengah menyala. Sesekali Jingga bertanya tentang film yang tengah mereka tonton, dan film Harry Potter menjadi pilihan mereka saat ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam saat tiba-tiba bel apartemen Banyu berbunyi. Kedua orang itu saling tatap.

"Kamu ngundang orang?" tanya Jingga dengan dahi berkerut.

Banyu menggeleng kemudian beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Setelah melihat siapa tamunya, Banyu menyuruh mereka untuk masuk.

Sedikit terkejut melihat siapa yang datang, Jingga segera membereskan beberapa bungkus snack yang bercecer di atas meja. Dari ujung ruangan Banyu hanya terseyum sembari menggeleng.

"Mbak Kikan, Bang Deva. Silahkan duduk!" Jingga merasa sangat malu saat ini. Pasalnya ia hanya menggunakan kaos over size kuning dengan hotpants berwarna senada.

Kikan dan Deva tersenyum pada gadis itu kemudian duduk sembari menyandarkan punggung mereka pada sandaran sofa.

"Tumben ke sini nggak bilang dulu." Banyu mendudukkan dirinya di samping Deva setelah menutup pintu.

"Iya, tumben nggak bilang dulu, kalau bilang kan bisa dipesenin makanan." Jingga menyahut dari arah dapur. Di tangannya ada empat kaleng minuman soda dan beberapa camilan yang ia ambil dari kulkas. By the way, sekarang Jingga sudah mulai akrab dengan kedua sahabat Banyu. Hampir setiap pulang kuliah ia pasti mampir ke kafe. Secara otomatis Jingga selalu bertemu dengan Kikan dan mereka sudah sering berbincang saat kafe sedang senggang.

"Tahu ni si Deva tiba-tiba aja belok ke sini," timpal Kikan sembari membuka satu kaleng minuman.

"Pengen aja jengukin adek gue yang cantik ini." Deva mengedipkan sebelah matanya pada Jingga. Gadis itu mencibir sahabat almarhum kakaknya.

"Kalian nonton apa sih?" Kikan memperhatikan televisi yang tengah menyala. "Lo suka film kayak gini, Ji?" tanya Kikan mengalihkan pandangan pada istri sahabatnya.

Jingga mengangguk. "Bagus Mbak ini ceritanya, dari kecil selalu nonton ini, kebawa sampai sekarang," jawabnya sembari menampilkan deretan giginya.

"Mau nonton film lain nggak?" tawar Kikan.

"Film apa Mbak?"

"Film horor, lo suka?"

"Boleh-boleh, seru kayaknya nonton berempat." Sebagai pecinta berbagai genre film Jingga sangat bersemangat untuk menonton film apapun yang belum pernah ia lihat.

"Nggak papa kan, Nyu, Dev?" tanya Kikan meminta persetujuan.

"Terserah kalian aja," jawab Banyu.

Deva hanya diam mematung tak beraksi apapun. Sama sekali tak ada tanggapan dari pria itu.

Sudah tiga puluh menit film itu berjalan. Jingga dan Kikan benar-benar menikmati setiap adegan yang tengah ditayangkan. Sesekali Jingga tanpa sengaja meremas lengan Banyu saat terkejut. Sedangkan Kikan masih sangat tenang dengan setiap apa yang ditayangkan. Berbeda sekali dengan Deva. Pria itu duduk di sebelah Kikan sembari memegangi lengan sahabatnya. Bahkan ia lebih sering menutup mata, tak terlalu berani melihat pada layar besar yang ada di depannya.

"Aaaaa ... " Teriakan Deva mengejutkan ketiga orang di sebelah kanannya. Semua orang menoleh pada Deva, menatapnya heran.

"Lo kenapa sih, Dev, dari tadi nempel mulu," sungut Kikan dengan menggoyangkan bahunya. Deva tengah membenamkan wajahnya di sana. "Lo takut film kek gini?" tanyanya kemudian.

Deva hanya bisa mengangguk. Suaranya hilang entah ke mana.

Banyu mematikan layar televisinya dan menyalakan lampu supaya ruangan tamu itu lebih terang.

Kikan sedikit tersentak saat merasakan tubuh Deva yang bergetar. Pria itu sangat ketakutan ternyata.

Jingga yang melihat pun berinisiatif mengambil air putih dari dapur. Ia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi pada Deva.

"Dev, udah tenang filmnya udah mati, lampunya juga udah nyala." Kikan menepuk-nepuk bahu Deva pelan. Namun Deva tetap tak bereaksi, tubuh pria itu masih bergetar.

Menghela napasnya sedikit kasar. Banyu lupa kalau temannya yang satu ini sangat takut dengan film horor apalagi dengan kondisi gelap seperti tadi.

Kikan merengkuh tubuh Deva dan pria itu membalas pelukan Kikan yang terasa begitu nyaman.

"Sorry ya Dev, gue nggak tahu kalau lo nggak suka nonton film horor, gue juga nggak tahu kalau lo phobia gelap. Sekarang ko tenang ya, udah dimatiin kok filmnya, lampunya juga udah nyala." Kikan mengusap punggung Deva, guna menenangkan perasaannya. Ia sungguh sangat menyesal mengajak pria itu untuk menonton film horor.

Beberapa menit berlalu, akhirnya Deva melonggarkan pelukannya dengan Kikan. Ia langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa masih dengan mata tertutup.

Jingga yang tadinya sedikit cemas bisa bernapas lega sekarang. Ia memberikan satu gelas air putih pada pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya dan langsung diminum oleh pria itu.

"Kalian berdua nginep aja di sini. Deva nggak mungkin kuat nyetir mobil sendiri, gue juga nggak tega ninggalin Jingga sendiri untuk nganter kalian." Usulan Banyu diangguki oleh Jingga. Ia sangat setuju, melihat kondisi Deva yang begitu lemas Jingga tidak yakin pria itu bisa mengemudi.

Kikan memandang Deva dengan tatapan sendu. Ia merasa kasihan dengan Deva. Tapi jika menginap di sini kelihatannya akan sangat berat bagi Kikan. Tapi, ia juga tak mungkin pulang sendiri, sudah terlalu malam dan itu sangat berbahaya untuk wanita sepertinya.

"Tapi bentar deh, Nyu. Bukannya kamar lo cuma dua ya? terus gue tidur di mana?"

"Lo bisa tidur di kamar gue sama Jingga, Deva biar tidur di kamar tamu, gue bisa tidur di sini," jelas Banyu. Ia tidak keberatan tidur di sofa depan teve, sudah biasa baginya.

"Mas Banyu beneran mau tidur di sini? Nggak tidur sama bang Deva aja?" Jingga khawatir jika Banyu tidur di kuar suaminya itu akan kedinginan.

Banyu tersenyum tipis kepada istrinya. "Aku udah biasa tidur di sini, nggak usah khawatir."

Deva masih terkulai lemas di samping Kikan. Ia sudah tak sanggup lagi untuk berbicara dan menyetujui apa saja yang mereka bertiga ucapkan.

Setelah menyuruh istrinya merapikan kamar tamu, Banyu membawa Deva ke sana. Tanpa mematikan lampu, Banyu meninggalkan Deva yang mulai memejamkan mata.

"Ayo Mbak Kikan, udah malem. Mbak Kikan bisa pakai baju aku dulu," ajak Jingga. Mereka berdua masuk ke dalam kamar dan tidur setelah Jingga mengunci pintu.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi mata Jingga tak bisa terpejam. Gadis itu menoleh pada Kikan yang sudah tertidur sejak tadi. Ia merasa bingung, tidak biasanya ia tak bisa tidur seperti ini. Padahal sore tadi ia juga tidak tidur. Apa gue laper ya? gumam Jingga. Ia memutuskan untuk keluar kamar dan mencoba mengisi perutnya.

Saat melewati ruang tamu, ia melihat sang suami yang tengah tertidur di sofa tanpa selimut. Sepertinya suaminya itu lupa untuk mengambil selimut tadi, dan kamarnya dikunci dari dalam oleh Jingga. Merasa kasihan, Jingga kembali ke kamar mengambil satu selimut tebal dari lemari. Jingga berjalan dengan sangat pelan, takut membangunkan suaminya. Tapi saat ia berada di samping sofa tiba-tiba kakinya tersandung sandal dan brukk ...

Jingga terjatuh tepat di atas tubuh Banyu dan bibirnya bertabrakan dengan bibir suaminya. Jingga melebarkan matanya karena terkejut. Apalagi suaminya juga membuka mata, ia semakin terkejut sekaligus malu. Jingga hendak berdiri, tapi malah ditahan oleh tangan suaminya yang melingkar pada pinggangnya. Jingga semakin melebarkan matanya saat Banyu malah memejamkan mata kembali dan bibir Banyu mulai ******* bibirnya.

Jangan lupa like dan komen

1
Endah Ing
Emang sdh gak boleh Nyu, bukan karena tempatnya tapi ada hati yg harus kamu jaga, bojomu Nyu
Endah Ing
Lagian ya Celin, emang dgn menikah, kamu gak bisa bantuin keluarga kamu lagi? banyu larang kamu bekerja?
Endah Ing
bundane yg jatuh cinta
Sri Udaningsih Widjaya
Bagus ceritanya thor
Tsalis Fuadah
aneh za melibatkan mantan yg walau secara visualisasi baik sempurna,,,,,, tp ttp aja mantan g baik terlalu dekat ato melibatkannya dlm kehidupan kita,,,,,
Tsalis Fuadah
ibu panti tp kok g punya hati
Tsalis Fuadah
jingga sakit dg interaksi suami n mantan tp g mikir reaksi suami lihat istri di cium mantannya
Sastri Dalila
👍👍👍
Caca Marica
Luar biasa
karina apriyanti
ceritanya bagus
sherly
Trus bagaimana dgn Iren dan Icha?
sherly
ternyata jodoh ABG Ken tu celin.. OMG
sherly
dah 3 mantan yg dah muncul.. ada brp lg mantan kamu Bayu?
sherly
OMG bayuuu suami idaman, sayang banget Ama jingga dah gt bisa ngk tergoda Ama mantan sejauh ini ya..
sherly
hari yg akan selalu diingat oleh jingga, ultahnya adalah Hari dia kehilangan bayinya
sherly
Irene tu ngumpet, ntar juga nyesel mama jingga dah pilih kasih... Iren yg di banggakan akan membuat dia sakit jantung kalo tau kelakuan anak kesayangannya
sherly
Dave modus aja tu, biar tau Kikan cinta ngk sama dia.. semangat
sherly
tinggal celin nih kasi coowok biar ngk ngerep banyu lg
sherly
betul tu jingga keluarin aja unek2nya... kalo kamu juga cemburu hahahah arti kamu dah cinta donk ..
sherly
sakit nih Bu pantinya, jingga ngk ada salah dicuekin.. boleh ngk sih ngarep si Icha sakit keras Trus ninggal aja biar ngk usah ke panti lg si banyu biar ngk ada akses jumpa celin ... walaupun banyu biasa aja tp kyknya celin msh ngerep
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!