NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nama dalam catatan

Nama itu terasa seperti palu yang menghantam dada Nayla.

“Arga?” ulangnya pelan.

Raka mengangguk. Wajahnya tetap tenang, tetapi Nayla bisa melihat ketegangan dalam sorot matanya.

“Nama Arga tercatat dalam catatan pembayaran yang ditemukan di loker Siska,” jelas Raka. “Saya belum tahu apakah itu berarti dia menerima uang, mengetahui seluruh rencana, atau namanya hanya digunakan. Tapi dia harus dimintai klarifikasi.”

Nayla merasakan ujung jarinya dingin.

Selama ini, ia masih mencoba memegang satu keyakinan kecil: bahwa Arga mungkin hanya terlibat karena dibujuk Siska. Mungkin ia memang bodoh dan mudah dipengaruhi, tetapi tidak benar-benar berniat melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau merugikan perusahaan.

Namun kini, namanya muncul dalam catatan pembayaran.

“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Nayla.

“Kamu tidak perlu melakukan apa-apa,” jawab Raka cepat. “Ini urusan pemeriksaan perusahaan.”

“Tapi dia suami saya.”

“Dan kamu bukan pihak yang bertanggung jawab atas tindakannya.”

Nayla menatap Raka.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun ia menyentuh bagian dalam dirinya yang masih terus menyalahkan diri sendiri atas semua masalah Arga.

“Kalau Arga meminta bantuan?” tanyanya.

“Kamu berhak menolak.”

“Tapi kalau dia benar-benar tidak tahu?”

“Kalau dia tidak tahu, pemeriksaan akan membuktikannya.” Raka menatap Nayla lurus. “Dan kalau dia tahu, dia tetap harus bertanggung jawab.”

Nayla menggigit bibir.

Ia ingin membela Arga.

Bukan karena ia masih ingin kembali, melainkan karena sulit menerima bahwa lelaki yang pernah ia cintai mungkin melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk dari perselingkuhan.

Namun Raka benar.

Kebenaran harus ditemukan, bukan dibentuk berdasarkan harapan Nayla.

“Kamu pulang bersama ibu kamu,” kata Raka. “Jangan pergi ke kantor lagi hari ini. Dimas akan memastikan kalian sampai rumah dengan aman.”

“Bapak akan ke kantor?”

“Iya.”

Nayla mengangguk.

Raka berbalik hendak pergi, tetapi Nayla memanggilnya.

“Pak Raka.”

Pria itu menoleh.

“Terima kasih karena jujur.”

Raka memandangnya beberapa detik.

“Kejujuran seharusnya bukan sesuatu yang harus kamu syukuri,” katanya pelan. “Tapi saya mengerti kenapa sekarang kamu merasa itu penting.”

Kalimat tersebut membuat Nayla tersenyum tipis, meski dadanya masih berat.

Raka pergi dari kafe dengan langkah cepat.

Nayla menatap punggungnya hingga pria itu menghilang di balik pintu.

Bu Ratih yang sejak tadi duduk di meja lain segera menghampiri.

“Ada apa?” tanyanya.

Nayla menatap ibunya.

“Nama Arga ada di catatan pembayaran proyek.”

Bu Ratih terdiam cukup lama.

“Ya Allah,” bisiknya.

Nayla menunduk. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.

“Aku tidak tahu lagi siapa Arga sebenarnya, Ma.”

Bu Ratih langsung memeluknya.

“Kamu tidak perlu mencari jawaban hari ini,” ucap ibunya lembut. “Yang penting, kamu jangan ikut memikul kesalahan dia.”

***

Di PT Arunika Properti, suasana semakin menegang.

Raka berjalan cepat menuju ruang audit. Dimas sudah menunggu di depan pintu bersama Pak Surya dan Bu Laras.

“Dokumennya ada di dalam,” kata Dimas.

Raka masuk ke ruangan.

Di atas meja panjang, beberapa map terbuka. Ada laptop, hasil cetak percakapan, salinan transaksi bank, dan sebuah buku catatan kecil dengan sampul cokelat.

Pak Surya menunjuk buku itu.

“Ini ditemukan di loker Siska,” katanya. “Awalnya terlihat seperti catatan pengeluaran biasa. Tapi ada kode transaksi yang cocok dengan pembayaran vendor Proyek Puri Sagara.”

Raka membuka salah satu halaman.

Terdapat beberapa baris tulisan tangan.

**B.K. — 80 juta***

**S.W. — 35 juta**

**A.P. — 25 juta*****

Di bagian bawah, tertulis satu kalimat pendek.

**Akses malam, data promosi, aman.**

Raka menatap tulisan itu tanpa bicara.

“A.P. bisa saja Arga Pratama,” ujar Pak Surya. “Tapi kita tetap perlu konfirmasi.”

“Apakah ada transaksi masuk ke rekening Arga?” tanya Raka.

“Tim keuangan sedang memeriksa. Ada satu transaksi tunai yang sulit dilacak. Namun ada rekaman kamera ATM pada tanggal yang sama. Kami sedang meminta akses dari pihak bank.”

Bu Laras membuka map lain.

“Selain itu, ada percakapan antara Siska dan Bayu.” Ia menggeser beberapa lembar cetakan ke arah Raka. “Sebagian pesan sudah dihapus, tetapi tim IT berhasil memulihkan beberapa data dari perangkat kerja Siska.”

Raka membaca salah satu potongan percakapan.

**Bayu:* Arga sudah aman?**

**Siska:** Dia takut, tapi dia butuh uang.

**Bayu:** Jangan kasih banyak. Nanti dia mulai minta lebih.

**Siska:** Tenang. Dia akan nurut kalau aku tekan soal istrinya.***

Raka mengatupkan rahangnya.

Dimas berdiri di samping meja dengan wajah serius.

“Pak Arga mungkin memang ikut karena uang,” katanya. “Tapi dari chat ini, terlihat Siska memakai hubungan mereka untuk mengendalikan dia.”

“Dikendalikan bukan berarti tidak bertanggung jawab,” ucap Bu Laras.

Raka mengangguk.

“Benar,” katanya. “Tapi kita juga harus memastikan seberapa jauh keterlibatannya.”

“Pak Arga sudah berada di ruang HR,” kata Pak Surya. “Dia meminta bertemu Bapak.”

Raka menutup buku catatan.

“Saya akan menemuinya.”

***

Arga duduk di ruang HR dengan wajah tegang.

Kemeja putihnya sudah tidak rapi. Dasinya longgar. Kedua tangannya saling menggenggam di atas meja, tetapi ia tidak berhenti menggerakkan jari-jarinya.

Ketika Raka masuk bersama Bu Laras dan Dimas, Arga langsung berdiri.

“Pak Raka, saya bisa jelaskan.”

“Duduk,” kata Raka.

Arga kembali duduk.

Bu Laras membuka laptop dan menyalakan rekaman suara. “Pertemuan ini dicatat sebagai bagian dari pemeriksaan internal. Saudara berhak memberikan klarifikasi atas informasi yang ditunjukkan.”

Arga mengangguk kaku.

Raka duduk di seberangnya.

“Apakah kamu pernah memberi Siska akses ke dokumen Proyek Puri Sagara?” tanya Raka.

Arga menatap meja.

“Pernah,” jawabnya.

“Untuk apa?”

“Dia bilang butuh data promosi. Saya pikir itu masih berkaitan dengan pekerjaan.”

“Kamu memberi akses di luar jam kerja beberapa kali.”

Arga diam.

“Kenapa?”

“Siska bilang sistem lebih sepi malam hari. Dia takut data yang dibutuhkan belum selesai disiapkan.” Arga mengusap wajahnya. “Saya tahu itu aneh. Tapi saya… saya tidak berpikir panjang.”

“Kamu menerima uang dari Siska atau Bayu?”

Pertanyaan itu membuat Arga menegang.

“Tidak.”

Bu Laras menggeser salinan catatan pembayaran ke depannya.

“Nama dengan inisial A.P. tercatat menerima dua puluh lima juta,” katanya. “Ada juga pesan dari Siska yang menyebut Anda membutuhkan uang.”

Arga menatap lembar itu. Wajahnya memucat.

“Saya tidak tahu itu dari mana.”

“Apakah rekening Anda menerima dana?”

“Tidak.”

“Apakah Anda menerima uang tunai?”

Arga menunduk lebih dalam.

Tidak ada jawaban.

Raka menatapnya dengan dingin.

“Jawab.”

Arga mengangkat wajah. Matanya mulai merah.

“Saya menerima uang,” katanya akhirnya. “Tapi bukan untuk mencuri data. Saya pikir itu bonus dari Siska karena saya membantu dia menyelesaikan pekerjaan.”

“Dua puluh lima juta sebagai bonus?”

Arga menelan ludah.

“Saya sedang butuh uang.”

“Untuk apa?”

Arga terdiam.

“Untuk apa, Arga?”

“Ada utang.”

Raka mengerutkan kening.

“Utang apa?”

Arga mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Utang kartu kredit. Pinjaman online. Saya sempat rugi waktu ikut investasi teman.”

Dimas menatapnya serius.

“Apakah Nayla tahu?”

Arga menggeleng.

“Tidak. Saya tidak pernah cerita.”

Raka terdiam.

Jadi Arga bukan hanya menyembunyikan Siska dari Nayla.

Ia juga menyembunyikan masalah keuangan.

Mungkin itu alasan mengapa Arga mudah dikendalikan oleh Siska. Namun sekali lagi, alasan bukan pembenaran.

“Apakah Siska memberi tahu Anda bahwa data itu akan diberikan kepada Bayu?” tanya Bu Laras.

“Tidak.” Arga menggeleng cepat. “Saya tidak tahu soal Bayu sampai sekarang.”

“Lalu kenapa Siska menyebut Bayu dalam beberapa pesan Anda?”

Arga membeku.

Bu Laras membuka layar laptop dan memutar rekaman singkat.

Suara Siska terdengar dari rekaman panggilan yang berhasil dipulihkan.

“Bayu sudah tunggu data itu. Jangan buat aku gagal, Arga.”

Suara Arga menjawab, lirih tetapi jelas.

“Aku takut, Sis.”

“Kalau kamu takut, pikirkan utang kamu. Kamu mau istri kamu tahu semua?”

Rekaman berhenti.

Ruangan itu sunyi.

Arga menunduk. Bahunya turun seolah seluruh tenaga di tubuhnya hilang.

“Saya salah,” katanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

“Saya salah,” ulangnya, kali ini dengan suara lebih pecah. “Saya pikir saya bisa berhenti kapan saja. Saya pikir cuma bantu akses beberapa data. Tapi Siska terus menekan saya.”

“Dan kamu terus memilih menurut,” ujar Raka.

Arga mengangguk lemah.

“Saya takut Nayla tahu soal utang. Saya takut kehilangan pekerjaan. Saya takut semuanya hancur.”

“Sekarang semuanya memang hancur,” kata Raka datar.

Arga menutup mata.

Untuk pertama kalinya, tidak ada pembelaan. Tidak ada tuduhan kepada Nayla. Tidak ada usaha menyalahkan Siska sepenuhnya.

Hanya penyesalan yang terlambat.

***

Sore hari, Nayla sedang membantu Bu Ratih menyiram tanaman ketika ponselnya berdering.

Nama Arga muncul.

Nayla berdiri diam cukup lama.

Bu Ratih menatapnya dari dekat pot bunga.

“Kamu mau angkat?”

Nayla tidak tahu.

Namun akhirnya, ia menerima panggilan itu.

“Halo.”

Di seberang sana, Arga tidak langsung bicara.

Hanya ada suara napas berat.

“Nay,” panggilnya akhirnya.

Nada suaranya berbeda.

Tidak marah.

Tidak menuntut.

Hancur.

“Apa?” tanya Nayla pelan.

“Aku sudah mengaku.”

Nayla menatap halaman rumah yang basah oleh hujan sore.

“Mengaku apa?”

“Semua soal proyek. Soal uang. Soal utang.” Suara Arga gemetar. “Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Nayla memejamkan mata.

Untuk beberapa detik, rasa iba muncul di hatinya.

Arga tetap manusia. Ia pernah menjadi orang yang Nayla cintai. Mendengar suaranya yang hancur tidak mudah.

Namun Nayla juga ingat semua malam ketika ia menunggu, semua kebohongan, semua tuduhan, dan semua kesempatan yang Arga buang.

“Kamu harus bertanggung jawab,” kata Nayla akhirnya.

“Aku takut.”

“Aku juga takut, Arga.” Suara Nayla pelan, tetapi tegas. “Tapi kamu tidak boleh terus lari dari akibat pilihan kamu.”

“Aku bisa kehilangan pekerjaan.”

“Aku tahu.”

“Aku bisa kena masalah hukum.”

“Kamu seharusnya memikirkan itu sebelum mengambil uang dan membuka akses.”

Arga terdiam.

“Nay, aku butuh kamu.”

Kalimat itu membuat Nayla menelan tangis.

Dulu, ia akan langsung mengatakan bahwa ia ada.

Dulu, ia akan meminta Arga pulang dan membiarkannya bersandar di bahunya.

Namun Nayla tidak lagi bisa menyelamatkan seseorang yang terus menyeretnya ke dalam luka.

“Aku tidak bisa menjadi tempat kamu lari dari kesalahan kamu,” ucap Nayla.

“Nayla…”

“Aku berharap kamu jujur sejak awal. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini.” Nayla menarik napas. “Tapi sekarang, kamu harus menghadapi akibatnya sendiri.”

Ia mengakhiri panggilan.

Tangannya bergetar.

Bu Ratih mendekat dan memeluk bahunya.

“Kamu tidak kejam,” kata ibunya.

Nayla menunduk.

“Aku merasa jahat.”

“Kamu hanya sedang belajar membedakan antara menolong dan menghancurkan diri sendiri.”

Nayla memejamkan mata.

Di dalam dirinya, ada kesedihan yang belum selesai.

Namun di balik kesedihan itu, perlahan muncul sebuah kekuatan.

Arga mungkin sedang jatuh karena pilihannya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, Nayla memilih untuk tidak jatuh bersamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!