NovelToon NovelToon
DI BALIK SENYUM VARA

DI BALIK SENYUM VARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pahlawan kesiangan

“Reno!”

Dirga masuk begitu saja ke ruangan Reno tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat pria itu sedikit terkejut.

Seandainya bukan karena rencana yang sedang dijalankannya, Reno pasti sudah menghajar Dirga saat itu juga.

Namun, ia segera menahan emosinya dan memasang ekspresi tenang.

“Ada apa, Pak? Bagaimana hasilnya?” tanyanya, seolah tidak sabar menunggu kabar.

Dirga berjalan menuju sofa, lalu duduk dengan santai. Senyum puas mengembang di wajahnya.

“Berhasil. Adit dan timnya bisa membantu mengalihkan seluruh aset Vara kepadaku.”

“Benarkah, Pak?” Reno berpura-pura terkejut sekaligus senang. “Kalau begitu, semuanya akan berjalan lebih mudah.”

“Tentu saja!” Dirga menyandarkan punggungnya ke sofa. “Adit bilang, mereka bisa mengurus semuanya asalkan dokumen yang dibutuhkan lengkap.”

“Dokumen apa saja yang diperlukan, Pak?”

Dirga mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya, lalu menyerahkannya kepada Reno.

“Ini daftarnya. Kumpulkan semuanya secepat mungkin. Saya tidak mau proses ini terhambat hanya karena masalah dokumen.”

Reno menerima kertas itu dan membacanya sekilas. Semakin lama ia memperhatikan daftar tersebut, semakin ia menyadari bahwa dokumen-dokumen yang diminta bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan.

“Dokumen ini cukup penting, Pak,” ujar Reno sambil mengangkat pandangannya. “Sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan semuanya. Apalagi, salah satu dokumen ini tersimpan di brankas perusahaan.”

Dirga mengangguk, seolah sudah memperkirakan hal tersebut.

“Makanya, cari cara!” balasnya ketus. “Aku tidak peduli bagaimana caranya. Yang jelas, semua dokumen itu harus terkumpul secepat mungkin.”

Reno menahan diri agar tidak menunjukkan kejengkelannya.

“Baik, Pak.” Ia kembali melihat daftar tersebut sebelum mengangkat wajahnya. “Namun, ada satu hal lagi. Mereka juga membutuhkan tanda tangan asli Nona Vara, bukan? Saya rasa itu akan sangat sulit didapatkan.”

Dirga mendengus pelan.

“Urusan itu, kamu tenang saja. Aku sendiri yang akan mengurusnya.”

“Baiklah, Pak.” Reno mengangguk patuh, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul di sudut bibirnya.

“Pastikan semuanya lengkap. Kita harus segera menyelesaikan urusan ini.”

••

Di dalam sebuah mal mewah, Bela dan kedua temannya sedang asyik berjalan-jalan dari satu toko ke toko lainnya.

“Kita ke mana lagi, guys?” tanya Kesya sambil melirik kedua temannya.

“Bagaimana kalau kita belanja tas?” usul Saras antusias. “Gue lihat ada tas keluaran terbaru di toko tadi. Modelnya bagus banget!”

“Boleh juga,” sahut Bela. “Ayo, kita lihat!”

Ketiganya segera menuju sebuah toko tas bermerek yang berada tidak jauh dari tempat mereka.

Begitu memasuki toko, mata Saras langsung berbinar melihat deretan tas yang dipajang di etalase kaca. Berbagai model tas mewah dengan harga fantastis tersusun rapi di sana.

“Gila, cantik banget!” seru Saras sambil menunjuk sebuah tas. “Gue mau yang ini!”

Kesya tak mau kalah. Ia sibuk memilih tas lain yang tak kalah menarik. Setelah mempertimbangkan beberapa pilihan, keduanya akhirnya memutuskan membeli tas keluaran terbaru.

Sementara itu, Bela masih berdiri di depan etalase, memperhatikan harga yang tertera pada beberapa tas.

Gila, mahal banget. Satu tas harganya bisa buat hidup berbulan-bulan.

Tabungannya memang cukup untuk membeli tas tersebut. Namun, jika ia memaksakan diri, sebagian besar uang yang dikumpulkannya akan terkuras hanya untuk satu barang.

“Bel, lo nggak mau beli juga?” tanya Kesya yang menyadari Bela belum memilih apa pun.

Bela tersenyum canggung. “Nggak dulu, deh. Tas gue di rumah masih banyak.”

“Lah, masa kita bertiga belanja, lo doang yang nggak beli?” sahut Saras. “Pilih aja, Bel. Mumpung lagi di sini.”

“Iya. Masa lo kalah sama kita?” tambah Kesya sambil terkekeh.

Bela terdiam.

Ia sebenarnya ingin menolak. Namun, ia juga tidak ingin kedua temannya itu menganggapnya tidak mampu membeli tas mahal seperti mereka.

Akhirnya, Bela menghela napas dan menunjuk sebuah tas yang sejak tadi menarik perhatiannya.

“Ya sudah, gue ambil yang ini.”

“Gitu dong!” Saras tersenyum puas.

Seorang pegawai toko segera mengambil tas pilihan Bela dan membawanya ke meja kasir. Setelah semua barang selesai diproses, ketiganya bersiap melakukan pembayaran.

Kesya dan Saras membayar lebih dahulu tanpa kendala. Kini giliran Bela.

Ia menyerahkan kartu pembayarannya kepada kasir dengan percaya diri.

“Silakan, Kak,” ujar kasir tersebut sopan.

Namun, beberapa saat kemudian, kasir mengernyit menatap layar mesin pembayaran.

“Maaf, Kak. Kartunya tidak bisa diproses.”

Bela langsung mengerutkan kening.

“Hah? Kok nggak bisa? Coba lagi!”

“Baik, Kak.”

Kasir mencoba sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.

“Maaf, Kak. Transaksinya masih ditolak.”

Wajah Bela seketika berubah. Ia tak menyangka kartu yang biasa digunakannya justru bermasalah saat hendak membeli tas.

"Masa, sih? Kartunya nggak ada masalah!” protes Bela dengan nada kesal. “Coba periksa lagi!”

Kasir itu tetap berusaha bersikap profesional.

“Mohon maaf, Kak. Saya sudah mencoba beberapa kali, tetapi pembayarannya tetap tidak berhasil.”

Kesya dan Saras yang berdiri di samping Bela saling pandang. Senyum jahil mulai muncul di wajah mereka.

“Lho, kok nggak bisa, sih, Bel?” goda Saras. “Bukannya kartu lo unlimited tanpa batas?”

“Iya, benar!” Kesya menyambung sambil tertawa kecil. “Katanya kakak lo pengusaha. Masa beli tas doang nggak bisa?”

Bela langsung merasa tersinggung.

“Iya, kakak gue memang pengusaha terbesar di negeri ini!” balasnya sombong. “Mungkin mesin kalian yang bermasalah!”

Untuk membuktikan ucapannya, Bela mengeluarkan kartu lain dari dompetnya dan menyerahkannya kepada kasir.

Namun, hasilnya tetap nihil.

Transaksi kembali ditolak.

Senyum di wajah Bela seketika menghilang. Ia merasa seluruh orang di toko sedang memperhatikannya.

“Kenapa semuanya nggak bisa, sih?” gerutunya kesal.

Kesya menahan tawa, sementara Saras hanya menggelengkan kepala.

“Katanya kartu unlimited,” celetuk Saras. “Kok malah nggak bisa dipakai?”

“Sudahlah, jangan berisik!” bentak Bela.

Dengan wajah memerah karena malu, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dirga. Namun, panggilannya tak kunjung diangkat.

Bela mencoba menelepon sekali lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban.

Ia pun beralih menghubungi Vara. Sayangnya, kakak iparnya itu juga tidak mengangkat telepon.

“Ke mana, sih, mereka?” gerutunya sambil menurunkan ponsel. “Ditelepon nggak ada yang jawab!”

Bela semakin kesal. Ia tidak mungkin meninggalkan tas itu begitu saja setelah tadi dengan percaya diri mengatakan akan membelinya.

Saat itulah, seorang wanita yang kebetulan sedang berjalan melewati toko tersebut mendengar keributan dari dalam.

Monica menghentikan langkahnya. Ketika melihat siapa yang sedang berdiri di dekat kasir, ia langsung menghampiri.

“Bela?”

Bela menoleh. Begitu melihat Monica, wajahnya yang semula kesal sedikit berubah lega.

“Kak Monica!”

Monica memperhatikan wajah Bela, lalu melirik kasir dan tas yang terletak di atas meja.

“Kamu kenapa? Kakak dengar dari luar kamu seperti sedang marah-marah.”

Bela menggigit bibirnya sebelum menjawab dengan nada kesal.

“Kartu aku nggak bisa dipakai buat bayar, Kak.”

“Oh, begitu.” Monica melirik tas di atas meja. “Kamu beli apa?”

“Ini, Kak. Tas.”

Monica mengangguk santai, seolah masalah itu bukan sesuatu yang perlu dipusingkan.

“Ya sudah, biar Kakak yang bayar.”

Tanpa menunggu jawaban Bela, Monica mengeluarkan kartu dari dompetnya, lalu menyerahkannya kepada kasir.

“Tolong proses pembayarannya pakai kartu ini.”

“Baik, Kak.”

Kali ini, transaksi berjalan lancar. Kasir menyerahkan struk pembayaran dan mengemas tas tersebut ke dalam kantong belanja.

Bela mengembuskan napas lega.

“Terima kasih banyak, Kak Monica. Untung Kakak datang. Kalau nggak, aku nggak tahu harus bagaimana.”

Monica tersenyum tipis.

“Nggak apa-apa. Lain kali, pastikan kartu kamu bisa digunakan sebelum belanja, ya.”

“Iya, Kak.”

Bela menerima tasnya, lalu berpamitan kepada Monica. Ia segera pergi bersama Kesya dan Saras yang sejak tadi menunggu di dekat pintu toko.

Setelah mereka menjauh, Monica melirik struk pembayaran yang masih dipegangnya.

Matanya langsung membelalak saat membaca nominal yang tertera.

“Buset, seratus juta?”

Monica kembali menatap arah kepergian Bela dengan ekspresi tak percaya.

“Cuma buat satu tas, harganya sampai seratus juta?” gumamnya.

Ia menggeleng pelan, masih terkejut dengan nominal yang baru saja dibayarkannya.

“Uang gue melayang cuma buat satu tas,” gerutu Monica kesal.

Ia merasa bodoh karena tidak memeriksa harga tas itu terlebih dahulu sebelum membayarnya.

“Ck! Kenapa gue nggak lihat harganya dulu, sih?” Monica mengembuskan napas kasar.

Ia menatap struk di tangannya dengan wajah masam.

“Gue bakal minta ganti rugi sama Dirga. Gue nggak mau uang seratus juta melayang begitu saja!”

Monica mendengkus kesal. Ia tidak sudi kehilangan uang sebanyak itu hanya untuk membantu Bela membeli sebuah tas.

••

“Ha ha ha!”

Vara tertawa puas melihat rencananya berhasil. Ia sengaja menonaktifkan kartu milik Bela karena pengeluaran adik iparnya itu hari ini sudah mencapai ratusan juta rupiah.

“Anak itu memang harus diberi pelajaran. Dia pikir mencari uang itu gampang?” gumam Vara sambil menggelengkan kepala.

Tatapannya kembali tertuju pada layar laptop yang menampilkan rekaman CCTV mal. Ia melihat bagaimana Monica muncul sebagai pahlawan dengan membayarkan tas Bela, lalu pulang dengan wajah kesal setelah mengetahui harga tas yang dibelinya mencapai seratus juta rupiah.

Senyum miring terukir di bibir Vara.

“Pahlawan kesiangan, rupanya.”

Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada Alaskar yang berdiri di dalam ruangannya.

“Alaskar.”

Pria itu segera menoleh. “Iya, Nona?”

“Aktifkan kembali kartu Bela. Lain kali, bekukan saat dia sedang sendirian saja.”

Alaskar mengangguk patuh.

“Baik, Nona.”

1
Ayudya
Dirga tidur mu terlalu nyenyak hingga lupa bangun🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Sabar, Vara ada kejutan🫰🫰😁😁
Meee
vara mending keluarga toxik begitu di lebas secepatnya😡😡
Ayudya
gimana sadar orang matanya Uda ketutup ma batu kerikil🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
siapa pun akan berubah ibu diana.apa lagi masalah yg menyangkut pekerja 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
lah Bu Diana menghancurkan Vara yg ada kamu akan hancur di buat ma Vara Bu diana🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
ok Dirga nikmati aja dulu masa senang mu kan ntar lagi kamu bakalan kembali kesetalan pabrik🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Karma Be Like: Tunggu aku Monica😁🫰
Ayudya
lah hasil ngerebut songong Lo monika.ntar yg ada kamu nyesel dan malu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
saat rencana kamu berhasil yg ada dirga stres banget🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn
Kak Dirga, bukan Arga😭🤭😁😂
Ayudya
hadeh monica kamu bilang Arga ga tergoda ma Vara kamu salah Arga sudah tergoda habis oleh vara🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ayudya
Bu Diana kalau mimpi jangan siang hari ntar yg ada sakit
Nona Jmn: Wkwkwhhh
total 1 replies
Ayudya
vara kamu jangan kelihatan lemah di depan Dirga dan monika.kamu harus lebih badas lagi biar tau tu si Dirga dan Monika kalau kamu ga gampang di tindas🤣🤣🤣🤣🤣
Nona Jmn: Kita lihat kejutan Vara, ya🤭
total 1 replies
Nona Jmn
/Sob/
Ayudya
mampir kak
Nona Jmn: Terima kasih🤭
total 1 replies
Ayudya
niat banget Bu Diana dan Dirga buat merebut harta vara
Ayudya
Daras Dirga mokondo tapi banyak tingkah🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!