NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FLASHBACK AWAL MULA HASRAT TERLARANG IBU.

Sementara itu, Damar baru saja mengakhiri panggilan video dengan ibu mertuanya. Ia segera menginjak pedal gas, mempercepat laju mobilnya di jalanan.

. . .

Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarainya memasuki pelataran rumah. Begitu mesin dimatikan, Damar segera turun dan bergegas masuk tanpa membuang waktu.

Langkahnya langsung mengarah ke kamar ibu mertuanya dengan langkahnya yang tergesa-gesa.

Setibanya di depan pintu, ia menekan gagangnya, lalu mendorong pintu itu hingga terbuka.

Matanya menyapu seisi kamar sebelum akhirnya berhenti pada ranjang. Terlihat ibu mertuanya tampak bergerak gelisah di atas ranjang.

“Sayang ...,” panggil Damar pelan.

“Damar, buruan,” desak ibu mertuanya dengan suara tertahan.

Damar mengernyit. Saat melihat wanita itu bergerak dengan gelisah.

“Kamu kenapa, sayang?”

“Habis coba pil kuat, Damar. Kamu juga coba, deh.”

Damar mengikuti arah pandangan ibu mertuanya hingga menemukan papan pil yang tergeletak di atas meja. Rasa penasaran membuatnya menghampiri meja tersebut. Ia mengambil papan pil itu, lalu membolak-baliknya untuk memperhatikan kemasannya.

Damar kembali melirik wanita itu yang terus mendesaknya, ia justru tersenyum tipis. Tanpa berpikir panjang, ia menekan papan pil tersebut, mengeluarkan satu butir, lalu menelannya tanpa mengetahui pasti apa yang terkandung di dalamnya.

“Damar, ayo cepat,” desak Yulia lagi.

.

Sementara itu, di sisi lain.

 Nafisa tengah menikmati makan siang bersama Variz, rekan satu timnya. Suasana kantin cukup ramai, tetapi timbul rasa tak nyaman di dadanya.

Ia menghentikan gerakan sendoknya, lalu mengangkat tangan untuk meremas pelan bagian dadanya. Bahkan dirinya tak tahu penyebabnya.

Nafisa kemudian menatap ke arah Variz yang masih fokus menyantap makanannya.

“Riz, kenapa dadaku sakit, ya?” tanyanya sambil mengusap dadanya perlahan.

Variz yang sedang mengunyah makanan langsung mengangkat wajah. Bahkan netra pria itu terlihat memperhatikannya seksama sebelum akhirnya memberikan jawaban, “Apa kamu salah tidur?”

Kening Nafisa berkerut. “Salah tidur? Memangnya apa pengaruhnya?”

“Ya, kalau posisi tidurnya salah, kadang dada bisa terasa sakit atau berat.”

Nafisa terdiam. Ia mencoba mencerna perkataan rekannya itu, lalu menunduk sambil kembali menyentuh dadanya.

‘Apa benar karena salah bantal, ya?’

Meski begitu, rasa tidak nyaman itu belum juga hilang. Tanpa sadar, pandangannya beralih pada ponsel yang tergeletak di samping piringnya.

Ada dorongan aneh yang membuatnya ingin menghubungi suaminya. Nafisa meraih ponselnya, membuka daftar kontak, lalu mencari nama suaminya.

Damar.

Jemarinya berhenti sejenak di atas nama itu sebelum akhirnya menekan tombol panggilan.

‘Bahkan aku sendiri pun gak tahu kenapa tiba-tiba ingin menghubungi Mas Damar.’

Beberapa saat berlalu, tetapi panggilannya tak kunjung dijawab. Nafisa menatap layar ponselnya dengan gelisah, kemudian mencoba menghubungi Damar sekali lagi.

Dan tak lama kemudian, kali ini panggilan itu akhirnya tersambung.

“Halo, ada apa, Naf?”

“Mas sedang apa?”

“Mas lagi sibuk, Naf. Katakan cepat.”

Nada bicara suaminya terdengar terburu-buru.

“Aku tiba-tiba khawatir sama kamu, Mas.”

“Mas gak apa-apa, Naf. Sudah, ya. Mas mau garap kerjaan dulu.”

“Iya, Mas. Maaf mengganggu.”

Tak ada jawaban setelah itu.

Nafisa menatap layar ponselnya. Namun, tepat sebelum jemarinya menekan tombol merah, telinganya menangkap suara samar dari seberang sana.

Suara seorang wanita.

“Dam, pelan-pelan.”

Deg!

Jemari Nafisa membeku. Dadanya seketika berdebar lebih kencang. Saat mendengar suara manja yang  terdengar begitu terasa sangat familiar.

‘Itukan suara ibu.’

“Kenapa, Naf?”

Mendengar suara Variz yang bertanya, membuatnya seketika tersadar.

“E-enggak apa-apa,” jawabnya gugup.

Nafisa segera mengakhiri panggilan, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Namun, pikirannya telanjur kacau.

‘Itu jelas suara Ibu. Aku gak mungkin salah dengar.’

Nafisa mengepalkan jemari di bawah meja. Ia berusaha menepis pikir buruknya terhadap ibunya.

.

Sementara itu, di dalam kamar, Yulia masih berbaring di atas ranjang bersama Damar. Napasnya terdengar sedikit memburu ketika ia melirik pria yang masih berada di atas tubuhnya.

“Eugh ... Dam, siapa? Nafisa nelepon?” tanyanya di sela napas.

“Iya, Sayang,” jawabnya santai.

Yulia ikut memejamkan mata sejenak. Namun, rasa penasarannya membuat ia kembali membuka mata dan menatap Damar.

“Terus, apa katanya?”

“Enggak penting. Yang penting, garap kamu dulu,” balas Damar tanpa merasa bersalah.

Mendengar jawaban itu, Yulia terkekeh. Ia mengangkat tangan, lalu memukul pelan dada pria tersebut.

“Kamu ini ...!”

.

Waktu seolah berhenti berputar. Entah berapa lama mereka tenggelam dalam dosa yang mereka lakukan.

Kepala Yulia bersandar lelah di atas dada bidang Damar sehingga dirinya bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdetak dari batas normal.

“Dam, bagaimana kalau Nafisa tahu hubungan kita?” tanyanya pelan. “Kamu akan memilih siapa, aku atau Nafisa.”

Ia berusaha bersabar menunggu jawaban Damar. Justru yang ada pria itu membalikkan tubuhnya sedikit agar bisa menatap ke arahnya lekat-lekat.

 “Jujur saja, sayang. Kamu yang membuatku nyaman.”

Mendengar jawaban itu, sudut bibir Yulia terangkat membentuk senyuman tipis yang puas.

 “Kamu yakin, Dam?”

“Yakin, sayang,” jawab Damar tanpa ragu.

“Kan Nafisa lebih muda dariku,” ucap Yulia lagi.

Dan dirinya mencoba menguji ego pria itu dengan fakta yang tak terbantahkan. Ia ingin tahu apakah Damar benar-benar menginginkan dirinya meski umurnya kini menginjak usia 40an tahun, atau hanya nafsu sesaat.

“Aku lebih suka yang berpengalaman, sayang,” balas Damar.

Yulia masih menatap menantunya lekat-lekat. Guna mencari kebohongan di mata pria itu. Tapi anehnya, ia tak menemukan apa yang dicarinya.

“Lalu, apa yang membuatmu nyaman, Dam?” tanyanya akhirnya.

 “Karena kamu lembut, kamu tahu apa yang aku butuhkan. Beda sama Nafisa yang gak pernah peka apa yang kuinginkan.”

Wajah Yulia seketika menghangat mendengar jawaban Damar.

“Kamu gak lagi ingin menyenangkan hatiku, kan, Dam?” tanyanya sekali lagi.

“Aku serius, sayang,” tegas Damar.

Tanpa bertanya apapun, Yulia langsung memeluk menantunya erat-erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu.

“Damar... Balas pelukanku,” bisiknya.

Tangan Damar akhirnya memeluknya balik.

 Perlahan, Yulia memejamkan matanya. Seketika wajah putrinya muncul dengan senyum yang ceria.

‘Nafisa, maafin Ibu ya. Ibu sudah nyaman sama suamimu. Ibu harap kamu mengerti, demi kebahagiaan Ibu yang sudah janda sejak kamu SMP.’

FLASHBACK

Tiga bulan setelah Nafisa dan Damar menikah.

Yulia sedang duduk di ruang tengah. Dan di depannya, duduk Nafisa bersama Damar.

“Bu, untuk sementara kami tingg di rumah Ibu dulu, ya. Soalnya, kami masih nabung buat beli rumah sendiri,” ujar Nafisa.

Yulia menoleh, menatap putrinya dengan sedikit kerutan di dahi.

“Kenapa gak tinggal di rumah mertuamu saja, Naf?”

“Nggak bisa, Bu. Rumahnya sesak. Apalagi, di rumah Mas Damar ada lima orang meski rumahnya besar.”

Yulia menghela napas. Dan akhirnya ia mengangguk.

“Ya sudah, tinggallah di sini sampai kamu bisa beli rumah sendiri.”

“Terima kasih, Bu.”

Nafisa langsung memeluknya. Yulia tersenyum sembari membalas pelukan putrinya dan mengusap lembut punggungnya.

Seminggu setelah Nafisa dan Damar tinggal di rumahnya, Yulia mulai terbiasa dengan kehadiran mereka.

Namun, malam itu, ketika hendak mengambil minum, langkah Yulia terhenti saat melewati kamar Nafisa.

Dari balik pintu yang belum tertutup rapat, terdengar suara-suara yang membuatnya mengernyit.

Awalnya, ia berniat melanjutkan langkah. Akan tetapi, rasa penasaran membuatnya justru mendekati pintu kamar putrinya.

Ia mengintip melalui celah pintu yang terbuka.

Sekejap, tubuhnya membeku.

Di dalam kamar, ia melihat Nafisa dan Damar sedang bermesraan di atas ranjang. Pemandangan itu membuatnya tertegun. Ia tak pernah menyangka akan melihat sesuatu yang begitu pribadi dari putrinya sendiri.

Yulia buru-buru menahan napas. Matanya tak sengaja menangkap gerakan Damar, membuat jantungnya berdebar semakin kencang.

Perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya. Ia segera pergi dari sana. Namun, dirinya mengurungkan niatnya untuk mengambil minum.

Dengan langkah tergesa, Yulia berjalan menuju kamarnya sendiri.

Sesampainya di kamar, ia langsung menutup pintu.

Ia bergegas berjalan menuju lemari dan mengambil sebuah benda yang biasa digunakannya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Dengan wajah yang memanas, ia kembali menghampiri ranjang.

. . .

Sejak kejadian malam itu.

Setiap kali Damar berada di dekatnya, pikirannya sulit berkonsentrasi. Bahkan, ia kerap salah tingkah sendiri ketika menantunya itu mengajaknya berbicara.

Yulia berusaha mengabaikan perasaan aneh tersebut. Bagaimanapun, Damar adalah suami putrinya.

Namun, sore itu, Yulia yang hendak mandi mendapati keran di kamar mandinya tidak mengeluarkan air. Ia sudah mencoba memutar keran ke berbagai arah, bahkan memeriksa salurannya, tetapi tak ada setetes air pun yang keluar.

“Bagaimana ini?” gumamnya kesal.

Ia mencoba sekali lagi. Hasilnya tetap sama.

Yulia akhirnya menyerah. Dengan handuk yang melilit tubuhnya, ia keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruang tamu untuk mencari bantuan.

Di sana, ia mendapati Damar sedang duduk santai.

“Damar,” panggil Yulia.

Damar menoleh. “Iya, Bu?”

“Kerannya kayaknya macet, deh. Bisa tolong benerin, Dam?” pinta Yulia sambil merapatkan handuk di tubuhnya.

“Oh, iya, bisa, Bu.”

Yulia tersenyum tipis. “Kalau begitu, ikut Ibu sebentar.”

Ia berbalik lebih dulu menuju kamar mandi, sementara Damar menyusul di belakangnya.

Sesampainya di kamar mandi, Damar langsung memeriksa keran yang bermasalah. Ia membungkuk sedikit, lalu mencoba memutar bagian keran yang tampaknya longgar.

Yulia berdiri tak jauh darinya, memperhatikan setiap gerakan menantunya itu.

“Memangnya kenapa bisa macet, ya?” tanyanya.

“Mungkin ada bagian yang tersumbat, Bu. Coba aku periksa dulu.”

Damar kembali mengutak-atik keran tersebut. Setelah beberapa saat, terdengar bunyi kecil dari saluran air.

Tiba-tiba, air menyembur deras dari keran.

“Ah!” Yulia tersentak ketika air itu mengenai tubuhnya. Ia buru-buru mundur, tetapi terlambat. Handuk yang membungkus tubuhnya sudah basah kuyup.

“Bu, gak apa—”

Ucapan Damar mendadak terhenti.

Yulia yang semula sibuk berusaha menghindari semburan air segera menyadari perubahan sikap menantunya. Tatapan pria itu tertuju kepadanya, membuat Yulia spontan menunduk untuk memeriksa keadaan dirinya sendiri.

Sekejap kemudian, wajahnya memanas.

Handuk putih yang dikenakannya kini basah dan menerawang.

“Astaga!”

Yulia buru-buru menyilangkan kedua lengannya di depan dada, berusaha menutupi tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang karena malu, terlebih ketika menyadari Damar sempat melihatnya.

Damar segera memalingkan wajah. Rahangnya tampak mengeras sesaat sebelum ia berdeham kecil.

“S-sudah, Bu,” katanya gugup. “Kerannya sudah bisa.”

Yulia masih terdiam, berusaha mengatasi rasa malunya.

Namun, sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih, Damar sudah bergegas meninggalkan kamar mandi tanpa menoleh lagi.

Yulia menatap punggung menantunya yang menjauh, lalu kembali merapatkan handuk di tubuhnya.

“Ya ampun ... memalukan sekali,” gumamnya sambil mengembuskan napas.

...

Beberapa hari berlalu sejak insiden itu.

Yulia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja, seakan tak terjadi sesuatu diantara dirinya dan menantunya.

Namun malam itu, keheningan rumah kembali pecah oleh desahan tertahan dari kamar Yulia. Ia kembali melakukannya.

 Namun kali ini, lebih liar, dan penuh dengan bayangan wajah Damar.

“Ibu…”

Suara berat itu membelah kenikmatan sesaatnya. Mata Yulia terbuka lebar, napasnya tercekat di tenggorokan. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar yang ternyata sudah terbuka sedikit.

Damar berdiri di ambang pintu. Tatapannya lekat ke arahnya.

“Damarhhh… k-kamu ngapain?” tanyanya terbata-bata.

FLASHBACK END

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!