Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-14
...Tepat di bawah layar, pesan singkat dari pengirim misterius itu terbaca dengan jelas oleh mata Hazel:
Selamat atas jabatan barumu, Hazelia... Mari kita lihat berapa lama kamu bisa menyimpan rahasia kelam Mahrup sebelum semuanya hancur.
Hazel terpaku. Jemarinya yang memegang pinggiran iPad Pro mendadak membeku, dingin seakan dialiri es. Bulu kuduknya meremang membaca kalimat penuh ancaman itu. Namun, sebelum ia sempat mencerna maksud rahasia kelam yang dimaksud, suara tegap Mahrup memotong heningnya ruangan.
"Abaikan pesan tidak jelas itu, Hazelia," ucap Mahrup tenang namun sarat ketegasan. Pria itu menyentuh layar iPad di tangan Hazel, mengusap notifikasi misterius itu hingga menghilang dalam sekali usapan.
Mahrup kemudian melangkah menuju intercom utama. Jarinya menekan tombol pengumuman internal yang terhubung langsung ke seluruh sistem tata suara gedung Mahardika Tower, dari lantai lobi hingga ruang staf terbawah.
"Perhatian untuk seluruh kepala divisi dan staf Mahardika Group," suara berat dan berwibawa milik Mahrup menggema jernih di setiap sudut gedung.
"Terhitung mulai hari ini, Sekretaris Rian resmi melepaskan jabatannya. Dan secara resmi, saya menunjuk Hazelia Verlita Putri sebagai Personal Assistant utama saya. Seluruh koordinasi jadwal, dokumen eksekutif, dan akses langsung ke ruang CEO berada di bawah wewenangnya."
Klik.
Pengumuman singkat itu terputus, meninggalkan gema mengejutkan yang sanggup menghentikan napas siapa pun yang mendengarnya.
Di lantai dasar, ruang pantry seketika hening mencekat. Luna yang sedang memegang cangkir kopi sampai menumpahkan isinya ke lantai, matanya membelalak tak percaya dengan raut wajah memerah menahan panas cemburu.
Sementara Vita membeku di tempatnya, menutup mulutnya yang menganga shock.
Di ruang CEO, Hazel menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa lemas bagai tak bertulang.
"T-Tuan CEO... Tuan beneran umumkan itu ke satu gedung?!" pekik Hazel panik, kedua tangannya menutup pipinya yang memanas.
"Gila... Hazel bisa dimusuhi satu batalyon office girl dan staf administrasi! Lagian Hazel ini belum siap sama sekali, Tuan! Buka aplikasi agenda di iPad aja Hazel masih meraba-raba!"
Mahrup membalikkan badan, berjalan mendekati Hazel hingga jarak di antara mereka tersisa satu langkah.
Tinggi badan Mahrup yang menjulang membuat Hazel harus mendongak penuh untuk menatap iris mata tajam pria itu.
"Kamu pikir saya memilihmu tanpa pertimbangan?" tanya Mahrup, suaranya mengalun rendah namun memancarkan kehangatan yang tak biasa.
"Ya... ya lagian kenapa harus Hazel, Tuan?" bisik Hazel parau, ia bisa merasakan keraguan besar pada dirinya sendiri. "Hazel cuma cewek lulusan sekolah biasa, cuma mantan OG yang bajunya masih bau karbol. Hazel takut bikin Tuan malu..."
Mahrup menatap binar ketakutan di mata Hazel. Perlahan, tanpa ragu, Mahrup mengangkat tangan kanannya, menepuk pelan bahu mungil Hazel sebuah sentuhan suportif yang belum pernah ia berikan kepada karyawan mana pun.
"Saya tidak butuh kepintaran akademis yang tinggi jika itu hanya melahirkan kesombongan," tutur Mahrup lembut namun mantap.
Dagu Hazel terangkat menatap mata Indah Tuan Mahrup
"Saya butuh orang yang mau belajar, jujur, dan memiliki ketabahan seperti kamu. Soal pekerjaan... saya yang akan membimbingmu secara langsung. Dari cara mencatat rapat, menyusun agenda, hingga menghadapi klien besar."
Hazel terpaku. Kata-kata Mahrup terasa bagai hembusan angin hangat yang mengikis habis keraguan di hatinya. Tatapan teduh di balik iris mata dingin sang CEO membuat dada Hazel berdesir hebat. Rasa percaya yang begitu besar dari pria paling ditakuti di perusahaan ini mendadak menyuntikkan keberanian baru dalam jiwanya.
"Beneran Tuan mau ngajarin Hazel sendiri?" tanya Hazel pelan, matanya berbinar manis.
"Kamu meragukan kata-kata CEO-mu?" balas Mahrup, sudut bibirnya terangkat tipis menyunggingkan senyum samar. "Sekarang, ganti seragam OG-mu. Rian sudah menyiapkan pakaian kerja yang layak di ruang istirahat eksekutif."
Satu jam kemudian, Hazel melangkah keluar dari lift eksekutif menuju lobi utama untuk mengambil berkas fisik pertamanya sebagai PA. Ia kini mengenakan blus putih simpel berpadu rok blazer hitam yang elegan namun tetap sopan, memancarkan pesona cantiknya yang alami tanpa riasan berlebih.
Namun, begitu Hazel melangkah di atas karpet lobi lantai dasar, puluhan pasang mata karyawan langsung tertuju padanya. Bisik-bisik miring dan tatapan sinis menyambut langkah barunya.
Tepat di tengah lobi, Luna berdiri menghadang jalan Hazel bersama dua staf senior lainnya. Matanya menatap Hazel dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan kilatan kebencian yang makin membara.
"Wah, hebat ya... baju boleh ganti, tapi bau pel masih nempel tuh," sindir Luna nyaring, sengaja memancing perhatian orang-orang di lobi. "Selamat ya, Hazel. Pinter banget kamu main belakang sampai bisa depak Pak Rian!"
Hazel mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatap Luna lurus tanpa rasa takut.
"Mbak Luna, Hazel diangkat resmi sama Tuan Mahrup karena keputusannya sendiri, bukan karena main belakang."
"Halah! Nggak usah sok suci!" bentak Luna maju satu langkah.
Namun, sebelum Luna sempat menyentuh Hazel, suara klakson mobil melengking nyaring di depan pintu kaca lobi. Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di area drop-off, dan dari pintu kemudi keluar sosok pria tampan bertubuh jangkung dengan kacamata hitam,Dion Kusuma, CEO dari Kusuma Group sekaligus rival abadi Mahrup.
Dion melangkah masuk ke lobi dengan senyum menyeringai licik, menatap Hazel dari kejauhan dengan pendar ketertarikan yang berbahaya.
"Jadi... ini cewek baru yang bikin Mahrup mendadak lupa sama luka masa lalunya?" gumam Dion pelan sembari melangkah mantap menghampiri Hazel.