COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
PERHATIAN!! Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Dinda POV
Ayah pergi dari ruanganku. Aku segera memeluk bantalku dan membenamkan wajahku ke sana. Rasanya aku ingin lenyap saja dari bumi ini. Mana mungkin bisa aku menikah dengan laki-laki yang sudah menghancurkan masa mudaku. Dia sudah mengambil bagian paling terpenting dalam hidupku.
Dia sudah mencampakkanku dan yang lebih kubenci lagi saat aku menemukannya di kantor, dengan sekretaris bitchnya itu. Rasanya aku sulit menerimanya tapi apa ini seperti mimpi. Mereka bilang kalau aku kehilangan ingatanku.
Aku hanya mengingat sebagian dari ingatanku dan lebih parahnya lagi aku hanya ingat semua ingatan tersakitku pada seorang Daniel yang katanya suamiku. Ayah bilang dia suamiku dan itu terdengar begitu antah berantah sekali di telingaku.
“Kenapa harus kau yang jadi suamiku?” ungkapku di sela tangisku.
"Kau tidak perlu percaya sepenuhnya, Dinda. Kepalamu bisa saja sakit memikirkan apa yang sudah terjadi di hidupmu. Biarkan semuanya berjalan dengan apa adanya" ungkap Daniel, tapi itu emakin membuatku sedih. Jawabannya malah membuatku semakin ingin tahu kenapa aku bisa menikah dengannya.
“Tinggalkan aku sendiri!” teriakku lalu berbaring membelakanginya.
"Nda..." aku menepis tangannya saat dia mencoba menyentuh tanganku.
"Jangan sentuh aku. Sudah aku bilang berkali-kali dari kemarin. Apa itu kurang jelas?"
Aku mendengarnya menghela napas lalu tidak ada lagi suara di antara kami ber dua. "Biarkan Mamamu istirahat ya, Sayang," kudengar dia berkata ke arah bayi itu membuatku membalikkan tubuhku ke arahnya. Kepalaku rasanya nyeri sekali. Aku ingin meledak sekarang juga jika memikirkan kenapa Daniel bisa menikah denganku dan siapakah bayi itu? Mungkinkah?
Aku melirik ke arah bayi itu. Dia tengah memainkan lidahnya membuat gelembung dengan air liurnya. Melihat bayinya lebih lama entah kenapa malah membuat jantungku bedebar keras. Alis bayi itu kenapa sangat mirip denganku. Bola mata yag berwarna kecoklatan itu membuatku menatapnya secara bergantian ke arah Daniel.
Dia berdiri bersiap-siap meninggalkan ruanganku. Tidak ada kata-kata yang tercipta di saat kami hanya bertiga di ruangan ini. Dia hanya terlihat sibuk sekali dengan bayi yang ditimangnya, sementara aku menatap bayi itu dengan jantung yang berdebar keras.
Benarkah, aku sudah pernah merasakan hamil dan melahirkan. Benarkah? Kenapa aku sulit mempercayainya, kenapa? Saat dia hampir meninggalkan ruanganku. Aku pun memanggil nama Daniel. Dia menatapku untuk sejenak, sementara aku melepas tangannya gugup.
"Ada apa?" tanyanya.
Aku mencoba menelan salivaku susah payah. Kesenggangan di antara kami begitu saja tercipta karena aku tidak juga bersuara. "Kau membutuhkan sesuatu?"
Aku menggelengkan kepalaku dan dia mencoba menyentuh kepalaku, namun seperti sebelumnya aku malah menepisnya.
"Hmmm, aku ingin melihat bayinya," dia mengernyitkan alisnya, tapi perlahan menurunkan bayinya untuk tertidur di sebelahku. Aku pun menggeserkan tubuhku memberi ruang sang bayi untuk tidur di sampingku.
"Siapa namanya?" kataku menusuk-nusuk pipi bayi perempuan yang cantiknya seperti...,
Aku
Ya aku,
Kenapa? Ya dia mirip denganku dan mirip Da...,
Daniel
"Namanya Cleo. Cleopatra Nilda Rafadinata," aku menelan salivaku lagi. Rafadinata itu bertanda anak dari Daniel Rafadinata.
"Terlalu panjang," keluhku dan hanya ada dengusan dari bibirnya. Sebuah tawaan atau mungkin sebuah umpatan. Aku tak mengingat kapan aku melahirkan Cleo, tapi yang pasti aku mempunyai sebuah rasa yang bergetar saat aku melihat bayi perempuan ini.
"Apa dia an---anakku," Tuhan..., pertanyaan bodoh apa yang muncul begitu saja dari bibirku. Tentu saja dia anakku. Ayolah Dinda! Kau jangan menciptakan ruang lain untuk Daniel si brengsek ini.
Daniel mengangguk pelan, menampilkan senyuman lembutnya kepadaku, meski aku tidak yakin sepenuhnya apa itu benar-benar tulus untukku.
"Ya, dan ada satu lagi anak kita," katanya begitu pun dengan wajahku yang mungkin mendadak memerah karena telingaku pun terasa memanas.
Dan ada satu lagi anak kita?
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍