Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Kesempatan
Nadira terdiam sejenak sebelum kembali menatap Arhan. Ada sesuatu yang belum ia sampaikan, sesuatu yang selama ini menjadi salah satu alasan terbesar mengapa ia tidak lagi bisa memercayai suaminya.
"Ada tiga hal yang harus kamu selesaikan, Arhan."
Arhan mengangkat wajahnya. Mencoba mendengar ucapan dari sang istri.
"Pertama, kamu harus mengambil kembali uang sekolah Naya yang diambil oleh ibumu."
Wajah Arhan seketika berubah.
"Kedua, apartemen yang sudah kamu persiapkan untuk Naya juga harus kembali menjadi miliknya. Aku tidak peduli bagaimana caramu menyelesaikan masalah itu dengan ibumu, tetapi aku tidak akan membiarkan hak anakku dirampas begitu saja."
Arhan terdiam. Ia tahu betul apartemen yang dimaksud Nadira. Apartemen itu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sesuatu yang sudah dipersiapkannya untuk masa depan Naya. Namun, ibunya justru mengambil alih apartemen tersebut, seolah-olah dirinya memiliki hak untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dimiliki cucunya.
Nadira menarik napas sebelum melanjutkan syarat terakhirnya. "Dan yang ketiga, kamu harus mendapatkan kembali formulir pendaftaran sekolah elit yang diambil ibumu dari Naya."
Arhan langsung mendongak. Formulir itu bukan sesuatu yang bisa diperoleh sembarang orang. Sekolah tersebut memiliki standar penerimaan yang tinggi dan biaya pendidikan yang tidak sedikit. Kesempatan untuk mendapatkan formulir pendaftarannya pun terbatas, bahkan tidak semua orang mampu memperoleh akses untuk mendaftarkan anak mereka ke sana.
Naya sudah begitu senang ketika mengetahui dirinya berkesempatan masuk ke sekolah tersebut. Namun, kebahagiaan itu direnggut begitu saja ketika Imah mengambil formulir tersebut tanpa memedulikan perasaan cucunya.
"Aku ingin kamu mengembalikan semuanya kepada Naya," lanjut Nadira. "Uang sekolahnya, apartemennya, dan formulir pendaftaran sekolah yang menjadi haknya."
Arhan mengepalkan tangannya. Rasa bersalah kembali menyergap dirinya karena selama ini ia membiarkan ibunya ikut campur dalam kehidupan keluarga kecilnya.
"Aku akan mengambil semuanya kembali," ucapnya, mantap.
Nadira menatapnya tanpa menunjukkan ekspresi lega sedikit pun.
"Jangan terburu-buru berjanji! Aku tidak mau mendengar omong kosongmu yang terus kamu katakan kepadaku!"
Arhan terdiam, mencoba mendengarkan kembali penjelasan sang istri.
"Kalau kamu berhasil mendapatkan kembali ketiga hal itu dan memastikan ibumu tidak lagi mencampuri kehidupan Naya sesuka hatinya, aku akan membatalkan gugatan perceraian kita."
Arhan membeku.Ia menatap Nadira seolah-olah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu akan membatalkan perceraian kita?" tanyanya, lirih.
Nadira hanya mengangguk kecil. Arhan yang mendengar itu mulai merasa senang ntuk pertama kalinya sejak datang menemui Nadira, muncul secercah harapan di mata Arhan. Ia hampir saja melangkah mendekati istrinya, tetapi urung ketika melihat wajah Nadira yang tetap serius.
"Namun, kalau kamu gagal, aku akan melanjutkan perceraian ini tanpa memberimu kesempatan lagi."
Senyum tipis yang sempat muncul di wajah Arhan perlahan menghilang.
"Nadira..."
"Aku serius, Arhan. Aku tidak sedang mengancammu. Aku hanya tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan terus berjuang melawan masalah yang seharusnya bisa kamu selesaikan sejak awal."
Nadira menatapnya lekat-lekat. "Selama ini, aku selalu menjadi orang yang harus mengalah. Aku harus menerima perlakuan ibumu, menahan kekecewaanku sendiri, dan memastikan Naya tidak terlalu terluka oleh semua masalah yang terjadi di antara kita. Sementara kamu? Kamu selalu memilih diam setiap kali aku membutuhkanmu."
Arhan menundukkan kepalanya.
"Karena itu, kali ini aku ingin melihat sendiri apakah kamu benar-benar bisa menjadi suami dan ayah yang seharusnya. Aku tidak membutuhkan janji manis lagi. Aku ingin melihat tindakanmu."
"Aku akan melakukannya, Nadira."
"Jangan banyak bicara Arhan! Buktikan kalau kamu benar serius denganku dan Naya."
Arhan mengangkat wajahnya. "Kalau aku berhasil mendapatkan semuanya kembali, kamu benar-benar akan memberiku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita?"
Nadira terdiam beberapa saat.
"Aku akan membatalkan perceraian kita. Tapi jangan menganggap itu berarti semua masalah di antara kita akan langsung selesai. Kepercayaan yang sudah kamu hancurkan tetap harus kamu bangun kembali. Aku tidak akan tiba-tiba melupakan semua yang pernah kamu lakukan kepadaku."
Arhan mengangguk perlahan. "Aku mengerti."
"Dan satu hal lagi." Suara Nadira kembali terdengar tegas. "Jangan sampai Naya menjadi korban dari pertengkaranmu dengan ibumu. Aku tidak mau dia mendengar kalian saling berteriak atau melihat kalian bertengkar hanya karena uang, apartemen, dan sekolahnya. Selesaikan semuanya sebagai orang dewasa."
"Aku berjanji."
Nadira mengembuskan napas panjang. "Kalau begitu, sekarang kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Arhan menatap wanita di hadapannya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi ia menyadari bahwa tidak ada gunanya terus berbicara jika dirinya belum melakukan apa-apa.
Selama ini, ia selalu berpikir bahwa ibunya hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka. Ia tidak pernah benar-benar menyadari bahwa di balik semua keputusan ibunya, ada hak Naya yang dirampas dan perasaan Nadira yang terus diabaikan. Kini, ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak mengetahui semuanya. Arhan harus memilih untuk berdiri di sisi keluarganya sendiri.
"Aku akan menyelesaikan semuanya," katanya sekali lagi, kali ini tanpa meminta Nadira mempercayainya begitu saja. "Aku akan mengambil kembali hak Naya, dan aku akan memastikan ibuku tidak bisa lagi memperlakukan kalian seperti ini."
Nadira hanya mengangguk kecil. Arhan kemudian berbalik, berniat meninggalkan rumah itu. Namun, sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh kepada istrinya.
"Terima kasih karena masih memberiku kesempatan, Nadira."
Nadira tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, memandangi pria yang pernah menjadi pusat dunianya itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Di satu sisi, ia masih ingin percaya bahwa Arhan bisa berubah. Namun, di sisi lain, ia tidak ingin kembali menjadi wanita yang terus-menerus terluka karena terlalu mudah memaafkan. Kali ini, ia akan menunggu. Bukan untuk mendengar janji Arhan, melainkan untuk melihat apakah pria itu benar-benar berani memperjuangkan istri dan anaknya sendiri.
....
Arhan berdiri di depan apartemen tempat dimana keluarganya itu tinggal, namun saat ia mau membuka pintu apartemen itu ia mengurungkan niatnya saat mendengar suara beberapa orang yang tengah berbicara.
"Bagaimana bu, Arkan harus segera sekolah! Mau tidak mau kita harus mendaftarkan skeolahnya. Bukannya ibu udah daftar sekolah di sekolah elit itu dan uangnya bukannya ibu sudah meminta kak Arhan dan apartemen itu haru segera diberikan kepadaku!" tegas Jordi, adik dari Arhan.
" Benar bu, aku dan Jordi bahkan ga punya rumah. Beda kayak kak Arhan, seharusnya ibu beri apartemen di dekat sekolah itu untuk Jordi dan cucu kesayang ibu. " Rania segera menatap ke arah putranya untuk membujuk neneknya itu.
Arkan yang ditatap sang ibu segera mendekat ke arah Imah dan memeluknya.
" Nenek, kapan Arkan sekolah?"
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡